Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Arka hampir tersedak kuah shabu-shabu.
"Check-in hotel?"
Liana menahan tawa sampai bahunya bergetar. Wajahnya yang tadi sengaja dibuat serius langsung berubah nakal.
"Kamu pikir aku mau langsung memakanmu?"
"Dengan cara bicaramu barusan, orang normal akan berpikir begitu."
"Masalahnya, Kak Leon dan Mario pasti belum benar-benar pergi." Liana menunjuk kaca restoran dengan dagu. "Mereka paling cuma pindah ke sudut lain. Kalau kita pulang begitu saja, sandiwaranya bocor."
Arka mengikuti arah pandangnya. Di seberang jalan, dekat mobil yang parkir di depan minimarket, dua bayangan memang bergerak terlalu hati-hati untuk disebut pejalan kaki biasa.
Leon Putra mencoba berdiri tegap seperti orang yang punya urusan penting. Mario jauh lebih buruk; pria itu terus mengintip ke arah restoran dengan wajah seperti baru saja kehilangan warisan.
Arka menghela napas.
"Jadi aku bukan hanya harus pura-pura jadi pacarmu, tapi juga harus pura-pura menemanimu ke hotel?"
"Pintar." Liana mengambil sepotong daging dari panci, mencelupkannya ke saus, lalu mengangkatnya ke depan bibir Arka. "Pacar palsu yang profesional harus mengerti kebutuhan adegan."
"Aku bisa makan sendiri."
"Kakakku sedang menonton."
"Kakakmu sedang bersembunyi seperti maling motor."
"Tetap saja menonton."
Liana menyodorkan daging itu lebih dekat. Senyumnya manis, tetapi matanya jelas menantang. Arka tahu wanita ini sengaja memakai situasi untuk memaksanya masuk lebih dalam ke permainan.
Ia membuka mulut dan memakan daging itu.
Mata Liana melengkung puas.
"Nah, begitu. Tidak sulit, kan?"
"Sulitnya bukan makan. Sulitnya menahan diri agar tidak menyeretmu keluar dan menyuruhmu menjelaskan semua ini ke Bianca."
"Jangan bawa Bu Bianca." Liana mencondongkan tubuh, suaranya dibuat pelan dan lembut. "Malam ini aku pacarmu."
Arka menatapnya.
Liana masih tersenyum, tetapi ujung telinganya memerah.
Ia memang pandai bercanda. Pandai membuat suasana kacau. Pandai memakai kata-kata genit seperti mainan. Namun saat Arka tidak lagi tampak bingung dan justru menatap balik dengan tenang, senyum Liana tidak seberani tadi.
Makan malam berikutnya berjalan seperti pertunjukan kecil.
Liana menyuapi Arka, menyeka sudut bibirnya dengan tisu, kadang sengaja menyandarkan bahu ke lengannya. Dari luar, Mario beberapa kali hampir maju, tetapi selalu ditahan Leon.
Saat keluar restoran, Liana langsung menggandeng lengan Arka.
"Lihat. Mereka masih di sana."
"Aku lihat."
"Berarti lanjut."
"Aku mulai curiga kamu sudah merencanakan ini sebelum makan."
"Aku?" Liana melebarkan mata dengan wajah polos palsu. "Aku gadis baik-baik."
"Gadis baik-baik tidak memilih hotel pasangan setelah makan suki."
"Gadis baik-baik juga butuh strategi."
Mereka berjalan melewati Leon dan Mario seolah tidak melihat. Ketika jaraknya cukup dekat, Arka tiba-tiba berhenti dan menoleh pada Leon.
"Pak Leon."
Leon yang sedang pura-pura melihat ponsel langsung kaku. "Apa?"
Tatapan Arka turun ke tali merah di leher Leon. Di balik kerah kemeja pria itu, ada liontin giok kecil yang tampak baru dipakai. Warnanya hijau pucat, tetapi di permukaannya ada garis kusam seperti bayangan darah kering.
