Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 1
Bunyi nyaring jam weker membangunkan Tsania tepat pukul lima pagi. Hatinya berdesir hebat, campuran antara gugup dan antusias. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di Pratama Group, konglomerasi terbesar di industri teknologi tanah air. Posisi sebagai Senior Brand Strategist di sana adalah impiannya sejak lama.
"Kamu pasti bisa, Tsania," bisiknya pada pantulan cermin, sembari merapikan blazer hitam dan kemeja putih yang pas di tubuhnya.
Dua tahun terakhir bukan hal yang mudah baginya. Ia terpaksa menghilang dari kehidupan pria yang paling dicintainya, memutus semua kontak tanpa satu patah kata pun penjelasan. Mengingatnya saja masih membuat dada Tsania sesak, namun ia memaksakan senyum dan melangkah keluar tempat kost miliknya.
Gedung Pratama Tower berdiri megah di pusat Jakarta. Tsania menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah melewati pintu kaca otomatis. Setelah menyelesaikan administrasi singkat di bagian HRD, seorang sekretaris senior bernama Maya mengantarnya menuju lantai teratas, lantai direksi.
"Perusahaan ini baru saja mengalami pergantian pimpinan tertinggi delapan bulan lalu," terang Maya saat mereka berada di dalam lift transparan yang bergerak naik.
"CEO kita yang baru sangat jenius, tapi dingin dan perfeksionis. Jangan pernah datang terlambat atau memberikan laporan yang setengah-setengah kalau tidak mau kena semprot."
Tsania terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana. "Ketat sekali, ya? Siapa nama beliau, Mbak?"
"Pak Arsen. Arsenio Pratama."
Langkah kaki Tsania mendadak terkunci tepat saat pintu lift denting berbunyi. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Namanya terlalu familiar. Arsen? Tidak, ini pasti hanya kebetulan nama yang sama, batinnya menenangkan diri, walau telapak tangannya mulai berkeringat dingin.
"Ayo, Tsania. Pak Arsen sudah menunggu di ruangannya untuk menyapa anggota tim baru," panggil Maya.
Tsania menyapu keringat dingin di jemarinya dan menyusul Maya menuju pintu kayu jati berukir di ujung koridor. Maya menggetok pintu dua kali sebelum membukanya.
"Permisi, Pak Arsen. Ini Mbak Tsania, Senior Brand Strategist yang baru," ujar Maya sopan.
Pria yang sedang membungkuk di atas meja kerja megahnya, membaca sekumpulan dokumen perlahan mengangkat kepala.
Mata hitam pekat itu membentur pandangan Tsania.
Dunia Tsania serasa runtuh seketika. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan di tenggorokan. Rahasia, kenangan, dan bayang-bayang masa lalu berhamburan menghantam ingatannya. Pria berpakaian setelan jas kelabu buatan penjahit kelas atas itu adalah Arsen. Pria yang sama yang dua tahun lalu memeluknya erat di bawah guyuran hujan, memohon agar ia tidak pergi.
Arsen menyandarkan punggungnya ke kursi eksekutif. Tatapan matanya yang dulu selalu hangat dan penuh kasih, kini berubah menjadi tatapan dingin bagai bilah pisau. Tidak ada terkejut di wajahnya. Sebaliknya, senyum tipis yang sarat akan cemoohan terukir di bibirnya.
"Tsania Kirana..." suara berat dan dalam itu bergema di ruangan hening tersebut.
"Akhirnya kamu datang."
Maya yang merasakan ketegangan aneh di udara berdeham pelan.
"Pak Arsen... sudah kenal dengan Mbak Tsania?"
"Kenal?" Arsen terkehik dingin, matanya tak pernah lepas menatap Tsania yang masih berdiri terpaku. "Tidak, tapi saya membaca profil yang diberikan oleh pihak HRD,"
Maya megangguk, sedangkan Tsania mengepalkan tangannya di balik lipatan baju. Mencoba meredam getaran emosi dan kaget dengan apa yang di lihatnya saat ini. Kenapa Tuhan pada akhirnya kembali mempertemukan dia dengan Arsen. Pria yang susah payah berusaha dia lupakan selama dua tahun ini.
