NovelToon NovelToon
Seducing My CEO

Seducing My CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Tamat
Popularitas:96.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yuna.L

Berlatar belakang Korea!

Cerita ini sangat berbelit-belit dan bertele-tele. Jadi, yang ga sabaran mohon jangan membaca cerita ini!

Tidak semua novel sesuai dengan kriteriamu. Jadi harap bijak dalam menyikapi! Sebaiknya kalau merasa tidak cocok langsung pindah saja ke novel lain. Jangan membaca kalau hanya ingin menghujat!!

Terima kasih.


Menceritakan kisah Sena yang merayu CEO selama 90 hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuna.L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Juhan menepuk pipi Sena dan berusaha menyadarkannya namun tidak ada reaksi apa pun dari wanita itu, matanya terpejam dan tubuhnya terkulai lemas tak bertenaga. Saat itu, detik seolah berhenti bergulir saat mata hitamnya memunculkan rasa kekhawatiran dan ketegangan yang menyatu dalam dirinya. Satu per satu orang mulai berdatangan untuk melihat kejadian tersebut, mereka berasumsi bahwa kejadian ini murni kecelakaan kerja, tidak ada kecurigaan lain selain hal itu. Berita tersebar dengan cepat dan sekumpulan orang di sekitar mulai berbisik-bisik membicarakan peristiwa tragis yang baru saja terjadi siang itu, dan Juhan serta Jinsu bergegas ke rumah sakit membawa Sena dengan penuh kekhawatiran.

Untuk sementara, Sena masih berada di UGD untuk menjalani pemeriksaan dokter. Sementara Juhan dan Jinsu berada di depan kamar. Sembari menunggu, mereka berjalan menuju kursi kosong dan duduk di sana.

"Jinsu, bagaimana mungkin kecelakaan kerja seperti ini bisa terjadi?" tanya Juhan, seraya mengerutkan kening. Kilatan amarah terpancar di wajahnya.

"Aku juga tidak tahu. Selama ini tidak pernah terjadi hal semacam ini di Lacoza. Aku juga heran lemari itu tiba-tiba roboh," ujar Jinsu, yang duduk di sebelah Juhan.

"Bukankah lemari itu sudah lama? Kenapa kau masih saja menggunakan lemari itu? Kenapa kau tidak membuangnya dan menggantinya yang dengan baru?" Juhan mencecar Jinsu dengan tatapan tidak menyenangkan.

"Meskipun lemari itu sudah tua, tapi selama ini baik-baik saja dan tidak ada masalah," jawab Jinsu, namun penjelasannya itu tak berhasil meredam amarah sang CEO.

"Aku tidak mau tahu pokoknya kau harus mengganti lemari itu secepatnya. Aku tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali," hardik Juhan, membuat Jinsu terdiam.

"Aku akan segera menggantinya," jawab Jinsu patuh.

Beberapa saat kemudian, Dokter keluar dan menghampiri mereka.

"Untung saja benturannya tidak terlalu keras dan tidak mengenai bagian fatal di tubuhnya. Jadi tidak ada luka serius dan kalian tidak perlu khawatir," ujar Dokter itu sambil tersenyum.

"Apakah kami boleh menjenguknya?" tanya Jinsu dengan nada khawatir.

Dokter itu kembali menjawab. "Boleh, silakan. Kebetulan wanita itu sudah sadar."

"Terima kasih," sahut Jinsu. Dokter itu mengangguk kemudian berlalu pergi.

Jinsu dan Juhan melangkah masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan Sena. Dan di kamar itu, Sena tampak berbaring di ranjang tatapan melamun.

"Sena, bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah tubuhmu masih sakit?" tanya Jinsu mengawali pembicaraan.

Sena segera menanggapi. "Oh, Manajer Lee, CEO Park. Iya, tubuhku masih terasa nyeri," jawabnya menyapa.

Jinsu tersenyum hangat. "Aku harap kau segera sembuh supaya bisa kembali bekerja."

Lalu Juhan menyela cepat. "Bodoh! Kau benar-benar bodoh. Kenapa kau tidak menghindari lemari itu? Kenapa kau diam saja saat lemari tua itu roboh?" tanyanya dengan nada tinggi. Terdengar seperti memarahi.

"Juhan, jangan bicara seperti itu. Sena masih sakit jangan marahi dia. Lagi pula ini adalah kecelakaan kerja, Sena sendiri juga tidak menginginkannya," sahut Jinsu cepat, berusaha mendinginkan suasana.

"Manajer Lee, aku tidak apa-apa. CEO Park Juhan benar aku memang ceroboh. Sudah tahu lemari itu lapuk tapi masih saja berdiri di dekatnya. Aku minta maaf atas kebodohanku," ucap Sena, merendahkan diri seraya menutupi kesedihannya.

"Hm, baiklah. Lain kali kau harus lebih hati-hati kalau kerja di gudang. Aku akan mengganti semua barang lama yang ada di sana. Jadi jangan khawatir, kejadian ini tidak akan terulang lagi," ujar Jinsu, membuat Sena mengingat kembali memori kejadian itu.

Sena menyunggingkan senyuman kepada Jinsu. "Terima kasih, Manajer Lee. Aku minta maaf karena sudah merusak lemari itu."

Jinsu menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Kau tidak salah kenapa minta maaf. Lupakan saja semua yang terjadi dan sekarang kau harus fokus dengan kesembuhanmu, Oke?" Jinsu memberi semangat, dan Sena mengangguk.

Jinsu melirik jam tangannya. "Ya sudah, aku sekarang mau kembali ke kantor. Juhan, kalau kau ingin di sini dulu tidak apa-apa, tapi nanti kembalilah ke kantor. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," sambung Jinsu.

Juhan mengangguk. "Sebentar lagi aku akan ke kantor," katanya.

Jinsu mengangguk-angguk. "Sena, aku pergi dulu, ya. Cepat sembuh," pamitnya, seraya melangkah pergi meninggalkan Sena dan Juhan berdua.

Juhan maju selangkah mendekati Sena.

"Apa yang kau rasakan saat ini? Sakit?" tanya Juhan, dan langsung diangguki oleh Sena.

"Aku heran denganmu, kenapa kau selalu bertingkah bodoh? Apa kau..."

"Aku tidak bodoh!" Sena memotong dengan cepat. "Berhentilah menyalahkanku. Ini semua bukanlah kecelakaan kerja," ungkapnya.

"Bukan kecelakaan kerja? Apa maksudmu?" tanya Juhan dengan tatapan bingung.

"Ini bukan kecelakaan kerja seperti yang dikatakan orang. Hayoon-lah yang telah mendorong lemari itu untuk mencelakaiku," ucap Sena, memperjelas ucapan sebelumnya.

Juhan melebarkan mata seketika. "Apa kau bilang? Itu tidak mungkin. Hayoon tidak mungkin melakukan hal semacam itu," ucapnya tak percaya.

"Aku tidak bohong, itu kenyataan. Hayoon sangat membenciku dan waktu itu dia mendorong lemari itu ke arahku. Aku dapat mengingat jelas kejadian itu," jelas Sena sekali lagi, berharap Juhan mengerti dan percaya padanya namun kenyataannya tidak.

"Aku tidak percaya. Selama ini Hayoon tidak pernah melakukan perbuatan jahat kepada orang lain. Kau jangan mengarang cerita," tukas Juhan, masih tak percaya yang apa yang Sena katakan.

Sena menghela napas panjang, mencoba sabar. "Terserah kalau kau tidak percaya. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya. Hayoon tidak sebaik yang kau kira, dia sangat licik dan sa..."

"CUKUP!" Juhan memotong kasar. "Aku tidak suka kau menyalahkan orang lain. Dan seharusnya kau sendiri lebih berhati-hati dalam melakukan pekerjaan. Satu hal lagi, kau akan tetap di sini sampai tubuhmu pulih, kau mengerti? Aku sekarang mau kembali ke kantor," kata Juhan lalu pria itu berbalik badan dan pergi meninggalkannya.

Sena menatapnya kesal sekaligus sedih. Hatinya cukup teriris dengan kalimat Juhan. Di kala ia dengan jujur menjelaskan kebenaran, Juhan justru tidak percaya padanya. Sena mendongak ke atas, menahan air mata yang hendak jatuh dari ujung matanya. Tak disangka pria itu lebih mempercayai Hayoon daripada dirinya.

...***...

Jinsu masuk ke dalam ruang CEO dan mendudukkan diri di sofa empuk di sana. Sembari menunggu kedatangan Juhan, ia membaca kembali lembaran kertas yang ia bawa saat itu. Jinsu lalu menganggukkan kepala seolah paham dengan apa yang dia baca. Selang beberapa menit kemudian, pintu terayun terbuka dan muncul sosok Juhan memasuki ruangan. Pria itu lalu menuju sofa dan duduk di seberang Jinsu, mata hitamnya langsung menuju pada lembaran kertas yang ada di meja depannya.

"Jinsu, apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Juhan, sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.

"Aku sudah menyuruh anak buahku untuk mencari kantor relawan di Seoul dan aku sudah mendapatkannya. Ini adalah nama dan alamat kantor itu." Jinsu menyerahkan lembaran kertas yang ia bawa kepada Juhan. Dan pria itu langsung membacanya.

"Hmm.. apakah kantor relawan di Seoul hanya satu ini saja?" tanya Juhan.

"Tidak. Ada beberapa, tapi kantor inilah yang rutin mengadakan kunjungan di Rumah Sakit Asan, tempat mama mu dirawat. Dan siapa tahu wanita yang kau cari ada di sana," jawab Jinsu, sambil memandang Juhan yang ada di hadapannya.

Juhan mengangguk. "Aku mengerti. Terima kasih sudah membantuku. Begitu ada waktu aku akan pergi ke kantor relawan itu."

Pada waktu yang sama, Hayoon diam-diam berjalan mendekati ruang CEO untuk menemui Juhan. Namun sampai di sana ia melihat pintu ruang CEO sedikit terbuka dan tak sengaja mendengar percakapan di dalam ruangan tersebut. Mendengar itu, Hayoon memutuskan untuk berdiri di sana dan menguping pembicaraan.

Jinsu berpikir. "Sebenarnya meskipun kau pergi ke sana pun belum tentu kau bisa menemukan wanita itu. Pasti ada banyak orang yang menjadi relawan di sana, dan menurutku itu sangatlah sulit," ujarnya.

Juhan tercenung mendengarnya. "Itu benar. Aku kelihatannya harus bertanya kepada mereka satu per satu untuk memastikannya," ucapnya, berharap ada keajaiban di tengah harapannya yang kian menipis.

Jinsu kembali bertanya. "Omong-omong, apakah kau tahu wanita itu seperti apa? Ciri-ciri fisiknya mungkin? atau kau dulu pernah bertemu dengannya?"

"Aku belum pernah bertemu wanita itu. Aku hanya tahu dari seseorang kalau wanita relawan itu masih muda dan cantik." Juhan terdiam sejenak, lalu lanjut berkata," Hmm.. aku tidak peduli akan hal itu, yang penting wanita itu bisa membantu menyembuhkan mamaku maka aku akan terus mencarinya sampai ketemu."

Wanita relawan? Juhan saat ini sedang mencari wanita relawan untuk mamanya. Ehmm, aku perlu menyelidiki hal ini lebih lanjut, batin Hayoon, setelah mendengar percakapan Juhan dan Jinsu dari dalam.

"Baguslah. Aku doakan semoga kau segera menemukan wanita itu." Jinsu bangkit berdiri. "Aku pergi dulu mengurus pekerjaanku yang lain."

Setelah itu, Jinsu berjalan menuju pintu dan tiba-tiba saja pintu itu terbuka lebar. Mereka mendapati Hayoon masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa.

Hayoon tertawa kecil. "Oh, Manajer Lee ada di sini," ucapnya basa-basi, berpura-pura tidak tahu.

"Iya, tapi aku sudah selesai. Kau ingin menemui Juhan?" tanya Jinsu, sembari menatap Hayoon.

"Ya, benar," jawabnya.

Jinsu mengangguk. "Masuklah. Aku permisi." bersama dengan kata-kata itu, Jinsu membuka pintu lalu keluar dari ruangan.

