Follow IG: vi_via129
Nandina, menerima tawaran perjodohan yang datang kepadanya hanya untuk terbebas dari gangguan mantan kekasihnya, Jayden.
Tetapi siapa sangka, keputusan yang di ambil Nandina, justru membuatnya terjebak dalam pernikahan yang begitu menyakitkan.
Dimana tidak ada cinta di dalamnya yang ada hanya tuduhan dan penyiksaan. Semua itu bisa terjadi karena Jayden tidak berhenti mengganggunya. Walaupun Nandina sudah memiliki suami dan Jayden sendiri telah memiliki istri.
~Kenapa hidupku harus seperti ini, jika kalian tidak bisa membuat aku tersenyum, setidaknya jangan menambah luka dan air mata di hidupku.~
NANDINA.
~ Berhenti bersikap seolah kamu yang paling terluka, kamu adalah wanita pembohong yang pernah aku temui. Di depan aku kamu berpura-pura setia tapi di belakang kamu masih menemui lelaki itu.~
NICO.
~ Bagiku! kamu tetap wanitaku! pernikahan hanyalah status, tetapi hati tahu siapa pemiliknya.~
JAYDEN.
Bagaimana Dina menghadapi kedua pria ini?
Yuk kepo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vi_via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan dengan mertua.
" Pak tunggu saja Disini, mobilnya tidak perlu di parkir-kan, karena kita akan langsung pulang nanti." Ucap Dina sembari melepas sabuk pengamannya, begitu mobil itu berhenti di depan pintu utama.
" Baik Nya." Jawab Sang supir.
Setelah itu Dina pun keluar dari mobil itu dan melangkah masuk ke dalam rumah mertuanya. Sesekali wanita itu balas sapaan pelayan yang berpapasan dengannya. Sebelum langkahnya berhenti di ruang tamu.
" Nak! Kamu sudah pulang." Seru Aleya, begitu menyadari kedatangan menantunya.
" Iya Ma! Nino-nya rewel nggak ma?" Sahut Dina sembari menghampiri Aleya, meraih punggung tangan wanita paruh baya itu kemudian menciumnya. Tak lupa ia juga menanyakan tentang Nino.
Yang mana hal itu membuat Aleya tersenyum bahagia, dalam hatinya ia begitu bersyukur! Karena cucunya mendapatkan ibu pengganti seperti Dina, yang baik dan tulus menyayanginya.
Rasanya tidak salah jika waktu itu dia membujuk Nico sampai mengancam Anaknya itu untuk menikahi Dina. Entah Apa jadinya Jika wanita sebaik Dina dipersunting pria lain, mungkin selamanya cucunya tidak akan bisa merasakan kasih sayang Ibu sebaik Dina.
" Ma, mam kok Diam." Tanya Dina, sembari menepuk dengan lembut punggung tangan mertuanya yang tiba-tiba terdiam, sementara pandangan wanita itu lurus kepadanya namun tatapannya begitu kosong membuat Dina cemas. " Mama kenapa?" Tanya Dina lagi, membuyarkan lamunan mertuanya, hingga wanita itu sedikit terperanjat di tempat duduknya.
" Astaga nak, maaf jadi ngelamun." Sahut Aleya, merasa sedikit tak enak hati dengan menantunya itu. " Nico nggak rewel kok sayang, tadi dia cuma nangis sebentar saat kamu tinggal. Setelah mama bujuk dia langsung Anteng ya." Lanjutnya sembari menatap Nino yang berada dalam stroller baby yang berada di hadapannya meminta persetujuannya, Aleya dan Nino sendiri baru selesai jalan-jalan sore di halaman rumah itu sebelum Dina datang.
" Pintar sekali anak mama! Maaf ya sayang, mama terpaksa harus ninggalin kamu untuk bekerja." Dina ikut menatap Nino yang tengah asyik dengan main gigit-gigitnya itu dan langsung tertawa saat melihat wajah ibunya.
" Mam mamama." Celotehnya sambil mengangkat kedua tangannya keatas, seolah ia meminta untuk segera di gendong. Dina yang mengerti maksud dari Putranya itu langsung mengangkat tubuh mungil itu dari stroller-nya. Sembari mencium pipi chubby Nino hingga membuatnya tertawa.
Balita itu bahkan tidak peduli jika benda yang sejak tadi menjadi fokusnya terlepas dari tangannya.
Sementara Aleya yang masih berada di ruangan itu menatap haru, momen cucu dan menantunya. " Ma! Dina langsung pamit pulang ya." Izin Dina.
" Nggak istirahat dulu, nak! Kamu kan baru pulang kerja, istirahatlah dulu, kalau perlu nginap aja Disini." Sahut Aleya, namun ia justru mendapat gelengan kepala dari Dina dengan Alasan tidak memiliki baju ganti serta seragam untuk Dina pakai besok.
Sehingga Aleya tidak dapat menahan menantunya itu dan membiarkan mereka pulang. Walaupun ia sangat ingin melakukannya. " Ya sudah , kalau itu sudah menjadi keputusan kamu." Ucap Aleya lagi.
" Terima kasih ya Ma! Lain waktu aku dan Nino pasti akan menginap." Dina pun melangkah keluar rumah itu, di ikuti sang mertua di belakangnya, Setelah Aleya meminta salah satu Art-nya untuk membawa tas berisi keperluan Nino yang di bawah Dina pagi tadi.
