Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.
Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.
Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?
Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025: Rambut Merah Muda Bernama Bryan
Hari Minggu pertama setelah YunMei Tech ditandatangani, Kevin tidak membuka laptop sejak pagi.
Meilin curiga.
Dia berdiri di dekat pintu kamar mandi dengan rambut masih setengah basah, melihat Kevin bergerak di dapur kecil apartemen. Di atas kompor ada wajan, panci, talenan, dan tiga piring yang sudah disiapkan. Bau bawang putih, jahe, dan minyak wijen memenuhi ruangan.
"Ko," panggilnya hati-hati, "kamu sakit?"
Kevin menoleh. "Tidak."
"Laptopmu tidak menyala."
"Aku tahu."
"Ponselmu tidak di tangan."
"Aku juga tahu."
Meilin mendekat, lalu menempelkan punggung tangan ke dahi Kevin.
Kevin diam membiarkannya.
"Tidak panas," gumam Meilin.
"Aku memang tidak demam."
"Lalu kenapa hari ini kamu seperti manusia yang bisa libur?"
Kevin mengangkat alis. "Karena hari ini aku libur."
Kalimat itu terlalu langka sampai Meilin menatapnya seperti melihat berita besar.
Di meja kecil, Kevin menyajikan bakmi kuah polos untuk Meilin, capcay dengan potongan udang, dan fuyunghai yang pinggirannya sedikit terlalu cokelat.
"Yang gosong ini bagian eksperimental?" tanya Meilin.
"Itu namanya tekstur."
"Tekstur hampir hangus."
Kevin menaruh sumpit di samping mangkuknya. "Kalau mau komentar, makan dulu."
Meilin tertawa, lalu duduk. Kuah hangat masuk ke perutnya pelan-pelan. Tidak pedas, tidak asam, tidak terlalu berminyak. Setelah beberapa minggu penuh pameran, notaris, dan prototipe yang mulai mengisi malam Kevin, sarapan itu terasa seperti selimut.
"Hendry tidak menghubungi?" tanya Meilin.
"Ada pesan."
"Kamu tidak balas?"
"Sudah. Aku bilang hari ini aku cuti."
Meilin hampir tersedak. "Kamu benar-benar menulis begitu?"
"Iya."
"Hendry tidak pingsan?"
"Dia hanya membalas, akhirnya manusia."
Meilin tertawa lagi. Kevin menatapnya dari seberang meja, dan kali ini senyumnya tidak segera disembunyikan.
Setelah sarapan, Kevin mengajak Meilin keluar.
"Ke mana?"
"Mall."
"Kamu? Mall?"
"Kamu mau nonton film atau mau menginterogasi keputusan hidupku?"
Meilin mengangkat tangan menyerah.
Mereka pergi ke mall di Senayan menjelang siang. Kevin membawa cardigan tipis untuk Meilin meskipun cuaca Jakarta panas, karena bioskop biasanya terlalu dingin. Dia juga membeli air mineral sebelum Meilin sempat bilang haus.
Di lift, Meilin melihat bayangan mereka di pintu stainless. Kevin dengan kaus hitam polos, jeans, dan jam tangan biasa. Dia sendiri memakai dress biru muda yang dibeli murah saat pindah ke Kemang. Tidak ada yang terlihat seperti tokoh utama novel konglomerat.
Namun saat Kevin berdiri setengah langkah di belakangnya, menjaga agar orang yang masuk lift tidak menabrak bahunya, Meilin tiba-tiba merasa dirinya lebih aman daripada semua perempuan bergaun mahal di lantai itu.
Mereka menonton film komedi romantis yang dipilih Meilin. Kevin tidak banyak tertawa, tapi setiap kali adegan lucu muncul, Meilin bisa merasakan bahunya bergerak sedikit.
"Kamu tertawa," bisik Meilin.
"Tidak."
"Aku lihat."
"Kamu lihat layar."
"Aku lihat kamu."
Kevin menoleh dalam gelap. Cahaya film memantul samar di wajahnya.
"Nonton filmnya," katanya.
Tapi tangannya bergerak mencari tangan Meilin di antara kursi. Jari-jarinya menggenggam pelan, tidak terlalu kuat, seolah mengingatkan bahwa hari ini mereka boleh menjadi pasangan biasa.
Setelah film, mereka makan xiao long bao. Meilin meniup kuah terlalu lama, Kevin menunggu tanpa mengeluh. Saat satu pangsit hampir jatuh dari sumpitnya, Kevin menadah mangkuk kecil tepat waktu.
"Kamu sudah terlalu ahli menyelamatkan makanan orang," kata Meilin.
"Aku latihan menyelamatkan pacarku dari keputusan buruk."
"Keputusan burukku apa hari ini?"
"Mencoba makan xiao long bao panas sambil bicara."
Meilin mengerucutkan bibir. "Kamu cerewet."
"Aku efektif."
