Kehidupan sempurna bak putri kerjaan yang Inez rasakan mendadak berubah total ketika Rara menjalankan misi balas dendamnya. Rasa sakit hati kehilangan Papanya membuat Rara ingin membuat Inez merasakan apa yang Ia rasakan.
Tanpa Inez sadari, Rara selalu memakai topeng. Baik di depan dan busuk di belakang. Satu persatu kebahagiaan yang Inez miliki perlahan hilang, termasuk kesuciannya. Apa lagi yang akan Rara renggut lagi dari Inez?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teringat semuanya
Rio menghela nafasnya dengan berat. Tampaknya kali ini Ia harus mengalah dengan Inez. Kalau Ia tidak lakukan, mungkin Inez akan membencinya.
Yang terpenting bagi Rio sekarang adalah Inez mau cerita apa yang terjadi. Permasalahan dengan Rara biarlah itu urusan nanti. Hal yang utama terlebih dahulu harus dituntaskan.
"Oke, kita lupakan tentang Rara. Kita nggak usah berdebat ya masalah Rara. Kita fokus ke masalah lo aja. Gimana ceritanya sampai Lo bisa kayak gini?" tanya Rio.
"Tadi gue pengen ke kamar mandi. Udaranya dingin banget jadi gue kebelet pipis. Terus pas udah selesai pipis ternyata pintu kamar mandi gue nggak bisa dibuka. Gue udah tarik-tarik pintunya tapi kayak ada yang ngunci dari luar."
"Kok lo nggak minta pertolongan yang lain?" tanya Rio.
"Udah. Gue udah teriak-teriak tapi enggak ada yang datang." jawab Inez.
"Kenapa lo nggak ... Oh iya gue lupa, lo kan nggak bawa handphone ya. Makanya handphone itu dibawa terus. Jadi gue tuh bisa ngecek lo dimanapun lo berada." omel Rio.
"Iya... iya... maaf. Gue kan lupa. Mana ada sih gue kepikiran, mau pipis aja harus bawa handphone." jawab Inez. "Terus kenapa jadi lo ngomelin gue? Gue kan lagi sedih nih. Gue kan habis ketimpa musibah!" omel Inez balik.
"Iya juga ya.... terus... terus...gimana?"
"Lo sih omongan gue dipotong melulu. Dengerin dulu kenapa." kata Inez.
"Iya maaf deh... Lanjutin lagi ya ceritanya, Inez baik deh." bujuk Rio.
"Ya terus Rara dateng. Dia yang bukain pintu buat gue. Bener kan kata gue, Rara tuh baik sama gue. Lo aja yang udah berburuk sangka sama dia." kata Inez masih ngeyel dengan pendiriannya.
"Udah ya nggak usah dibahas lagi tentang Rara. Lo mau gue cari tahu siapa yang udah ngerjain loh?" tanya Rio serius.
"Emangnya bisa ya? Kan di kamar mandi nggak ada CCTV." kata Inez lagi.
"Bukan dari CCTV di kamar mandi, Sayang. Orang-orang juga tahu kok di kamar mandi nggak ada CCTV. Tapi kan kita bisa lihat dari CCTV di lorong sebelum kamar mandi. Terus CCTV dari dekat operator. Dan masih banyak lagi CCTV yang bisa kelihatan siapa yang udah ngikutin lo. Kita bisa tahu tuh siapa yang berbuat jahat sama." kata Rio.
"Terus kalo lo udah ketemu siapa yang jahatin gue lo mau ngapain?" tanya Inez lagi.
"Ya mau kasih pelajaran lah sama mereka. Biar nggak seenaknya melakukan bullying sama orang lain. Perbuatan bullying itu bukan perbuatan yang bagus, itu perbuatan tercela. Kalau kita nggak kasih pelajaran sama orang yang melakukannya, dia akan terus-menerus menganggap bahwa perbuatannya benar dan akan terus mengganggu orang lain dengan cara yang menurut gue sih enggak manusiawi." kata Rio tegas.
"Lo enggak kasihan sama mereka?" tanya Inez.
"Ngapain harus kasihan? Mereka tuh salah, kalo kita nggak kasih pelajaran Dia akan terus kayak gitu." kata Rio tegas.
