Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sang perampok menggulung kembali cambuknya dengan gerakan santai, lalu menyampirkannya di pinggang. Ia melangkah mendekati bangkai macan yang masih hangat, lalu beralih menatap sang bocah yang masih terduduk lemas di tanah dengan wajah belepotan debu dan keringat dingin.
"Bagaimana, bocah? Masih mau kabur?" tanya Sang Warok, nadanya terdengar meremehkan namun penuh wibawa yang menindas. "Hutan ini bukan tempat bermain. Tanpa ilmu yang cukup, kau hanya akan jadi kotoran di perut binatang buas."
Bocah itu diam. Gemetar di tubuhnya perlahan mereda, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit dada. Ia melihat pisau dapur di tangannya—pisau yang tadinya ia kira bisa menyelamatkannya, ternyata sama sekali tak berguna di hadapan cakar macan, apalagi di hadapan cambuk maut pria ini.
"Kau..." bocah itu mendesis, suaranya serak. "Kenapa kau tidak biarkan saja aku mati?"
"Sudah kukatakan, bukan? Nyalimu dan struktur tulangmu itu terlalu berharga untuk dibuang sia-sia di dalam perut macan," Sang Warok terkekeh pelan. Ia kemudian berjongkok di depan bangkai macan, menghunus sebilah belati kecil dari balik pinggangnya, dan dengan cekatan mulai menguliti kaki belakang binatang itu.
Sret... Sret...
Bau anyir daging segar kembali merebak. Si bocah memalingkan wajahnya, perutnya mendadak mual. Ingatannya kembali melemparnya pada bayangan ayah dan ibunya yang disembelih dengan cara yang sama.
"Dengar, bocah," ucap Sang Warok tanpa mengalihkan pandangannya dari daging macan. "Kau punya dendam kesumat padaku. Itu bagus. Simpan dendam itu, rawat baik-baik di dalam dadamu. Jadikan itu bahan bakar agar kau bisa bertahan hidup di tempat ini."
Sang Warok kemudian memotong seonggok daging paha macan yang merah segar, lalu melemparkannya tepat ke hadapan sang bocah.
Bugh.
"Bawa daging itu kembali ke gubuk. Bersihkan, lalu bakar. Mulai hari ini, kau harus makan banyak daging agar otot-ototmu mengeras. Kalau kau menolak makan dan memilih mati kelaparan, artinya kau sendiri yang menyerah untuk membalas dendam pada pembunuh orang tuamu."
Kata-kata itu menghantam ulu hati sang bocah. Kata **"membalas dendam"** seolah memicu kembali percikan api yang sempat padam di matanya. Ia menatap daging macan di depannya, lalu menatap punggung tegap pria bertopeng itu.
"Benar," pikir si bocah. "Kalau aku mati di sini, bajingan ini akan melenggang bebas menikmati harta ayahku."
Dengan tangan yang masih gemetar namun penuh dengan tekad baru yang kelam, bocah itu memungut potongan daging macan yang berlumuran darah tersebut. Ia berdiri, memeluk daging itu di dadanya, lalu berbalik melangkah perlahan menuju gubuk bambu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Di belakangnya, Sang Warok kembali tertawa renyah, tawa yang penuh kepuasan. Langkah pertama dari perjanjian gila ini baru saja dimulai.
Hari-hari berikutnya di gubuk tengah hutan itu menjelma menjadi neraka dunia bagi sang bocah. Tidak ada waktu untuk meratap, tidak ada ruang untuk bermanja. Kehidupan pesisir selatan yang hangat kini digantikan oleh dinginnya kabut Pegunungan Sewu dan didikan brutal tanpa ampun.
Setiap pagi, sebelum matahari sempat menyembul dari balik perbukitan batu karang, Sang Warok sudah membangunkannya. Bukan dengan panggilah lembut, melainkan dengan hentakan ujung cambuk yang meledak tepat di samping telinganya.
*Pletar!*
"Bangun, bocah! Matahari sudah mau meninggi, kau masih melingkar seperti cacing!" bentak Sang Warok.
Tugas pertama bocah itu setiap hari adalah memikul dua gentong batu berisi air dari sungai di dasar lembah menuju gubuk di atas bukit. Jalanan setapak yang curam, berbatu tajam, dan licin menjadi saksi bagaimana kaki-kaki kecilnya berulang kali berdarah dan terperosok. Namun, tiap kali ia jatuh dan airnya tumpah, Sang Warok yang mengawasi dari atas pohon hanya akan berkata dingin:
"Tumpah satu tetes, artinya kau harus turun lagi. Menangislah sepuasmu, air matamu tidak akan bisa mengisi gentong itu."
