NovelToon NovelToon
Cermin Retak

Cermin Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:968
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.

Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.

Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10

Tring. HP Serra getar di meja. Chat grup kantor.

Atasan: Tim, lembur hari ini di cancel ya. Listrik lantai 3 mau dimatiin buat maintenance. Pulang on time.

Serra ngangkat alis, terus nyodorin layar HP ke Anya."Tuh kan. Semesta nyuruh kita pulang cepat."

"Hah...beneran?" Tanya Anya

"Iya. Berarti kita bisa pulang cepat hari ini." Serra udah mulai nyimpen pulpen ke laci.

"Ya udah yuk. Kita lanjutin kerjaan dikit lagi biar cepat selesai... atau mau makan dulu?"

Anya mikir 2 detik. Perutnya sih lapar, tapi kepalanya belum tenang."Makan dulu aja 10 menit. Abis itu langsung beres-beres ya?"

Serra senyum. "Deal. Tim paling efisien."

Mereka jalan ke arah kantin. Langkahnya pelan. Tidak buru-buru kayak orang pulang kantor biasanya. Kantin lantai 1 masih ramai Bau nasi goreng, mie, sama teh anget kecampur jadi satu. Normal. Hangat. Anya milih duduk di pojokan, dekat jendela. Tempat yang paling terang.

Serra pesenin dua porsi nasi ayam dan es teh. "Nih," Serra naruh nampan di meja. "Makan yang banyak. Biar nggak lemes."

Anya ngambil sendok, tapi makannya pelan. Kayak masih mikir."Ser..."

"Hm?"

"Kau percaya nggak sih...sama hal-hal gituan?"

Serra nyuapin nasi, terus mikir. "Aku sebenarnya nggak percaya... sampai ngalamin sendiri." Dia nyengir kecil, tapi matanya serius. "Tadi di pantry itu, jujur aku merinding juga."

Anya ketawa kecil. Kaku. "Berarti aku nggak gila sendirian ya."

"Nggak. Kau cuma capek. Sama... mungkin ada yang lagi iseng." Serra nepuk meja pelan. "Udah, makan dulu. Cerita panjangnya nanti di kos. Pas udah aman."

10 menit berlalu. Nasi habis setengah.

"Udah?" tanya Serra.

Anya ngangguk. "Udah. Nggak nafsu banget."

"Ya udah yuk. Masuk."

Suasana lantai 3 beda banget dari pas mereka tinggalin tadi. Lorong kubikel jadi sepi. Beberapa orang udah milih nyelesain tugasnya duluan. Pengumuman maintenance listrik dari atasan emang ngaruh. Satu divisi langsung gerak cepat.

"Cepetan Nya. Nanti keburu si GA nurunin tombol sakral gardu listrik," celetuk Serra sambil nyelonong masuk ke kubikel sebelah punya Anya.

Laptop Anya masih nyala. Layarnya mantul ke kacamata Serra yang udah setengah jongkok di balik sekat kubikel.

"Buruan Nya. Lima menit lagi itu tombol turun beneran," bisik Serra sambil ngelirik orang-orang sekitar yang udah mulai siap-siap mau pulangm

Anya klik shutdown. Loading. Loading. Loading. "Kenapa sih pas lagi buru-buru gini malah lemot," gerutunya pelan.

Serra nggak jawab. Dia malah berdiri, ngintip ke ujung lorong. Lampu TL di atas kepala mereka kedip sekali. Sekali doang. Terus normal lagi. Tapi cukup buat bikin tengkuk Serra dingin."Eh, itu lampu..."

"Udah diem. Fokus," potong Anya cepat.

_Dut._

Suara berat dari arah tangga darurat. Kayak ada pintu besi yang ketutup. Padahal tidak ada siapa-siapa. Anak GA bilangnya baru naik jam 5 lewat 10. Mereka berdua saling diam. Serra yang lihat hanya terpaku."Halusinasi kantor," kata Serra duluan, tapi suaranya ketinggian setengah nada. "Ayo pulang."