"Kalau malam ini masih harus banyak bergerak, liontin itu sebaiknya dilepas."
Leon mengerutkan kening. "Kamu mau mengajari aku berpakaian?"
"Bukan." Arka tersenyum tipis. "Aku cuma tidak ingin pacar palsuku menangis karena kakaknya terkena sial."
Liana menatap leher Leon, lalu menatap Arka. "Kak, lepas saja dulu."
Leon mendengus. "Kamu diam. Baru beberapa jam punya pacar, sudah membela dia."
Mario langsung menyambar, "Liana, jangan percaya. Orang seperti dia memang suka bicara mistis agar terlihat hebat."
Arka tidak memaksa. Ia hanya menggandeng Liana lebih dekat.
"Terserah."
Liana mengikuti langkahnya, tetapi setelah beberapa meter ia berbisik, "Kamu serius soal liontin itu?"
"Serius."
"Bahaya?"
"Kalau dia beruntung, cuma hampir."
Liana menggigit bibir. Untuk pertama kalinya malam itu, raut main-mainnya hilang sebentar. Namun ketika mereka sampai di depan hotel pasangan bertema merah muda dan ungu, wanita itu kembali memasang senyum.
"Sekarang jangan rusak mood."
"Mood apa?"
"Mood pacaran."
Hotel itu berdiri di sudut jalan dengan papan nama `Lembayung Suite`. Dari luar, bangunannya tampak elegan, tetapi begitu masuk, Arka langsung tahu tempat ini hidup dari pasangan yang tidak ingin ditanya macam-macam.
Resepsionis perempuan di meja depan hanya melirik mereka sekali, lalu tersenyum profesional.
"Tipe kamar?"
Liana melihat daftar di layar. Tanpa ragu ia menunjuk pilihan paling atas.
"Yang paling mahal. Suite Romantis. Kalau kedap suaranya jelek, aku komplain."
Arka menoleh pelan.
Resepsionis tetap tenang. "Tenang, Bu. Kamar kami terkenal aman untuk privasi."
Liana menerima kartu kamar dengan wajah puas. Ia menarik Arka masuk lift.
Begitu pintu lift tertutup, bahunya turun sedikit.
"Kamu gugup?" tanya Arka.
"Aku? Tidak."
"Tanganmu dingin."
Liana cepat-cepat melepas genggaman. "AC lift terlalu kencang."
"Lift belum dingin."
"Diam."
Arka tertawa kecil.
Di bawah, beberapa detik setelah mereka naik, Leon dan Mario menerobos masuk hotel.
"Kamar berapa?" tanya Leon pada resepsionis.
Resepsionis tersenyum. "Maaf, Pak. Privasi tamu."
"Yang tadi itu adik saya."
"Yang tadi membayar sendiri, memilih kamar sendiri, dan terlihat sangat sadar."
Mario memukul meja. "Kamu tahu siapa kami?"
Senyum resepsionis hilang. Dua petugas keamanan di dekat pintu langsung menoleh.
Leon menahan Mario dengan wajah gelap. Ia tahu memaksa masuk tanpa dasar hanya akan membuat masalah. Apalagi pekerjaannya sendiri tidak mengizinkan ia bertindak sembarangan di tempat umum.
"Tunggu di sini," katanya pada Mario.
"Kak Leon mau ke mana?"
"Mengambil dasar."
"Dasar apa?"
Leon sudah berjalan keluar. Matanya dingin.
"Razia."
Mario berdiri di depan hotel dengan mulut terbuka. Untuk sesaat ia bahkan lupa marah.
Leon melaju menuju kantor dengan wajah sekeras batu. Di jalan masuk dekat markas, sebuah truk pengangkut bambu tiba-tiba oleng. Ban depannya pecah dengan suara meledak.
Leon membanting setir.
Puluhan batang bambu terlepas dari bak truk seperti tombak. Beberapa menghantam kap mobil, satu menusuk kaca depan dan lewat hanya beberapa senti dari wajahnya sebelum menghancurkan kaca belakang.
