NovelToon NovelToon
Penguasa Di Balik Bayangan

Penguasa Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Action / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cardannak23

Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.

Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.

Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.

Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.

Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.

Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Darius menghentikan langkahnya di tengah ruangan. Ia membalas tatapan tajam Tuan Besar Hardiman dengan tenang, seolah kemarahan kakeknya itu hanyalah embusan angin.

"Hanya mengurus beberapa hal kecil," jawab Darius dengan suara datar yang mengalun dingin. "Tidak perlu membuang tenaga hanya untuk mencariku."

"Hal kecil kau bilang?!" bentak Tuan Besar Hardiman, urat-urat di lehernya menonjol menahan amarah. "Kau pikir kediaman Adhitama ini rumah penginapan murahan yang bisa kau masuki dan tinggalkan sesukamu?!"

Tuan Besar Hardiman menghentikan bentakannya sejenak, napasnya memburu akibat emosi yang meluap. Kemarahannya kian memuncak saat melihat Darius yang sama sekali tak terpengaruh oleh gertakannya.

"Kau harus ingat posisi dan batasanmu di keluarga ini, Darius!" sambung Hardiman dengan nada penuh penekanan. "Jangan sampai kelakuanmu merusak kesepakatan antara Keluarga Adhitama dan Atmadja!"

Miranti Adhitama menimpali dengan senyuman yang sarat cemoohan. "Benar kata Ayah. Jangan kira karena Keluarga Atmadja bersedia menerima perjodohan ini, kau bisa berbuat seenaknya."

Darius sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari Tuan Besar Hardiman. Bibirnya mengukir senyum tipis, sebuah senyuman dingin yang terkesan sangat merendahkan.

Di sudut sofa, Violetta terus menundukkan wajahnya. Kedua tangannya bertaut erat di atas pangkuannya, meremas kain gaunnya hingga ujung jemarinya memucat.

Mendengar nama 'Adelina Atmadja' terus-menerus disandingkan dengan pria yang berdiri tegap di tengah ruangan itu, membuat dada Violetta terasa sesak dan hatinya hancur berkeping-keping.

"Darius..." ujar Surya Adhitama dengan nada memelas dengan sorot mata lelah. "Ayah mohon... tetaplah di rumah sampai hari pernikahanmu tiba. Ini demi kebaikan kita semua."

Darius menatap wajah ayah kandungnya itu sejenak. Ada secercah rasa iba yang sangat tipis, namun segera tertutup oleh benteng es di matanya.

"Aku sudah menerima perjodohan itu," ucap Darius dengan nada rendah yang sarat akan penekanan. "Tetapi, jangan pernah mencoba mengatur kehidupanku."

Tuan Besar Hardiman kemudian mengetukkan kembali ujung tongkatnya ke lantai. "Mulai detik ini, kau dilarang keras melangkah keluar dari kediaman ini sampai hari pernikahanmu!"

Mendengar ancaman tersebut, sudut bibir Darius perlahan terangkat, mengukir sebuah senyuman tipis yang sangat dingin dan mematikan.

"Anda bisa mencoba mengurungku, Tuan Besar," sahut Darius tenang, namun nada suaranya begitu dingin. "Tapi kupastikan, tidak ada satu pun pengawal di kediaman ini yang sanggup menghentikan langkahku."

Aura membunuh yang begitu pekat seketika memancar tipis dari tubuh Darius, membuat suhu di ruang keluarga itu seolah turun drastis.

Tuan Besar Hardiman, Surya, dan bahkan Miranti Adhitama mendadak bungkam. Ada tekanan tak kasatmata yang membuat lidah mereka memdadak kelu untuk membalas.

Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Darius segera membalikkan badan, berniat kembali ke kamarnya. Langkah kakinya yang tegap dan teratur bergema di atas lantai.

Ia lalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga, meninggalkan keheningan yang mencekam dan penuh ketegangan di ruang keluarga Keluarga Adhitama.

Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang berat dan perlahan terdengar mendekati pintu kamar Darius. Disusul dengan sebuah ketukan pelan memecah keheningan di dalam ruangan tersebut.

Tok... Tok... Tok...

Darius yang sedang berdiri menatap keluar jendela memutar badannya dengan tenang dan penuh wibawa. "Masuk."

Pintu kamar itu pun perlahan terbuka, menampilkan sosok Surya Adhitama. Pria paruh baya itu melangkah masuk dengan raut wajah yang dipenuhi kelelahan emosional dan penyesalan mendalam.

"Darius..." panggil Surya Adhitama dengan suara rendah, pandangannya menatap putranya itu dengan penuh kasih sayang.

"Ada apa, Ayah?" tanya Darius dengan nada datar, tetap mempertahankan jarak emosional di antara mereka.

Surya Adhitama berjalan mendekat dan menghela napas panjang. "Ayah hanya ingin meminta maaf atas sikap kakekmu dan ibu tirimu tadi, Darius."