Mereka jalan bareng. Sepatu Serra bunyi _tak tak_ di keramik. Sepatu Anya malah nggak ada suaranya sama sekali. Sepi banget. AC udah dimatiin dari tadi, jadi hawanya pengap, kecampur bau kertas dan kopi basi dari pantry.

Pas lewat pantry, Anya ngerem mendadak.

Pintu pantry kebuka setengah. Padahal tadi mereka yakin udah nutup. Di dalam gelap. Cuma ada kulkas yang masih dengung. Lampu kecil di dispenser nyala biru.

"Ser...? pintunya..."Bisik Anya.

"Udah liat," jawab Serra cepat. Dia narik lengan Anya."Jangan diliatin. Jalan."

Tapi Anya nggak bisa nggak nengok. Di atas meja pantry, ada cangkir. Satu. Masih ngebul.

Padahal kantin udah kosong dari 10 menit lalu. Dan mereka berdua yang terakhir di lantai ini.

Jantung Anya jeblok ke perut. "Ser, serius. Tadi kita..."

"Iya aku tau," Serra motong lagi. Kali ini genggamannya di lengan Anya lebih kenceng. "Makanya jalan. Sekarang."

Mereka ngebut. Tidak lari, tapi langkahnya udah jauh dari kata pelan. Lewat kubikel, lewat printer yang layarnya masih nyala nampilin 'Printer Offline', lewat toilet yang pintunya kebuka semua.

Pas udah di depan lift, Serra pencet tombol. tidak nyala."Pasti udah diputus," gumamnya. "Tangga darurat aja."

Mereka belok ke arah tangga. Lorong ke sana lebih gelap. Cuma ada lampu emergency warna merah di tiap ujung.

Tengah jalan, HP Anya getar. Nomor: _Unknown_ Isinya cuma satu baris:

*"Jangan turun lewat tangga."*

Anya langsung nahan langkah. Nunjukin ke Serra. Tangannya gemeteran. Serra baca. Alisnya nyatu. Dia ngeluarin HP nya sendiri. Buka grup kantor. Chat terakhir ya itu tadi dari atasan. Nggak ada chat baru. Nggak ada yang iseng.

"Siapa yang kirim ini?" tanya Anya, suaranya udah serak.

Serra narik napas. Dia ngeliat ke atas tangga. Gelap. Terus melihat ke bawah. Juga gelap. "Gak tau...? Tapi kita patuh aja."

"Terus lewat mana? Lift mati."

Serra mikir 3 detik. Terus matanya nyala. "Lewat jendela darurat di ruang arsip. Deket sini. Dulu pernah dipake pas simulasi kebakaran."

Mereka lari kecil ke arah ruang arsip. Pintunya nggak dikunci. Di dalam berantakan. Kardus, map, sama debu. Dan di ujung ruangan, ada satu jendela kaca besar yang ngarah ke balkon kecil luar gedung.

Serra dorong jendela sekuat tenaga. Berat. Tapi kebuka. Angin sore langsung nyusup masuk. Wangi hujan dan aspal."Turun lewat sini," kata Serra. "Tinggal loncat ke balkon lantai 2, terus lewat tangga luar."

Anya ngintip ke bawah. Lututnya lemes. "Gila kau. Tinggi banget."

"Lebih gila kalau kita tetap di sini," jawab Serra datar. Dia udah duduk di ambang jendela, satu kaki di luar. "Pegang tangan aku."

Anya ragu. Tapi di belakang mereka, lampu emergency di lorong kedip. Sekali. Dua kali. Terus mati total. Gelas. Gelap.

Dari arah pantry, terdengar lagi. _Dut._ Kayak ada yang narik kursi pelan.

"PEGANG TANGAN AKU, NYA. SEKARANG!" bentak Serra.

