NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Marco!" panggil Mauren membuat Marco dan Liora menoleh bersamaan.
Mauren menghampiri mereka dengan koper kecil di tangan. Wajahnya terlihat serius, berbeda dari biasanya.
"Marco, aku menitipkan Liora kepadamu selama satu minggu. Aku harus pergi ke Los Angeles. Ada masalah bisnis yang harus segera kuselesaikan di sana."
Marco terdiam sesaat. Tatapannya beralih kepada Liora yang tampak sama terkejutnya.
"Baik, Kak. Aku akan menjaga Liora," jawab Marco mantap.
Mauren mengangguk puas. Ia kemudian menatap Liora dengan senyum lembut.
"Kalau Marco mulai menyebalkan, langsung telepon aku."
Liora terkekeh pelan. "Ibu dia setiap hari menyebalkan."
Marco hanya mendengus pelan. "Seolah-olah aku ini orang yang merepotkan."
"Kau tidak merepotkan tapi kau sangat jahil." sahut Mauren sambil terkekeh.
Suasana hangat itu membuat Liora sedikit melupakan kegelisahannya. Namun, setelah Mauren benar-benar berpamitan dan mobil yang membawanya keluar dari halaman mansion menghilang di balik gerbang besar, keheningan mulai terasa.
Kini mansion megah itu hanya dihuni Marco, Liora, dan para pelayan. Marco memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Ganti pakaianmu kau harus ikut denganku."
Liora menggeleng. "Apa?"
"Ya, kau harus ikut denganku!"
"Kemana Marco?"
"Ke kantor milikku."
Liora menurut, sembari sedikit menggerutu. Pasti membosankan ikut dengan Marco ke kantor.
Sebelum mereka pergi, Mereka sarapan terlebih dahulu. Setelahnya Marco berdiri.
"Aku harus ke kantor sebentar."
Liora langsung mengangguk. "Aku akan tetap di mansion saja."
Marco menggeleng pelan. "Tidak."
Liora mengernyit. "Marco, itu tugasmu kenapa aku harus ikut."
"Kau ikut denganku. Karena aku sudah berjanji pada Kak Mauren akan menjagamu. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian."
Liora membuka mulut hendak menolak, tetapi Marco sudah lebih dulu berjalan meninggalkan ruang makan.
"Tiga puluh menit lagi kita berangkat. Bersiaplah."
Liora hanya bisa menghela napas pasrah.
Perjalanan menuju kantor berlangsung cukup tenang. Marco menyetir sendiri mobil sport hitamnya, sementara Liora duduk di kursi penumpang sambil memandangi gedung-gedung kota yang berlalu di balik jendela.
Sesekali Marco melirik ke arahnya. "Pasti kau bosan, ya kan gadis culun?"
Liora mengangguk tanpa ragu. Sembari mencebik kesal. "Sedikit."
"Baru juga lima belas menit dasar payah."
"Karena aku sudah tahu tujuan kita. Kantor itu membosankan."
Marco terkekeh pelan. "Kau bahkan belum pernah ke kantorku."
"Semua kantor membosankan."
Marco hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
Tak lama kemudian mobil memasuki area parkir sebuah gedung pencakar langit yang menjulang megah. Logo perusahaan terpampang besar di bagian depan.
Begitu Marco turun, seluruh karyawan yang berada di lobi langsung membungkukkan badan.
"Selamat pagi, Tuan Marco."
"Ya."
Marco menjawab singkat. Tatapannya tetap dingin seperti biasa.
Di sampingnya, Liora menjadi pusat perhatian. Banyak pasang mata diam-diam memperhatikannya, penasaran dengan gadis yang datang bersama direktur muda mereka.
"Siapa dia?"
"Apa dia kekasihnya, ya?"
"Belum pernah melihatnya."
Bisik-bisik itu terdengar samar.
Liora menjadi semakin tidak nyaman.
Marco seolah menyadari hal itu.
"Jangan pedulikan mereka."
"Aku tidak terbiasa diperhatikan seperti ini."
"Nanti juga mereka bosan."
Mereka memasuki lift khusus menuju lantai paling atas. Sesampainya di ruang kerja Marco, Liora langsung terpukau.
Ruangan itu sangat luas dengan jendela kaca dari lantai hingga langit-langit yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota. Rak buku berjajar rapi, sementara meja kerja besar dipenuhi berkas dan laptop.
Marco melepaskan jasnya lalu menggulung sedikit lengan kemejanya.
"Duduklah di sofa. Kalau lapar katakan saja pada pada sekretarisku."
Liora mengangguk. "Hm"
Awalnya ia mencoba membaca beberapa majalah yang tersedia. Lima belas menit berlalu. Kemudian ia memainkan ponsel. Sepuluh menit kemudian.
Ia berjalan mengelilingi ruangan. Lima menit setelahnya. Liora menjatuhkan tubuhnya ke sofa sambil menghela napas panjang.
"Bosan sekali..."
Marco yang sedang menandatangani dokumen mengangkat sebelah alis.
"Sudah ku katakan kau akan bosan."
"Bukan akan."
Liora mendengus pelan. "Aku sudah bosan. Aku ingin bermain bersama Karens."
Marco menahan senyum. "Kalau begitu, hibur dirimu sendiri."
"Apa di sini tidak ada yang menarik?"
Marco berpikir sejenak sebelum membuka salah satu laci mejanya. Ia mengeluarkan sebuah tablet lalu menyerahkannya kepada Liora.
"Gunakan ini."
Liora menerimanya dengan mata berbinar.
"Tidak! Aku akan menelpon Karens saja. "
"Terserah asal kau tidak bosan."