“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: lelah sekali
Langkah kakiku berat saat masuk ke lobi, menuju pintu lift. Wajahku tertunduk, berusaha menyembunyikan bekas merah di pipi dan mata yang sembab. Begitu pintu terbuka, Kevin sudah berdiri di sana menyambut dengan senyum lebar yang langsung berubah menjadi pelukan hangat.
"Sayang... kamu sudah pulang. Aku kangen banget seharian nggak lihat kamu," bisiknya erat mendekap tubuhku.
"Iya... maaf ya tadi agak telat," jawabku pelan, berusaha tersenyum walau hati masih perih.
"Ngomong-ngomong, tadi aku sempat masak lho buat kamu," ucapnya bangga sambil menuntunku masuk. "Ada ayam kecap lada hitam kesukaanmu, telur masak tomat manis, sama sayur hijau segar."
"Wah banyak sekali... kok masaknya sebanyak ini?" tanyaku pelan.
"Enggak apa-apa sayang. Dulu aku terbiasa hidup sendiri, jadi masak sekaligus banyak sudah biasa bagiku," katanya santai sambil menata piring di meja. "Ayo cepat makan, pasti kamu sudah lapar sekali."
"Iya... terima kasih ya, Kevin."
Dalam hati bergumam tak percaya: Ya ampun... kok bisa dia sehebat itu? Ganteng, sukses, rajin, malah jago masak segala. Sedangkan aku? Belum bisa masak seenak ini. Malu banget rasanya... nilainya dia udah sempurna banget, banyak sekali kelebihannya, apa nggak kurang ya pasangan kayak aku?
Aku menunduk pelan memainkan sendok, rasa minder perlahan menyelinap. Seakan membaca pikiranku, Kevin tersenyum lembut sambil menyuapi potongan daging empuk ke piringku.
"Kenapa diam saja? Makanlah selagi hangat. Nanti kalau mau belajar, aku ajari pelan-pelan kok. Enggak usah malu, kita saling melengkapi, bukan saling membandingkan," bisiknya tenang.
"Masakan kamu enak banget lho! Aku suka banget, sering-sering ya masakin aku kayak gini," ujarku sambil tersenyum lebar, rasanya hangat sekali di lidah maupun di hati.
Kevin tersenyum lebar, matanya berbinar manis menatapku. "Siap, istriku yang cantik."
Wajahku seketika merona merah padam mendengar panggilan itu, senyumku makin lebar meski jantung berdegup makin kencang. 🥰
Jantungku seakan berhenti berdetak sejenak. Pipi memanas seketika, mataku tak sengaja melirik pantulan kaca di sudut ruangan.
Ya ampun... dia panggil aku istrinya? Apakah aku pantas? Anak sederhana yang hidup susah, sering dihina, bahkan keluarga sendiri saja tak peduli... sementara dia Tuan Kevin Mahendra, CEO terpandang yang dihormati banyak orang. Apa benar sosok sepertiku layak berdiri bersamanya, menjadi nyonya besar yang di sampingnya?
Belum selesai pikiran berputar, tangan besarnya terulur mengusap lembut punggung tanganku.
"Kenapa melamun begitu? Kamu ragu?" bisiknya lembut. "Bagiku kamu sudah lebih dari pantas. Gelar dan harta itu cuma nama. Tapi kamu... ketulusan, keberanian, dan hatimu yang lembut itulah harta paling mahal yang pernah kumiliki."
Jari telunjuk Kevin mengusap pelan bekas kemerahan itu, tatapannya berubah serius penuh cemas.
"Sayang... ini kenapa? Pipi kamu merah sekali begini."
Aku menunduk berusaha mengalihkan pandangan. "Tidak apa-apa..."
"Tidak boleh bohong sama aku. Cerita, ada apa yang terjadi?" suaranya lembut namun tak menerima penolakan.
Napas berat terhela pelan. "Tadi... aku tidak sengaja bertemu Ayahku."
Dada bidangnya terlihat naik turun menahan emosi yang mulai menyala. "Dia melakukan apa padamu sampai begini?"
"Benar tidak apa-apa..." aku segera memeluk pinggangnya erat, menyembunyikan wajah di dadanya agar tak melihat air mata yang kembali menggenang. "Cuma... kejadian tidak menyenangkan saja. Sudah ya jangan dibahas lagi..."
Kevin diam sejenak, lalu membalas pelukan itu jauh lebih erat, seolah ingin melindungiku dari segala luka dunia luar.
Air mata hangat kembali menetes, tapi kali ini bukan karena sedih—melainkan rasa syukur yang meluap-luap.