Sebelum keluar dari restoran, Kevin tiba-tiba berhenti di depan toko obat kecil dekat eskalator.
"Tunggu sini."
"Untuk apa?"
Kevin tidak menjawab. Dua menit kemudian dia kembali membawa plester luka dan sepasang sandal datar dari toko sebelah.
Meilin baru sadar tumit kanannya perih saat Kevin berlutut sedikit di kursi tunggu, membuka tali sepatu hak rendahnya tanpa membuat orang sekitar memperhatikan mereka.
"Ko, aku bisa sendiri."
"Aku tahu."
Dia menempelkan plester dengan hati-hati, lalu menyodorkan sandal. "Tapi kalau kamu bisa jalan tanpa sakit, aku juga bisa nonton kamu pilih toko lebih lama tanpa menghitung langkahmu."
Meilin menatap kepalanya yang menunduk.
Di tempat ramai seperti itu, Kevin tetap membuat perhatian terasa sunyi dan hanya milik mereka.
Hari itu berjalan begitu ringan sampai Meilin hampir lupa tentang pesan gelap, rambut merah muda, dan nama Halim yang selalu membuat udara di sekitar Kevin berubah.
Hampir.
Mereka baru turun ke area drop-off sore hari ketika Meilin melihat warna itu lagi.
Merah muda terang, seperti sengaja dibuat agar mustahil tidak terlihat.
Pria itu berdiri di dekat pilar parkir dengan jaket putih dan sneakers mahal. Rambutnya masih sama mencoloknya. Bedanya, kali ini dia tidak bersembunyi di seberang jalan.
Dia tersenyum ke arah Kevin.
"Koko."
Tangan Kevin langsung menutup pergelangan Meilin, menahannya setengah langkah di belakang tubuhnya.
"Jangan di sini," kata Kevin.
Pria itu mengangkat kedua tangan. "Santai, Ko. Aku datang baik-baik."
"Kamu mengikuti kami?"
"Aku mengikuti kabar. Bedanya tipis, tapi niatnya lebih sopan."
Nada bercandanya ringan, tapi mata Kevin sama sekali tidak ikut melunak.
Meilin menatap pria itu. "Kamu yang kirim foto itu?"
Senyum pria itu turun sedikit.
"Ci Meilin lebih cepat daripada yang aku kira."
Panggilan itu membuat Meilin makin yakin dia tahu terlalu banyak.
"Jawab," kata Kevin, suaranya rendah.
Pria itu menghela napas. "Iya. Aku yang kirim. Tapi kalimat itu bukan pikiranku. Itu cara Opa akan melihat Ci Meilin kalau beliau sudah tahu."
Perut Meilin menegang.
Opa.
Kevin maju setengah langkah. "Jangan pakai dia untuk memancingku."
Kali ini wajah pria itu benar-benar serius.
"Aku minta maaf untuk kalimatnya," katanya pada Meilin. "Seharusnya aku tidak kirim langsung ke Ci. Aku cuma harus tahu apakah Koko masih akan bergerak secepat dulu kalau ada orang menyentuh orang yang dia lindungi."
"Kamu sudah tahu jawabannya," kata Kevin.
"Iya." Pria itu tersenyum tipis. "Jawabannya menyeramkan."
"Nama," kata Meilin tiba-tiba.
Dua pria itu menoleh padanya.
Meilin menarik napas. Tangannya masih dingin, tapi suaranya tidak mundur. "Kamu tahu namaku, tahu ponselku, tahu tempat kerja Kevin, tahu kami tinggal di mana mungkin. Aku berhak tahu nama orang yang mengganggu hidupku."
Pria berambut merah muda itu memandangnya beberapa detik, lalu menunduk sedikit, kali ini tanpa gaya berlebihan.
"Bryan Halim."
Nama itu jatuh di antara mereka seperti kunci yang baru diputar.
"Halim," ulang Meilin pelan.
Kevin tidak membantah.
Bryan melihat reaksi itu dan senyumnya berubah getir. "Aku adiknya, kurang lebih. Garis keluarga kami rumit, tapi aku di pihak Koko."
"Kalau di pihaknya, kenapa mengancamku?" tanya Meilin.
"Karena di keluarga kami, peringatan sering terdengar seperti ancaman." Bryan menatap Kevin. "Dan karena Opa sudah mulai bergerak."
Rahang Kevin mengeras.
Suara kendaraan di area drop-off, klakson pendek, dan langkah orang lewat tiba-tiba terasa terlalu keras.
Meilin melihat jari Kevin menegang di pergelangan tangannya. Bukan menyakiti. Menahan diri.
"Apa maunya?" tanya Kevin.
Bryan tidak lagi bercanda.
Dia memasukkan tangan ke saku jaket, mengeluarkan kartu akses hitam dengan lambang kecil berwarna perak, lalu menahannya di antara dua jari.
"Koko," katanya, pelan tapi jelas. "Opa ingin bertemu denganmu."