Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Tamu Tak Diundang
Perjalanan pulang menuju kamar kos malam itu terasa bagaikan sebuah hukuman panjang yang sangat menyiksa batin Reno.
Ia menolak tawaran Luna untuk pulang bersama di dalam satu taksi dengan alasan klise yang luar biasa memalukan.
Reno berdalih harus mampir ke sebuah toko buku bekas, padahal ia hanya tidak sanggup duduk bersebelahan dengan gadis yang baru saja meruntuhkan harga dirinya.
Tubuh kurusnya kini terbaring lemah di atas kasur tipis, menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang catnya sudah mulai mengelupas di beberapa sudut.
Angka tiga persen itu terus berputar-putar di dalam kepalanya, menghancurkan seluruh sisa ego maskulin yang baru saja ia bangun dengan susah payah sepanjang malam.
{Aku sudah meretas sistem lalu lintas, membongkar rahasia memalukan Dika, dan menciptakan keajaiban pelindung, namun hasilnya hanyalah sebuah rasa iba belaka.}
Ia membalikkan posisi tubuhnya menghadap ke arah tembok, memeluk guling leceknya erat-erat untuk mencari sedikit sisa kenyamanan emosional yang bisa ia selamatkan.
Reno perlahan menolak keras kenyataan pahit tersebut, meyakinkan dirinya sendiri bahwa sebuah mesin secanggih apa pun tidak akan pernah bisa membaca potensi masa depan hati manusia.
Sebuah getaran mekanik yang sangat familiar mendadak terasa menyengat paha kanannya dari balik saku celana jins yang belum sempat ia ganti.
Reno merogoh sakunya dengan gerakan malas, menarik keluar perangkat hitam misterius yang telah menjadi sumber segala kekacauan tak terduga sepanjang hari ini.
Layar ponsel itu langsung menyala terang, menampilkan deretan teks biru yang bergulir konstan menyajikan sebuah analisis psikologis yang sangat tidak diminta oleh pemiliknya.
Reno mengusap layar tersebut menggunakan ibu jarinya dengan gerakan kasar, menghapus rentetan pesan ejekan itu dari pandangan matanya.
||||
"Berhenti mengejekku, aku harus memikirkan cara lain agar Luna tidak jatuh ke pelukan pria sombong tak berotak seperti Dika bagaimanapun caranya."
Ia menggumamkan kalimat tersebut dengan nada penuh tekad, menolak menyerah begitu saja pada hasil perhitungan matematis dari sebuah algoritma asmara digital.
Reno segera bangkit dari posisi tidurnya, menyilangkan kedua kakinya di atas kasur busa dengan postur tubuh yang kini ditegakkan secara paksa.
{Kalau aku tidak bisa memenangkan hati Luna dengan cara menjadi pahlawan pujaan, setidaknya aku bisa memastikan Dika tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk merencanakan kencan lanjutan.}
"Aktifkan ulang modul Ghost Tap sekarang juga, aku ingin tahu persis apa saja rencana busuk yang sedang disusun oleh Dika setelah kejadian memalukan di kafe tadi."
Ia memberikan perintah langsung ke arah layar ponsel hitamnya, jari telunjuk kanannya sudah bersiaga penuh di atas antarmuka yang siap berubah kapan saja.
Sebuah bilah proses pemuatan muncul di layar sentuh ponsel, bergerak maju dengan sangat mulus hingga mencapai angka seratus persen dalam hitungan waktu kurang dari tiga detik.
Antarmuka aplikasi perpesanan instan milik Dika seketika terbuka lebar di layar ponsel Reno, menampilkan deretan obrolan yang didominasi oleh teks keluhan bernada kemarahan.
Reno menggeser halaman digital itu perlahan ke bawah, membaca keluhan Dika yang sedang memarahi manajer Kafe Senja Syahdu atas kerugian setelan jas putih mahalnya.
Senyum kepuasan yang sangat tulus kembali tersungging di bibir Reno, merasa cukup terhibur melihat penderitaan panjang musuh bebuyutannya yang masih terus berlanjut hingga malam ini.
Ia baru saja berniat mengetuk salah satu kontak rekan Dika untuk melancarkan keisengan baru ketika layar ponselnya tiba-tiba mengalami malfungsi visual.
||||
Antarmuka penyadapan itu mendadak terganggu oleh gelombang statis, memunculkan garis-garis distorsi yang merusak seluruh susunan teks obrolan di layar.
Ponsel X-Phreak 9000 bergetar jauh lebih kencang dari biasanya, menghasilkan ritme peringatan internal yang langsung membuat bulu kuduk di sekitar tengkuk Reno meremang hebat.
Reno mengernyitkan dahi kebingungan tingkat tinggi, menatap tulisan peringatan merah menyala yang tiba-tiba menimpa layar obrolan curian milik Dika tersebut.