Melihat Juhan yang masih duduk di sofa, Hayoon lalu bergegas mendekatinya. Entah apa yang direncanakannya sampai-sampai wanita itu berniat menemui Juhan setelah melakukan perbuatan yang tidak terpuji terhadap Sena.

Hayoon tersenyum simpul. "Juhan, aku ingin bicara sesuatu denganmu," ucapnya, seraya duduk di sisi Juhan. Memepet pria itu dekat.

"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Juhan dingin.

"Ini.. tentang kecelakaan kerja Sena di gudang."

"Kenapa memangnya?"

"Aku ingin cerita. Saat itu Sena marah padaku dan terus memakiku. Aku hanya diam, mengabaikannya, tapi tiba-tiba dia mendorong lemari itu ke arahku dan ternyata takdir berkata lain. Lemari lapuk itu justru jatuh ke arahnya sendiri," ucap Hayoon dengan penuh kebohongan.

Juhan terdiam. Dan terdiam lagi beberapa saat. Ia berpikir dan menimbang kedua pernyataan dari Sena dan Hayoon. Juhan tidak tahu siapa yang harus ia percaya perihal keduanya memiliki cerita yang saling berlawanan.

"Hayoon, apakah yang kau katakan itu benar?" tanya Juhan seraya menatap Hayoon dengan saksama.

"Tentu saja benar. Selama ini aku tidak pernah berbohong padamu," kilahnya, dengan penuh percaya diri.

Lalu, Juhan kembali bertanya dengan tatapan tajam. "Hmm, benarkah? Bukan kau yang mendorong lemari itu?"

Hayoon terlihat kelabakan. "Ba-bagaimana mungkin aku mendorong lemari itu. Aku tidak melakukannya. Dia yang mendorongnya sendiri," katanya terbata dan kaku.

Juhan mengangguk. "Okay, aku mengerti. By the way, mengapa Sena marah padamu? Apa alasannya?"

Hayoon terdiam sejenak, sibuk mencari alasan. "Ehm... dia cemburu padaku. Dia cemburu karena hubungan kita dekat. Ditambah lagi kau dulu pernah suka padaku. Jadi dia tidak terima," ucapnya sedikit gugup.

Juhan memejamkan mata, sambil memijit pelipisnya. "Baiklah, aku mengerti. Kembalilah ke meja kerjamu sekarang," titahnya dingin.

Hayoon mengernyit. "Baik," jawabnya, sembari bangkit dari duduk lalu pergi meninggalkan Juhan sendirian.

Bahaya. Juhan mulai tidak percaya padaku. Pasti wanita sialan itu sudah mengadu pada Juhan lebih dulu. Ini sangat berbahaya. Aku harus mencari jalan lain agar Juhan tidak mencurigaiku, batin Hayoon cemas.

...***...

Hayoon lalu berjalan menuju ruang di mana ayahnya tengah bekerja.

Tok Tok Tok !

"Masuk," jawabnya dari dalam.

Hayoon membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan dengan langkah terburu-buru. "Ayah."

Nam il-sung mendongak dan melihat siapa yang masuk ke dalam kantornya. Itu memang Hayoon, putrinya sendiri.

"Ada apa?" tanya Nam il-sung, sembari menatap Hayoon dari tempat duduknya.

Hayoon berdiri di depan meja kerja il-sung. "Aku ingin bicara dengan ayah. Apakah ayah sudah mendengar tentang kecelakaan Kim Sena di gudang hari ini?"

"Sudah. Kenapa?" tanya il-sung, masih tidak mengerti.

"Juhan mencurigaiku, wanita itu mengatakan pada Juhan hal yang tidak benar. Kim Sena mengatakan kepada Juhan bahwa aku-lah yang mendorong lemari itu, dan karena itu Juhan tidak percaya padaku," ucap Hayoon, dengan penuh kekhawatiran di wajahnya.

Nam il-sung mengerutkan dahi. "Hm... jadi Juhan lebih percaya pada wanita itu daripada dirimu?"

Hayoon mengangguk yakin. "Benar, ayah."

"Beraninya Juhan mencurigaimu." Nam il-sung menatap Hayoon tajam. "Bukankah Juhan menyukaimu, kenapa dia tidak percaya?"

