(Warning 19 )
Bijak-bijaklah membaca, ada adegan naik turun, dan mungkin sedikit panas.
Lola Elakshi gadis cantik bermata coklat, berambut ikal bawah. Ibunya meninggal saat melahirkannya.
Ayahnya selalu menyalahkan dirinya atas kepergian Ibunya dan selalu berkata dia anak pembawa sial.
Ayahnya menikah lagi. Setelah umurnya 19 tahun, bisnis Ayahnya bangkrut hingga terlilit hutang yang tidak bisa di bayar.
Suatu hari ada pelelangan di kota mereka, Ibu tirinya berinisiatif membujuk dirinya untuk....
Untuk lebih jelasnya mampir ke Bab ya.. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah 6 bulan (Flashback/Flash of)
Part 29
_______
Elakshi memegang kedua tangan Aswin, ia mencium punggung kedua tangan Aswin kanan dan kiri. “Karena kebaikan Presdir, aku sudah melupakan itu semua. Dan kini pernikahan dan kebersamaan kita sudah memasuki bulan ke 6 dari awal pertama kita berjumpa.” Sahut Elakshi lembut.
“6 bulan. Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu dan kini kamu seutuhnya menjadi istriku. Kalau aku boleh bertanya, sejak kapan kamu mengetahui jika tindakan operasi yang kamu lakukan itu dariku.” Tanya Aswin yang menatap serius wajah Elakshi yang tersenyum manis menatap wajahnya.
Elakshi merangkul lengan tangan kanan Aswin. “Sebaiknya kita bicarakan di ruangan, sebab di sini sangat lembab dan tidak nyaman.” Ajak Elakshi sambil melangkahkan kedua kaki menuju pintu rahasia.
Aswin dan Elakshi pun keluar dari dalam kamar mandi, kini mereka duduk di sofa ruangan kantor Elakshi yang cukup nyaman. Elakshi juga menyeduhkan minuman untuk dirinya dan Aswin.
Di dalam ruangan milik Elakshi sangat lengkap dan nyaman. Ada kulkas mini yang sudah terisi penuh, tempat penyeduh kopi, tempat air panas /dingin jadi jika Elakshi butuh sesuatu tidak perlu repot memanggil pelayan Restorannya.
Aswin dan Elakshi kini duduk di sofa yang nyaman di temani secangkir teh dan kopi, tak lupa buahan segar sebagai pencuci mulut. Elakshi memandang wajah Aswin yang sedang menyeruput kopi buatannya.
“Awal mula aku mengetahui jika Presdir pelaku yang membiayai semua operasiku.”
...Kembali ke 6 bulan yang lalu....
...🧐🧐...
3 bulan setelah operasi aku pulang, begitu juga dengan Presdir. Saat aku ingin merapihkan koper milik Presdir, tak sengaja ada sebuah kertas yang masih menempel tertinggal di sela laci koper Presdir. Aku mengambil kertas itu dan melihatnya, ternyata itu tiket pesawat tujuan ke Negara LA. Di mana aku juga berada di sana selama 3 bulan lamanya, tapi kenapa aku tidak bertemu dengan Presdir.
Aku terus mencari tahu dan mencari tahu, aku mencari tahu secara diam-diam tentang lapangan pesawat pribadi yang tak jauh dari Villa milik Presdir. Tak sengaja aku mendapatkan informasi tersebut dari sebuah berita lama yang berada di jejaring sosial media 10 tahun yang lalu dimana Presdir masih berusia 17 tahun tapi sudah mendapatkan tingkat keberhasilan yang cukup pesat untuk anak remaja seperti Presdir.
Di berita itu di sebutkan jika “Presdir muda yang berinisial A.A telah resmi membuka lapangan buat landasan pesawat jet pribadi miliknya.”
Aku penasaran A.A, tahun dan umur jika di gabungkan itu sama persis dengan Presdir. Dan A.A, aku baru menyadarinya jika nama awalan Presdir Aswin dan Aryasatya. Jika di buat inisial maka akan jadi A.A.
Beberapa hari kepulanganku aku mengunjungi kediaman yang dulu aku cintai, aku ingin menunjukkan jika takdir bisa di rubah, tapi apa. Aku malah di hina habis-habisan. Di situ bibi pembantu yang selama ini merawat dan menjagaku tak sengaja melihatku yang sudah berubah bak boneka cantik, tanpa bekas luka bakar.
Bibi pembantu merasa kasihan atas tindakan pria (Ararya) itu kepadaku, bibi pembantu mengirimi aku pesan dan tak lupa ia juga meminta maaf jika 3 bulan yang lalu tangan kanan Presdir yaitu Revival ada mewawancarai dirinya.
...Kembali ke Elakshi dan Aswin....
...😘😘...
Elakshi mengambil teh dan menyeruputnya. “Sruup.” Elakshi tersenyum manis menatap wajah Aswin yang terlihat pucat. “Terimakasih.” Ucap Elakshi lembut, kedua mata menyipit dan kepala sedikit miring ke kanan.
“Ah.” Ucap Aswin yang tercengang.
Dddrrtt! Drrttt!
Aswin terkejut saat ponsel miliknya bergetar. Aswin membulatkan kedua matanya saat melihat layar ponsel yang terus menyala. Wajah terlihat suram, kedua tangan gemetar. Aswin mematikan ponselnya dan memasukkan kembali ke saku kemeja miliknya.
Elakshi menatap curiga, kenapa Aswin tidak seperti biasanya saat melihat ponselnya berdering. Elakshi juga yakin jika itu bukan panggilan telepon dari Revival. Elakshi yang penasaran mulai bertanya. “Kenapa tidak di jawab.”