Tiga bulan berlalu. Tubuh si bocah yang dulunya agak berisi layaknya anak sodagar kaya, kini mulai menyusut, berganti menjadi gumpalan otot yang kering dan keras. Kulitnya menghitam terbakar matahari. Namun yang paling mengerikan adalah sorot matanya; sepasang mata bulat yang dulunya jernih, kini meredup, menyembunyikan bara dendam yang kian pekat.
Suatu sore, setelah selesai memikul air, bocah itu berdiri di halaman gubuk. Sang Warok sedang duduk di atas sebatang pohon tumbang, sibuk mengasah golok besarnya dengan batu kali.
Melihat gurunya lengang dan membelakanginya, darah bocah itu mendadak mendidih. Rasa benci yang dipendamnya selama berbulan-bulan membuncah ke ubun-ubun. Dengan gerakan seringan mungkin, ia menyambar kapak pembelah kayu yang terletak di dekat tumpukan ranting.
Set!
Ia berlari tanpa suara, melompat, dan mengayunkan kapak itu sekuat tenaga ke arah leher Sang Warok. "Mati kau, Iblis!!!" Raungnya memecah kesunyian sore.
Klaaanggg!
Bocah itu terkesiap. Gerakannya yang ia kira sudah sangat cepat dan tak terdengar, ternyata dengan mudah digagalkan. Tanpa berbalik penuh, Sang Warok hanya mengangkat golok yang sedang diasahnya ke belakang kepala, menangkis mata kapak tepat di udara. Rekatan benturan itu membuat telapak tangan si bocah bergetar hebat hingga kapaknya terlepas.
Sebelum bocah itu sempat mundur, kaki Sang Warok berputar menyapu dadanya.
Bugh!
Tubuh kecil itu terlempar beberapa meter, bergulingan di atas tanah berdebu. Ia terbatuk-batuk, memegangi dadanya yang sesak.
Sang Warok bangkit, melangkah perlahan mendekatinya. Golok di tangannya berkilat memantulkan cahaya senja yang merah darah. Ujung golok itu kemudian ditempelkan tepat di bawah dagu sang bocah, memaksa bocah itu mendongak.
"Berapa kali harus kukatakan, bocah?" desis Sang Warok, matanya di balik topeng menyipit tajam. "Seranganmu tadi dipenuhi oleh hawa membunuh dan amarah yang meledak-ledak. Seorang pendekar sejati bisa merasakan getaran angin dari amarahmu bahkan sebelum kau mengayunkan senjata."
Sang Warok menekan sedikit ujung goloknya hingga setetes darah segar mengalir di leher si bocah.
"Jinakkan dulu amarahmu. Sembunyikan dendammu di tempat yang paling dalam, hingga aku pun tidak bisa merasakannya. Kalau kau menyerangku dengan cara bodoh seperti ini lagi, aku tidak akan segan memotong kedua kakimu agar kau tidak bisa berjalan selamanya. Paham?"
Bocah itu tidak menjawab. Ia hanya menatap mata Sang Warok dengan pandangan yang menusuk. Ia tidak meneteskan air mata sedikit pun. Di dalam hatinya, ia mencatat satu pelajaran penting malam itu: Untuk membunuh seorang iblis, ia harus belajar menjadi lebih iblis dari gurunya.
Sang Warok menarik kembali goloknya, lalu menyarungkannya. Ia berjalan menuju gubuk dan mengambil sesuatu dari dalam. Ketika kembali, di tangannya ada seutas tali tali putih besar yang dijalin tebal—sebuah *kolor* khas Warok.
"Mulai besok, latihan fisikmu selesai," ucap Sang Warok sambil melemparkan tali putih itu ke tanah di depan si bocah. "Kita mulai melatih batin dan kanuraganmu. Ikat perutmu dengan tali itu, dan bersiaplah untuk tidak tidur selama tiga hari tiga malam di atas batu karang itu."
Bocah itu memandang tali putih di bawahnya. Langkah menuju puncak ilmu hitam Ponorogo baru saja dibuka, dan ia siap melangkah ke dalamnya demi satu tujuan: memutus kepala pria di hadapannya.