Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Air Mata di Balik Pagar
Pagi itu aku terbangun lebih awal dari biasanya. Semalaman aku sulit memejamkan mata setelah mendengar sendiri bagaimana Mama menceritakan keburukanku kepada tetangga. Berkali-kali aku bertanya dalam hati, apa salahku sampai beliau begitu membenciku? Aku menggeleng pelan. Tidak, aku tidak boleh terus memikirkannya. Mas Viyan pasti akan sedih kalau melihatku murung terus.
Aku segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Nasi goreng sederhana, telur dadar, dan teh hangat sudah cukup untuk mengawali pagi. Baru saja aku selesai menata meja makan, Bu Mirna keluar dari kamarnya.
"Wah, sudah jadi?"
"Iya, Ma. Silakan dimakan."
Beliau hanya melirik sekilas, lalu duduk di kursi makan.
"Hmm... lain kali nasi gorengnya jangan terlalu banyak kecap. Mama kurang suka."
"Iya, Ma."
Aku mengangguk tanpa membantah. Tak lama kemudian Dinda keluar sambil menguap lebar.
"Ada ayam enggak, Mbak?"
"Enggak ada, Din. Tadi cuma bikin nasi goreng."
"Duh... males banget."
Meski mengeluh, Dinda tetap mengambil sepiring nasi. Anehnya, baru dua suap dia makan, ponselnya berdering.
"Iya, Sayang. Iya bentar lagi aku keluar."
Dia buru-buru meletakkan sendoknya.
"Ma, aku pergi dulu ya."
"Lho, sarapannya?"
"Nanti aja."
Bu Mirna hanya tersenyum.
"Iya hati-hati."
Aku memperhatikan piring Dinda yang masih hampir penuh. Kalau aku yang menyisakan makanan seperti itu, mungkin sudah panjang ceramah yang harus kudengar.
**
Setelah Mas Viyan berangkat bekerja, aku mengambil dompet untuk membeli beberapa bumbu dapur yang habis.
"Ma, Fitri ke warung sebentar ya."
"Iya. Jangan lama-lama."
Aku berjalan menyusuri gang perumahan. Matahari belum terlalu terik. Beberapa ibu sedang menyapu halaman rumah masing-masing. Saat melewati mereka, aku sempat tersenyum.
"Pagi, Bu."
"Pagi."
Jawaban mereka terdengar datar.
Aku melanjutkan langkah, tetapi samar-samar kudengar suara salah satu dari mereka.
"Itu ya menantunya Bu Mirna."
"Iya."
"Kelihatannya pendiam ya."
"Pendiam sih pendiam... tapi katanya susah diatur."
Langkahku terhenti sesaat. Mereka sedang membicarakan ku. Aku menarik napas panjang lalu tetap berjalan seolah tidak mendengar apa pun. Sesampainya di warung, pemilik warung yang kemarin masih begitu ramah kini hanya tersenyum tipis.
"Mau beli apa, Fit?"
"Bawang merah setengah kilo, bawang putih seperempat, sama cabai ya, Bu."
"Iya."
Beliau menyiapkan pesananku tanpa banyak mengobrol seperti kemarin. Padahal kemarin beliau bahkan sempat bercanda denganku. Saat sedang menunggu kembalian, dua orang ibu datang berbelanja.
"Eh Bu, kemarin saya ketemu Bu Mirna."
"Oh ya?"
"Iya. Kasihan juga ya beliau."
"Kenapa?"
"Katanya sekarang semua kerjaan rumah malah beliau yang kerjakan. Menantunya susah diminta tolong."
Dadaku kembali terasa sesak. Aku menundukkan kepala.
Jadi... Mama benar-benar sudah menyebarkan cerita itu ke mana-mana. Aku mengambil belanjaanku lalu segera pulang.
**
Baru saja aku meletakkan kantong belanja di dapur, Bu Mirna menghampiriku.
"Fitri."
"Iya, Ma."
"Nanti siang Mama ada pengajian di rumah."
"Di rumah?"
"Iya."
Beliau menyerahkan secarik kertas.
