NovelToon NovelToon
Cinta Beda Keyakinan

Cinta Beda Keyakinan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Berondong / Tamat
Popularitas:85.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nai

Menjalin hubungan dengan beda keyakinan tak membuat rasa cinta gadis bernama Tamara Adisti berkurang sedikitpun.
Namun saat Tara membulatkan tekad untuk berhijrah, ia terpaksa harus memutuskan tali cinta yang telah membuncah dihati mereka.

Vano yang sudah terperosok ke dalam lubang cinta dengan sosok gadis sederhana bernama Tara itu tak terima akan keputusan yang Tara berikan atas putusnya hubungan mereka.

"Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Tar! Jalan yang kita lalui untuk kita bisa bersama seperti sekarang ini juga tidaklah mudah. Kenapa kamu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak akan mempermasalahkan keyakinan kita yang berbeda. Terus kenapa sekarang kamu menyerah hanya karena keyakinan? Apakah sepenting itu, Tar. Sampai kamu rela mengorbankan cinta kita!"

Bagaimanakah kisah kedua remaja labil itu?
Mari ikuti kisahnya....

(MASIH DALAM TAHAP REVISI)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 29

"Apa aku harus meyakini agamamu agar kita bisa bersama?"

Tara membulatkan matanya. "Jangan gila ya, Van. Kamu nggak bisa mempermainkan agama hanya karena perasaan kamu sesaat."

"Trus gimana, Tar. Gimana caranya agar kita bisa bersama? Jika keyakinan yang membuat kamu harus memutuskan hubungan ini, maka aku siap untuk meyakini agamamu."

Tara berdiri, ia menggelengkan kepalanya. Ia tak habis fikir dengan jalan fikiran pria ini. Sedangkal itukah fikirannya?

"Mending kamu pulang deh, Van. Aku masih banyak kerjaan," usir Tara.

"kok kamu ngusir aku? Bukannya kita mau jalan?"

"Aku nggak bisa, aku masih banyak kerjaan. Lagian kamu harus istirahat agar luka kamu cepat sembuh."

"Aku baik-baik saja, Sayang. Kamu jangan khawatir ya. Kamu selesaikan kerjaan kamu, aku tunggu di sini. Oh, atau aku bantu saja agar kerjaan kamu cep–"

"Nggak perlu, Van. Kamu pulang saja sana, aku lelah mau istirahat," potong Tara.

"Aku nggak akan pulang sampai kamu mau jalan sama aku."

Vano kekeh dengan keinginannya untuk mengajak Tara jalan-jalan. Ia menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi sembari melipat tangannya di depan dada.

Tara menghela nafasnya, ia meninggalkan Vano sendirian di ruang tamu. Lebih baik ia melanjutkan pekerjaan rumahnya yang belum selesai, dari pada meladeni tingkah Vano yang seperti anak kecil. Ya, memang kenyataannya dia sedang meladeni anak kecil. Meski perbedaan usia mereka hanya terpaut satu tahun, tetap saja Vano lebih muda darinya.

Setelah selesai mencuci piring, Tara beranjak memasuki kamar. Ia melepas hijab serta celana panjang yang ia kenakan saat mencuci piring, kemudian ia meraih ponselnya untuk mengecek notifikasi yang telah masuk ke ponselnya. Ya, Tara mengenakan hijab saat sedang melakukan tugasnya di teras belakang karena di area belakang rumah Tara masih sering dipakai warga sekitar sebagai jalan pintas menuju rumah warga yang lain. Tara sekarang memang sangat menjaga auratnya agar tidak dilihat oleh yang bukan mahramnya. Bahkan Tara sering kali dikatain 'fanatik' oleh ibunya sendiri karena selalu protes jika pintu rumah terbuka -meski sejengkal- saat ia sedang tidak mengenakan hijab.

Sakit hati? Jelas! Tara sering kali sakit hati saat usahanya dalam menutup aurat malah di bilang fanatik. Ia yang berusaha untuk menjadi lebih baik di hadapan Tuhan, tapi lingkungan sekitar tak mendukungnya sama sekali. Inilah salah satu yang sering kali menyebabkan seseorang sulit untuk ber-istiqomah.

Tara yang masih belajar mendalami ilmu agama tentu belum memiliki stok rasa sabar yang sebesar wanita muslimah pada umumnya. Tapi meski begitu, Tara akan lebih memilih menangis sendirian di dalam kamar dari pada harus meluapkan emosinya pada orang yang tidak tepat. Seperti keluarganya sendiri.

"Tar." Suara pria paruh baya membuat Tara berpaling dari layar ponselnya.

Ia melihat ayahnya membuka gordeng kamarnya. Kebetulan kamar Tara tidak memiliki pintu.

"Vano nunggu kamu di depan, kamunya kok malah asik tiduran di sini sih. Keluar sana, temuin dia."

