NovelToon NovelToon
AKU YANG DIPANDANG HINA

AKU YANG DIPANDANG HINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, paras cantik jelita dengan senyum menawan.

Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.

Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.

Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.

Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter : 20

“Gimana kalau tiba-tiba bocor pas kita lagi ditengah kolam renang?” Yunda bergidik.

Dwira memukul lengan sahabatnya. “Belum apa-apa pikiranmu udah jelek aja.”

Ayunda terkekeh, dan dia setuju dengan ide Dwira.

Setelah menghabiskan bakso dan minum, mereka pergi ke arena kolam renang, bertanya ke salah satu karyawan hotel – ternyata ada menyediakan alat pelampung.

“Airnya dingin banget.” Ayunda mencelupkan kakinya, dia sudah membuka cardigan dan ditaruh pada sebuah meja dekat dinding tembok.

“Yunda, tolong pegangin bebekku ini,” pinta Dwira, kesulitan duduk di celah bulat pelampung berbentuk bebek besar warna kuning cerah.

Dengan senang hati Ayunda membantu, lalu dia juga naik ke pelampung bulat seperti donat warna pink.

“Ternyata seru ya?” Kaki Ayunda menendang air, sangat menikmati duduk di atas pelampung yang bergerak karena dia dayung menggunakan dua tangan.

“Bener. Tahu gini, aku berenang dulu, pas udah sore baru ke pantai sekalian menikmati sunset.” Dwira setengah berbaring terlentang, kedua tangannya bergerak seperti kepakan sayap burung.

Kedua wanita bersahabat itu berenang sampai bagian tengah, mereka mengobrol ringan diselingi tawa.

“Dwira! Kamu letakin power bank ku di mana?” Binar, sang resepsionis Wangsa group – berdiri di tepi kolam renang.

“Di atas meja nakas, masa gak kelihatan?” Dwira merasa heran, tadi dia meminjam pengisi daya ponselnya Binar.

“Gak ada! Udah tak cari, gak ketemu. Baterai ponselku tinggal sepuluh persen ni!” Binar memperlihatkan layar handphonenya.

“Ayunda, ayo ke tepian. Aku mau nyari power bank nya Binar,” ajak Ira.

Ayunda memperhatikan sekitar, ada pegawai hotel tengah mengelap jendela. “Kamu bantu cari sana, aku disini aja. Gapapa kok, ada karyawan hotel juga.”

“Yakin kamu?” Dwira sangsi, tapi terpatahkan oleh anggukan kepala Ayunda. Dia pun berusaha berenang ke tepian, lalu naik, dan pergi bersama Binar.

Suasana benar-benar sepi, membantu memberi ketenangan hati Ayunda, ia memejamkan mata menikmati dinginnya air kolam berbau klorin meskipun tidak tajam.

“Kenapa ini?” Ayunda tersentak, merasakan ban pelampung mengempis. Seketika dirinya panik, netranya bergerak liar mencari seseorang di sekitar.

“Kemana perginya karyawan hotel tadi?” Ayunda tidak lantas menyerah, mencoba menggerakkan tangannya agar sampai di tepi kolam renang.

Dikarenakan pergerakan tidak seimbang, dan pelampung melesak ke dalam air disebabkan kempis – tubuh Ayunda terjatuh sepenuhnya ke kolam renang.

“Tolong!” pekiknya seketika.

‘Jangan panik, Yunda! Yang ada kamu tenggelam lebih cepat dari seharusnya!’ batinnya mencoba mensugesti.

“Tolong!” Kepalanya menyembul, mulut terbuka, tapi seketika kembali tenggelam.

Jarak ke tepian sekitar dua meter lagi. Kepala Ayunda benar-benar terbenam ke air, dia mencoba keluar ke permukaan meskipun cuma kedua tangan yang terlihat.

Kaki wanita yang sangat berusaha menyelamatkan diri mulai lemah, bibirnya terkatup rapat, dari hidung keluar gelembung udara, mata Ayunda terasa perih begitu juga dengan tenggorokannya. Ia sempat minum air mengandung kaporit.

Di saat kesadaran mulai menipis, telinga berdenging, dia mendengar suara nyaring, lalu pergerakan air seperti ombak.