"Apa maksudmu dengan transmisi sinyal tingkat militer, jangan bilang kau secara acak memancing saluran komunikasi rahasia milik markas tentara kota ini!"
Jantung Reno kembali berdetak dengan ritme yang melonjak tidak wajar, menyadari bahwa ada pihak tak dikenal yang sedang melakukan pencarian paksa tepat di sekitar lingkungan kosnya.
Sebuah antarmuka pemutar audio digital berbentuk gelombang suara muncul di tengah layar ponsel, memutar rekaman sadapan percakapan dari dua orang pria secara langsung.
Suara bariton seorang pria terdengar sangat jelas dari pelantang suara ponsel Reno, membawa nada penekanan absolut yang memancarkan aura intimidasi sangat kuat.
Reno seketika menahan tarikan napasnya di kerongkongan, kedua bola matanya membelalak lebar mendengar nama seri spesifik dari ponsel hitam yang berada di genggamannya.
{Matilah aku, orang-orang ini pasti adalah pasukan khusus dari pemilik asli mesin pembawa malapetaka yang secara tidak sengaja aku pungut di pinggir jalan kemarin sore.}
||||
Suara pria kedua menyahut cepat dari seberang saluran komunikasi radio, memberikan sebuah konfirmasi tegas yang langsung membuat seluruh persendian tulang Reno terasa lemas tak bertenaga.
Reno melompat turun dari atas kasurnya dengan gerakan luar biasa panik, ujung kakinya tersandung kerangka besi ranjang hingga tubuh kurusnya hampir terjatuh membentur lantai kamar.
Ia segera berlari mendekati jendela kamarnya yang tertutup rapat, menyibak sedikit ujung tirai kain kusam untuk memantau langsung kondisi jalanan gang di bawah sana.
Jalanan gang kosannya yang biasanya sepi total pada jam menjelang tengah malam kini terlihat sangat mencekam, dihiasi oleh siluet beberapa pria dewasa yang menyelinap perlahan.
"Matikan dirimu sekarang juga, Siri-usly, matikan seluruh pemancar pelacakan sinyalmu sebelum mereka benar-benar mendobrak masuk ke kamarku dan membunuhku!"
Reno berbisik histeris ke arah layar ponsel misterius itu, ibu jarinya menekan layar secara membabi buta mencoba mencari tombol konfigurasi daya pemutus arus darurat.
Teks balasan tersebut bergulir tenang menyajikan logika komputasi tanpa rasa iba sedikit pun, sangat kontras dengan kepanikan mental luar biasa yang melanda sistem saraf Reno.
Reno menjambak rambutnya sendiri dengan kedua belah tangan, merasa sangat frustrasi menghadapi situasi pengepungan hidup dan mati yang datang begitu tiba-tiba tanpa persiapan awal.
Ia memutar pandangannya ke seluruh sudut kamar berukuran tiga kali tiga meter itu dengan kalut, mencari benda keras apa saja yang bisa digunakan sebagai senjata perlindungan diri darurat.
Satu-satunya benda yang terlihat cukup panjang untuk diayunkan hanyalah sebuah sapu lidi usang yang bersandar menyedihkan di sudut ruangan dekat pintu masuk kamarnya.
{Aku sama sekali tidak memiliki keahlian bela diri praktis, melawan sekelompok pria profesional bersenjata dengan sebatang sapu lidi patah adalah sebuah ide bunuh diri yang sangat konyol.}
||||
Reno menelan ludah kasarnya berulang kali, otaknya berputar keras mencari celah pelarian melalui struktur bangunan kos bertingkat dua yang memiliki opsi jalan keluar sangat terbatas ini.
Langkah kaki berat yang terdengar berirama dan sangat teratur tiba-tiba mengalun memecah keheningan absolut di lorong panjang luar kamar kosnya.
Suara tapak sepatu berbahan kulit keras itu melangkah pelan menaiki anak tangga kayu satu per satu, mengarah lurus menuju deretan kamar mahasiswa di lantai dua tanpa keraguan.
Reno mematung kaku di tengah kamarnya layaknya sebuah patung lilin, ritme napasnya ditahan rapat-rapat di tenggorokan saat mendengar langkah kaki tersebut terus bergerak mendekati kamarnya.
Suara decitan sepatu kulit itu akhirnya berhenti sempurna tepat di depan daun pintu kayu kamarnya yang hanya dikunci menggunakan sebuah slot grendel tipis.
Sebuah gedoran kepalan tangan yang luar biasa keras mendadak menghantam permukaan pintu kamarnya, menggetarkan seluruh engsel besi tua yang terpasang di kusen kayu tersebut.
Tiga orang pria berbadan sangat kekar yang mengenakan jas hitam rapi tampak berdiri menjulang kokoh menutupi seluruh ruang pandang di balik celah bawah pintu kamar Reno.
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending