NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Saiph melepaskan pelukan Alcor, lalu dengan lembut memegang kedua pundak anak itu.

“Ini Alcor, keponakanku.”

Saiph memperkenalkannya sebagai keponakannya. Namun, melihat ciri fisik mereka yang sangat berbeda, Arina yakin keduanya tidak memiliki hubungan darah.

“Alcor, ini Lady Arina, istri Jenderal Orion. Dan ini Alhena, pelayan di Manor yang bekerja bersamaku.” Saiph menoleh kepada Alcor. “Sapa mereka.”

“Salam, Lady Arina. Salam, Bibi Alhena.”

Alcor tersenyum polos sambil memberi salam hormat, sebagaimana tradisi masyarakat Elarion.

Arina membalas dengan anggukan singkat dan seulas senyum tipis.

Sementara itu, Alhena membalas salam Alcor dengan membungkukkan badan sedikit. Seperti biasa, ia tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun.

“Bagaimana keadaan Ibu hari ini?” tanya Saiph.

“Ibu sudah tidak makan selama beberapa hari terakhir, Paman.” Alcor menundukkan kepala. Suaranya bergetar menahan sedih.

“Tidak apa-apa.” Saiph mengusap lembut rambut Alcor. “Lady Arina akan menolongnya.”

“Benarkah?” Mata Alcor langsung berbinar.

Tanpa berpikir panjang, ia melepaskan pelukan Saiph, lalu berlutut di hadapan Arina.

“Lady... tolong selamatkan Ibu. Aku mohon.”

“Bangun.” Arina segera menarik tubuh Alcor hingga berdiri. Jemarinya menggenggam tangan kecil anak itu dengan lembut. “Aku akan berusaha.”

Arina bukanlah orang yang pandai menunjukkan kehangatan. Bahkan ketika berbicara dengan seorang anak kecil, suaranya tetap datar seperti biasanya.

Akan tetapi, entah mengapa Alcor justru merasakan ketenangan. Suara Arina membuatnya merasa aman.

“Lady seorang—”

Sebelum Alcor sempat menyelesaikan ucapannya, Arina dengan sigap menutup mulutnya menggunakan telunjuk.

Ia menggeleng pelan.

“Jangan mengatakannya. Biarkan itu menjadi rahasia kita, oke?”

“Baik, Lady.” Alcor mengangguk patuh.

Saiph yang memperhatikan interaksi mereka mengernyitkan dahi. Rahasia apa sebenarnya yang disimpan Nona Arina?

Semakin lama ia mengenalnya, semakin ia merasa wanita itu menyembunyikan jati dirinya di balik begitu banyak lapisan.

“Saiph, kita harus segera masuk,” kata Arina.

“Baik, Nona.” Saiph mengangguk, lalu membuka pintu lebih lebar. “Silakan masuk. Maaf, rumah kami hanya rumah sederhana.”

“Bukan masalah.”

Mereka pun memasuki rumah itu bersama. Tak lama kemudian, suasana di luar kembali sunyi.

Saiph mengantarkan Arina ke sebuah kamar sederhana. Di dalamnya hanya terdapat sebuah ranjang kayu, meja kecil, jendela sempit, dan lemari tua.

Seorang wanita tua yang bertubuh sangat kurus terbaring lemah di atas ranjang. Di atas meja, tersaji semangkuk makanan yang telah dingin dan segelas air yang nyaris tak tersentuh.

Arina mengangguk singkat kepada Saiph sebelum melangkah mendekati ranjang.

Alhena menunggu di luar kamar bersama Alcor, sementara Saiph tetap berdiri di ambang pintu yang terbuka, mengawasi dari kejauhan.

Semakin dekat ke ranjang, Arina dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas. Kulitnya putih pucat. Rambutnya masih hitam legam meski usianya tak lagi muda. Matanya terpejam rapat, sementara kedua tulang pipinya tampak menonjol akibat tubuh yang terlalu kurus.

Arina berhenti di sisi kanan ranjang.

“Saiph, bisakah kau menutup pintunya dan menunggu di luar?”

“Tentu, Nona.”

Saiph mengangguk, lalu keluar dan menutup pintu dengan pelan.

Arina lebih dulu memeriksa denyut nadinya. Jemarinya menyentuh lembut pergelangan tangan wanita itu.

Masih berdenyut.

Namun, denyutnya begitu lemah. Denyut yang biasanya hanya dimiliki seseorang yang berada di ambang kematian.

Setelah memastikan nadi itu masih ada, Arina mulai mengerahkan kekuatannya untuk memeriksa kondisi tubuh wanita tersebut lebih dalam.

Sesaat kemudian, matanya sedikit melebar.

“Kekuatan hidupnya sungguh luar biasa... sayangnya, dia mengidap penyakit langka.”

Bila bukan karena daya hidup yang luar biasa kuat, denyut nadi wanita ini pasti telah lama berhenti.

Arina membuka bagian atas pakaiannya hingga tanda bulan sabit berwarna ungu di atas dadanya terlihat. Ia meletakkan telapak tangan di atas tanda itu. Hawa yang sangat panas seketika mengalir memenuhi lengannya.

Dalam sekejap, cahaya ungu terang menyelimuti seluruh tubuh Arina hingga memenuhi ruangan dengan warna yang sama.

Perlahan, ia mengangkat telapak tangannya dan mengarahkannya ke tubuh wanita itu.

Di luar, petir sesekali menyambar langit, disusul hujan deras yang mengguyur Asterra.

Telapak tangan Arina akhirnya berhenti tepat di atas dada wanita itu, di tempat jantungnya berada.

Jantung yang telah lama kehilangan kehangatan.

Cahaya ungu yang memancar dari telapak tangan Arina perlahan menghangatkan organ itu. Sedikit demi sedikit, jantung yang hampir membeku mulai kembali berdetak lebih kuat.

Darah yang semula mengalir lambat kini mulai beredar kembali ke seluruh tubuh.

Perlahan, rona pucat di wajah wanita itu memudar, digantikan warna kehidupan yang kembali menghiasi kulitnya.

Satu jam kemudian, Arina menghentikan aliran kekuatannya.

Cahaya ungu menghilang, dan kamar itu kembali seperti semula.

Dengan tangan yang gemetar, Arina mengeluarkan sebuah botol hijau kecil dari balik pakaiannya. Ia segera meminum seluruh isinya dalam sekali teguk.

Itu adalah sari Bulan Perak, ramuan yang selalu ia gunakan untuk memulihkan tenaga setiap kali menguras kekuatannya.

“Terima kasih...” Suara lirih itu terdengar dari atas ranjang.

Arina menoleh dan mendapati wanita itu telah membuka mata.

“Bibi sebaiknya tetap berbaring,” ucap Arina ketika melihat wanita itu berusaha bangkit.

“Aku Nashira,” katanya pelan, mengurungkan niat untuk duduk.

“Baiklah, Bibi Nashira. Aku Arina Wezen.” Arina menarik kursi di samping ranjang, lalu duduk dengan tenang.

Nashira menatapnya lama. Sorot matanya begitu dalam, seolah mampu menembus hati seseorang.

“Kekuatanmu sempurna,” ucapnya pelan. “Ibumu pasti sangat bangga padamu.”

Arina terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Ibunya telah lama pergi.

Saat ia masih seorang anak kecil yang membutuhkan pelukan dan kasih sayang seorang ibu, sosok yang seharusnya ia panggil Ibu justru mengajarkannya arti sebuah perpisahan yang dingin.

“Aku akan memanggil Saiph,” ujar Arina. Ia berdiri perlahan, lalu melangkah menuju pintu.

“Lunar pasti akan kembali.”

Ucapan itu membuat tangan Arina yang hendak membuka pintu seketika terhenti.

Ia berbalik perlahan.

“Bibi mengenal ibuku?” tanyanya, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.

Nashira tersenyum tipis.

“Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Nak.” Suaranya lembut, tetapi setiap katanya terdengar begitu jelas. “Mengapa kau bersusah payah mencarinya? Seharusnya dialah yang datang mencarimu.”

“Karena aku harus menemukannya,” balas Arina tegas. Ia berbalik dan kembali menghampiri ranjang.

“Harus.” Tatapan birunya dipenuhi tekad yang selama ini tak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

“Dia pergi dengan meninggalkan kekuatan ini di dalam tubuhku.” Arina menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali menatap Nashira. “Kekuatan yang bagiku terasa seperti kutukan. Aku harus bertemu dengannya... untuk mengembalikan kekuatan ini.”

“Itu bukan kutukan, Nak.” Nashira menggeleng pelan, lalu meraih tangan Arina dengan lembut.

“Itu adalah anugerah.” Jemarinya yang kurus menggenggam tangan Arina dengan hangat. “Kau baru saja menyelamatkanku menggunakan kekuatan itu. Dan aku juga bisa merasakan bahwa kau telah menyelamatkan seluruh warga Asterra dengan kekuatan yang sama.”

Arina menggigit bibir bawahnya.

Ia membalas genggaman tangan Nashira, tetapi tetap terdiam.

Kalau kekuatan ini benar-benar anugerah… Mengapa selama ini aku harus menyembunyikannya? Mengapa tidak seorang pun boleh mengetahui bahwa aku memilikinya?

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!