"Betapa beruntungnya aku... di saat darah daging sendiri tega menyakiti, ada dia yang justru menjagaku dengan segenap hati. Dia mencintaiku apa adanya, tulus tanpa pamrih, tak memandang siapa asalku atau apa yang kumiliki."
Aku mendongak menatap matanya lekat, lalu mengecup lembut pipi tegas itu. "Terima kasih... terima kasih sudah hadir di hidupku. Kamu adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan kirimkan."
Kevin mengecup keningku lama dan penuh makna. "Kebahagiaanku adalah melihatmu tersenyum. Mulai sekarang, sakit apa pun tak akan berani menyentuhmu lagi. Aku janji."
Cahaya lampu gantung yang temaram menyelimuti meja makan, menciptakan bayangan lembut di wajah kami berdua. Tak ada hiruk-pikuk, tak ada beban yang mengganggu—hanya kehangatan yang menyatu di antara kami. Kami duduk berdampingan, bukan saling berhadapan, membuat jarak di antara kami terasa makin hilang.
Sesekali tangan besarnya menyentuh punggung tanganku, mengusap jemariku pelan seolah tak ingin melepaskan sedetik pun. Percakapan mengalir ringan, mulai dari hal-hal kecil lucu hingga harapan-harapan sederhana yang dulu tak pernah berani kukatakan. Suasana itu begitu tenang, begitu indah, dan terasa begitu sempurna meski hanya sederhana—karena keindahannya bukan berasal dari kemewahan makanan atau tempatnya, melainkan karena aku duduk tepat di samping orang yang paling tulus menyayangiku.
Malam itu aku sadar: akhirnya aku pulang. Bukan ke bangunan, tapi ke hatinya. ❤️
Cahaya lampu tidur yang remang merona menyinari ruangan, seirama dengan detak jantung yang saling menyatu. Kevin merengkuh pinggangku makin erat, mendekatkan tubuh tegapnya hingga tak ada lagi celah di antara kami. Jemarinya menyusuri lekuk bahu, tengkuk, hingga pinggang dengan sentuhan yang penuh hasrat namun tetap penuh rasa hormat dan kasih sayang yang mendalam.
Ciumannya kini makin dalam, menjelajahi setiap sudut yang membuatku merinding lemah di dekapannya. Ia membiarkan tangannya menjelajah lebih jauh, mengusap dan meremas lembut setiap lengkungan tubuhku yang ia puja sepenuhnya. Desah halus beradu di udara, seiring irama gerakan yang perlahan makin dalam, menyatukan raga dan jiwa dalam tarian cinta yang tak terucapkan. Setiap sentuhan, setiap gesekan, dan setiap bisikan manis yang terlontar seolah menegaskan betapa ia menginginkan dan mencintaiku seutuhnya—membuat malam itu menjadi saksi persatuan yang penuh gairah sekaligus kelembutan tanpa batas.
"Ahh... ahh sayang... pelan-pelan... aku belum kuat secepat ini..." rintihku lemah, mencengkeram bahunya erat saat rasa nikmat yang memuncak nyaris membuatku tak sadar.
Kevin langsung menahan gerakannya, menunduk mengecup pelipis yang berkeringat dengan penuh kasih sayang. "Maaf sayang... maafkan aku," bisiknya parau, lalu melanjutkan dengan irama jauh lebih lambat, sangat lembut, namun tetap membuat getaran hangat menyebar ke seluruh tubuh. "Begini ya? Nikmati bersamaku... tarik napas pelan... aku di sini, tak akan kemana-mana..."
Ia terus membisikkan kata-kata penenang di sela kecupan lembut, memastikan aku tetap merasa nyaman dan dicintai sepenuhnya di setiap detiknya.
"Ahhh... nikmat sekali sayang... enak banget... aku sungguh puas memilikimu seutuhnya," bisiknya parau di sela hembusan napas yang memburu, menatapku dengan sorot mata yang penuh cinta dan kepuasan mendalam.
Gerakan akhirnya melambat perlahan, hingga akhirnya berhenti seiring kami berdua tersandar lelah namun bahagia dalam satu dekapan yang tak terpisahkan. Ia merengkuhku erat, seolah ingin menyatukan napas dan detak jantung kami selamanya.
Pipi merona kemerahan kesukaannya terlihat makin manis membasahi wajah yang lelah namun bahagia. Malam itu menyisakan kedamaian yang tak terlukiskan—kami berdua sama-sama kelelahan setelah menyatukan hati dan perasaan sepenuhnya. Perlahan kelopak mataku memberat, dan dalam pelukan hangat kekarnya yang tak pernah melepaskan sedetik pun, aku pun terlelap pulas. Rasa aman dan dicintai menyelimuti segenap jiwa, seolah tak ada lagi tempat yang lebih nyaman selain di dekapannya malam itu.