Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dianggap pembawa sial
Tapi saat ibu menatapku lega setelah melihatku menghabiskan minuman itu, tiba-tiba pandangannya beralih ke arah jalan masuk. Wajahnya yang tadinya tenang seketika berubah, matanya melebar kaget.
Aku ikut bingung, lalu menoleh ke arah yang sama. Di sanalah ayah baru saja sampai, pulang dari ladang. Langkahnya pelan dan agak pincang, terlihat jelas menahan sakit. Di lengan dan kakinya ada beberapa luka lecet, bahkan ada yang masih sedikit basah terkena darah. Meski begitu, begitu matanya bertemu kami, dia tetap memaksakan senyum lebar seolah tak ada apa-apa.
Ibu langsung bergegas menghampiri dengan napas tersengal, tangannya sigap menyangga tubuh ayah agar tidak terhuyung. Aku dan Aslan hanya bisa ikut panik, mengikuti di belakang sambil menatap luka-luka itu dengan cemas. Kami masuk ke rumah sambil dibantu ibu.
Di luar, beberapa tetangga mulai berhenti dan berkumpul. Mereka menatap ke arah kami, lalu berbisik-bisik pelan tapi cukup terdengar samar-samar:
“Lihat saja, minggu lalu juga dia pulang dalam keadaan terluka parah. Ini bukan kali pertama lagi.”
Orang lain menyahut dengan nada rendah:
“Mau bagaimana lagi? Kau tak lupa kan, putri mereka itu dianggap pembawa sial. Ingat tidak, dua belas tahun yang lalu…”
Saat itu, datang seorang pendatang ke desa kami. Seorang wanita yang sudah berumur, berjalan tegak meski rambutnya sudah memutih dan kulitnya mulai keriput. Ia memakai pakaian serba hitam yang agak lusuh tapi terlihat rapi walaupun sederhana, hanya membawa satu tas kain hitam kecil berisi barang seadanya membawanya di tangannya. Katanya dia cuma singgah sebentar untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Sore itu, aku dan beberapa teman baru saja pulang bermain, berjalan sambil tertawa ceria. Langit sudah mulai kemerahan, kami ingin segera sampai rumah. Tiba-tiba wanita tua itu memanggil dari pinggir jalan:
“Nak… apakah kalian punya sedikit makanan? Nenek sudah lama tidak makan, perut ini terasa sangat lapar.”
Kami berhenti seketika. Aku merogoh saku baju, cuma ada dua butir permen yang baru saja kudapatkan. Tanpa ragu aku menyodorkannya ke telapak tangannya yang keriput. Dia menerimanya sambil tersenyum tipis, tapi tak lama senyumnya lenyap. Tatapannya jadi serius, matanya menatap tajam ke telapak tanganku.
Dia tiba-tiba menarik pergelangan tanganku perlahan, tak terlalu keras tapi aku tak bisa melepaskannya begitu saja.
“Nak, karena kau sudah berbuat baik… izinkan nenek lihat telapak tanganmu. Nenek bisa membaca garis takdir seseorang.”
Aku masih kecil dan polos, cuma mengangguk patuh sambil membiarkan tanganku dipegangnya.
Wanita itu menatap lama, lalu wajahnya berubah pucat. Suaranya terdengar berat dan penuh ketegasan:
“Hidupmu akan selalu dikelilingi kesialan. Kau terikat erat dengan kematian yang tak akan pernah lepas darimu.”
Aku langsung menarik tanganku dengan kaget dan takut. Jantungku berdegup kencang, rasanya orang ini sungguh menyeramkan seperti nenek sihir dalam cerita dongeng. Temanku juga terkejut, tak ada yang berani bicara. Tanpa pikir panjang lagi, kami berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju rumah, hati masih berdebar ketakutan.
Aku berlari tergopoh-gopoh masuk ke rumah, langsung mencari ibu. Ternyata dia ada di dapur, sedang mengaduk panci berisi sup yang mengepulkan asap dan wangi ke mana-mana. Tanpa berpikir panjang, aku langsung memeluk pinggangnya dari belakang, tubuhku gemetar ketakutan.
