Bercerita tentang Seorang pria dingin yang bernama Erlando Santiago dan gadis kaya raya bernama Callista Maureen Carl.
Er adalah pengusaha muda yang sangat sukses. Diusianya yang muda dia sudah menjadi miliarder muda.
Cal seorang putri tunggal dari pengusaha kaya raya dibidang real estate. Cal magang di perusahaan Er untuk menyelesaikan skripsi kuliahnya. Hidupnya yang glamour dan penuh kemewahan serta suka berpesta membuat Er memandanganya sebelah mata.
Er tidak tahu bahwa dibalik hidup Cal yang telihat sempurna, ternyata Cal memiliki masa lalu yang membuatnya memiliki jiwa yang tidak sehat.
ig author @zarin.violetta
(Proses revisi puebi dll)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#29
"Nona...nona tidak apa apa kan?", teriak bi Ana spontan.
Cal hanya tertegun lalu jatuh terduduk dan pingsan. Bajunya terkena darah yang mengalir dilantai.
"NONAAAA!!!",teriak bibi Ana panik.
Suara keributan di bawah membuat Er terbangun. Dia tidak melihat Cal disampingnya. Masih tanpa memakai baju, Er langsung menuju ke lantai bawah dan melihat pemandangan yang lumayan mengerikan.
Cal terlihat pingsan dengan baju bersimbah darah. Siapa yang tidak kaget melihat situasi seperti itu.
Er langsung berlari kebawah.
"CAL!!!", teriak Er.
Er melihat banyak serpihan gelas kaca di sekitar Cal.
"Tuan..kaki nona Calista menginjak kaca dan sepertinya lukanya cukup dalam karena banyak darah yang keluar", ucap bibi Ana panik.
"Bersihkan pecahan kaca ini bi", perintah Er dan menggendong Cal ke sofa. Lalu Er melihat luka di kaki Cal yang memang terlihat lebar dan membungkusnya dengan kain. Kemudian Er membawa Cal ke rumah sakit yang dekat dengan rumahnya.
Saking paniknya, Er sampai lupa tidak memakai baju. Dia hanya memakai celana panjang berwarna hitam.
Er tiba dirumah sakit dan membawa Cal ke ruang UGD.
Er menjadi pusat perhatian karena tubuhnya yang kekar dan bertato terekspose sempurna. Dan Er tidak peduli akan hal itu.
Banyak perawat yang kehilangan fokusnya karena melihat Er telanjang dada.
Dokter segera menangani Cal. Cal mendapat luka jahitan yang cukup banyak di telapak kakinya.
Dan dokter menyarankan agar Cal dirawat satu malam karena Cal lumayan banyak kehilangan darah.
Er menelepon Max dan menyuruhnya membawa pakaian ganti untuknya.
Setelah sampai diruang perawatan, Er menunggu Cak sampai sadar. Ini kali kedua Er menemani Cal di rumah sakit. Hal yang sangat Cal benci yaitu masuk ke rumah sakit.
Cal terbangun lalu melihat Er duduk disamping ranjangnya yang fokus dengan ponselnya.
"Er...aku ingin pulang".
"Cal..kau sudah bangun?dokter menyuruhmu menginap semalam saja disini" Er menjelaskan dengan pelan.
"Tidak..aku ingin pulang", tegas Cal dengan mulai membuka jarum infusnya.
"Cal!!", Er menahan tangan Cal.
"Biar perawat yang membukanya", kata Er lembut.
Lalu Er memanggil perawat dan membuka infus Cal.
Er tahu akan percuma jika berdebat tentang masalah ini dengan Cal.
Lalu Er menggendong Cal dan membawanya ke mobil. Tampak orang orang dirumah sakit melihat mereka berdua yang terlihat seperti sepasang suami istri.
Setibanya dirumah, Er langsung membawa Cal ke ranjangnya. Cal meringkuk dan menutupi wajahnya dengan tangannya.
Er langsung membersihkan dirinya dan mengabari Max jika Er tidak ke perusahaan hari ini.
Er menghampiri Cal dan memeluk dari belakang.
"Are you okey Cal?", lirih Er.
Cal tidak menjawab.
Er mengusap lengan halus Cal berusaha membuatnya nyaman.
Cal memejamkan matanya tapi bukan karena tidur. Otaknya penuh dengan kenangan buruk tentang mommynya.
Cal mengeluarkan air matanya. Lama lama dia terisak dan masih menutup wajahnya. Dia tidak ingin terlihat rentan di hadapan siapapun termasuk Er.
Er semakin mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Cal.
Er tahu kondisi Cal masih belum stabil. Mengajaknya mendaki belum sepenuhnya membuat Cal baik baik saja dan melupakan lukanya.
"Bagi bebanmu denganku Cal...aku tidak suka melihatmu seperti ini", lirih Er.
Cal masih terisak dan bahkan tangisannya terdengar tersedu sedu menyayat hati dan membuat hati Er sakit.
'Sesakit itukah hatimu Cal....aku tidak sanggup melihatmu seperti ini..', pikir Er sedih.
"When you get tired from this world..come fall in my arms Cal", bisik Er sembari mencium puncak kepala Cal.