Aila. Seorang gadis muda yatim piatu ... Yang harus menghadapi dilema dengan dua pilihan sulit dalam hidupnya.
Aila di hadapkan dengan sebuah perjodohan dengan CEO muda kaya raya, Fakhri ... Putra sahabat karib Almarhumah Ibunya. Namun sebuah rintangan besar ada di depan Aila, jika Ia memilih Fakhri, lantaran sudah ada sosok Naira yang telah menempati lebih dulu ruang di hati Fakhri.
Sementara di sisi lain ada Ardan, seorang sahabat yang diam-diam menaruh rasa pada Aila.
Siapa kiranya yang akan dipilih Aila sebagai jodohnya?
Siapa yang akan dijadikan Aila sebagai pelabuhan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VirentaNita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duka dan Kematian
Satu bulan sudah, Naira menjalani hidup bahagianya. Tanpa ada rasa khawatir tentang Fakhri yang akan berpaling atau pun menduakannya.
Kehadiran Raka menjadi penyejuk hatinya, berhasil membuat hubungannya dengan Fakhri yang sempat renggang menjadi harmonis kembali.
Raka. Anak yang diadposinya dari panti asuhan satu bulan lalu. Berhasil membawa kebahagiaan tersendiri untuknya.
Berkat Raka, Ia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu.
Naira tak lagi peduli dengan kemewahan yang dulu sempat Ia rasakan. Ya, kini hidupnya dan Fakhri berubah seratus delapan puluh derajat. Fakhri tak lagi menjabat sebagai seorang CEO setelah memutuskan hubungan dengan keluarganya.
Baginya ... Semua yang Ia rasakan kini telah lebih dari sekedar kata cukup.
"Apa Raka masih tidur?"
Sapaan lembut Fakhri yang baru masuk ke dalam kamar lantas membuyarkan lamunan Naira tentang hidupnya kini.
"Lihatlah Fakhri ... Cara Raka tidur, bukankah sangat mirip denganmu?"
Fakhri diam. Mengamati sejenak bayi mungil yang tengah terlelap di hadapannya. Sedetik kemudian tersenyum sembari mengiyakan ucapan istrinya.
"Oh ya Fakhri ... Apa kamu mau menjaga Raka sebentar, Aku akan belanja sayuran untuk sarapan kita ke ujung gang," tutur Naira. Lembut.
Fakhri mengambil posisi duduk tepat di sisi Naira, kemudian meraih sebelah tangan istrinya itu sebelum akhirnya menggenggamnya lembut.
"Maaf harus membuatmu melewati semua ini ...." lirihnya kemudian.
Setitik penyesalan perlahan hinggap di hati Fakhri. Lantaran dengan pekerjaannya yang hanya seorang karyawan biasa di perusahaan kecil saat ini tak dapat lagi memberikan kemewahan untuk Naira seperti dulu.
Kini Naira harus mengerjakan sendiri semuanya. Memasak, membersihkan rumah dan berbagai pekerjaan rumah lainnya.
"Maaf untuk apa Fakhri?"
"Kamu tidak perlu minta maaf untuk itu ... Karena apa kamu tahu? Aku jauh lebih bahagia dengan kehidupan kita saat ini,"
"Penuh ketenangan,"
"Bagiku ini adalah kehidupan yang sangat layak dibandingkan dengan dulu ketika kita bergelimangan harta."
Naira membalas genggaman lembut tangan Fakhri, sembari berbicara dan tersenyum hangat. Sebelum akhirnya meninggalkan suami dan anaknya untuk berbelanja.
*-*-*
Sebuah mobil melaju perlahan, mengikuti seseorang yang tengah berjalan menenteng kresek berisi belanjaan.
Sebelum akhirnya lajunya berubah kencang ketika jalanan dalam keadaan sepi.
Braaaakh
Hantaman keras mobil dan tubuh seseorang yang terpental ke sisi jalan pun tak lagi terhindarkan, ketika mobil menubruk tubuh seseorang saat tengah melaju kencang. Detik kenudian terus melaju tanpa berhenti demi menghilangkan jejak.
Naira.
Terkapar dengan tubuh bersimbah darah di tepi jalan. Sesaat terbayang di pelupuk matanya. Bayangan tentang Fakhri dan Raka, anak yang baru mereka adopsi satu bulan lalu, tengah menunggu di rumah.
Hingga tak lama kemudian bayangan itu perlahan memudar, pandangan matanya berubah buram sebelum akhirnya terpejam.
Sedangkan Fakhri yang merasakan firasat buruk tiba-tiba, berjalan mondar-mandir di dalam kamar sembari sesekali melirik Raka yang masih tertidur pulas.
Tak biasanya Naira pulang begitu lama ketika pergi berbelanja, letak rumah mereka memang cukup jauh dari ujung gang. Namun tetap saja ... Naira tak pernah pergi begitu lama.
Cemas.
Fakhri memutuskan untuk menyusul Naira dengan membopong tubuh Raka yang masih tertidur pulas.
Langkah kaki Fakhri berjalan semakin cepat kala melihat kerumunan orang tak jauh dari ujung gang. Dengan dada berdebar Fakhri terus berjalan mendekat. Menerobos kerumunan orang yang juga tengah melihat.
Suara sirine ambulan yang terdengar meraung-raung menambah kecemasan sendiri di hatinya.
Entah mengapa pikiran dan firasatnya semakin buruk kala semakin dekat.
Sedetik kemudian kedua matanya terbelalak lebar. Kedua kakinya seolah kaku tak mampu bergerak melihat sesosok tubuh bersimbah darah di hadapannya. Tengah di gotong masuk oleh beberapa orang ke dalam ambulan.