Tara memutar bola matanya malas, ternyata pria itu belum pulang juga. Tara melirik ayahnya yang belum beranjak dari depan pintu kamarnya. "Yaudah ayah pergi sana, nanti aku ke depan," seru Tara malas.

Setelah ayahnya pergi meninggalkan kamarnya, Tara memakai kembali celana panjang serta hijab instannya sebelum keluar kamar untuk menemui Vano.

Tara menatap Vano yang masih setia di posisinya. Ia mendudukkan tubuhnya pada kursi kayu dihadapan Vano. Ia tatap lekat pria di depannya itu, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum menyebalkan di mata Tara.

"Aku ngantuk, Van. Mending kamu pulang sana," usir Tara kembali.

"Aku tunggu sampai kamu bangun," sahut Vano.

Tara melongo mendengar ucapan Vano. Alasan apa lagi yang harus ia berikan pada Vano agar pria ini segera pulang? Sebenarnya Tara mau pake banget jalan-jalan bersama Vano, tapi jika dia mengiyakan ajakan Vano, kapan dia bisa move on?

Tapi Vano sungguh keras kepala sekali, sudah hampir satu jam ia duduk diam menunggunya di sini. Ia baru tahu sisi lain dari Vano yang satu ini. Keras kepala dan childish.

Kepala Tara berputar, menoleh kearah jam dinding yang menunjukkan pukul 15:15.

"Apa aku terlalu cepat, sehingga Vano belum bisa nerima keputusanku? Aku harus apa Tuhan?" batinnya Tara.

Tara menghela nafasnya panjang. "Aku mandi dulu," ujar Tara. Ia beranjak dari duduknya meninggalkan Vano yang sedang tersenyum dengan sangat gembira mendengar ucapannya.

"Yes," seru Vano pelan.

Sepanjang acara mandinya, fikiran Tara tak lepas dari 'Bagaimana caranya membuat Vano mengerti dan menerima keputusannya?' . Apa ia harus menjelaskan semuanya dengan detail pada Vano? Tapi ia takut jika Vano marah.

Tara menggosok kepalanya yang terdapat busa shampoo dengan gerakan kasar. Ia sungguh bingung bagaimana caranya agar bisa membuat Vano mengerti kondisinya.

"Seandainya aku menolak Vano saat itu. Seandainya Amir masih ada, mungkin dia akan mengerti maksudku saat ini. Tapi ini Vano, bukan Amir," gumam Tara pelan.

Setelah selesai dengan mandinya dan bersiap yang memakan waktu hampir satu jam setengah sekaligus karena Tara harus menunaikan ibadah ashar-nya terlebih dahulu, kini Vano melajukan motor sport nya dengan kecepatan sedang. Tara yang dibelakang hanya berpegangan pada pundak Vano. Sesaat kemudian Vano menarik gas nya di kecepatan 85km/jam, membuat Tara tertarik dan spontan memeluk tubuh Vano.

"Kamu mau buat aku mati?" teriak Tara sembari memukul kuat punggung Vano.

Vano hanya mengembangkan senyumnya tanpa membalas teriakan Tara.

Setelah satu jam perjalanan, Vano tak juga menghentikan lajunya. Vano hanya berputar-putar mengitari kota Jakarta tanpa tujuan yang jelas.

"Mau kemana sih, muter-muter nggak jelas gini," teriak Tara agar suaranya terdengar di telinga Vano, karena suara kendaraan yang memadatkan jalanan membuat suaranya tenggelam begitu saja.

"Aku mau ngajak kamu makan di warung bakso kesukaan kamu, tapi 'kan belum buka. Jadi kita keliling-keliling dulu aja," balas Vano teriak.

"Cari taman atau apa gitu, aku capek, Van,"

Vano melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, beberapa menit kemudian ia menghentikan lajunya di depan Taman Lutsia. Tara mengedarkan pandangannya. "Astaga, taman ini," batinnya. Kenapa Vano harus membawanya kesini?

Tara membuang jauh-hauh fikirannya yang memintanya untuk bernostalgia di tempat ini. Hampir satu jam mereka di sana dengan obrolan ringan yang di mana Vano yang mendominasi pembicaraan, sedangkan Tara hanya mendengar dan menjawab seadanya saja ucapan Vano. Hingga adzan maghrib berkumandang membuat mereka meninggalkan taman dan menuju masjid yang berada tepat di depan taman tersebut.

Sementara menunggu Tara sholat, Vano duduk di teras masjid sembari melihat-lihat fotonya bersama Tara sewaktu mereka di pantai dan saat mereka photo box di mall X pada galeri ponselnya.

Setengah jam kemudian Tara keluar dengan hijab yang terlihat sedikit basah pada bagian depan. Entah sejak kapan, tapi Vano sangat menyukai wajah Tara yang terlihat lembab saat selesai sholat. Sungguh lembut dan menenangkan hatinya.