"Gue nggak mau Yo. Ini kan masalahnya cuma sepele. Gue nggak mau mereka sampai kehilangan pekerjaan mereka cuma karena masalah yang sepele kayak gini. Kasihan mereka kan punya keluarga yang harus dihidupi. Masa sih gara-gara gue mereka bisa kehilangan kerjaan?" Inez masih membela orang yang menyakitinya.
"Huft... gimana lo nggak dimanfaatin terus Nez sama Rara? Lo terlalu baik jadi orang, kalau lo biarin kali ini mereka akan terus-terusan gangguin lo." kata Rio sudah mulai kesal.
"Lo masih ngebahas tentang Rara, Yo? Kan tadi gue udah bilang kalau kita ngebahas Rara lebih baik gue nggak usah cerita sama lo." Inez jadi ikut-ikutan marah seperti Rio.
"Oke.. oke... gue minta maaf. Gue gak akan ngebahas tentang Rara lagi. Tapi satu yang gue minta, terserah lo mau denger apa enggak. Lo harus hati-hati sama Rara, oke?" kata Rio mengalah.
"Iya. Sama lo juga gue harus hati-hati." celetuk Inez seenaknya.
"Ih ngapain lo harus hati-hati sama gue? Emangnya lo gue apain? Gak gue apa-apain juga." lagi-lagi Rio keceplosan. "M...maksudnya hari ini lo nggak gue apa-apain gitu."
"Terserah lo ah. Gue mau balik kerja lagi." Inez baru aja mau bangun dari duduknya tapi Rio menarik tangannya.
"Lo buka kemeja lo aja disini. Enggak ada CCTV kok. Kalo lo pake kemeja basah nanti lo masuk angin. Gue keluar dulu jadi lo bisa ganti bajunya." Rio lalu keluar ruangan.
Rio pergi ke ruangan CCTV dan memeriksa rekaman CCTV. Karena dekat kamar mandi tidak ada CCTV maka Ia mencari CCTV yang terdekat dengan kamar mandi.
Agak sulit mengidentifikasi siapa yang melakukannya. Karena dalam CCTV tersebut banyak yang berlalu lalang. Rio mencurigai Melissa dan Lucy dari team sebelah, namun jika Ia asal menebak maka hubungannya dengan team sebelah akan berantakan.
Rio mengepalkan tangannya kesal. Ia tidak punya bukti kalau Rara yang melakukannya. Rara datang lalu tak lama Inez keluar dengan bajunya yang basah. Membuktikan kalau omongan Inez benar dan Rara bukanlah pelakunya.
Sudah Rio duga, Rara tidak akan bermain asal kayak gini. Rara mainnya halus. Rio harus memperingati Rara sebelum Rara bertindak terlalu jauh.
Keluar dari ruang CCTV, Rio berpapasan dengan Rara yang habis dari kamar mandi. Rio lalu mencengkram tangan Rara dan mengajaknya ke ruang meeting yang tak ada orang sama sekali.
"Lepasin, Yo. Sakit!" kata Rara.
Rio melepaskan cengkramannya. Ia menghempaskan Rara, hampir saja Rara terjatuh jika tidak ada meja meeting. Tenaga Rio sangat besar, Rara kalah kuat melawannya.
"Gue peringatin sama lo ya Ra! Jangan sampai lo sentuh Inez! Gue tau lo dalang dibalik kejadian Inez kemarin! Kalau sampai lo jahatin Inez lagi, lo bakalan berurusan sama gue!" ancam Rio.
Rio baru saja berbalik badan hendak meninggalkan Rara tapi Rara menghentikan Rio dengan kata-katanya.
"Segitu cintanya ya lo sama Inez? Apa jangan-jangan malam itu lo beneran lakuin sama Inez karena lo cinta sama Dia?" sindir Rara.
Rio berbalik badan kembali. Senyumnya tersungging di wajahnya. Senyum iblis yang jarang Ia keluarkan.
"Kalau iya gimana? Hmm... malam itu gue belum cinta sih sama Inez. Tapi setelah gue merasakan tubuh Inez, gue langsung jatuh cinta sama Dia. Inez tuh seksi dan cantik luar dalam. Dan yang pasti Inez masih virgin, nggak kayak lo yang suka gonta-ganti pasangan sesukanya." Rio kembali tersenyum apalagi saat melihat wajah Rara yang terlihat amat kesal.
