NovelToon NovelToon
Istri Seksi Gus Ibra

Istri Seksi Gus Ibra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elma Grace

​"Bagaimana jadinya kalau gadis nakal harus takluk menghadapi anak dari pemilik pesantren?"


Tsabita Azzahra, sebagai bentuk protes karena selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya, Safira, yang nyaris sempurna, Bita memilih hidup bebas: nongkrong di lounge elite, pulang subuh, dan akrab dengan kehidupan malam.

​Puncaknya, setelah mabuk berat akibat patah hati, Bita membuat kekacauan terbesar dalam hidupnya. Di area parkir remang-remang, ia mengira seorang cowok jangkung yang sedang duduk tenang di atas moge hitamnya adalah tukang parkir. Dengan lancang, Bita memaki-maki cowok itu, menarik kerah bajunya, dan... muntah tepat di atas sepatu sneakers mahal si cowok sebelum akhirnya pingsan.

Sepanjang insiden itu, si cowok hanya diam, menatap Bita dengan pandangan dingin yang tidak terbaca, lalu menolongnya dengan tenang.

​​Kehabisan kesabaran, orang tua Bita memberikan hukuman final: Bita dijodohkan dengan anak pemilik salah satu Pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elma Grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

​Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah gorden besar di kamar utama lantai dua, langsung mengenai wajah Bita. Gadis itu menggeliat pelan, mengerjapkan matanya berulang kali sebelum kesadarannya terkumpul sepenuhnya. Begitu melirik jam dinding digital di atas meja nakas, mata Bita seketika membelalak lebar.

​"Mampus! Jam delapan lewat lima belas!" pekik Bita panik.

​Ia langsung melompat dari tempat tidur. Hari ini ada kelas mata kuliah prasyarat jam sembilan pagi di kampusnya daerah Jakarta Selatan, dan dosennya terkenal sangat killer. Tanpa membuang waktu, Bita menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi. Mandi kilat lima menit, ia kemudian menggeledah lemari pakaiannya dengan rusuh.

​Bita memilih celana jins longgar, kaos putih polos yang dimasukkan rapi, dan dipadukan dengan kemeja flanel kotak-kotak oversized sebagai luaran. Mengingat statusnya sekarang dan fakta bahwa suaminya adalah seorang Gus, Bita menghela napas pasrah seraya meraih sebuah pashmina hitam. Dengan malas, ia melilitkan kain itu ke kepalanya secara asal-asalan, menyisakan beberapa helai poni rambutnya yang mengintip di dahi.

​"Bodo amat deh berantakan, yang penting gak telat!" gumamnya sambil menyambar tas ransel kuliahnya.

​Bita berlari setengah jatuh menuruni anak tangga. Suasana rumah lantai bawah tampak begitu rapi dan bersih. Begit kakinya sampai di area dapur bersih, langkah Bita mendadak terhenti.

​Gus Ibra sudah duduk tenang di meja bar. Pria itu tampak sangat segar dalam balutan kemeja kasual berwarna biru dongker yang lengannya digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana longgar berwarna ivory. Rambut undercut-nya tertata klimis dan wangi. Di depannya, sebuah laptop perak menyala menampilkan deretan grafik bisnis, sementara tangan kanannya memegang cangkir kopi yang masih mengepul.

​Mendengar kegaduhan yang dibuat Bita, Ibra menutup laptopnya perlahan lalu menoleh. Tatapannya tertuju pada pashmina Bita yang miring dan letak kemeja flanelnya yang agak berantakan.

​"Kenapa lari-lari? Kamu bisa jatuh, Tsabita," ucap Ibra dengan suara baritonnya yang tenang, kontras dengan kepanikan Bita.

​"Lo kok gak bangunin gue sih?!" sembur Bita langsung, meletakkan tasnya di atas kursi bar dengan hentakan keras. "Gue ada kelas jam sembilan! Mana mobil gue masih disita Papa lagi. Ah, sialan, ini gue harus pesen taksi online sekarang, pasti high fare dan macet banget!"

​Jemari Bita bergerak cepat di atas layar ponselnya, mencoba membuka aplikasi transportasi online dengan wajah super panik.

​Ibra mengembuskan napas pendek. Ia berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja bar, lalu dengan santai merebut ponsel dari genggaman tangan Bita.

​"Heh! Balikin gak ponsel gue!" protes Bita, mencoba meraih kembali ponselnya namun kalah tinggi.

​"Tidak usah memesan taksi online. Jam segini daerah jalan protokol sedang macet total karena perbaikan jalan. Kamu tidak akan keburu sampai kampus kalau pakai mobil," tutur Ibra tenang. Ia meletakkan ponsel Bita di atas meja, lalu menggeser sebuah piring datar berisi dua tangkup roti panggang isi telur dan keju yang tampak sangat menggugah selera.

