Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Secret of Ye Xinyue
Pagi harinya, kabut tipis melingkupi pelataran Istana Peredupan Barat. Suasana terasa sangat hening, namun ketegangan tersembunyi berdenyut di setiap sudut. Di dalam aula pribadi Ibu Suri Agung, beberapa gulungan kitab kuno dan catatan silsilah bangsawan tersebar di atas karpet beludru.
Ibu Suri Agung duduk berseberangan dengan Xinyue. Di antara mereka, cangkir teh porselen yang mengeluarkan uap tipis dibiarkan dingin begitu saja. Tatapan wanita tua itu tidak lagi sekadar memancar rasa kagum, melainkan sebuah keraguan penuh teka-teki yang telah lama terendap.
"Pengawas Ye," buka Ibu Suri Agung dengan suara pelan namun sarat ketegasan. "Sejak kau melangkah ke Balai Agung kemarin dan menjatuhkan Faksi Selatan, aku selalu memperhatikanmu. Keberanianmu, cara berpikirmu yang dingin, serta pengetahuan analisis zat yang kau gunakan... semuanya tidak mencerminkan putri seorang pejabat kecil dari Prefektur Lin yang penakut."
Xinyue meletakkan gulungan berkas di tangannya. Matanya tetap tenang, menyimak pembicaraan tanpa ada gestur panik sedikit pun.
"Ye Xinyue yang asli adalah gadis yang rapuh dan pemalu. Dia dibesarkan dalam kurungan rumah tangga yang ketat dan tidak pernah menyentuh satu pun literatur hukum atau racun medis kekaisaran," lanjut Ibu Suri Agung seraya menarik sebuah kotak kayu hitam berukir naga melingkar dari balik mejanya. "Namun kau... kau bertindak seolah-olah seluruh dunia ini adalah sebuah panggung yang sudah kau pahami strukturnya."
Ibu Suri Agung membuka kotak tersebut, memperlihatkan sebuah cermin perunggu tua bertuliskan aksara kuno dan selembar kain sutra lapuk yang berisi lembaran catatannya sendiri puluhan tahun lalu.
"Zhao Fengting mengira ia adalah satu-satunya sosok yang menyimpan rahasia dunia ini," bisik Ibu Suri Agung, tatapannya menyipit. "Namun, puluhan tahun lalu, almarhum Kaisar Terdahulu pernah menceritakan sebuah ramalan rahasia yang diwariskan dari pendiri kekaisaran. Ramalan itu menyebutkan bahwa akan tiba masanya ketika jiwa-jiwa dari dunia asing 'para pengembara takdir' akan masuk ke dalam tubuh wanita-wanita di istana ini, membawa keanehan dan ambisi yang tidak biasa."
Ibu Suri Agung menyandarkan tubuhnya, menatap Xinyue berjarak sangat dekat. "Kaisar Terdahulu menyebut mereka sebagai 'bayangan pengganti'. Dan Zhao Fengting telah membunuh tiga bayangan pengganti sebelum kau. Sekarang, katakan padaku secara jujur... siapa kau sebenarnya, Ye Xinyue?"
Ruangan itu mendadak hening total. Hanya terdengar helaan napas halus Mingzhu yang berdiri gelisah di dekat pintu.
Xinyue menatap cermin perunggu tua itu sejenak, lalu meluruskan punggungnya. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada niat untuk mengarang cerita panik.
"Jika Anda mencari gadis polos bernama Ye Xinyue yang malang itu... jiwa dan kesadarannya sudah menghilang tepat pada malam pertama ia diracun secara diam-diam di Paviliun Teratai," jawab Xinyue secara terbuka, suaranya mantap dan rasional. "Aku adalah seorang spesialis forensik dan pakar kriminologi dari dunia yang jauh melampaui zaman ini. Di duniaku, hukum dipilah dengan sains, bukti fisik diteliti hingga tingkat molekul, dan kebenaran berdiri di atas fakta yang tak terbantahkan—bukan di atas firman seorang Kaisar."
Ibu Suri Agung membelalakkan matanya sedikit, meski tidak sepenuhnya terkejut. "Jadi... kau memang seorang pengembara takdir seperti yang diduga oleh Fengting?"
