Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
"Ada apa dengan Rexsaka, Non?" tanya Paman Amar, dengan cepat mengendalikan riak di wajahnya hingga kembali memancarkan kelembutan seorang ayah.
"Hmm... Paman kan ayahnya Kak Rex. Paman pasti tahu di mana keberadaan Kak Rex sekarang, kan?" tanya Nadya, raut wajahnya mendadak mendung. "Sudah dua bulan Nadya tidak bisa bertemu dengan kak Rex, nomor ponselnya pun selalu tidak aktif," jelasnya lirih.
Paman Amar terpaku dalam keheningan.
Separuh hatinya didera kebimbangan tentang bagaimana harus merespons gadis di depannya. Sebenarnya, andai ia tahu pun, prinsip hidupnya akan tetap melarangnya untuk membocorkan rahasia sang putra kepada Nadya. Namun, kali ini takdir berpihak padanya, Amar memang benar-benar tidak tahu dimana keberadaan sang putra. Rexsaka hanya sempat berpamitan singkat bahwa ia dikirim untuk menjalankan misi khusus ke sebuah pulau terpencil oleh institusinya.
"Paman, please... kasih tahu Nadya, ya?" mohon Nadya, mengeluarkan senjata pamungkasnya, puppy eyes.
Netra cokelat terangnya yang berhias bulu mata lentik terbuka lebar, menatap lurus penuh harap pada pria paruh baya itu. Kedua tangannya terkatup rapat di depan dada, dengan jemari yang saling mengunci rapat, seolah seluruh dunia dan harapannya kini bergantung pada jawaban Paman Amar.
Paman Amar mengembuskan napas berat, menyerah pada tatapan memelas itu. "Maafkan Bapak, Non. Bapak benar-benar tidak tahu di mana Rexsaka berada saat ini." Ucapnya kembali memungut spons yang tadi sempat jatuh karena teriakan Nadya, kemudian melanjutkan pekerjaannya membersihkan mobil yang tadi tertunda.
Rasa kecewa kembali menyelimuti hati Nadya mendengar jawaban Paman Amar. Tampaknya, firasatnya memang benar, ia tidak punya pilihan lain selain mendatangi markas militer secara langsung demi mengikis kabut misteri tentang keberadaan Rexsaka.
"Ya sudah, Paman, tidak apa-apa," ucap Nadya, mencoba mengulas senyum tipis di tengah kekecewaannya. "Kalau begitu, tolong antarkan Nadya ke markas militer sekarang, ya?"
Mendengar permintaan nekat itu, dahi Paman Amar langsung berkerut dalam. Ia menghentikan total aktivitas mencuci mobilnya, lalu menatap Nadya dengan tatapan serius yang dipenuhi rasa sangsi.
"Markas militer, Non?" Amar menghela napas panjang, mencoba meredam nada suaranya agar tidak terdengar menghakimi. "Untuk apa ke sana? Jika tujuannya hanya untuk mencari Rexsaka, Bapak sarankan jangan, Non. Kompleks militer itu penjagaannya sangat ketat, dan anak itu pasti sedang bertugas jauh. Nona hanya akan membuang waktu saja."
Nadya menyipitkan mata. Sepasang netra cokelatnya menatap Paman Amar dengan penuh selidik. Ada riak yang tidak biasa dari nada bicara pria paruh baya itu, seakan-akan ada sebuah rahasia besar yang sengaja ditutupi, atau yang lebih buruk, seolah pria itu memang sengaja ingin menjauhkannya dari Rexsaka.
"Dari mana Paman tahu kalau Kak Rex sedang bertugas jauh?" todongnya curiga, menolak melepaskan sejumput keraguan yang telanjur memenuhi kepalanya.
Paman Amar sempat tersentak sejenak, namun dengan profesionalisme yang terlatih, ia segera menguasai diri. "Bapak tahu karena Rexsaka sendiri yang mengatakannya sebelum berangkat. Tapi, Bapak jujur tidak tahu di mana tepatnya dia ditempatkan, Non. Dia hanya bilang kalau dia dikirim ke sebuah pulau terpencil yang susah sinyal," kilah Paman Amar, menyusun alasan selogis mungkin demi meredam kenekatan gadis itu.
Nadya tidak langsung menyerah. Ia melangkah satu jengkal lebih dekat, mengunci tatapan Paman Amar demi mencari celah kebohongan. "Beneran, Paman? Paman tidak sedang membohongi Nadya, kan?" tuntutnya dengan nada suara yang memberat, menuntut kejujuran mutlak.