Sesuatu menarik kuat tangan terkulai lemas, membawa tubuh hampir pingsan ke permukaan.

“Siapapun! Tolong kami!” suara Seila bergetar hebat. Sikunya menarik leher Ayunda dan berusaha keras agar wajah sahabatnya tetap berada di permukaan air.

Seila bukan perenang andal, tapi dia tidak peduli. Bagaimanapun caranya harus bisa menyelamatkan Ayunda.

“Tolong! Sialan memang! Hotel sebesar ini gak ada orang lewat! Bangke! Tolong!” Sepasang kakinya bergerak liar di dalam air, memaksa badan maju ke dekat tepian.

Sedikit lagi sampai tepian, pertolongan itu baru datang. Dua karyawan hotel berseragam kemeja putih dan celana hitam, tergopoh-gopoh berlari ke dekat kolam.

Keduanya langsung menceburkan diri, membantu Seila dan juga Ayunda naik pada batas tepi.

Uhuk!

Uhuk!

Seila terbatuk-batuk, napas terengah-engah, dia berbaring di lantai tepi kolam, lalu dibantu duduk oleh pegawai laki.

Tubuh Ayunda di baringkan, karyawan wanita yang tadi masuk ke dalam air – menyatukan punggung tangan, jari-jarinya melebar, lalu melakukan pertolongan pertama Resusitasi Jantung Paru.

Uhuk!

Air keluar dari sudut mulut Ayunda, terdengar pula suara batuk pelan, tapi setelahnya lenyap. Mata sang wanita tidak juga terbuka.

Pegawai hotel mendudukkan Ayunda, kemudian menepuk-nepuk punggungnya. “Sepertinya dia pingsan!” serunya berusaha tidak panik.

“Yunda! Bangun Ayunda! Jangan buat gua takut, ngapa!” Tangannya menarik kaki sang sahabat yang lemas, dan masih berusaha diberi pertolongan pertama.

“Bawa kami ke rumah sakit terdekat!” jerit Seila ketakutan, badannya menggigil samar, dia mengesot mendekati Ayunda, mengguncang bahu wanita menutup mata, tidak merespon panggilannya.

Pegawai hotel lainnya datang memberi bantuan. Seorang berseragam menyelimuti Seila menggunakan handuk kimono hotel, begitu juga dengan Ayunda.

Kemudian dua orang membopong wanita tidak sadarkan diri, berjalan tergesa-gesa menuju halaman parkir mobil hotel.

“Ayunda! Seila!” Yusniar berlari kencang, dia dan dua orang wanita karyawan Wangsa group baru pulang dari pantai, tadi Seila bersama mereka, tapi memutuskan kembali lebih cepat ke hotel.

“Kalian kenapa?!” tanyanya ikut menyamai langkah pegawai hotel.

“Tolong temenin aku ke RS bawa Ayunda, Mbak.” Seila menangis kencang, ketakutan sekali.

Yusniar merangkulnya, tidak lagi berusaha bertanya. Sebagai seorang sekretaris yang diharuskan cekatan, peka, kehadiran Yusniar sangat membantu.

Kedua teman Ayunda, dalam keadaan basah, tidak memakai alas kaki, duduk di bangku bagian penumpang, mengapit badan Ayunda.

“Buruan jalan! Lelet banget kalian, hah!” hardik Seila, merasa segala hal terlalu lama, padahal setiap detik sangat berharga.

Sang sopir menekan dalam klakson, membuat dua orang satpam bergerak cepat mengamankan jalan dari mobil pengunjung.

“Coba kasih minyak angin hidungnya.” Wanita yang tadi masuk ke dalam air, memiringkan badan kala menyodorkan botol aromaterapi.

Yusniar lekas bertindak, membaui hidung Ayunda, tapi tidak ada reaksi.

Seila yang gemas, takut, menepuk sedikit kuat pipi Ayunda. “Bangun hei! Bangun Ayunda!”

“Berhenti, Seila! Aku tahu kamu khawatir, aku juga! Tolong tenang meskipun kita ketakutan!” cegah Yusniar, wajahnya juga bersimbah air mata. Pakaian ikut basah.