"Wanita bernama Kim Sena itu menyukai Juhan. Sejak pertama kali wanita itu masuk ke Lacoza, dia selalu merayu dan mendekati Juhan sehingga sedikit demi sedikit Juhan mulai berubah, Ayah," jawab Hayoon menjelaskan.

Kerutan di dahi Nam il-sung tampak semakin dalam. "Jadi maksudmu Juhan sudah tergoda oleh wanita itu?"

"Iya. Ayah harus membantuku agar Juhan percaya lagi padaku," rengek Hayoon, meminta bantuan.

Nam il-sung mengangguk. "Ayah akan bicara dengan Juhan."

"Terima kasih, Ayah. Aku harap Juhan mau percaya lagi padaku seperti dulu," kata Hayoon, seraya tersenyum.

"Ini semua adalah kesalahanmu. Kenapa dulu saat Juhan melamarmu kau menolaknya? Kau malah memilih suka pada Sijin yang tidak jelas itu," hardik il-sung.

"Ayah, itu kan dulu. Aku sekarang menyukai Juhan dan ingin menikah dengannya," jelas Hayoon dengan penuh harap.

Nam il-sung mengembuskan napas kasar. "Jika kau menyukai Juhan dan ingin menikah dengannya, kau harus berusaha mendapatkannya lagi. Bagaimanapun caranya kau harus bisa. Kau mengerti?"

Hayoon mengangguk. "Aku mengerti, Ayah."

"Ayah akan membantumu mendapatkan Juhan kembali," ujar Nam il-sung, membuat Hayoon senang.

"Terima kasih, Ayah." Hayoon tersenyum.

...***...

Sepulang dari kantor, Hyemi dan Bora datang menjenguk Sena di rumah sakit. Walaupun sempat terkejut, tapi mereka tidak bisa menampik kenyataan bahwa hal buruk itu sungguh terjadi kepada Sena.

Cklek !

Pintu berderit terbuka.

"Hyemi, Bora," sambut Sena senang melihat kedua temannya datang.

"Sena bodoh. Bagaimana bisa kau sampai kejatuhan lemari itu? Kau sungguh ceroboh," ucap Hyemi, merasa gemas dengan teman baiknya itu.

Bora menimpali. "Iya, aku sangat terkejut mendengar berita itu. Kau harus lebih berhati-hati lagi, Sena."

Sena tersenyum. "Iya, aku memang ceroboh. By the way, terima kasih sudah datang menjengukku."

Sejujurnya, Sena ingin menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Hyemi dan Bora. Namun setelah berpikir kembali akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk bercerita.

"Kapan kau boleh keluar dari rumah sakit?" tanya Hyemi.

Sena berpikir sejenak. "Sebenarnya lukaku tidak begitu serius, sebentar lagi mungkin aku sudah boleh pulang. Oh ya, dua hari lagi aku ulang tahun. Hyemi, bisakah kau membantuku?"

"Bantu apa?" tanyanya.

"Aku ingin pesan nasi kotak untuk kubagikan di hari ulang tahunku nanti," ujar Sena kepada Hyemi.

Hyemi mengangguk mengerti. "Oh, oke. Aku akan pesan di katering."

"Wah, enak nih dapat nasi kotak gratis dari Sena," goda Bora sambil tertawa.

"Makanya jangan lama-lama di sini, cepat pulang," sahut Hyemi. Sena mengangguk tersenyum.

"Semoga cepat sembuh, Sena." Bora melirik arlojinya. "Kelihatannya aku sekarang harus pulang. Mungkin besok kalau sempat aku akan datang menjengukmu lagi," pamitnya.

"Aku juga mau pulang ada beberapa cucian yang harus aku kerjakan di rumah," tambah Hyemi ikut berpamitan.

"Oke, hati-hati di jalan. Terima kasih sudah menjengukku," jawab Sena, sembari tersenyum menatap kepergian temannya.

...***...

...The next day...

Pukul 08.00 pagi. Seorang pria berbadan kekar masuk ke dalam kamar inap Sena dengan tersenyum. Tanpa menimbulkan suara, pria itu berjalan menuju ranjang Sena berbaring.