Setelah dari masjid, mereka melajukan kendaraannya menuju warung bakso langganan Tara. Memakan waktu hampir setengah jam dari Taman Lutsia menuju warung bakso itu. Setelah tiba di sana, ternyata warung bakso lumayan ramai, membuat mereka harus menunggu beberapa menit untuk menerima satu mangkuk bakso.

Mereka hanya memesan satu mangkuk bakso untuk Tara, sedangkan Vano hanya memesan air mineral karena ia tidak terlalu menyukai makanan yang banyak mengandung msg dan sejenis teman-temannya.

Biasanya Tara akan memaksanya untuk memakan beberapa pentol bakso dari mangkuknya, namun sekarang Tara terlihat menikmati bakso itu dengan khidmat tanpa melirik sana sini. Vano benar-benar rindu dengan sosok menyebalkannya Tara.

Setelah menyelesaikan makannya, Tara hendak pergi menuju masjid yang letakknya hanya sekitar lima puluh meter dari warung bakso dengan berjalan kaki. Ia sengaja meminta Vano menunggu di warung bakso karena ia akan kembali kesana untuk membelikan orang tuanya bakso sebelum pulang. Kebetulan isya' masih lima menit lagi, jika ia membeli sekarang ia takut baksonya akan dingin.

Mata Vano tak lepas dari punggung Tara yang menjauhinya menuju masjid umum setempat. Saat Tara akan menyebrang jalan, tiba-tiba Vano berlari kencang saat pandangannya terarah pada sebuah mobil yang melaju kencang mendekati Tara.

"Tara awas!" teriak Vano kencang.

Tara mengernyitkan dahinya, jantungnya berdetak tak beraturan saat mendengar suara Vano. Saat ia membalikkan badan untuk melihat kearah sumber suara, tiba-tiba tangan kekar Vano mendorong tubuhnya dari belakang dengan sangat kuat sehingga ia terdorong cukup jauh dari posisinya berdiri.

"Aaaaaaaggghhh ..." teriak Tara mengundang mata para jama'ah masjid untuk menoleh kearahnya.

Tubuh Tara terlempar pada jalanan yang berbatu dengan kedua telapak tangan yang tergesek lantai jalan sebagai sanggahan tubuhnya. Tubuh Tara berguling di jalan saat tangannya sudah tak bisa lagi menyanggah tubuhnya karena perih yang mulai terasa di seluruh permukaan telapak tangan akibat gesekan pada lantai jalanan yang cukup keras.

Di sela rasa sakitnya, ia mendengar samar-samar suara orang-orang yang berkerumun di tengah jalan. Tiba-tiba ia teringat akan Devano. "Astaghfirullah, Devano!" pekiknya.

Tara berusaha menahan perih serta sakit di sekujur tubuhnya dan meninggalkan orang-orang di sekitatnya yang ingin membantunya demi menghampiri Devano yang berada dalam kerumunan masyarakat setempat. Ia menutup mulutnya saat melihat tubuh Vano yang penuh dengan goresan luka serta darah yang menetes pada bagian kepala dan lengannya. Luka akibat kecelakaan tadi siang yang belum kering sepenuhnya, kini bertambah. Untungnya Vano tidak berada ditengah-tengah mobil yang menabraknya itu, sehingga ini tidak akan sampai membuat nyawa Vano melayang.

Vano merintih di sisa kesadarannya yang mulai menghilang. Tara terpaku beberapa saat, hingga sebuah mobil sedan hitam mendekati mereka dan beberapa orang disana membawa Vano masuk ke dalam mobil itu.

"Saya temannya, Pak. Saya ikut," ucapnya pada pria paruh baya yang akan masuk ke dalam mobil bagian tengah bersama Vano.

Tara masuk ke dalam mobil bagian tengah, sedangkan pria paruh baya itu keluar dari mobil. Ia menjadikan pahanya sebagai bantal bagi kepala Vano. Ia menangis sembari memeluk kepala Vano yang terdapat darah yang masih basah. Vano tak sadarkan diri setelah berada dalam pelukan Tara.

Tara tak bisa berucap apa pun, hanya kata maaf yang selalu menjadi satu-satunya kata yang keluar dari mulutnya sedari memasuki mobil hingga mereka tiba di rumah sakit. Ia tak bisa memikirkan hal lain selain keselamatan Vano. Bahkan ia melupakan pengendara mobil yang sudah menabrak Vano.

******

Jangan lupa Like, Coment, serta Vote nya...

Jazakamallah khair..

