NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014: Kursi di Samping Ranjang

Dokter datang lagi satu jam kemudian.

Nyeri di perut Meilin sudah berkurang, tapi mualnya belum benar-benar hilang. Tekanan darahnya juga masih rendah. Setelah memeriksa ulang dan membaca hasil observasi awal, dokter menyarankan rawat inap satu malam agar cairannya cukup dan nyerinya dipantau.

Meilin langsung menoleh ke Kevin.

"Tidak perlu sampai rawat inap."

Kevin bahkan tidak melihatnya. "Ambil kamar."

"Ko."

"Dokter yang bilang."

"Tapi biayanya..."

Kevin akhirnya menatapnya. "Kamu mau aku ulang kalimatmu sendiri?"

Meilin terdiam.

Uang itu gunanya supaya kita bisa hidup.

Dia ingin membantah, tapi kata-katanya sendiri menutup mulutnya.

Kevin mengurus administrasi. Meilin hanya bisa melihat dari ranjang observasi saat dia bicara dengan petugas pendaftaran, menanyakan kamar paling sederhana yang tersedia, memastikan obat masuk tagihan, lalu kembali dengan gelang pasien baru dan wajah yang tetap tenang.

Terlalu tenang.

Meilin tahu dia sedang menghitung semuanya di kepala.

"Aku akan bayar balik," ucapnya ketika perawat mendorong ranjangnya ke ruang rawat.

"Dengan gambar?"

"Iya."

"Kalau begitu sembuh dulu."

Kamar rawat itu kecil, berisi satu ranjang pasien, satu kursi lipat untuk penunggu, lemari sempit, dan tirai krem yang sedikit kusam. Bukan kamar mewah, tapi dibanding kos mereka, ruangan itu terasa terlalu bersih dan terlalu mahal.

Meilin berbaring dengan infus di tangan.

Kevin menaruh tas kecil di kursi. "Aku pulang ambil baju."

Jantung Meilin turun sedikit.

Mungkin wajahnya terlalu jujur, karena Kevin berhenti setelah satu langkah.

"Aku balik."

"Aku tidak bilang apa-apa."

"Matamu bilang."

Meilin memalingkan wajah. "Cepat balik."

Kevin tidak menjawab, tapi dia benar-benar kembali dalam waktu kurang dari satu jam. Dia membawa baju ganti, charger, buku sketsa Meilin, obat yang dari rumah sakit, dan satu kantong bubur polos dari kantin.

"Kamu bawa buku sketsaku?"

"Kalau kamu bosan."

"Dokter bilang aku harus istirahat."

"Aku tidak bilang kamu harus gambar."

"Tapi kamu bawa."

"Supaya kamu tidak minta pulang hanya karena bosan."

Meilin tidak bisa membantah logika itu.

Malam turun di rumah sakit.

Perawat datang membawa obat lambung. Kevin memperhatikan jadwalnya, lalu mengetik sesuatu di ponsel. Meilin curiga dia membuat alarm.

"Kamu tidak perlu segitunya," katanya.

"Kamu lupa makan sampai masuk IGD."

"Itu satu kali."

Kevin menatapnya.

Meilin menyerah. "Baik. Mungkin bukan satu kali."

Dia makan bubur sedikit demi sedikit. Kevin duduk di kursi samping ranjang, membuka laptop, tapi tidak benar-benar bekerja. Setiap beberapa menit matanya naik ke wajah Meilin, memeriksa apakah dia mual, apakah infusnya lancar, apakah selimutnya cukup.

Meilin pura-pura tidak sadar.

Tapi semakin lama, pura-pura itu semakin sulit.

"Ko."

"Hmm?"

"Kamu pulang saja nanti. Kursi itu sempit."

"Tidak."

"Kamu baru sembuh."

"Aku bisa tidur di kursi."

"Lehermu nanti sakit."

"Aku pernah tidur di tempat yang lebih buruk."

Kalimat itu ringan, tapi membuat Meilin diam. Dia ingin bertanya tempat apa, kapan, siapa yang membuatnya harus hidup seperti itu. Namun dia menahan diri. Kevin tidak suka dikasihani. Kevin lebih mudah menerima air minum daripada pertanyaan tentang luka lama.

Jadi Meilin hanya menggeser bantal kecil di ranjangnya.

"Pakai ini untuk punggung."

Kevin melihat bantal itu, lalu melihat Meilin.

"Kamu pasien."

"Aku punya dua bantal."

"Satu untuk kepala, satu untuk punggungmu."

"Kalau kamu menolak, aku tidak tidur."

Kevin menghela napas. "Kamu belajar mengancam dari siapa?"

"Dari pasien keras kepala."

Dia akhirnya mengambil bantal itu.

Larut malam, lampu kamar dipadamkan sebagian. Hanya lampu kecil di dekat pintu yang menyala. Suara roda ranjang dari koridor sesekali lewat, bercampur langkah perawat dan bunyi lift jauh.

Meilin sulit tidur.

Bukan karena sakitnya. Obat membuat nyerinya jauh berkurang. Yang membuatnya sulit tidur adalah Kevin yang duduk di kursi sempit dengan laptop tertutup di pangkuan, kepala bersandar ke dinding, satu tangan tetap memegang ponsel dengan alarm obat.

Dia terlihat lelah.

Sangat lelah.

"Kevin," panggil Meilin pelan.

Matanya langsung terbuka. "Sakit?"

"Tidak."

"Mual?"

"Tidak."

"Mau minum?"

Meilin menggeleng.

Kevin mengerutkan kening. "Lalu?"

"Tidur."

"Aku tidur."

"Matamu terbuka."

"Karena kamu panggil."

Meilin hampir tersenyum. "Kalau aku tidak panggil, kamu tetap tidak tidur."

Kevin tidak membantah.

Hening beberapa detik.

"Aku takut infusmu macet," katanya akhirnya.

Meilin menatap selang infus di tangannya, lalu menatap Kevin lagi.

"Perawat akan cek."

"Aku tahu."

"Tapi kamu tetap takut?"

Kevin diam.

Jawaban itu cukup.

Sesuatu di dada Meilin melunak sampai terasa nyeri. Dia mengulurkan tangan yang tidak terpasang infus, telapak menghadap ke atas di tepi ranjang.

Kevin melihat tangan itu.

"Apa?"

"Kalau kamu takut, pegang saja. Jadi kalau aku bergerak, kamu tahu."

"Itu tidak masuk akal."

"Banyak hal di antara kita tidak masuk akal."

Kevin menatapnya lama.

Lalu, sangat perlahan, dia meletakkan jarinya di atas telapak tangan Meilin. Bukan menggenggam penuh. Hanya ujung jari yang menyentuh, ringan dan ragu.

Meilin menutup matanya.

Di tengah bau obat dan suara rumah sakit, sentuhan kecil itu membuatnya merasa lebih aman daripada kamar bersih mana pun.

"Tidur, Ko," bisiknya.

"Kamu dulu."

"Aku sudah mau tidur."

"Aku tunggu."

Meilin ingin menjawab, tapi kantuk akhirnya menariknya. Sebelum benar-benar terlelap, dia merasakan jari Kevin bergerak sedikit, menutup telapak tangannya dengan lebih pasti.

Kali ini, bukan orang sakit yang memohon jangan pergi.

Kali ini, dua orang sama-sama tidak ingin melepas lebih dulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!