"Kurang ajar lo, Yo! Jangan pernah lo bandingin gue sama Inez!" kata Rara dengan berapi-api.
Rio masih saja tersenyum. Ia puas sudah membuat Rara amat marah. "Lo gak pernah dan gak akan pernah bisa dibandingin sama Inez. Cewek kotor kayak lo gak bisa dibandingin sama cewek sesuci Rara!"
Rara mengepalkan tangannya kesal. Kata-kata Rio amat menusuk perasaannya. Harga dirinya amat terluka dibilang cewek kotor oleh mantan pacarnya sendiri.
"Inget ya peringatan gue tadi! Jangan pernah gangguin Inez lagi, atau lo bakal kena batunya!" Rio lalu pergi meninggalkan ruang meeting. Meninggalkan Rara yang menangis karena terlalu marah.
*****
"Gimana, Yo? Udah ketahuan siapa yang ngerjain gue?" tanya Inez begitu Rio datang. Inez mengikuti Rio masuk ke dalam ruangannya dan menunggu Rio sampai Rio menjawab pertanyaannya.
Rio duduk di kursinya lalu meminum air mineral yang disediakan untuknya. Walau tadi Ia tersenyum bak iblis di depan Rara tapi dalam hatinya Ia amat kesal dan marah atas perkataan Rara.
Rio menatap Inez. Sorot mata Inez yang membuat Rio tidak bisa berbuat jahat dan berkata kasar padanya. Matanya yang berbinar-binar membuat Rio yang awalnya nakal dan urakan malah jadi karyawan kantoran yang hidup dengan lurus.
Tak bisa Rio pungkiri, kehadiran Inez dalam hidupnya benar-benar telah merubah jalan hidupnya. Ia yang awalnya tidak terlalu peduli dengan perusahaan Papinya perlahan mulai mempelajari teknik menjadi pimpinan yang baik dan bijaksana.
Rasanya Ia tidak rela kalau sampai Rara menghancurkan gadis sebaik Inez. Rio menatap mata Inez dengan lekat. Matanya menyorotkan rasa ingin tahu yang besar.
"Nez, lo mau gak jadi pacar gue?" tanya Rio tiba-tiba.
"Jangan becanda deh, Yo. Udah cepetan jawab. Gue nanya apa lo malah nanya yang lain." keluh Inez sebal.
"Gue serius Nez. Berantem sama lo kemarin buat gue sadar kalau gue tuh gak ada lo bener-bener kesepian banget. Kehadiran lo di sisi gue buat gue makin ketergantungan sama lo. Atau lo mau nikah sama gue? Gue akan bertanggung jawab atas kejadian kita dulu. Lo gak perlu kerja lagi. Biar gue yang bertanggung jawab atas hidup lo. Mau ya Nez?" kata Rio dengan serius. Rio bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Inez.
"Kan gue udah bilang kalo kejadian malam itu-" Inez tidak melanjutkan ucapannya lagi karena Rio tanpa diduga menciumnya.
Rio mencium Inez dengan lembut. Akhirnya Ia bisa merasakan bibir Inez yang manis yang sejak lama Ia dambakan.
Inez mendorong Rio. Terpaksa Rio melepaskan ciuman yang bak candu. Amat sulit melepaskannya.
Ternyata Rio tak bisa melepasnya. Rio mencium Inez lagi. Awalnya Inez hendak mendorong Rio tapi entah mengapa Ia pun akhirnya menikmati ciuman Rio.
Tanpa Inez sadari Ia membiarkan Rio menciumnya. Inez sengaja membiarkan Rio melakukannya agar Ia ingat apa yang terjadi malam itu.
Sadar kalau Inez hanya diam saja dan tak membalas ciumannya, Rio pun menghentikan apa yang Ia lakukan. Inez mengingat semuanya. Mengingat kejadian malam itu.
"Maaf, Nez. Lagi-lagi gue khilaf." jawab Rio.
Inez menggelengkan kepalanya. "Lo baru kali ini khilaf sama gue, Yo. Gue inget kalau malam itu antara gue sama lo gak ada yang terjadi. Jawab gue Yo! Gue gak mau lo bohongin gue lagi tentang kejadian malam itu!" Inez berbicara penuh emosi. Air matanya pun ikut berderai dalam setiap kata-katanya.