​"Makan dulu. Saya yang antar," lanjut Ibra pendek.

​Bita melongo, menatap roti panggang itu lalu beralih menatap suaminya. "Lo yang antar? Pakai apa? Mobil lo juga bakal kena macet kali, Gus!"

​Ibra tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu justru merogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sebuah kunci dengan gantungan logo motor sport mahal berwarna hitam. Ia menggoyang-goyangkan kunci itu di depan wajah Bita.

​"Kita pakai motor," jawab Ibra dengan senyuman tipisnya yang khas.

​Bita membelalak. "Gak! Gak mau ya! Gue ke kampus pakai baju begini, terus lo mau bonceng gue pakai moge segede gaban itu? Yang bener aja! Bisa jadi pusat perhatian satu fakultas gue!"

​"Pilihan kamu cuma dua, Tsabita. Mau jadi pusat perhatian di kampus karena datang naik moge bersama suami kamu, atau menjadi pusat perhatian karena dihukum dosen kamu akibat telat satu jam?" tembak Ibra telak, menatap Bita dengan pandangan mengunci yang membuat gadis itu langsung bungkam.

​Bita menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Argumen Ibra selalu tidak bisa dibantah. Dengan perasaan dongkol setengah mati, Bita menyambar roti panggang di atas meja dan menggigitnya dengan kasar. "Oke, deh. Oke!"

​Ibra hanya terkekeh pelan melihat tingkah istrinya yang mengunyah dengan pipi menggembung seperti tupai. Pria itu berjalan menuju ruang tengah, lalu kembali dengan membawa helm half-face hitam wanita yang semalam sempat dilempar Bita.

​"Sini," panggil Ibra.

​Bita yang mulutnya masih penuh dengan roti terpaksa berjalan mendekat. Sebelum Bita sempat protes, Ibra sudah mengangkat kedua tangannya. Dengan sangat telaten dan lembut, jemari panjang Ibra merapikan lilitan pashmina Bita yang miring, menyelipkan bagian rambut yang keluar ke dalam kain, lalu memasangkan helm tersebut ke kepala Bita.

​Jarak mereka yang hanya berkisar beberapa sentimeter membuat Bita kembali bisa mencium aroma parfum maskulin Ibra yang segar khas mint dan kayu. Jantung Bita mendadak berkhianat, berdegup dengan ritme yang terlalu cepat.

​Klik.

​Ibra mengunci tali helm di bawah dagu Bita dengan pas. "Sudah rapi. Ayo berangkat."

​Deru mesin moge hitam bersilinder besar milik Gus Ibra memecah keheningan jalanan kota Jakarta. Motor itu melesat membelah kemacetan dengan sangat lincah di bawah kendali tangan kekar Ibra.

​Bita yang duduk di jok belakang yang agak tinggi awalnya mencoba menjaga jarak sejauh mungkin. Ia mencengkeram besi pegangan di bagian belakang motor dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Namun, setiap kali Ibra melakukan manuver menikung tajam atau mengerem mendadak karena kendaraan di depan, tubuh Bita refleks terdorong ke depan, menabrak punggung tegap suaminya.

​Hingga di satu lampu merah yang cukup padat, Ibra tiba-tiba meraih kedua tangan Bita yang berada di belakang, lalu menariknya ke depan, melingkarkannya dengan erat di sekeliling pinggangnya sendiri.

​Bita tersentak kaget di balik helmnya. "Heh! Lo ngapain sih?! Lepas gak!" seru Bita setengah berteriak agar suaranya terdengar di balik deru angin.

​Melalui kaca spion, Bita bisa melihat sepasang mata tajam Ibra yang meliriknya dengan kilatan geli.

​"Pegangan yang erat, Tsabita. Setelah lampu merah ini saya akan sedikit mengebut lewat jalur cepat kalau kamu tidak mau terlambat," ujar Ibra melalui interkom helm yang entah sejak kapan sudah tersambung ke helm Bita. Suaranya terdengar begitu dekat dan seksi tepat di telinga Bita. "Atau kamu lebih memilih jatuh dan menggelinding di aspal?"

​Bita mendengus kencang. Karena tidak punya pilihan dan demi keselamatan nyawanya, Bita akhirnya pasrah. Ia mengeratkan pelukannya di pinggang kokoh Ibra, menyembunyikan wajahnya yang kini sudah merona merah padam di balik punggung lebar pria itu. Bita bisa merasakan bagaimana otot-otot tubuh Ibra mengeras di balik kemejanya setiap kali pria itu mengoper gigi motor, memberikan sensasi aneh yang membuat perut Bita terasa seperti digelitik ribuan kupu-kupu.