1
Bukhori Muslim
keren
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
ENDING YG MMBAHAGIAKN... SMOGA MEREKA SAMAWA DI DUNIA HALUNYA, DN SAMAWA JUGA BUAT YG PRNH ALAMI SPRTI YG DI NOVEL INI..
Sulaiman Efendy
KULIAH JUGA NGGK JAMIN DPT PKERJAAN, BNYK TU SARJANA2 PENGANGGURAN..
Sulaiman Efendy
LO HRSNYA NGERTI SBAGAI UMAT MUSLIM, HARAM WANITA BRSUAMI MNJALIN HUBUNGN, MSKI HNY PRTEMANN DGN LAKI2 YG BKN MAHRAMNYA, KRN UNTUK MNGHINDARI FITNAH, APALAGI LKI2 TRSEBUT MNYUKAI SI WANITA..
Sulaiman Efendy
UDH DIINGATKN DESKA, MSH NGEYEL,, KN DESKA UDH BILANG LO PSTI AKN KECEWA DAN SAKIT HATI..
Sulaiman Efendy
KURANG AJAR SI RAKA, CURI START, SEMOGA TARA MNOLAK LMARAN RAKA
Sulaiman Efendy
KERENNN ABISS DI DESKA YG POSESSIF KE CALON KK IPARNYA SI TARA, RAKA YG GELAGATNYA MMG MNYUKAI TARA, LGSUNG DI SKAK DESKA
Sulaiman Efendy
BAGUS DESKA,, HRSNYA RAKA LBH FAHAM KLO LKI2 TDK BOLEH DUDUK BRDEKATAN DGN WANITA YG BKN MAHRAMNYA
Sulaiman Efendy
ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA DESKA JUGA MNDAPATKN HIDAYAH ..
Sulaiman Efendy
BARAKALLAH,, SEMOGA VANO ISTIWOMAH KRN ALLAH, BKN KRN MNGHARAPKN PNGAKUAN MANUSIA, BKN KRN MNGHARAP CINTA MNUSIA, TTPI MURNI LILLAHI TA'ALAA
Sulaiman Efendy
PASTI SI RAKA, SEMOGA TARA TDK MNERIMA RAKA, KRN KYKNYA RAKA SKA MA TARA
Sulaiman Efendy
SIAPA BILANG VANO BSA MLUPAKAN LO, KLO BSA LO PRGI LGI YG JAUH, BILA PERLU KE JOGYA TEMPAT RENA..
Sulaiman Efendy
SKRG HMBATAN TK ADA BUAT VANO UNTUK PINDAH KYAKINAN.. KRN KDUA ORTU NYA SDH MNINGGAL,, TINGGAL KMNTAPAN HATI DN NIATNYA..
Sulaiman Efendy
SEMOGA LEWAT BG MALIK SUAMI FANI, VANO DPT HIDAYAH, DN MAU BLAJAR ISLAM SUNGGUH2, BKN KRN INGIN BSA NIKAH SAMA TARA, TPI KRN ALLAH, DN MNCINTAI JUGA KRN ALLAH...
Sulaiman Efendy
YAA LO JELASIN MASALAH SYARIAT ISLAM, BHWA LO TDK BSA MMAINKN AQIDAH LOO..
Sulaiman Efendy
HRSNYA LO OMONGIN KE VANO, KLO MMG DIA SERIUS KE ELO, TTG VANO UNTUK IKUT KYAKINAN LO, JLSKN KE VANO TTG SYARIAT ISLAM,, LO LIAT, SERIUS GK DY.. JGN SAMPE LO BRBUAT SEMI ZINAH DGN DIPEGANG2 & DIPELUK2 VANO
Sulaiman Efendy
BLM MAHROM KNP MAU DIPELUK2, LO KN SKRG PKE HIJAB, HRSNYA LO KSIH PNGERTIAN KE VANO, BHWA WANITA MUSLIM TDK BOLEH DISENTUH APALAGI DIPELUK2 LKI2 YG BKN MAHRAMNYA..
Sulaiman Efendy
LO KAN UDH SERING IKUT TAUSIYAH, DN LO UDH TTG SYARIAT ISLAM, BHWA WANITA MUSLIM ITU HRS NIKAH DENGN IJAB QABUL DN ADA WALINYA, KLO LO NIKAH DI CATATAN SIPIL, LO NIKAH TNP IJAB QABUL, TNPA WALI, HNY SAH DIHUKUM NEGARA, TNP HARAM DI MATA ALLAH... KONSEKUENSINYA LO TAUKN, LO BRZINAH SEMUMUR HIDUP, INGAT, LKI2 ITU IMAM BUAT WANITA, GMN LO MAU JDIKN VANO IMAM LO, SDGKN VANO NON MUSLIM, HRSNYA LO SHOLAT ISTIKHARAH BUAT MINTA PTUNJUK SAMA ALLAH..
Sulaiman Efendy
LO GK TAKUT NANGGUNG DOSA LO FHAISAL, HRSNYA LO SETUJU DGN SYARAT SI VANO HRS IKUT KYAKINAN KALIAN
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!