Rio membuang pandangannya. Bodoh. Kenapa karena Ia mencium Inez membuat Inez ingat semuanya.
Inez menarik tangan Rio. Ia membuka kancing kemeja yang selama ini menutupi tangan Rio. Terlihat dengan jelas disana. Di tangan Rio. Bekas gigitan Inez.
******
Flash back
Rio baru saja menaruh Rara diatas kasur hotel. Hatinya terasa tidak tenang. Ia sadar semua sesuai dengan rencana Rara.
Rio terduduk di kasur sambil mengacak-acak rambutnya. Ia galau apakah akan tetap mengikuti rencana yang Rara buat atau menjadi dirinya sendiri.
Rio merasa dirinya seperti boneka yang selama ini bisa Rara setir. Apapun keinginan Rara selalu Ia ikuti. Apapun, hanya demi mempertahankan hubungannya.
Rara yang tau kalau Ia anak orang kaya selalu memanfaatkannya. Semua yang mau Rara beli hanya tinggal menyuruh Rio maka Rio akan melakukannya.
Rio tidak mau selamanya diinjak-injak Rara. Tak mau selamanya menjadi kaki tangan Rara. Apalagi perbuatan Rara kali ini sudah diluar batas.
Rio lalu berlari ke kamar sebelahnya. Ia menggedor-gedor pintu kamar 8017. Agak lama sebelum Jerry membukakan pintu.
Jerry akhirnya membukakan pintu kamar dengan kesal. Rio langsung menarik kerah baju Jerry.
"So...so... sorry Bos. Gue pikir karena lo bawa Rara jadi gue boleh apa-apain Inez. Sumpah Inez belum gue apa-apain Bos." kata Jerry dengan penuh ketakutan. Belum pernah Ia lihat Rio semarah ini sebelumnya.
"Iya belum lo apa-apain. Kalo gue telat dikit udah lo sikat si Inez!" kata Rio dengan penuh emosi.
"Ampun Bos. Maafin gue." Jerry takut kalau Ia akan dikebiri oleh Rio. Ancaman Rio tak pernah main-main.
Rio pun melepaskan tangannya dari kerah Jerry. "Oke. Lo gue maafin. Besok kalau Rara nanya apa yang terjadi bilang aja gue mabok parah dan belum kasih perintah lagi selain kasih obat ke minuman Inez. Lo alesan aja ada urusan mendadak makanya lo langsung pergi setelah nganter Inez ke kamar. Sisanya biar urusan gue. Pergi lo sekarang." usir Rio.
Dengan penuh ketakutan Jerry pergi meninggalkan kamar 8017. Rio langsung menutup pintu kamar dan memeriksa apa yang sudah Jerry lakukan. Hatinya terus berdoa kalau Ia tidak terlambat.
Rio masuk ke kamar dan matanya terbelalak melihat Inez yang sudah tanpa busana. Ada bekas kissmark yang Jerry tinggalkan di dada dan lehernya.
Rio mengambil selimut untuk menutupi tubuh Inez. Sayangnya selimut tersebut ada dibawah tubuh Inez. Rio mengangkat Inez agar bisa mengambil selimut tapi ternyata Inez terbangun.
"Siapa?" tanya Inez dalam setengah sadar. Inez merasakan tangan Rio yang kekar sedang menopang tubuhnya.
"Hmm... ayam bakar." Inez lalu menggigit tangan Rio dengan kencang.
"Aaaarrrggghhhh... lepasin!" Rio mendorong tubuh Inez sampai Inez tertidur lagi.
Darah Rio menetes di atas selimut. Tiba-tiba sebuah rencana terlintas dalam pikiran Rio. Ia bisa membalikkan keadaan seperti semula tanpa harus merusak Inez.
Rio menutupi tubuh Inez dengan selimut lalu Ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya yang terluka bekas gigitan. Rio lalu pergi ke apotek dekat hotel dan mengobati lukanya.
Rio kembali lagi ke kamar Inez. Inez masih belum sadar. Rio membuka pakaiannya dan mulai membuatnya berantakan seolah sudah terjadi sesuatu. Karena lelah, Rio pun jatuh tertidur di samping Inez.
Flash back off
terima kasih ya kak 😍😍😍😍