NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb10

Setelah dua jam mengudara, mereka akhirnya mendarat di Sichuan. Ryn membuka mata ketika mendapat usapan lembut Sian di pipinya.

"Kita sudah sampai." Ujarnya memberitahu. Ryn tersenyum sebagai sapaan selamat pagi untuk pria yang kini menggenggam tangannya.

***

Kegiatan pertama ketiganya yaitu menikmati sarapan singkat di hotel tempat mereka menginap. Sian mengantar Ryn ke kamar sebelum pergi ke kantor cabang.

"Hubungi aku jika memerlukan sesuatu. Dan jangan pergi terlalu jauh, mengerti?" Pesan Sian pada Ryn.

"Ya Sian, hati-hati di jalan." Ucapnya melepas kepergian Sian bersama asisten Jun.

Ryn yang tidak ada kegiatan memilih memindahkan pakaian Sian dan dirinya dari dalam koper ke lemari. Tak sengaja Ryn melihat secarik foto Sian bersama gadis muda nan cantik. Siapa kiranya dia? Ryn jadi penasaran. Mungkinkah staf wanita yang Glenn maksud? Seketika Ryn ingat dia belum menanyakan hal itu pada Sian. Tapi apakah Ryn berhak? Sian bahkan bukan kekasihnya.

"Berapa banyak wanita dalam hidupmu Sian?" Gumam Ryn.

Dari pada dia memikirkan Sian akhirnya Ryn memutuskan turun ke bawah untuk berjalan-jalan disekitar hotel. Tadi Ryn sempat melihat di pencarian ada beberapa tempat menarik yang tidak terlalu jauh.

Kebetulan Sian melakukan perjalanan bisnis ke kota Chengdu. Chengdu adalah ibu kota provinsi Sichuan dan merupakan sebuah kota sub-provinsi, yang terletak di sebelah barat daya Republik Rakyat Chinland dan berbatasan dengan Tibet.

Keluar dari hotel, Ryn berjalan kaki sekitar lima belas menit menuju Jinli Ancient Street. Ryn menyusuri jalanan yang wajib dikunjungi ketika berada di Provinsi Sichuan.

Setibanya disana Ryn menyusuri gang yang kanan kirinya merupakan toko-toko suvenir yang menempati bangunan kuno menggelar aneka barang mulai sutra, aneka teh, keramik, bordiran khas zaman Dinasti Shu, lukisan, kaligrafi, barang antik, kerajinan-kerajinan khas lokal, pembatas buku, magnet kulkas, action figure (dari tokoh klasik sampai kekinian), aksesoris, T-shirt (dari motif panda, Chinland klasik, sampai wajah Mao Zedong), kartu remi bergambar Mao Zedong berikut ajaran-ajarannya dan cerita klasik Chinland, termasuk juga satu toko bernama Panda House yang menjual aneka pernak-pernik panda.

Ryn memilih singgah di toko aksesoris, dia melihat-lihat gelang tasbih berbahan kayu.

"Silahkan nona, gelang itu terbuat dari kayu cendana asli. Giok di tengah telah mendapat berkah biksu di gunung awan putih." Pemilik toko menunjukkan salah satu gelang yang langsung Ryn sukai.

"Aku akan membelinya." Ujar Ryn tanpa ragu. Pemilik tersenyum kemudian sibuk membungkus. Ryn ingin memberikan gelang itu untuk Sian.

Meski masih pagi tapi pasar cukup ramai pengunjung di musim semi ini. Setelah membayar dan menerima barang lalu Ryn kembali berjalan. Berhenti di kedai teh dengan penjaga yang berpakaian cheongsam.

Ryn memesan teh pu-erh usai mendengar penjelasan berbagai jenis teh. Teh Pu-erh adalah teh yang difermentasi, dan biasanya memiliki rasa yang lebih kuat dan aroma yang khas. Teh ini populer di kalangan penggemar teh yang mencari rasa yang unik dan kaya.

Karena ada kesempatan Ryn juga menyempatkan diri melakukan pemotretan mengenakan hanfu, pakaian tradisional Chinland jaman dulu.

Merasa cukup Ryn memutuskan kembali ke hotel sebelum Sian mencarinya. Dia bahkan lupa memberi kabar pria itu. Namun sesuatu tak terduga terjadi padanya, seseorang membekap Ryn dari belakang dan membiusnya menggunakan sapu tangan. Seketika pandangan Ryn tertutup tidak sadarkan diri.

Ryn pingsan selama tiga puluh menit, waktu yang cukup bagi mereka membawanya ke sebuah gudang terbengkalai. Saat tersadar Ryn bernafas lega dia tidak di ikat sama sekali.

"Nyali mu cukup besar rupanya." Suara yang ia kenali dari arah belakang membuat Ryn menoleh.

"Kekanak-kanakan sekali." Keluh Ryn mengejek tindakan konyolnya.

"Diam!" Teriakan wanita itu menggema, Ryn berhasil memancing emosinya.

"Kau pikir Sian akan menyelamatkanmu? Dia bahkan tidak akan sadar meskipun kau lenyap dari muka bumi ini." Dia meledek balik Ryn dengan begitu puasnya.

"Nona Chen kau benar. Karena aku memang tidak penting baginya, lantas kenapa kau repot-repot membawaku?" Yuri hanya tersenyum sinis sekali mendapat pertanyaan dari Ryn.

Perhatian Ryn teralih melihat siapa yang muncul dari arah belakang Yuri. Ia mencoba bersikap tenang meski dalam hati ingin kabur secepat mungkin.

"Kau urus hama ini, maka paradise akan medapat suntikan dana yang besar." Pen ternyata bekerja sama dengan Yuri tanpa sepengetahuan Yuni.

"Bawa dia!" Perintah Pen pada anak buahnya.

