NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

‎Siang itu matahari bersinar terik menyengat kulit, Risa mengendarai mobilnya menuju rumah mertuanya dengan langkah hati-hati. Ia baru saja menerima telepon dari Mama Rima, suaranya terdengar sedikit kasar namun memaksa, memintanya datang segera untuk membantu mengurus keperluan arisan yang diadakan di rumah itu.

‎‎Meski hatinya enggan, apalagi kondisi hatinya sedang hancur dan penuh amarah karena perbuatan Raga, Risa tetap datang. Ia belum ingin menimbulkan kecurigaan, masih harus berpura-pura menjadi menantu yang patuh dan baik seperti biasa.

‎‎Begitu masuk ke halaman rumah, suara tawa dan obrolan ramai sudah terdengar jelas dari ruang tamu. Belasan wanita paruh baya duduk melingkar, memegang gelas teh dan kue kering, semuanya adalah teman lama arisan Mama Rima. Begitu melihat kedatangan Risa, beberapa dari mereka langsung melambaikan tangan dan menyapanya ramah.

‎‎"Nah, itu dia menantu kesayangan Bu Rima datang!" seru salah satu wanita dengan suara keras.

‎‎Risa tersenyum tipis, menunduk sedikit memberi hormat, lalu segera membantu Mama Rima menata piring dan gelas di atas meja.

‎‎Saat suasana kembali ramai, salah satu teman arisan tiba-tiba membuka pembicaraan yang selama ini selalu menjadi topik yang tidak pernah lepas dibahas.

‎‎"Eh Bu Rima, sudah lima tahun lho Risa dan Raga menikah, kok sampai sekarang belum ada kabar bahagia ya? Belum ada tanda-tanda akan dikaruniai cucu?" tanyanya dengan nada penasaran polos.

‎‎Pertanyaan itu seketika membuat semua mata tertuju pada Mama Rima, lalu beralih ke arah Risa yang sedang berdiri. Suasana menjadi sedikit hening, semua orang menunggu jawaban.

‎‎Wajah Mama Rima seketika berubah masam, rahangnya mengeras, lalu ia mendengus kasar.

‎‎"Jangan tanya saya dong! Saya juga sudah lama menunggu. Tapi mau bagaimana lagi? Nasibnya begitu, menantu saya ini… memang tidak bisa memberi keturunan. Mandul, begitu kata dokter dulu," ucap Mama Rima dengan nada sewot, matanya melirik tajam ke arah Risa dengan pandangan menghina.

‎‎"Padahal Raga itu anak tunggal, saya sangat ingin sekali punya cucu untuk meneruskan nama keluarga kami. Tapi apa daya? Dapat menantu yang tubuhnya tidak sempurna begini, mau bagaimana lagi?"

‎‎Setiap kata yang keluar dari mulut Mama Rima terasa seperti pisau tajam yang menusuk tepat di dada Risa. Semua orang di ruangan itu seketika saling pandang, ada yang mengangguk mengerti, ada yang menatap Risa dengan pandangan kasihan, bahkan ada yang sampai berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk ke arahnya.

‎‎"Ya ampun… kasihan sekali Raga, harus menikah dengan wanita yang tidak bisa punya anak," bisik salah satu wanita pelan, tapi cukup jelas terdengar oleh telinga Risa.

‎‎"Iya benar, padahal Raga itu tampan, mapan, bisa dapat wanita yang jauh lebih baik dan sempurna daripada dia," sambung yang lain.

‎‎Suara obrolan ramai perlahan meredup, semua mata masih tertuju pada Risa yang berdiri tegak di tengah ruangan. Ia meletakkan nampan kue yang dipegangnya di atas meja dengan gerakan tenang namun tegas, tidak ada sedikitpun rasa takut atau ragu di wajahnya.

‎‎Lalu ia menatap lurus ke arah Mama Rima.

‎‎"Ma, kalau Mama rasa kehadiranku disini tidak diperlukan, cuma dijadikan bahan penghinaan dan sindiran saja… lebih baik aku pulang saja," ucap Risa pelan namun menusuk.

‎‎Mata Mama Rima membelalak kaget, mulutnya terbuka hendak membentak, tapi Risa tidak memberinya kesempatan bicara lebih dulu. Ia melangkah maju satu langkah lagi, nada suaranya semakin keras dan tegas, terdengar jelas sampai ke telinga semua orang yang ada di ruangan itu.

‎‎"Dan satu hal lagi yang harus Mama ingat baik-baik. Mulai hari ini, Mama tidak perlu lagi ikut campur urusan keturunanku dan Mas Raga. Itu urusan kami berdua, bukan urusan Mama. Mama tidak berhak menuduh, menghina, atau menyalahkan siapapun tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya."

‎‎Kalimat itu meledak seperti petir di ruangan itu. Mama Rima terkejut sampai tubuhnya sedikit gemetar, wajahnya memerah padam karena marah dan malu di hadapan semua temannya. Selama lima tahun, tidak pernah ada satu pun orang yang berani berbicara kepadanya dengan nada seperti itu, apalagi itu adalah menantu yang selalu ia anggap lemah dan bisa diperlakukan sesuka hati.