Ibu sempat kaget, lalu tersenyum lembut hendak menepuk punggungku — tapi begitu dia menoleh dan melihat raut wajahku yang pucat pasi, senyumnya langsung hilang. Dia meletakkan sendok kayunya, lalu memutar badanku menghadapnya. Kedua tangannya memegang pipiku erat, matanya meneliti seluruh tubuhku dari atas sampai bawah dengan panik.
“Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu begini?” tanyanya cemas.
Keringat dingin sudah membasahi dahiku, suaraku keluar terbata-bata:
“Ibu… tadi di jalan aku ketemu nenek tua yang menyeramkan sekali. Dia bicara hal yang aneh… aku takut sekali.”
Ibu makin mengeratkan pelukannya, nadanya lembut tapi tegas:
“Apa yang dia katakan? Ceritakan saja pada Ibu.”
Aku menelan ludah, suaranya nyaris berbisik:
“Dia bilang… aku pembawa sial, dan hidupku terikat erat dengan kematian. Ibu, aku takut dengan orang itu…”
Mendengar itu, ibu memelukku makin erat seolah takut aku hilang. Tak lama kemudian, dia mengajak aku dan Aslan masuk ke kamar, membaringkan kami di tempat tidur. Dia duduk di tepi ranjang, tangannya terus mengusap lembut kepalaku, tapi matanya menerawang jauh, pikirannya melayang entah ke mana.
Keesokan harinya, aku terbangun tepat pukul enam pagi. Suara kicau burung dan gemericik air terjun terdengar jelas masuk lewat celah jendela, seperti biasa. Aku bangun perlahan, mencuci muka sebentar lalu berjalan keluar rumah. Seharusnya pagi ini terasa tenang seperti hari-hari lain, tapi kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda.
Di depan halaman, beberapa tetangga sedang berkumpul sambil bergumam pelan. Suara mereka cukup terdengar jelas sampai ke telingaku:
“Hei, dengar tidak? Wanita tua yang kemarin singgah di desa kita itu… ditemukan tewas di sungai, tidak jauh dari sini. Katanya kematiannya mengenaskan sekali, tubuhnya penuh luka.”
Orang lain menyahut sambil menggeleng kepala:
“Aduh, kasihan sekali. Tapi aku dengar dia itu pandai membaca nasib. Bahkan sempat meramal Zara, tahu tidak apa katanya?”
“Memang apa?” tanya yang lain penasaran.
“Dia bilang Zara itu pembawa sial, hidupnya terikat dengan kematian.”
Mereka semua langsung terdiam seketika, lalu saling pandang dengan wajah pucat.
“Ya ampun… jangan-jangan wanita itu mati gara-gara anak itu?”
Begitu sadar aku berdiri tak jauh dari mereka, nada bicara mereka makin keras. Salah satu ibu-ibu langsung menarik anaknya menjauh sambil memperingatkan:
“Mulai sekarang jangan main lagi sama Zara, dengar? Nanti kamu ketularan nasib sialnya.”
Semua mata langsung tertuju padaku. Tatapan mereka bukan lagi seperti melihat anak biasa, tapi seperti sedang menatap sesuatu yang berbahaya dan harus dijauhi. Jantungku berdegup kencang, mataku terasa panas. Tanpa berkata apa-apa, aku hanya menunduk, berbalik badan dan segera masuk kembali ke dalam rumah.
Sejak hari itu, di desa kami sering saja terjadi hal-hal yang tak wajar. Kadang ada ternak yang mati tiba-tiba, jalan setapak yang longsor tanpa hujan lebat, atau panen yang gagal padahal sebelumnya subur. Lalu mulailah orang-orang saling bisik: “Pasti karena dia. Sudah dibilang bawa sial, tapi tak percaya juga.”
“Sudahlah, kita bubar saja. Jangan terlalu lama berkumpul di sini, takut-takut kita yang ikut kena nasib buruknya,” kata salah seorang sambil bergegas pergi.
Aku mendengar semuanya jelas, sampai ke tulang telinga. Tapi aku tak mau ambil pusing. Bagi aku, cemoohan dan tuduhan mereka tak ada artinya. Yang paling penting bagiku hanyalah ayah dan ibu serta adikku Aslan.
Aku segera membantu membawa ayah yang terluka itu masuk ke dalam rumah, hatiku penuh rasa cemas dan ingin selalu menjaganya.