Mobil berhenti melintang. Mesin masih meraung.
Leon duduk kaku, keringat dingin membasahi punggung.
Tangannya naik ke leher.
Tali merah itu putus.
Liontin giok di dadanya sudah retak menjadi beberapa bagian.
Kalimat Arka di depan hotel kembali menghantam pikirannya.
Kalau malam ini masih harus banyak bergerak, liontin itu sebaiknya dilepas.
Leon menelan ludah.
Di lantai atas, Liana membuka pintu kamar.
Arka masuk dan berhenti dua langkah dari pintu.
Kamar itu seperti sengaja dibuat untuk membuat orang waras kehilangan alasan. Lampu ungu lembut menyala di balik plafon, ranjang bulat besar penuh kelopak mawar palsu berada di tengah ruangan, tirai tipis menggantung dari langit-langit, dan dinding kaca buram memisahkan kamar mandi dari ruang tidur.
Di meja samping ranjang, ada beberapa kotak kecil yang sengaja ditata rapi.
Liana mengambil satu, membacanya, lalu cepat-cepat meletakkannya lagi. Wajahnya memerah.
"Kamarnya... cukup niat."
"Ini pilihanmu."
"Aku hanya butuh kamar yang terlihat meyakinkan."
"Kedap suara juga?"
Liana menatapnya tajam. "Itu untuk mengusir kecurigaan resepsionis."
"Resepsionis tidak curiga. Aku yang curiga."
"Kamu banyak bicara malam ini."
Liana melepas sepatu hak tinggi dan menginjak karpet dengan kaki telanjang. Ia melempar tas ke sofa, lalu membuka blazer pendeknya. Di baliknya ia memakai gaun tipis warna merah anggur yang sejak di restoran tertutup rapi. Tanpa blazer, garis tubuhnya langsung terlihat lebih jelas.
Ia sadar Arka melihat.
Senyumnya kembali.
"Kenapa? Menyesal sudah menolak jadi pacarku?"
"Aku sedang menghitung seberapa banyak masalah yang bisa kamu buat dalam satu malam."
"Kalau begitu hitung dari dekat."
Liana berjalan ke ranjang, duduk di tepinya, lalu menepuk sisi sebelahnya.
"Sini. Kita harus terlihat seperti pasangan kalau Kak Leon benar-benar berhasil naik."
"Tidak ada orang di kamar."
"Kamera lorong ada."
"Kamera lorong tidak melihat ranjang."
"Kalau begitu anggap saja latihan."
Arka berdiri di tempat.
Liana memiringkan kepala. "Takut?"
Kata itu jatuh seperti korek api ke minyak.
Arka berjalan mendekat. Liana sempat tersenyum menang, tetapi senyum itu berhenti ketika Arka tidak duduk di sebelahnya. Ia berdiri tepat di depan Liana, menunduk, dan menatapnya cukup lama sampai wanita itu harus mengangkat wajah.
"Kamu suka sekali memancing orang," kata Arka.
"Kalau ikannya menarik, kenapa tidak?"
"Masalahnya, kamu belum tentu kuat saat ikannya benar-benar menggigit."
Liana tertawa pelan. "Coba saja."
Arka memegang dagunya dan mencium bibirnya.
Tidak seperti ciuman sandiwara di restoran. Tidak ada penonton, tidak ada Leon, tidak ada Mario. Ciuman itu langsung membuat Liana lupa kalimat yang sudah ia siapkan. Awalnya ia masih berusaha membalas dengan gaya main-main, menggigit pelan dan menarik diri sedikit untuk membuat Arka mengejar.
Tetapi Arka tidak mengejar.
Ia justru menahan pinggang Liana, membuat wanita itu jatuh setengah telentang di ranjang. Kelopak mawar palsu berhamburan. Liana terkejut, lalu tertawa pendek, tetapi napasnya sudah berubah.
"Kamu serius sekali."
"Kamu yang memesan kamar."
"Aku memesan untuk sandiwara."
"Sandiwaranya terlalu buruk. Penonton bisa tahu kalau pemeran prianya tidak menikmati."
Liana ingin membalas, tetapi Arka sudah kembali menciumnya. Kali ini tangannya berhenti di pinggangnya lebih lama. Gaun merah anggur itu bergeser di paha saat tubuh mereka saling menekan. Liana menahan bahu Arka dengan kedua tangan, seolah ingin menjaga jarak, namun jemarinya justru mencengkeram kemejanya makin kuat.
Liana biasanya paling pandai membuat orang lain salah tingkah. Di ranjang itu, ia baru sadar mulut yang tajam tidak selalu bisa menyelamatkan tubuh yang sudah lebih dulu panas.
"Arka..." Suaranya keluar lebih pelan dari yang ia inginkan.
"Masih mau latihan?"
Liana menggigit bibir. Matanya masih menantang, tetapi wajahnya sudah merah sampai leher.
"Jangan kira aku kalah."
"Aku belum bilang kamu kalah."
"Tapi wajahmu menyebalkan."
"Kalau begitu balas."
Kalimat itu membuat sesuatu dalam diri Liana terpancing. Ia menarik kerah Arka dan mencium balik dengan lebih berani. Tangannya menyusup ke balik kemeja laki-laki itu, meraba panas kulit dan keras otot di bawahnya. Ia pernah bercanda kotor berkali-kali, tetapi menyentuh laki-laki seperti ini ternyata berbeda. Kata-kata mudah dikendalikan. Tubuh tidak.
Arka menahan pinggangnya lebih erat. Liana sempat mengeluarkan suara kecil, lalu buru-buru menggigit bibir sendiri. Saat jarak mereka hampir benar-benar kehilangan batas, ia menekan dada Arka dengan telapak tangan.
Arka berhenti sebentar.
Liana bernapas tidak stabil. Ia jelas ingin mempertahankan wajah menangnya, tetapi tubuhnya tidak bekerja sama. Gaun merah anggur itu sudah kusut di pinggang, rambutnya jatuh ke pipi, dan matanya yang biasanya lincah kini basah oleh panas yang ia nyalakan sendiri.
"Kenapa berhenti?" katanya, suaranya lebih serak dari yang ia mau.
"Tanganmu menyuruh berhenti."
"Tanganku panik." Liana menggigit bibir, lalu menarik kerah Arka lagi. "Mulutku belum."
Kalimat itu menghapus sisa jarak.
Arka kembali menciumnya. Kali ini Liana tidak lagi sempat bermain terlalu banyak. Ia masih mencoba menggoda di sela napas, masih sempat menyebut Arka menyebalkan, tetapi setiap gerakan Arka membuat kalimatnya pecah sebelum selesai. Ranjang bulat itu berderit pelan. Kelopak mawar palsu menempel di lengan dan rambutnya, lalu jatuh satu per satu ke lantai.
"Pelan sedikit," bisiknya, bukan menolak, lebih seperti marah karena dirinya sendiri terlalu cepat kehilangan kendali.
Arka menahan pinggangnya dan menurunkan ritme.
Liana justru menariknya lebih dekat.
"Aku bilang pelan, bukan jauh."
Arka tertawa rendah di dekat telinganya. "Kamu memang sulit dilayani."
"Kalau mudah, kamu bosan."
Ia ingin terdengar menang. Namun ketika Arka menekan tubuhnya kembali ke ranjang, suaranya berubah menjadi napas pendek. Tangan Liana yang tadi penuh gaya kini mencengkeram bahu Arka seperti mencari tempat bertahan. Saat Arka akhirnya benar-benar masuk dan batas terakhir itu terlewati, matanya membesar sesaat, lalu tertutup rapat. Seluruh tubuhnya menegang, kemudian mengunci Arka dengan gemetar yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Arka..."
Nama itu keluar patah-patah.
Untuk beberapa detik, Liana kehilangan semua leluconnya.
Setelah itu, kamar hanya menyisakan napas yang saling mengejar, suara ranjang yang tertahan, dan Liana yang berkali-kali mencoba menggigit bibir agar tidak terlalu terdengar. Ia bukan wanita yang mudah diam, tetapi malam itu Arka menemukan cara membuat mulutnya sibuk dengan hal selain membual.
Setiap kali Liana merasa sudah mulai mengikuti ritme, Arka mengubah tekanan sedikit saja dan membuatnya kembali kacau. Ia memukul bahu Arka pelan, lalu memeluknya lebih erat. Ia menyebutnya curang, lalu beberapa detik kemudian justru meminta jangan berhenti. Ia ingin tetap menjadi pemain utama dalam sandiwaranya sendiri, tetapi tubuhnya sudah lebih jujur daripada wajahnya.
"Masih sandiwara?" bisik Arka.
Liana membuka mata dengan napas berantakan. Wajahnya merah sampai leher.
"Diam," katanya serak. "Kalau kamu tanya lagi, aku gigit."
"Kamu sudah."
"Berarti aku gigit lagi."
Arka menunduk dan mencium sudut bibirnya. Liana membalas lebih dulu kali ini, tidak serapi tadi, tidak seberani ucapannya, tetapi jauh lebih panas. Ranjang kembali bergerak pelan, lalu makin dalam, sampai Liana harus menutup mulut sendiri dengan punggung tangan agar suara yang keluar tidak terlalu jelas.
Di luar, kota masih bergerak. Di dalam kamar, Liana yang tadi mengira dirinya hanya sedang mengatur adegan akhirnya sadar bahwa ada permainan yang begitu dimulai, tidak bisa dikendalikan hanya dengan mulut cerewet.
Beberapa lama kemudian, Liana berbaring telentang dengan rambut berantakan dan wajah masih panas. Gaunnya sudah ia tarik kembali seadanya, tetapi kusutnya tidak bisa disembunyikan. Arka duduk di sisi ranjang, mengancingkan kemejanya satu per satu.
"Ini semua salahmu," kata Liana sambil menatap langit-langit.
"Aku yang memesan kamar?"
"Kamu yang terlalu serius."
"Kamu yang bilang aku takut."
Liana mengambil bantal dan memukul pahanya. "Jangan bahas itu."
"Sekarang masih pacar palsu?"
Liana terdiam.
Ia menoleh, lalu cepat-cepat memalingkan wajah lagi. "Untuk sementara... jangan tanya."
Arka tertawa kecil.
Suara itu membuat Liana kesal. Ia duduk, merapikan rambut dan gaunnya dengan gerakan terburu-buru. Setelah panas di tubuhnya mulai turun, akal sehatnya kembali bersama kepanikan baru.
"Tunggu. Kalau Kak Leon benar-benar datang..."
"Kamu yang punya ide."
"Makanya kamu harus bantu merapikan TKP."
"TKP?"
"Tempat kejadian pacaran palsu." Liana turun dari ranjang dengan kaki masih agak lemas, lalu memungut blazer dari lantai. "Cepat. Kita pakai baju rapi. Kalau dia masuk, setidaknya masih bisa bilang kita cuma tidur."
"Dia percaya?"
"Tidak." Liana menatap ranjang yang berantakan, lalu wajahnya makin merah. "Tapi lebih baik daripada tidak berusaha."
Mereka merapikan pakaian secepat mungkin. Liana memakai blazer kembali, menyisir rambut dengan jari, lalu menarik selimut untuk menutup bagian ranjang yang terlalu kacau. Arka mengenakan jaket luar lagi dan duduk di sisi lain.
Di antara mereka masih ada jarak yang cukup untuk satu orang.
Liana berbaring dengan kaku, menarik selimut sampai dagu.
"Tidur," katanya.
"Kamu yakin bisa tidur?"
"Tidak. Tapi diam."