NovelToon NovelToon
Cermin Retak

Cermin Retak

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kos-an yang tidak jauh dari tempat kerjanya. tempatnya bagus dan ada juga, penghuni kos-kosan lainnya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin besar di kamar.

Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.

Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal ia masih natap cermin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 31

Mereka melintasi ambang pintu kayu yang diukir kaligrafi tipis. Begitu kaki terakhir menapak di dalam rumah, Ustadz Haris langsung menutup pintu depan dengan rapat, menguncinya dari dalam, lalu menempelkan selembar kain putih berajah di tengah daun pintu.

BLEDAK!

Guntur kembali menggelegar, kali ini tepat di atas atap rumah. Angin mendadak bertiup kencang. Papan-papan dinding kayu berderit keras. Suasana di dalam ruang tamu yang semula terang berubah gelap. Seolah-olah waktu ditarik paksa. Suara gemericik hujan mendadak turun, tetapi anehnya, air yang menghantam atap seng berbau busuk. Menyengat.

"Tio, bantu saya geser karpet ini. Bu Mimi, tolong ambilkan baskom kuningan di balik tirai itu," perintah Ustadz Haris dengan tenang, meski urat-urat di lehernya menegang.

Ustadz Haris membentangkan kain putih lebar di tengah ruangan, lalu menggambar lingkaran menggunakan bubuk kapur sirih. Anya dan Serra diminta duduk berdampingan tepat di tengah lingkaran tersebut.

"Ustadz... kenapa warna langitnya bisa berubah secepat ini?" bisik Wulan dari sudut ruangan, matanya tak berani lepas dari jendela yang kini tertutup rapat, bergetar hebat dihantam angin luar.

"Kegelapan ini bukan bawaan alam," sahut Ustadz Haris seraya menyalakan sebatang lilin lebah. Cahaya kuning remang meliuk-liuk, memantulkan bayangan mereka yang memanjang di dinding.

Anya meraba lehernya. Rasa hangat dari air doa tadi mendadak memudar, berganti dengan rasa geli yang menjijikkan. Seakan ada ratusan cacing kecil bergerak di jaringan kulit lebamnya.

"Ustadz! Leher Anya... lebamnya bergerak lagi!" seru Tari histeris.

Bukan hanya lebam Anya, luka gores di pipi Serra pun kembali mengeluarkan lelehan darah hitam yang tak kunjung membeku. Bau amis membuncah hebat di dalam ruang tamu yang tertutup rapat.

"Anya, Serra! Tatap lilin di depan kalian! Jangan lepas pandangan!" seru Ustadz Haris tanpa memutus bacaan ayat-ayat suci yang terus mengalir deras dari bibirnya.

Anya memaksakan matanya menatap lekat pada kobaran api kecil lilin lebah di tengah lingkaran kapur. Tenggorokannya seakan terbakar, bagai ada benda padat yang dipaksa keluar dari dalam dadanya. Di sebelahnya, Serra mengerang. Memegangi pipinya yang kini mengeluarkan uap tipis bertarung dengan bacaan doa.

BRAK!

Atap seng rumah bertingkat itu berderak hebat, seolah ada benda berat yang mendarat di atasnya. Kayu-kayu penyangga berderit. Dari sela-sela eternit, cairan hitam kental menetes jatuh... satu per satu, tepat di luar garis lingkaran kapur sirih. Setiap kali tetesan menyentuh lantai, baunya membuat Wulan dan Tari mual hingga terbatuk-batuk.

"Bu Mimi, Tio, pegang pundak mereka berdua! Jangan biarkan tubuh mereka terlempar!" perintah Ustadz Haris.

Bu Mimi melompat maju, menekan cengkeraman di pundak Anya. Begitu juga dengan Tio menahan Serra dengan sekuat tenaga.

Ustadz Haris menaruh telapak tangan di atas kepala Anya, lalu melantunkan ayat Kursi dengan intonasi yang kian menekan dan bertenaga. Seketika, lilin di tengah lingkaran menyala membesar, memancarkan cahaya keemasan yang menembus remang ruangan.

"KELUAR!" bentak Ustadz Haris menggelegar.

Anya melonjak, tubuhnya melengkung ke atas. Dari tenggorokannya meluncur lendir hitam bercampur bau busuk. Serra mengalami hal serupa... luka di pipinya keluar cairan hitam.

Gemuruh angin di luar rumah mendadak berhenti. Suara pukulan di pintu lenyap. Angin kencang yang menghantam dinding kayu berganti menjadi hembusan angin siang yang tenang. Cahaya matahari menerobos masuk lewat celah jendela yang pecah, mengusir kabut kelabu yang berada di sudut-sudut ruangan hingga menguap tak berbekas.

Anya ambruk ke dada Bu Mimi, terengah-engah mencari udara segar. Tenggorokannya terasa lapang kembali, lebam hitam di lehernya kini benar-benar memudar menyisakan warna kulit aslinya. Serra pun terkulai lemas, napasnya perlahan teratur.

Ustadz Haris menyapu keringat di dahinya dengan lengan baju. Menghembuskan napas lega. Ia melirik cairan hitam di atas kain.