"Mungkin menurut sudut pandang Anda atau Zhao Fengting, aku hanyalah 'pengembara' atau 'transmigrator'," sahut Xinyue dingin. "Namun ada perbedaan mendasar antara aku dan mereka yang mati di tangan Zhao Fengting sebelumnya."
Xinyue mengetuk meja porselen dengan jemarinya. "Ketiga jiwa sebelumku menganggap dunia ini sebagai panggung permainan atau novel romansa di mana mereka berusaha mendapatkan hati sang Kaisar untuk bertahan hidup. Mereka terjebak dalam delusi bahwa mereka adalah 'protagonis' yang dilindungi oleh takdir. Mereka bertindak menggunakan perasaan dan manipulasi emosional, sehingga Zhao Fengting dengan mudah membaca pola mereka dan membunuh mereka tanpa belas kasihan."
Xinyue menatap Ibu Suri Agung dengan pendar kebenaran yang tajam.
"Sedangkan aku tidak pernah memandang dunia ini sebagai tempat bermain. Bagi saya, kematian seorang manusia adalah fakta kriminologi. Kejahatan Zhao Fengting adalah tindak pidana. Dan keadilan yang diinjak-injak oleh racun dan manipulasi politik adalah bentuk pelanggaran hukum mutlak. Aku tidak bertindak atas dasar emosi protagonis... aku bertindak atas dasar fakta obyektif."
Ibu Suri Agung tertegun. Ia mengamati senyum tipis Xinyue yang penuh keyakinan. Di dalam benaknya, sang pahlawan perang tua itu menyadari bahwa wanita di hadapannya bukan sekadar jiwa asing yang kebetulan masuk ke tubuh selir—ia adalah manifestasi dari penegak keadilan yang tak bisa digoyahkan.
"Luar biasa..." gumam Ibu Suri Agung, melepaskan tawa tulus yang jarang terdengar. "Fengting mengira ia memelihara seekor merpati yang bisa ia jinakkan, atau seekor serigala yang bisa ia bunuh. Ia tidak sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan algojo hukum yang tidak mempan oleh gertakan dewanya."
"Maka dari itu, Ibu Suri," potong Xinyue, beralih pada poin strategisnya. "Rahasia statusku bukanlah kelemahan, melainkan senjata terhebat kita. Zhao Fengting mengira ia memahami semua pola transmigrator karena ia seorang regressor. Ia akan mengeksploitasi dugaan itu pada sidang lusa di Balai Agung, mencoba memojokkan kesadaranku di hadapan para menteri."
Xinyue menarik gulungan berkas kasus pembunuhan Kaisar Terdahulu dan menyusunnya menjadi tiga tumpukan utama.
"Namun, pada sidang besok lusa, aku tidak akan mempertahankan namaku atau membela jiwaku. Aku akan membawa bukti forensik fisik yang nyata: komposisi arsenik, kecocokan jejak racun dengan stempel klan Matahari Hitam, serta kesaksian medis yang tercatat di kitab rahasia ini. Ketika seorang Kaisar mencoba menyerang identitas mistis lawannya, namun lawannya membalas dengan bukti fisik dan hukum yang nyata... para menteri dan rakyat akan melihat siapa penguasa yang sebenarnya kehilangan akal sehatnya."
Ibu Suri Agung berdiri, melangkah mendekati Xinyue lalu meletakkan tangannya yang keriput namun hangat di atas bahu Xinyue.
"Pengawas Ye... atau siapa pun namamu yang sebenarnya di dunia asalmu," ujar Ibu Suri Agung dengan penuh kehangatan dan rasa hormat. "Malam ini, seluruh kekuatan militer Faksi Utara dan perlindungan Istana Peredupan Barat berada di belakangmu. Bawa kebenaran itu ke Balai Agung, dan runtuhkan takhta berdarah putraku."
Xinyue mengangguk tegas. "Hukum tidak pernah berpihak pada siapa yang paling kuat, Ibu Suri. Hukum berpihak pada siapa yang memegang bukti."
Di luar, angin pagi bertiup kencang menyingkap tirai-tirai jendela. Di kejauhan, Menara Bintang Terlarang berdiri kokoh di bawah pendar matahari yang mulai menyengat. Perang takhta antara sang Kaisar yang merasa dirinya dewa dan sang pakar forensik yang memegang kebenaran mutlak tinggal menghitung jam.