"Sena."

Sena melebarkan mata saat melihat pria itu datang. Mata mereka bertemu. Sepasang bola mata coklat indah milik Sena berhasil membuat Sijin tersihir dan menyunggingkan sebuah senyuman.

Dan seperti biasa, sebuket bunga selalu dia beli untuk diberikan kepada Sena, pujaan hatinya.

"Bagaimana kau tahu aku dirawat di sini?" Sena tak bisa menutupi keterkejutannya.

"Aku tahu dari orang-orang di Lacoza, dan aku sangat terkejut ketika mengetahui wanita yang kecelakaan kerja itu adalah kamu. Jadi aku buru-buru datang ke sini untuk melihatmu. Ini bunga untukmu, terimalah," ucap Sijin, sembari menyerahkan sebuket bunga tulip kepada Sena.

"Terima kasih." Sena menerima buket itu dengan sungkan. Sebab sudah terlalu banyak pria itu memberikan bunga kepada Sena. Membuat Sena bosan, tentu saja.

"Jika kau sudah boleh diizinkan pulang, telepon aku, ya. Aku akan mengantarmu pulang," rayu Sijin, sambil tersenyum.

Sena terdiam sejenak, tidak tahu harus menjawab apa. Sena lalu mencoba duduk dan menyandarkan tubuhnya di kasur.

Sijin mendekati Sena. "Aku akan membantumu duduk dengan posisi enak. Sini," katanya, dengan merapikan bantal yang ada di ranjang.

Sijin tersenyum. "Sena, kau sungguh cantik. Aku suka melihatmu dengan jarak dekat seperti ini."

Tiba-tiba saja, Juhan datang dan melihat pintu kamar Sena sedikit terbuka. Pria itu mendorong pintu perlahan, dan terkejut melihat Sijin dan Sena berdekatan.

Mata Juhan melebar saat melihat Sijin membungkuk dan mencium kening Sena cukup lama.

1
Dyass Stia Clalu
👍👍👍
Sindy Bandari
lanjut🤭🥰🤗
Nurkhakimah
ceritanya bertelele banget sih....sena terlalu bar bar dan ceroboh
WILANA
semoga sena tidak apa² dan bisa bersatu lagi dgn juhan.
WILANA
lanjut thor terima kasih
WILANA
aduh thor buat patah semangat...udah lama di tunggu² kok sedikit kali.please up lagi dong thor.sena bertahanlah juhan kekasihku akan datang menyelamatkan mu.semoga sena tidak apa² y .
WILANA
please thor cepat dong up nya.,.terima kasih
WILANA
hhmm...nunggu lagi.,I miss you..😔
WILANA
please lanjut lah thor,..
WILANA
kok belum up juga thor...berharap juh an dn sena bersatu lagi...pasti so sweet deh membayangkannya.,😍
Diana Ana
ceritanya berbelat belit 😂🤣😂🤣😂
WILANA
lanjut thor...
WILANA
mudah²an juhan gak jadi tunangan..dn dewi keberuntungan berpihak sm sena...sabar sena,jodoh gak kan kemana💕
WILANA
I love sena and juh an .,..💕
WILANA
lanjut thor...semangat,semoga cepat up nya..💪
WILANA
jgn lama² y thor..perpisahan sena dn hujan..baru lagi jadian udh berpisah...💔😭
WILANA
aduh thor...deq² kan membacanya...dan tak sabar membacanya lagi...lanjut thor.,cepat up nya y....😊
RisaRis27670746
juhan kok gsk jelas gitu sih...kan ikut esmosi
WILANA
maaf y thor ...mo nanya,apa udh gak up lagi...
Yuna.L: Up kak tapi slow ya. Karena saya sudah kembali sibuk pindahan keluar negeri. Saya membuat novel ini hanya untuk mengisi waktu kosong saja selama di rumah. Semoga saya bisa menyelesaikan cerita ini dengan lebih cepat ya. Terima kasih sudah mau mampir di novel aku.
total 1 replies
RisaRis27670746
mestinya juhan cerita lah masalahnya biar tdk salah paham lagi dg sena
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!