"Ikatan sudah putus," kata Ustadz Haris dengan suara pelan namun lega. "Makhluk itu masih ada disini, kalian jangan lengah. Karna dia akan menuntut balas."

Ruangan itu mendadak sunyi. Hanya ada deru napas mereka yang naik-turun memburu dan derit halus papan kayu yang perlahan mendingin. Cahaya hangat matahari siang melintasi celah-celah papan dinding, membawa sedikit kedamaian setelah ketegangan gila yang nyaris merenggut nyawa.

"Menuntut balas...?" bisik Tio, suaranya gemetar. Tangannya pelan-pelan melepas cengkeramannya dari bahu Serra. "Maksud Ustadz, makhluk itu nggak bakal berhenti begitu saja?"

Ustadz Haris tidak langsung menjawab. Ia melangkah tenang ke arah baskom kuningan, lalu membungkus kain putih berisi sisa-sisa lendir hitam itu dengan sangat hati-hati.

"Mahkluk itu mengincar Anya, dan dia semakin dendam. Karna mangsanya lepas." jelas Ustadz Haris pelan." justru karena itulah kemarahannya akan melipat ganda. Dan kita harus cari tau, apa yang di inginkan mahkluk itu."

Anya meraba lehernya dengan jemari. Kulitnya terasa dingin."Ustadz... sebenarnya mahkluk apa yang menganggu kami. Dan kenapa dia bisa ada di dalam cermin."

Ustadz Haris menghentikan gerakannya yang sedang mengikat kain putih. Pria setengah baya itu menghela napas panjang, tatapannya menyapu wajah Anya yang pucat pasi sebelum akhirnya mengarah ke sudut ruangan, tempat sebuah cermin tua berbingkai kayu ukir tergantung.

"Cermin itu bukan sekadar kaca pemantul, Anya," suara Ustadz Haris terdengar berat, bergema pelan di dalam ruang tamu yang mendadak hening.

"Di dunia gaib, cermin kuno adalah salah satu media portal paling berbahaya. Makhluk yang mengejar kalian dikenal sebagai sosok gaib pemakan sukma yang mendiami tempat-tempat terlarang."

Anya merinding hebat. Gambar bayangan dirinya sendiri di dalam cermin kamarnya sebulan yang lalu mendadak berkelebat di ingatan. Saat ia ngambil foto di cermin tua kos-an. tiba-tiba muncul bayangan tersenyum melengkung tidak wajar, padahal bibirnya sendiri sedang mengatup rapat karena ketakutan.

"Tapi kenapa dia bisa ada di dalam cermin kamar saya, Ustadz?" tanya Anya, suaranya bergetar hebat. "Saya tidak pernah membawa barang aneh ke kos."

Ustadz Haris melangkah mendekati Anya, lalu berlutut agar pandangan mereka sejajar. Ia menunjuk ke arah kain putih yang menampung cairan hitam pekat tadi.

"Apa yang diinginkan makhluk itu? Ia tidak cuma menginginkan nyawa kau. Ia butuh sukma kau untuk menggantikan posisinya. Jika kau mati ditangan makhluk itu, sukmamu yang akan terikat selamanya di dalam cermin, menggantikannya di alam sana."

Tari dan Wulan menutup mulut mereka, menahan jeritan horor yang nyaris lolos.

"Jadi... Bagaimana cara untuk menghentikan ini?" potong Bu Mimi, matanya berkilat tajam menyadari konsekuensi dari ucapan Ustadz Haris.

1
Teh Euis Tea
alhamdulilah semuanya selamat, tinggal menjaga jgn sampe ada perpecahan lg
Teh Euis Tea
ya ampun aku sampe nahan nafas bacanya, saking tegangnya
glaze dark
terimakasih atas dukungan kalian smua, maaf tidak bisa blas komentarnya satu-satu, tpi aku ucapkan terimakasih atas semua dukungan kalian dan semoga Allah membalas kebaikan kalian 🙏🙏🙏🙂🙂
Teh Euis Tea
huh penasaran tp nunggu besok up lg
Teh Euis Tea
tegang tp penasaran aku bacanya
Aisyah Utami
..
Sarah Bagan
lanjut kak
Teh Euis Tea
makin seru baca subuh2
Teh Euis Tea
Anya, harus di akhiri nya biar ga ada lg yg membukanya
Teh Euis Tea
sampe ikut gos gosan aku bacanya, seolah aku ada disana
Sarah Bagan
jjr critanya bgus sih, ga ada adegan cinta, tapi seram😭😭😭😭
Teh Euis Tea
tegang, takut, deg degan aku bacanya
Teh Euis Tea
duhh siapa lg ini penghianat selain Rasyid
Teh Euis Tea
sampe nahan nafas aku bacanya saking tegangnya
Teh Euis Tea
duh deg degan aku bacanya
MARQUES
asli cerita nya sangat menengang kan sekali aku sampe deg deg an bacanya mantap author cerita nya bagus🙏
Sarah Bagan
lanjutkan kak, tmbh seram
Teh Euis Tea
makin tegang
Teh Euis Tea
nah loh siapa Rasyid? ada dendam apa sm keluarga Anya dan mengenal ustadz Haris?
makin penasaran
Teh Euis Tea
takut bgt aku bacanya pdhal msh pagi loh aku baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!