" Iya sayang, kalian hati-hati ya! Jangan lupa kabari mama kalau kalian udah sampai rumah." Ujar Aleya, begitu mereka sampai di depan teras rumah.
" Iya ma." Jawab Dina sebelum menghampiri sang supir yang di tugaskan untuk mengantar jemput dirinya dan Nino, yang telah menunggu di sana, sembari membukakan pintu untuk mereka.
Begitu Dina duduk dengan nyaman di jok belakang, pintu mobil itu pun langsung di tutup oleh sang supir sebelum mengitari mobil itu, kemudian membukakan pintu depan dan duduk di balik kemudi, sambil membawa tas berisi keperluan Nino yang di berikan Art Aleya.
Dina menurunkan kaca mobilnya, sembari melambaikan tangan kepada Aleya begitu mobil itu bergerak dengan perlahan meninggalkan wanita paruh baya, yang masih setia melihat mobil itu bergerak menjauh sebelum hilang dari pandangannya.
Setibanya di rumah, Dina langsung meminta Rini untuk membuat makanan malam untuknya, sementara dirinya berjalan ke kamar dengan membawa Nino yang telah tertidur dalam gendongannya.
Selama ia tinggal berdua bersama Nino! Hanya itu yang Dina kerjakan. Bekerja, mengurus Nino dan sesekali jalan-jalan serta mengunjungi sahabatnya.
Dina pun mulai belajar, terbiasa dengan sikap menyebalkan suaminya itu saat menelponnya.
...\=\=\=\=\=\=\=...
" Nak Nico belum ada kabarnya? " Tanya Aleya, wanita paruh baya itu menghampiri Dina di kamarnya dan duduk di tepi ranjang, saat menantunya itu menginap di rumahnya. Sebab ini sudah bulan ke tiga setelah pria itu terakhir menghubungi Dina waktu itu.
Untuk Aleya sendiri sih sudah biasa, jika Nico berlayar dan tidak memberikan kabar. Jangankan berbulan-bulan, selama setahun penuh tidak mendapatkan kabar dari Putranya itu sudah biasa baginya. Aleya hanya kasihan dengan menantunya itu.
" Belum ada ma! Mungkin kapalnya masih di tengah laut! Tidak jaringan, mama jangan khawatir ya! Kita doakan saja! Mas Nico semoga dia baik-baik saja di mana pun dia berada saat ini." Jawab Dina, membuat wanita paruh bayah itu tercengang! Ia tahu menantunya ini baik, sabar tapi dia tidak menyangka jika Dina akan sebaik ini.
Disini ia mengkhawatirkan perasaan Dina sebagai seorang istri, tapi menantunya itu justru mengkhawatirkan perasaannya sebagai seorang ibu.
Setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama, Dina selalu membuatnya terkejut dengan kebaikannya. Bahkan saat ulang tahun pertama Nino, Dina begitu bersemangat memberikan yang terbaik untuk cucunya, mengabadikan setiap momen di hari ulang tahunnya kemudian ia simpan dalam sebuah album Bukan hanya itu saja! momen tubuh kembang Nino pun ia abadikan.
Tidak sampai disitu saja, baiknya Dina! Karena wanita itu juga menggantikan peran Nico mengunjungi makam istri pertamanya. Membawakan bunga yang selalu Nico bawa ke makam itu.
" Kenapa kamu seperti ini nak? Apa kamu tidak takut jika di belakang sana Nico bermain dengan wanita lain." Tanya Aleya mencoba menguji menantunya.
Sementara Dina yang mendapat pertanyaan seperti itu dari mertuanya, terkekeh sejenak seraya menjawab. " Ma, di luar sana masih banyak gadis yang cantik dan jauh lebih baik dari aku. Dan Dina tidak tahu berapa banyak yang mas Nico temui serta tergoda dengan mereka yang datang kepadanya. Tapi prinsip aku! Aku akan tetap setia menunggunya sampai dia pulang. Dan akan berusaha memberikan kenyamanan dan ketulusan kepadanya hingga dia ingat, hanya Dinalah tempat dia pulang. Tidak apa jika belum ada cinta di antara kita tapi aku percaya, semua aku baik-baik saja selama aku setia dan percaya kepada suamiku! Ma."
Aleya tidak mempermasalahkan ucapan Dina yang mengatakan tidak ada cinta di antara menantunya itu dengan putranya, karena dia tahu hati Nico masih berat kepada ibunya Nino, tanpa dia sadari jika menantunya sendiri masih menyimpan nama pria lain di hati. " Kamu memang wanita yang baik! Beruntung rasanya mama memiliki menantu sebaik kamu."Puji Aleya atas jawaban yang di berikan Dina. Dan Aleya tidak pernah bosan memuji menantunya itu karena Dina memang sebaik itu.
" Sayangnya semua orang tidak berpikir sama seperti mama dan keluarga Bunda." Sahut Dina, ada kesedihan dalam nada bicaranya.
" Kamu benar! Karena setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda, bahkan kembar identik sekali pun." Dina mengangguk-angguk kepalanya setuju dengan apa yang di ucapkan mertuanya.
Kmrn baca Haaniyaa dulu drpd novel ini sempet heran, Dina sebaik itu koq anaknya bs minus ahlak ternyata
Jayden setia bangett yaa, cintanya sebesar itu utk Dinaa 🥰