"Selamat pagi, Pak Arsen. Mohon bimbingannya untuk ke depan," ucap Tsania, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Arsen berdiri, melangkah perlahan mengitari mejanya hingga kini berdiri hanya berjarak satu meter dari Tsania. Aroma parfum woody khas pria itu langsung menyeruak, aroma yang mmebuat Tsania saat ini merasa ketakutan. Dia tahu Arsen pasti akan marah dan membalas semua perbuatannya di masa lalu. Apa dia juga harus kembali melarikan diri dari Arsen untuk kedua kalinya?
"Maya, tinggalkan kami berdua," perintah Arsen tanpa menoleh sedikit pun dari Tsania.
"Baik, Pak." Maya buru-buru keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
Begitu pintu terkunci, keheningan mencekam menyelimuti ruangan. Arsen melipat kedua tangannya di dada, menatap Tsania dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.
"Dua tahun, Tsania. Dua tahun kamu pergi bagai ditelan bumi setelah melemparkan kata 'putus' lewat pesan singkat," bisik Arsen, suaranya tajam menembus dada Tsania.
"Dan sekarang kamu berdiri di sini, berakting seolah kita tidak pernah punya masa lalu?"
"Arsen... aku di sini profesional untuk bekerja," jawab Tsania pelan, mencoba bertahan di bawah tekanan tatapan itu.
"Di ruangan ini, panggilanmu adalah 'Pak Arsen'," potong Arsen cepat dengan nada dingin yang menusuk.
Arsen maju satu langkah lebih dekat, membuat Tsania refleks mundur hingga punggungnya membentur pintu kayu di belakangnya.
Arsen mengikis jarak, mengurung Tsania dengan menyandarkan satu tangannya di pintu, tepat di samping kepala Tsania. Tsania bisa merasakan hembusan napas hangat Arsen di wajahnya, namun tatapan pria itu begitu penuh dendam.
"Kamu pikir kamu bisa melenggang masuk ke perusahaan ini dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa?" bisik Arsen di dekat telinga Tsania.
"Kamu menghancurkan saya dua tahun lalu, Tsania. Kamu membuang saya seperti sampah tanpa alasan."
Airmata berkumpul di sudut mata Tsania, namun ia sekuat tenaga menahannya agar tidak jatuh. 'Kalau saja kamu tahu alasannya, Arsen... kalau saja kamu tahu aku melakukan itu demi menyelamatkanmu', jerit hatinya. Namun janji dan ancaman masa lalu menahan lidahnya untuk bersuara.
"Kalau kamu tidak suka melihatku di sini, aku bisa mengundurkan diri sekarang juga," sahut Tsania tegar, menatap langsung ke dalam manik mata Arsen. Arsen tertawa sumbang, menyeringai penuh misteri.
"Mengundurkan diri? Jangan mimpi. Kamu sudah menandatangani kontrak lima tahun dengan pinalti penalti tiga kali lipat dari gaji tahunanmu jika melanggar."
Arsen mundur satu langkah, merapikan lengan jasnya seolah tidak terjadi apa-apa.
"Selamat datang di Pratama Group, Tsania. Saya akan memastikan lima tahun ke depan menjadi tahun-tahun terpanjang dan paling berkesan dalam hidupmu," ujar Arsen dengan senyuman dingin yang membuat bulu kuduk Tsania berdiri.
"Sekarang, ambil berkas di meja itu. Saya mau revisi total strategi pemasaran untuk peluncuran produk minggu depan. Selesaikan sebelum jam lima sore."
Tsania menatap tumpukan berkas setebal ratusan halaman di meja kerja Arsen. Tugas yang mustahil diselesaikan dalam kurun waktu lima jam. Namun, saat ia melihat bayangan luka dan rasa sakit yang dalam di balik mata dingin Arsen, Tsania tahu, permainan dendam dari Arsen baru saja dimulai, dan ia tidak punya pilihan selain bertarung.