“Tidak penting.” Ketus Aswin yang terlihat tidak baik-baik saja.
Elakshi semakin curiga, siapa yang membuat Aswin berubah seperti ini. Elakshi berusaha tenang walau sedikit merasa cemburu. Elakshi berdiri. “Sudah sore sebaiknya kita pulang saja.” Elakshi melangkah pergi dengan wajah yang datar.
Aswin segera berdiri, ia menarik dari belakang tangan kanan Elakshi. “Kamu kenapa?” tanya Aswin yang terlihat murung.
Elakshi menoleh sedikit, “Justru aku yang bertanya, Presdir kenapa?” jawabnya datar.
Aswin memalingkan wajahnya yang terlihat tidak bersemangat. “Bukan siapa-siapa.” Sahutnya pelan. Aswin mencairkan suasana yang terlihat dingin, ia mencoba tersenyum menatap wajah Elakshi yang terlihat cemberut. Aswin menggendong tubuh mungil Elakshi. “Nona muda tidak boleh banyak berjalan, apa lagi jika ingin cepat dapat anak yang manis dan juga lucu seperti Ibunya.” Ucap Aswin yang merayu Elakshi.
Elakshi memukul pelan dada kekar Aswin. “Presdir. Malulah jika kita dilihat karyawan seperti ini, sebaiknya aku turun saja.” Ucapnya dengan kedua pipi yang memerah.
Aswin semakin mengeratkan tangannya. “Aku tidak perduli, saat ini dunia milik kita berdua. Aku tidak mau membuat kamu kelelahan karena nanti malam akan aku buat beberapa ronde sampai jadi.”
“Haha.” Elakshi tertawa lebar, ia menyeka air mata yang menetes di ujung ekor matanya. “Presdir pikir kita lagi membuat adonan kue.”
Aswin melangkahkan kaki kanannya. “Ia. Adonan spesial.” Sahutnya penuh semangat.
Aswin dan Elakshi terus melangkah keluar dari ruang kantor yang berada di Restoran miliknya. Semua para pelayan, koki dan petugas lainnya hanya tertunduk tidak berani menatap mereka yang sedang melangkah. Aswin terus melangkah sampai di tempat parkir.
Aswin membuka pintu mobil dan menurunkan Elakshi di kursi penumpang. Setelah itu Aswin mengendarai mobilnya meninggalkan parkiran Restoran mewah milik Elakshi.
1 jam kemudian, Aswin dan Elakshi sudah sampai di halaman parkir kediaman Aswin. Kedua mata Aswin membesar saat melihat mobil mewah berwarna putih terparkir di tempat parkiran rumahnya.
“Kenapa wanita ini datang.”
“Wanita.” Tanya Elakshi spontan.
Aswin memutar stir mobilnya menjauhi halaman depan rumahnya. “Sebaiknya kita tidak perlu kembali ke sini, kita akan kembali ke Villa atau aku akan membelikan rumah yang nyaman beserta pelayan dan penjaga buat kita berdua.”
Wajah Aswin terlihat suram. Siapa wanita itu dan ada hubungan apa antara mereka berdua?
Elakshi memegang tangan kanan Aswin yang sedang memutar stir kemudi mobilnya. Senyum manis terpancar dari bibir indahnya. “Presdir. Jika memang ada masalah sebaiknya dihadapi, tidak perlu lari dari masalah seperti ini…”
Aswin menghentikan mobilnya. Ia menatap tajam wajah Elakshi. “Aku tidak ingin kamu bertemu dengannya dan aku juga tidak ingin wanita itu mempengaruhi dirimu dan membuat kamu jauh dari sisiku seperti mendiang Ayahku. Aku mencintaimu sampai kapanpun aku akan terus mencintaimu.” Teriak Aswin, kedua mata membesar, cairan bening perlahan memenuhi kedua mata yang selama ini terlihat datar dan tenang.
Elakshi memeluk tubuh Aswin yang gemetar, apa sebenarnya yang ia rasakan dan kenapa Elakshi tidak mengetahui semua tentang dirinya. Hal itu membuat Elakshi bersedih sudah 6 bulan bersama tapi semua tentang suaminya tidak ia ketahui termasuk kedua orang tua Aswin.
Kedua mata coklat Elakshi mengeluarkan cairan bening, ia memeluk tubuh kekar Aswin. Cairan bening membasahi bagian pundak Aswin. “Aku juga sangat mencintai kamu, kamulah priaku dan sampai kapanpun kamu tetap pria milikku.” Elakshi melepaskan pelukannya ia memegang tangan kiri Aswin. “Aku tidak masalah berjumpa dengan wanita yang kamu tidak sukai, dan aku berjanji tidak akan terpengaruh dengan apa yang ia katakan.”
“Ta-tapi….”
Elakshi melayangkan kecupan di bibir Aswin dengan lembut setelah itu melepasnya. “Kamu adalah calon Papa dari anak-anak kita yang akan hadir di kemudian hari, tidak tahu kapan yang jelas aku berharap kamu adalah calon Papa yang sangat kuat dan tegas. Mampu memecahkan masalah dan tidak lari dari masalah, sekalipun masalah itu sangat besar. Aku akan menemani Presdir.”
“Jangan, biar aku saja yang menemuinya.” Sahut Aswin tidak semangat.
Elakshi membuka sabuk pengamannya. “Tidak. Aku juga ingin tahu siapa wanita itu agar aku tidak terbakar api cemburu.”
...Bersambung.........