​Tepat pukul delapan lewat lima puluh lima menit, moge hitam besar milik Gus Ibra memasuki gerbang kampus elit di kawasan Jakarta Selatan. Suasana area parkir fakultas Bita sedang sangat ramai oleh mahasiswa yang lalu lalang bersiap masuk kelas jam pertama.

​Kedatangan sebuah motor sport mewah dengan suara knalpot ngebass yang khas itu seketika mencuri perhatian hampir seluruh mahasiswa di sana. Pandangan mata belasan pasang orang langsung tertuju pada mereka.

​Ibra menghentikan motornya dengan sangat berkharisma tepat di depan lobi gedung utama fakultas Bita. Pria itu menurunkan standar motor, lalu membuka kaca helm full-face-nya, menampilkan wajah tampannya yang berahang tegas tanpa cela di bawah siraman cahaya matahari pagi. Beberapa mahasiswi yang sedang nongkrong di koridor depan lobi bahkan tampak berbisik-bisik heboh sambil menunjuk ke arah Ibra.

​Bita buru-buru turun dari motor dengan gerakan kikuk. Ia langsung melepas helmnya dan menyerahkannya pada Ibra dengan terburu-buru, ingin segera kabur dari pusat perhatian ini.

​"Nih helmnya! Makasih udah anterin. Gue masuk dulu!" kata Bita cepat, wajahnya sudah memerah karena malu dibarengi rasa gengsi.

​Namun, baru saja Bita membalikkan badannya hendak berlari, suara bariton Ibra kembali menghentikan langkahnya.

​"Tsabita," panggil Ibra, cukup lantang hingga beberapa mahasiswa di sekitar mereka bisa mendengarnya.

​Bita berbalik dengan wajah kesal. "Apa lagi sih, Gus?! Gue udah telat nih!"

​Ibra memajukan sedikit tubuhnya di atas motor, menatap Bita dengan senyuman tipis misterius yang sangat menawan. "Kamu melupakan sesuatu."

​"Lupa apa? Dompet ada, ponsel ada, tugas ada di tas—"

​"Salim," potong Ibra lembut, mengulurkan tangan kanannya yang kekar ke hadapan Bita.

​Bita melongo seketika. "Hah?! Di... di sini? Di depan anak-anak kampus gue?!" bisik Bita dengan mata melotot panik, melirik ke sekelilingnya di mana teman-teman satu gengnya—termasuk Jessica dan Kevin—ternyata sedang berjalan ke arah lobi dan kini ikut menonton adegan tersebut dengan mulut menganga.

​"Kamu sudah sah menjadi istri saya, Tsabita. Tidak ada yang salah dengan menghormati suami di depan umum," tutur Ibra dengan nada suara yang sangat tenang namun sarat akan ketegasan mutlak seorang imam. "Atau kamu mau saya yang turun dari motor dan mencium kening kamu di depan teman-teman kamu sebagai gantinya?"

​Ancaman gila itu sukses membuat seluruh sistem di otak Bita crash. Membayangkan seorang Gus mencium keningnya di tengah area parkir kampus di depan ratusan pasang mata akan menjadi kiamat sosial terbesar bagi hidupnya!

​Dengan gerakan cepat dan wajah yang sudah merah padam mirip kepiting rebus, Bita menyambar tangan kanan Ibra, lalu mencium punggung tangan suaminya itu dengan sangat singkat sebelum melepaskannya seperti terkena setruman listrik.

​"Udah kan?! Gue pergi! Assalamualaikum!" seru Bita panik, langsung berbalik dan berlari secepat kilat masuk ke dalam gedung lobi kampus tanpa menoleh lagi.

​Dari belakang, Gus Ibra hanya menatap punggung istrinya yang menjauh dengan kekehan rendah yang terdengar sangat puas. Setelah memastikan Bita masuk ke dalam gedung dengan aman, Ibra menutup kembali kaca helmnya, memutar arah motornya, dan melesat pergi meninggalkan area kampus dengan karisma yang tak terbantahkan, meninggalkan kehebohan besar di kalangan teman-teman Bita yang masih terpaku tidak percaya.

1
Anita Rahayu
kapan ni buat dedek bayi yg gemoy
Elma Grace: eh tenang aja. ada kok nanti. tunggu yaa, bikin sedikit konflik biar makin deket dulu merekanyaa
total 1 replies
merry
kyky reno ngk bergerak sndrian dehh,, x Safira itu terlibat krn iri sm bita x y
Clarisa Putri: aku juga mikir gini
total 1 replies
Sri Jumiati
apa safira suka sm gus ibra ya
Elma Grace
/Rose//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!