Untuk sementara Ryn harus menurut agar dirinya selamat. Langkah selanjutnya biar ia pikirkan selama perjalanan.

"Ingat, jauhkan dia dari Sian! Sekali aku melihatnya berkeliaran aku akan menarik kembali uangku." Ancam Yuri, Pen hanya menunduk patuh mengerti apa yang Yuri bos barunya inginkan.

Ternyata dia tidak perlu menyuruh Ryn menggoda Sian supaya menajdi investor Paradise. Untung saja Pen kedatangan Yuri yang mencoba mencari kelemahan Ryn di klubnya.

Di dalam mobil Ryn memikirkan Sian, bagaimana jika dia mencarinya dan tidak ketemu? Apakah Sian akan marah padanya? Ryn malah rindu ingin melihat wajah Sian.

Kring...

Tiba-tiba dering ponsel milik Ryn berbunyi mengejutkan mereka semua. Tadinya Ryn ingin mengambilnya dari tas namun Pen berhasil merebutnya secepat kilat. Pen membuka kaca mobil kemudian membuangnya.

"Kau cerdik juga Zhao Ryn, menggoda tuan muda ketiga keluarga Lee. Sayangnya sainganmu cukup berat." Ujar Pen meremehkan Ryn.

"Aku ingin ke toilet." Kata Ryn memberitahu Pen tanpa mempedulikan ocehannya.

"Kau berusaha menipuku." Tolak Pen tak ingin terjebak oleh rencana kaburnya Ryn.

"Kalau begitu aku akan buang air besar di sini saja." Tantang Ryn tak segan-segan kentut demi membuat Pen percaya padanya.

"Zhao Ryn sialan." Teriak Pen menoleh ke belakang mengumpat Ryn. Dia menepuk lengan supir agar menepi mencari tempat yang menyediakan toilet umum.

Meski kesal karena dikawal dua pria suruhan Pen Ryn terpaksa melanjutkan rencananya. Dia masuk ke apotek dan menatap petugas memberinya kode sos melalui gerakan tangan, berharap bisa membantunya atau sekedar menghubungi polisi. Ryn menghela nafas lega ketika melihat petugas apotek mengerti maksudnya.

Ryn termenung diatas closet menunggu dengan terus merapalkan do'a.

Tok tok...

Pengawal mengetuk pintu menyuruh Ryn cepat menyelesaikan urusannya lalu pergi. Ryn menggigit kuku jarinya mulai gugup. Ketika Ryn ingin membuka pintu tiba-tiba mendengar suara ribut. Ternyata diluar telah terjadi perkelahian antara anak buah Sian yang menghajar kedua pengawal Pen.

Pen menyadari telah terjadi masalah segera keluar dari mobil, dia sedang memegang ponsel ketika Sian dan anak buahnya masuk ke apotek. Sian melihat itu berjalan tergesa-gesa ke arah Pen, menghajar wajahnya sekuat tenaga hingga Pen terpental jatuh. Lalu Sian menginjak perut Pen tanpa ampun.

"Jika dia terluka sedikit saja, kau mati ditanganku." Ancam Sian, perut Pen semakin ditekan oleh Monk straps miliknya.

"Ampun tuan, aku tidak akan mengganggu Zhao Ryn lagi. Tolong lepaskan aku." Pinta Pen menangkup kedua tangannya menahan rasa sakit dan mual.

"Beri dia pelajaran." Sian memerintah Jun agar mengamankan Pen dan kedua anak buahnya ke tempat tertentu.

"Baik tuan. Mereka akan mengawal anda dan nona." Asisten Jun menarik paksa Pen keluar menuju mobilnya.

Sementara Sian menghampiri toilet. "Ini aku, buka pintunya." Kata Sian memberitahu Ryn yang langsung membuka pintu.

"Kau perlu diberi pelajaran Zhao Ryn." Sungguh, melihat ketenangan Sian dalam mengelola emosinya membuat Ryn takut sekaligus senang. Apapun konsekuensi nya Ryn akan Terima selagi itu dari Sian.

Sian kali ini tidak menyeret Ryn seperti sebelumnya, melainkan membiarkan wanita itu berjalan sendiri di belakangnya. Namun Sian tetaplah Sian, dia membukakan pintu untuk Ryn. Jika begini Ryn semakin meleleh oleh sikap Sian.

"Aku perlu memberi ibumu peringatan." Ucap Sian memecah suasana dingin keduanya.

"Bukan dia." Jawab Ryn cepat tak ingin Sian salah sasaran. Karena Ryn yakin Pen bergerak tanpa sepengetahuan sang ibu.

"Sampai kapan kau membelanya Zhao Ryn" Bentak Sian marah melihat Ryn malah menutupi kesalahan Yuni, menurutnya.

"Pen hanya merasa rugi aku belum memberinya keuntungan. Yuni tidak tahu kejadian ini." Tambah Ryn meyakinkan Sian.

"Mulai sekarang kau tidak berhutang apapun padanya, ingat itu!" Ujar Sian memutuskan. Karena dia sedang membuat Pen kapok mengganggu miliknya.

"Terima kasih Sian, dan maaf." Ryn menyesali keteledoran dirinya yang lupa memberitahu kemana ia pergi tadi. Untungnya Sian sempat melacak nomer ponsel Ryn, meminta bantuan Cyber kota demi mencari Ryn. Pas ketika polisi menerima laporan kejahatan dari petugas apotek. Asisten Jun bahkan memberi sedikit ucapan Terima kasih, dan ganti rugi akibat kerusakan yang mereka buat.

Sian hanya menoleh sekilas pada Ryn tanpa ingin menanggapi. Ryn menghela nafas, ia memilih melihat ke arah jendela di sisa perjalanan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!