‎‎"Kamu… kamu berani bicara seperti itu sama Mama, Risa?!" seru Mama Rima dengan suara melengking, tangannya mengepal erat di atas lututnya, penuh amarah yang meluap. "Kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya menantu yang tidak berguna, sudah saya terima di keluarga ini, malah berani melawan dan menasihati saya?!"

‎‎Risa hanya menatapnya dingin, tidak tergoyahkan sedikitpun oleh kemarahan mertuanya. Ia bahkan tersenyum tipis, senyum yang membuat Mama Rima semakin geram.

‎‎"Aku cuma bicara apa yang benar, Ma. Tidak ada niat melawan, cuma minta satu hal saja, hormati aku seperti aku juga menghormati Mama. Dan ingat, jangan terlalu percaya pada apa yang Mama dengar atau apa yang Mama pikirkan. Karena kebenaran yang sebenarnya, belum tentu sama dengan apa yang Mama yakini selama ini."

‎‎Setelah mengucapkan itu, Risa tidak mau berlama-lama lagi di tempat yang penuh penghinaan itu. Ia membalikkan badan dengan santai, melangkah pergi menuju pintu keluar dengan punggung tegak.

‎‎"RISA! BERHENTI DISANA!" teriak Mama Rima dengan suara keras, sampai teman-temannya yang ada disana langsung berusaha menenangkannya. Namun Risa sama sekali tidak menoleh, terus berjalan keluar, masuk ke dalam mobilnya dan segera menyalakan mesin untuk pergi dari rumah itu secepat mungkin.

‎‎Mama Rima duduk kembali di kursinya, dadanya naik turun karena amarah yang tidak tertahan, wajahnya masih merah padam, tangannya gemetar karena kesal.

‎‎"Dasar menantu kurang ajar! Sekarang sudah berani melawan dan berani pergi begitu saja tanpa seizinku!" gerutu Mama Rima dengan nada penuh dendam, sambil memukul pelan meja di depannya.

‎‎Teman-temannya hanya berusaha menenangkan, meski sebagian dari mereka sebenarnya merasa tidak enak hati melihat sikap Mama Rima yang terlalu kasar dan menghina menantunya di depan umum.

-

-

-

Di dalam kamar hotel mewah yang sejuk dan tertutup rapat, suasana masih terasa hangat dan lembap, sisa dari kebersamaan panas yang baru saja mereka lalui. Seprai tempat tidur kusut berantakan, aroma parfum campuran aroma tubuh keduanya memenuhi ruangan, sementara Amelia masih terbaring malas dengan rambut berantakan, wajahnya memerah puas, tersenyum manja sambil memeluk bantal.

‎‎Raga duduk bersandar di headboard, tubuhnya masih terasa lemas namun hatinya penuh kepuasan. Dia mengulurkan tangan meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas, membuka layar, lalu menekan nomor kontak istrinya dengan santai.

‎‎Panggilan itu berdering satu kali, dua kali, tiga kali… sampai berdering berkali-kali, namun tidak ada jawaban sama sekali. Suara sambutan otomatis yang menyatakan penelepon tidak diangkat akhirnya terdengar dari ponsel itu.

‎‎Ia mencoba menelepon kembali, sekali lagi, dua kali lagi, namun hasilnya tetap sama, tidak ada satu pun jawaban dari ujung sana.

‎‎"Kenapa tidak diangkat juga sih?" gumam Raga pelan, nada suaranya mulai terdengar kesal dan cemas. "Biasanya dia selalu langsung angkat setiap kali tahu aku yang menelpon!"

-

-

-

Bersambung...

1
vj'z tri
ahayyyy jreng jreng jreng
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ icik bos dah salting berat ini
🔥Violetta🔥: Udah cenat-cenut dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
kamu nanya.. kamu bertanya-tanya....,

secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭
〈⎳ FT. Zira
coba cekk. di lihat..diraba.. di...🤭🤭
〈⎳ FT. Zira
kesempatan noh Re .. ambilll🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
jodoh ka Re🤭
〈⎳ FT. Zira
kamulah orangnya🤭
〈⎳ FT. Zira
cieeee cieee🤭🤭🤣🤣
〈⎳ FT. Zira
deg deg ser gak ris🤭
〈⎳ FT. Zira
jodoh emag gak kemana yaa🤭
Rizky Manik
lanjut thor🤗
Rizky Manik
ayo periksa lagi kalo berani🤭
Anonim
awokawok mending baca seishun buta yarou Bunny girl senpai wo yume wo minai
MamDeyh
Nah nah nah kan.... Eng ing eng
Kusii Yaati
kamu terlalu memandang rendah orang mel,di bandingkan dengan kamu Risa lebih baik dari segi manapun, sedang kamu apa perlu di banggakan selain pandai merebut suami orang alias pelakor... punya cermin nggak 😒
Anonim
JONTOL
vj'z tri
bagaimana caraaaa nya untukk kau bisa mengerti bahwa aku iriiii 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
jika Oma sama ibu tahu siapa yang lagi di Pepet icik bos pasti girang 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
vj'z tri
eeeeeeeaaaaaaa ee ee eaaaaaa eeeeeaaaaa 🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Astaga 🤣🤣🤣
total 1 replies
vj'z tri
gak say biar icik bos yang langsung turun tangan 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!