"Ini daftar belanjaannya."
Aku membacanya. Teh, gula, kopi, pisang, singkong, tepung, minyak goreng, dan beberapa bahan lainnya.
"Semua ini dibeli hari ini, Ma?"
"Iya lah. Masa besok."
Aku mengangguk.
"Baik, Ma." ucapku
"Oh ya, nanti kamu yang goreng pisang sama bikin teh buat tamu." perintah ibu mertuaku.
"Iya bu"
"Jangan sampai bikin Mama malu."
Beliau berbalik masuk ke kamar tanpa bertanya apakah uang belanjanya cukup atau tidak. Aku hanya memandangi uang yang tadi beliau selipkan di atas meja. Pas... Benar-benar pas. Bahkan tidak ada lebih seribu rupiah pun.
**
Menjelang siang, satu per satu ibu-ibu mulai berdatangan. Aku mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu membawa nampan berisi teh hangat dan gorengan.
Keringat mulai membasahi pelipis ku.
Namun aku tetap berusaha tersenyum.
"Silakan diminum, Bu." ucapku ramah.
"Iya, terima kasih."
Saat aku hendak kembali ke dapur, langkahku terhenti ketika mendengar suara Bu Mirna.
"Maklum ya, Bu."
Semua tamu menoleh padanya.
"Menantu saya masih belajar ngurus rumah. Jadi kalau pelayanannya kurang, ya mohon dimaklumi."
Beberapa ibu tersenyum kecil.
"Iya enggak apa-apa, Bu."
Aku menggenggam erat nampan di tanganku. Padahal sejak pagi aku yang memasak, menggoreng, menyapu, mengepel, hingga menyajikan semua hidangan. Tetapi di depan tamunya... Aku tetap dianggap tidak becus. Aku memilih kembali ke dapur. Air mataku hampir jatuh, tetapi ku tahan sekuat tenaga.
***
Sore harinya para tamu akhirnya pulang. Aku mulai membereskan gelas dan piring yang menumpuk di wastafel. Tiba-tiba ponselku berdering. Di layar tertulis satu nama yang membuatku langsung tersenyum.
"Ibuku." Aku segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikumsalam, Fit. Lagi apa?"
"Lagi beres-beres, Bu."
"Gimana kabarnya?"
"Baik bu. Ibu gimana kabarnya?"
"Sehat? Allhamdulillah ibu baik nak" Ucap ibuku.
"Iya."
Suara Ibu terdengar begitu hangat.
"Fit..."
"Iya, Bu?"
"Kamu bahagia kan di rumah suamimu?"
Pertanyaan itu membuat tenggorokanku tercekat. Aku menoleh ke arah ruang tamu yang kini sepi. Air mataku mulai menggenang. Ingin rasanya aku berkata jujur. Ingin rasanya aku memeluk Ibu dan menangis sepuasnya. Namun... Aku tidak ingin membuat kedua orang tuaku khawatir. Aku mengusap cepat sudut mataku.
"Iya, Bu."
"Mas Viyan baik sama kamu?"
"Iya... baik kok."
"Alhamdulillah. Kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri ya."
"Iya, Bu."
Setelah beberapa menit mengobrol, telepon pun ditutup. Aku memandangi layar ponselku yang kembali gelap. Tanpa sadar air mata yang sedari tadi ku tahan akhirnya jatuh. Aku menangis dalam diam. Tak kusadari, dari balik pintu dapur sepasang mata sedang memperhatikanku. Bu Mirna berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Entah sudah berapa lama beliau berada di sana. Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Bagus..." Ucapnya.
Suara itu membuatku buru-buru menghapus air mata.
"Jangan pernah bikin orang tuamu tahu apa yang terjadi di rumah ini."
Aku menatap wajahnya dengan bingung.
"Karena kalau mereka ikut campur..."
Beliau melangkah mendekat hingga hanya berjarak satu langkah dariku.
"...Mama bisa membuat mereka malu punya anak seperti kamu."
Aku membeku. Untuk pertama kalinya... Aku merasa ancaman itu bukan sekadar kata-kata.
Bersambung..