Darius menyunggingkan senyum tipis tanpa ekspresi. "Aku sudah terbiasa dengan hal itu. Lagipula, ucapan dan tindakan mereka sama sekali tidak berpengaruh bagiku."

Mendengar ketenangan dari putranya, hati Surya Adhitama makin teriris. Ia tahu betul betapa dalamnya benteng pertahanan yang dibentuk oleh Darius akibat bertahun-tahun hidup terbuang.

"Darius, Ayah tahu perjodohan ini sangat tidak adil bagimu," lanjut Surya Adhitama dengan nada memelas. "Tapi Ayah berjanji, Ayah akan berusaha memberikan apa pun yang menjadi hakmu di keluarga ini."

Surya Adhitama menghentikan ucapannya sejenak. "Maka dari itu, hari ini Ayah ingin membawamu ke kantor Adhitama Corporation untuk mengenalkanmu secara resmi kepada seluruh direksi dan karyawan di sana."

Darius menatap ayah kandungnya itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. Di balik jabatannya yang tampak megah, ia tahu Adhitama Corporation sedang berada di ambang krisis finansial.

"Apakah ini bagian dari rencana Kakek untuk menunjukkan pada publik bahwa Keluarga Adhitama masih solid?" tanya Darius menusuk tepat pada intinya.

Surya Adhitama menundukkan wajahnya sejenak sebelum menatap Darius kembali dengan jujur. "Itu salah satu alasannya. Tapi bagi Ayah pribadi, ini adalah bentuk pengakuan yang seharusnya kau dapatkan sejak dulu, Darius."

Darius terdiam sejenak, menimbang-nimbang situasi. Mengunjungi Adhitama Corporation akan memberinya gambaran mengenai seberapa parah struktur internal perusahaan keluarga tersebut.

"Baiklah," sahut Darius dengan pendek, suaranya datar yang amat tenang. "Aku akan ikut."

Surya Adhitama menghela napas lega, raut wajahnya perlahan memancarkan binar kebahagiaan. "Terima kasih, Darius. Ganti pakaianmu dengan setelan resmi, Ayah tunggu sepuluh menit lagi."

Darius mengangguk singkat. Setelah itu, Surya Adhitama melangkah keluar dan menutup pintu kamar secara perlahan, ia segera berganti pakaian.

Sepuluh menit kemudian di lantai dasar, Surya Adhitama sedang menunggu di dekat aula utama. Ketika mendengar langkah kaki yang menuruni anak tangga, ia mendongak.

Matanya menatap takjub, tak sedikit pun berpaling dari tempatnya berdiri saat memperhatikan setiap langkah Darius. Karisma yang dipancarkan putranya itu terasa begitu pekat dan menekan.

Tak jauh dari posisi mereka berdiri, Miranti Adhitama dan Violetta pun ikut menoleh. Pandangan perempuan itu mendengus kesal, saat menyadari betapa gagah dan menawannya sosok Darius.

Sementara itu, Violetta hanya bisa menundukkan kepalanya, dadanya bergemuruh hebat. Napasnya tertahan di tenggorokan, seolah udara di sekitarnya mendadak habis.

"Ayo kita berangkat, Darius," ajak Surya Adhitama seraya merapikan lipatan jas hitamnya yang sedikit kusut.

Mereka berdua berjalan menuju pelataran depan, di mana mobil Rolls-Royce milik Surya Adhitama telah bersiap. Darius masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang bersama sang ayah.

Sopir pribadi segera menyalakan mesin dan membawa kendaraan mewah itu membelah jalanan utama Ibukota menuju perusahaan Keluarga Adhitama.

Setelah tiga puluh menit melewati deretan gedung pencakar langit, mobil itu akhirnya berbelok memasuki pelataran gedung bertingkat empat puluh dengan logo Adhitama Corporation yang megah di puncaknya.

Puluhan karyawan dan jajaran staf yang sedang berlalu-lalang di lobby utama segera menghentikan aktivitas mereka begitu melihat Rolls-Royce milik Direktur Utama tiba.

Seorang pengawal dengan sigap berlari kecil memutari mobil, lalu menarik gagang pintu belakang hingga terbuka lebar. Surya Adhitama melangkah keluar terlebih dahulu, disusul oleh Darius.

1
Akang
up lagi thor
Glastor Roy
makasih torku update ya
Cardannak: Sama²
total 1 replies
Julia thaleb
Thor.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Julia thaleb
Thor..
aku suka.
up terus yg banyak ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
tor update ya
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya torku
Glastor Roy
torku update ya lgi dong
Glastor Roy
update lgi
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
makasih torku update ya
Muhamad U Fadillah Udwm
bguss
Muhamad U Fadillah Udwm
lqnjut
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!