"Beneran, Nona. Sumpah," ucap Paman Amar seraya mengacungkan dua jarinya, membentuk gestur peace demi meyakinkan Nadya. "Apa pernah Bapak membohongi Non Nadya selama ini?"
Nadya terdiam sebentar, menimbang-nimbang. Pikirannya membenarkan ucapan itu. Paman Amar sudah berpuluh-puluh tahun bekerja bersama keluarganya, bahkan jauh sebelum ia sendiri lahir ke dunia. Sepanjang ingatan Nadya, pria paruh baya itu memang tidak pernah sekalipun berbohong kepadanya. Selama ini pun, saat Nadya dengan terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada Rexsaka, Paman Amar tidak pernah menunjukkan rasa keberatan, meski ia juga tidak pernah memberikan lampu hijau. Kendati digantung dalam ketidakpastian sikap sang calon mertua, Nadya tetap maju tak gentar mengibarkan bendera cintanya untuk Rexsaka.
"Baiklah, Nadya percaya," sahut Nadya akhirnya. Namun, sedetik kemudian matanya kembali berkilat. "Tapi, kita akan tetap pergi ke markas militer!" ucapnya mutlak, tidak menerima bantahan.
"Tapi, Non..."
"Tidak ada tapi-tapian, Paman! Kalau Paman tidak mau mengantar, ya sudah, Nadya bisa menyetir mobil sendiri. Tapi, jangan salahkan Nadya ya kalau nanti terjadi apa-apa di jalan, soalnya kepala Nadya sekarang tiba-tiba terasa pusing dan badan Nadya mendadak lemas," potong Nadya cepat. Di kalimat terakhirnya, ia sengaja menurunkan bahu dan memasang wajah sayu, berpura-pura tidak berdaya bak aktris yang tengah bersandiwara.
"Dan kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Nadya... apa Paman tidak akan menyesal karena kehilangan Nadya?" tambahnya lagi, sengaja membuat nada suaranya terdengar sedramatis mungkin.
Paman Amar hanya bisa mengembuskan napas panjang untuk kesekian kalinya. Menghadapi keras kepala dan segala tingkah ajaib putri atasannya ini, ia tahu bahwa berdebat hanya akan membuatnya kalah telak, "Baiklah, Non. Bapak antar," pasrahnya kemudian.
"Oke! Tunggu sebentar ya, Paman. Nadya bersiap-siap dulu!"
Dengan binar riang yang kembali membanjiri wajahnya, Nadya berbalik seketika. Gadis itu setengah berlari menaiki undakan anak tangga granit bermotif batu alam menuju teras rumah mewahnya. Langkah kakinya yang ringan berkejaran dengan waktu, sementara rambut panjangnya yang tergerai indah tampak menari-nari, bergerak selaras dengan embusan angin sejuk pagi yang menerpa tubuhnya.
Di halaman, Paman Amar menatap nanar kepergian gadis itu. Langkah kakinya terasa berat untuk mengantar sang nona muda ke tempat yang diminta. Namun, apa boleh buat? Tugas tetaplah tugas, dan bagi seorang abdi seperti dirinya, keinginan Nadya adalah sebuah perintah yang tak bisa ditawar.
Beberapa jam kemudian, Nadya keluar dengan penampilan yang sudah rapi dan cantik seperti biasanya. Tanpa ragu, ia membuka pintu depan dan langsung menyandarkan tubuh di kabin samping kemudi. Paman Amar lagi-lagi hanya bisa menghela napas pasrah. Setiap kali mengantar Nadya pergi, gadis itu selalu menolak duduk di kursi belakang dan bersikeras menemaninya di barisan depan.
Padahal, Amar sudah berulang kali melayangkan protes karena merasa sungkan dan tidak nyaman jika dilihat orang lain. Bagaimanapun, di mata masyarakat, seorang majikan biasanya akan menjaga jarak sosial dengan bawahannya yang hanya seorang sopir. Namun, Nadya seolah abai dan acuh tak acuh dengan segala pandangan miring itu.
Ya, itulah Nadya. Sejak dulu ia selalu memperlakukan para pekerja di rumahnya dengan setara, tanpa sekat pembatas kasta. Terlebih lagi untuk Paman Amar, sosok yang diam-diam sudah ia semat sebagai calon ayah mertuanya. Bagi Nadya, duduk manis di kursi belakang sementara pria paruh baya itu menyetir di depan sama saja dengan menaruh noda tidak hormat pada orang tua calon kekasihnya sendiri.
Kekasih? Ah, sebutan yang indah. Nadya hanya bisa merapalkan doa dalam hati, berharap agar angan-angan manisnya itu suatu hari nanti tidak sekadar menjadi bunga tidur, melainkan takdir yang nyata.