"Naira ... Naira ...."
Fakhri lantas menjerit histeris, mengalihkan perhatian semua orang di dekatnya. Beralih menatap iba padanya.
Bahkan Raka yang berada di gendongannya pun hampir terjatuh, beruntung petugas ambulan dengan sigap mengambil alih Raka dari gendongan Fakhri.
"Tenanglah Pak,"
"Bagaimana Saya bisa tenang ... Dia istriku!"
Kalap. Fakhri bahkan membentak petugas ambulan lain yang berusaha menenangkannya. Namun detik kemudian Ia berubah manut ketika petugas memintanya masuk ke dalam mobil ambulan bersama Naira yang tak lagi terbuka kedua matanya.
"Bagaimana keadaannya Pak?"
"Bagaimana kondisi Naira?"
"Kalian harus menyelamatkannya ... Apa pun yang terjadi!"
"Naira bangun Naira ... Naira ...."
Fakhri terus berteriak histeris di dalam ambulan. Tak lagi Ia pedulikan petugas yang berulang kali memintanya untuk tenang.
Ia hanya takut ... Jika Naira akan pergi meninggalkannya.
*-*-*
Cukup lama. Fakhri mondar mandir di belakang pintu sebuah ruangan. Dimana Naira masih ditangani dengan intensif di dalam sana.
"Bagaimana kondisi istri Saya Dok?"
Tak sabar. Fakhri langsung mencegat langkah Dokter dengan jas putih itu ketika baru menginjakkan kakinya di ambang pintu.
"Istri Bapak sudah sadar, tapi ...."
Dokter setengah baya yang sedari tadi menangani Naira terdiam sejenak, menghela nafas sebelum akhirnya kembali berbicara. Namun belum sempat berbicara kembali, Fakhri telah kembali memberondongnya dengan berbagai pertanyaan.
"Tapi apa Dok?"
"Naira baik-baik saja kan Dokter?"
"Bukankah istri Saya sudah sadar? Lalu apa lagi masalahnya?"
"Bukankah seharusnya ini adalah kabar baik?"
Tanpa sadar. Fakhri mencengkeram erat lengan Dokter di hadapannya sembari terus tiada henti bertanya.
"Tenanglah Pak,"
"Istri Anda memang sudah sadar ... Namun kondisinya saat ini masih terbilang kritis,"
"Istri Bapak kehilangan banyak darah,"
"Temui lah Nyonya Naira ... Itu adalah permohonannya sedari tadi usai membuka mata ...."
Tanpa kata lagi. Fakhri lantas segera berlari masuk ke dalam ruangan. Menuju Naira yang masih tergolek lemah.
"Fakhri ...."
Lirih Naira begitu melihat kedatangan Fakhri. Suaranya hampir tak terdengar, hanya bisa terbaca dari gerak bibirnya.
"Kamu harus kuat Naira ... Kamu harus bertahan ... Untukku dan Raka," tutur Fakhri. Air matanya mulai luruh tak tertahankan. Digenggamnya lembut tangan Naira kemudian.
"Jaga Raka, Fakhri ... Jagalah anak kita ...."
Fakhri menatap intens setiap gerakan bibir Naira. Mencoba menerka setiap kalimat yang meluncur dari sana. Karena suara Naira ... Telah hampir tak terdengar.
"Tentu saja Nai, kita akan menjaga Raka bersama-sama,"
"Berjanjilah untuk terus berada di sisiku Nai,"
"Ku mohon berjanjilah ...."
Naira hanya tersenyum samar. Tak lagi menanggapi ucapan Fakhri. Sebelum akhirnya nafasnya perlahan mulai tersengal. Kesulitan bernafas.
"Dokter ... Dokter ...."
Fakhri kembali berteriak histeris. Memanggil Dokter yang sebenarnya sedari tadi berdiri di belakangnya. Ikut masuk ke dalam ruangan setelah Fakhri masuk tadi.
Tiiiit Tiiiiiiit
Suara nyaring dari sebuah alat dan garis yang berubah datar semakin membuat histeris Fakhri. Ditatapnya nanar Dokter paruh baya yang tengah berjuang menyadarkan Naira kembali.
Hingga beberapa saat kemudian Dokter paruh baya itu menggeleng lemah sembari menepuk pelan bahu Fakhri.
"Bersabarlah Pak, Nyonya Naira telah tiada."
"Ti ... Tidak mungkin,"
"Naira tak mungkin meninggal Dokter, tidak mungkin,"
"Lakukan sekali lagi Dokter ... Bangunkan istri Saya,"
Fakhri kalap sembari terus meracau. Diguncangnya kedua bahu Dokter di hadapannya cukup keras. Sebelum akhirnya beralih mengguncang-guncang tubuh Naira.
"Bangun Nai ... Bangun,"
"Ku mohon jangan pergi Naira ... Jangan tinggalkan Aku dan Raka ...."
Tangis Fakhri pecah. Direngkuhnya erat tubuh Naira yang tak lagi bernyawa itu.
seru pas diawal aja cerita dipologami, ini kan ganti cerita masak cuma dikit doank episodenya...
uda lama nggu akhirnya cm gini doank
Udh q boom like juga,
Jangan lupa mampir novelku yang lain
Love revenge, Obsesi
Tinggalin jejak juga 👍👍
Nuhun 🙏
mampir juga donk ke crt aku..
WHEN KAMA MEET SUTRA
aq tgg ya ka 🤗
ngk sabar nungguin kelanjutann kisah fahri dan aila