Anya langsung nyambar tangan Serra. Dingin. Berkeringat. Mereka loncat bareng ke balkon lantai 2. _Bug._ Lutut Anya sakit, tapi dia nggak peduli.

Dari atas, terdengar suara langkah. Pelan. Nyerep ke keramik.

_Tak... tak... tak..._

Bukan suara Serra. Bukan suara Anya. Mereka tidak nengok. Langsung lari lewat tangga luar. Turun 2 lantai, langsung keluar ke parkiran. pada saat itu, orang-orang pada pulang, ada yang ketawa dan ngeluarin motor.

Begitu kaki Anya nginjak aspal, lampu lantai 3 gedung mereka padam semua. Gelap total. Cuma 2 detik kemudian, satu persatu nyala lagi. Normal. Kayak nggak terjadi apa-apa.

Serra lepasin pegangan di tangan Anya. Napasnya masih ngos-ngosan. Dia nyender ke motornya. "Lama banget nggak deg-degan gini," katanya sambil ketawa, tapi ketawanya pecah di tengah.

Anya duduk di trotoar. Masih gemeteran. "Itu...siapa yang chat aku?"

Serra ngeluarin HP, buka chat itu lagi. Loading. Terus pesannya ilang sendiri.

_Pesan ini telah dihapus._

Mereka diem lama. Di sekeliling orang hilir mudik, klakson, musik dari warung. Akhirnya Serra ngomong, pelan."Tadi di pantry...Aku percaya."

Anya ngangkat kepala. Mata Serra serius. Dan kali ini tidak ada candanya."Udah," kata Serra sambil ngulurin tangan. Ia narik Anya untuk berdiri. "Cerita saat di kos aja. Lebih baik sekarang kita cepat pulang."

1
Teh Euis Tea
makin penasaran
Teh Euis Tea
syukurlah mereka sampe jg ke rumah ustadz
Teh Euis Tea
hadeuhhh aku tegang bacanya tp penasaran
Teh Euis Tea
mungkin mahluk itu diamnya dipohon beringin
Teh Euis Tea
tegang aku bacanya, kasian loh Anya yg di incer trs sm setan
Teh Euis Tea
setannya kuat, apa lg Anya sering kosong pikirannya
Alissia
apa dulu itu hantunya kekasihnya tio 🤔🤔🤔🤔
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
Sarah Bagan
mntap kak, lanjutkan
Teh Euis Tea
jujur aku baru kali ini baca novel horor, takut tp penasaran
Teh Euis Tea: sama2 tetap semangat berkarya thor
total 2 replies
Teh Euis Tea
Anya sepertinya mahkluk itu ga bakal berenti ganggu km, klu kmnya sering Ng gelamun, pikiranmu sering kosong jd setan gampang masuk
Teh Euis Tea
si Anya pikirannya selalu kosong jd gampang setan masuk ke badannya
Teh Euis Tea
Anya Serra kalian banyakin istiqfar biar hati tenang dan pikiran ga diganggu mahkluk halus lg
glaze dark
nanti akan terbongkar ya kak, masih panjang ko🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: di tunggu
total 1 replies
Teh Euis Tea
aku ikutan tegang bacanya, dan penasaran kenapa si Minar terobsesi sm Anya, ada apa ya dgn Minar dulunya?
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku bacanya, mudah2 an Anya dan yg lainnya selamat
Teh Euis Tea
duhhh deg degan aku tkt Anya dan Bibah knapa napa
Teh Euis Tea
loh thor, bkn nya Anya kerja ya bkn kuliah?
atau Anya kerja sambil kuliah thor?
Teh Euis Tea
setan ko siang bolong msh gentayangan, lagian Bu kos udah tau kamar serem msh aj di sewain aturan rombak aj biar ganti suasana
Teh Euis Tea: betul ka
total 4 replies
Sarah Bagan
mungkin dibunuh kali, kita lihat aja endingnya. tamat atau Ndak, biasanya banyak novel ga tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!