Laju mobil terbilang kencang, terlebih pihak hotel meminta bantuan pengawalan dari anggota berseragam coklat demi menghindari gangguan macet, kendaraan lain mencoba menyalip.

Tidak sampai dua puluh menit, Ayunda sudah ditangani pihak medis RSUD kepulauan seribu yang berlokasi satu wilayah dengan hotel tempatnya menginap.

Seorang dokter lain masuk ke instalasi gawat darurat. Hal tersebut menimbulkan tanda tanya besar, terlebih setelah membaca sekilas name tag, terpampang jelas gelar profesinya.

“Kenapa dokter itu masuk, Mbak?” Seila mengerutkan keningnya.

lima belas menit setelah dokter tadi masuk, Seila dan Yusniar dipanggil untuk mendampingi Ayunda mendengar penjelasan ahli medis.

“Ayunda!” Seila menerjang sang sahabat yang sudah sadar, tapi masih terlihat lemah.

Ayunda duduk bersandar dengan punggung diganjal dua bantal, tangan kirinya diinfus.

“Apa kamu yang nolong aku, Sei?” tanyanya pelan, mata berkaca-kaca.

“Gak penting itu! Yang penting kamu selamat!” Ia rangkul pundak Ayunda.

Yusniar menangis lega, digenggamnya tangan kanan Ayunda, dirinya berdiri pada sisi seberang Seila.

“Nyonya Ayunda, apa Anda tidak tahu, atau tidak menyadari kalau sedang dalam keadaan mengandung?”

.

.

Bersambung.

1
mudahlia
ayooooo buwuhhhb sambang bayi. gk usah bawa kdo justru kita minta Daksa🤣🤣
🌷💚SITI.R💚🌷
apa ayunda mau lahira..smg lsncaar
Zeliii... S
Rasain lo...!!!
Nuryanto Yanto
nyusul safira aja vini kayaknya dia udah diRSJ
siswati etty
rukun2 ya Ayunda dan Mutiara bagaimanapun kalian bersaudara...
othor @ cublik makasih ya udah up lagi.... sehat2 selalu 🥰
kaylla salsabella
suruh menyerahkan diri pada polisi
dewi rofiqoh
Mungkin dante masih bisa memahami kamu nadira, jika sejak awal kamu mau jujur tentang masa lalumu
Secret Admire
Mutiara usiamu boleh masih anak anak😭tapi pikiranmu sungguh sangat bijaksana lebih dewasa dan penyayang 😭 Dante kamu ayah yang hebat🥰
Secret Admire
asik setelah nifas mau bikin lagi 2 kayak kelapa 😄😄😄
Secret Admire
😭😭😭aku menangis😭😭😭 bahagia terharu jadi satu😭😭😭
sryharty
sekalian aja 11 dak,,biar bisa buat main bola
Watiningsih
umur masih remaja tapi pola pikir dewasa, didikan Dante emang hebat bersyukur tiara punya ayah yg hebat. Semoga hubungan Melinda, Rudi dan Daksa membaik ya kan senang liatnya klu keluarga harmonis, rukun, damai ga ada dendam
isya🌀
Aku yakin ga cuma 1, pasti daksa lgs minta setengah lusin anak😂
mamaqe
slg sayang y kalian..yg salah si kunti jd bijaklah kalian ye
sryharty
ko sedih ya pas Tia panggil Yuyun kaka
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
sokorin semua nya di penjara ...tapi Ayunda tetap baik hati mau menerima anak dari ibu nya yang berati sodara tiri ya 🤭...didikan orang tua angkat nya loh itu bukan ayah kandungnya yang liar 🤣
Nabila Nabil
kalo abang harus ada adek donk... 🤣🤣🤣
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Tiara 😭 kamu datang menemui kak yunda. semoga kedepannya kalian berdua bisa dekat. Tiara dan yunda keduanya berhak bahagia, meski mereka berdua lahir dari rahim ibu yang jahatt 🤭 tapi mereka berdua wanita yang hebatt dan kerennn. keduanya tumbuh dengan ujiannya masing2 dan pada akhirnya keduanya pun bisa melewati ujian itu.
Sam sam
terima kasih ya kak cublik
isya🌀
Opa mu datang kelapa 😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!