Lantunan ayat suci dan isak haru mengiringi momen Nabila Azra Humaira menyematkan mahkota kehormatan di kepala ibunya. Hari itu, ia resmi diwisuda sebagai Hafizhah 30 Juz di Pesantren Nurul Hasanah. Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap.
Sore harinya, kabar kecelakaan tragis orang tuanya membuat Nabila panik dan tergesa-gesa mengendarai motor. Naas, nasib buruk beruntun menimpanya. Nabila mengalami kecelakaan hebat yang merenggut penglihatannya secara permanen, bersamaan dengan kabar duka bahwa kedua orang tuanya telah berpulang.
Satu bulan Nabila mengurung diri dalam duka. Di tengah sunyinya masa keputusasaan itu. Seorang pria datang membawa pengakuan yang menghentakkan jiwanya. Pria itu menyebut dirinya Hafiz Habib Zafar, dan yang paling mengejutkan pengakuannya bahwa ia adalah suami sah Nabila.
Dibalik kegelapan yang menyelimuti hidupnya, Nabila terus bertanya-tanya. Siapakah sosok Hafiz Habib Zafar sebenarnya? Mengapa seorang pria asing tiba-tiba mengaku sebagai suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI DI UJUNG SENJA
Sekitar pukul sepuluh pagi, Hafiz melangkahkan kaki menaiki lima anak tangga kayu pondoknya. Senyum tipis terukir di bibirnya, membayangkan sambutan hangat dari sang istri. Di tangannya, ia membawa sebungkus kue tradisional kesukaan Nabila yang sempat ia beli di kantin pondok usai mengajar.
Namun, begitu pintu kayu dibuka, kehangatan yang diimpikannya lebur seketika.
Nabila berdiri tegap di tengah ruang tamu kecil itu. Tubuhnya gemetar hebat, dadanya naik turun memburu. Tongkat putih di tangannya digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajah di balik cadar itu memang tak terlihat seluruhnya, namun dua mata kabur yang membasah oleh air mata memancarkan amarah dan kebencian yang teramat dahsyat.
"Nabila? Ada apa, Billa?" tanya Hafiz panik, melangkah mendekat. "Kenapa kamu menangis?"
"JANGAN MENDEKAT!" jerit Nabila melengking. Suaranya memecah keheningan pondok kayu itu, penuh dengan rasa sakit yang tak tertahankan. "Jangan pernah melangkah satu senti pun mendekatiku, Ustadz Hafiz!"
Hafiz membeku di tempatnya. Langkah kakinya terhenti seketika. "Billa... ada apa? Kenapa kamu seperti ini?"
Nabila tertawa getir, sebuah tawa sumbang yang sarat akan kepedihan mendalam. Air mata panas menembus kain cadarnya tanpa henti.
"Pernikahan ini... kepedulian Anda... rasa iba Anda selama ini... semuanya ternyata cuma panggung sandiwara untuk memuaskan rasa bersalah Anda, kan?!" amuk Nabila. "Ceraikan aku, Ustadz Hafiz! Ceraikan aku sekarang juga!"
Kata cerai menghantam dada Hafiz bagaikan hantaman godam yang sangat berat. Pria itu menyapu wajahnya dengan cemas, dadanya berdebar tak menentu. "Billa, bicara apa kamu ini? Kenapa tiba-tiba minta cerai?"
"Karena Anda adalah pembunuh!" jerit Nabila dengan suara pecah. "Anda yang membunuh Ayah dan Ibu! Anda yang membuat mataku buta! Anda merenggut seluruh bahagiaku, lalu berpura-pura menjadi pahlawan yang menyelamatkanku! Pembunuh!"
DEG.
Raut wajah Hafiz berubah pucat pasi. Bibirnya terkunci rapat. Binar matanya menyirat kejutan dan ketakutan yang teramat sangat. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa rahasia yang disimpannya rapat-rapat bersama Ardhana pecah di tempat ini?
"D-dari mana kamu..." Hafiz terbata-bata, suaranya yang biasa tenang kini bergetar hebat. "Dari mana kamu mendengar cerita ini, Billa?"
"Kenapa? Anda kaget karena rahasia busuk ini terbongkar?!" tembak Nabila penuh kepahitan. "Ibu-ibu petani di sawah dekat sini saja tahu kenyataan itu! Mereka tahu cerita sebenarnya! Kenapa aku... kenapa aku sebagai anak dari korban justru dibuat buta dan bodoh oleh Anda dan Mas Ardhana?!"
Hafiz menjatuhkan bungkus kue di tangannya ke lantai. Pria itu mengangkat kedua tangannya ke udara dengan raut wajah memohon, berusaha menjelaskan dengan sisa-sisa ketenangannya.
"Nabila, dengarkan saya dulu... Tolong dengarkan penjelasan saya," bisik Hafiz, suaranya parau menahan perih. "Kecelakaan itu... kecelakaan itu murni musibah, Billa. Demi Allah, saya tidak pernah berniat celaka! Mobil kita bahkan tidak bersentuhan sedikit pun!"
"Bohong!" amuk Nabila.
"Saya bersumpah atas nama Allah, Billa!" potong Hafiz dengan nada tertekan. "Hari itu saya sedang melaju untuk menghindari seekor kucing yang mendadak menyeberang. Di saat yang sama, mobil almarhum Ayahmu melaju sangat kencang dari arah berlawanan. Kita berdua sama-sama panik! Kita sama-sama membanting setir secara mendadak di jalanan yang licin! Mobil saya menghantam trotoar, sementara mobil Ayahmu hilang kendali dan menabrak pohon besar di pinggir jalan... Saya tidak menyenggol mobil Ayahmu sedikit pun, Billa!"
"CUKUP!" Nabila menutupi kedua telinganya rapat-rapat, meratapi kebenarannya yang terlanjur membakar hatinya. "Jangan bawa-bawa nama Allah untuk membela diri Anda! Jika bukan karena Anda yang membanting setir sembarangan, Ayah tidak akan kaget! Ayah dan Ibu masih hidup hari ini!"
Nabila meraih tas pakaian kecil yang sempat disiapkannya secara asal dengan rabaan tangan. Ia mengayunkan tongkatnya, melangkah terburu-buru menuju pintu keluar.
"Aku mau pergi dari rumah haram ini! Aku mau pulang pada Mas Ardhana!" tegas Nabila, berusaha menunuruni tangga.
melihat istrinya yang buta hendak nekat pergi dalam keadaan emosi tinggi, Hafiz bergerak cepat. Ia berlari dan berdiri tepat di ambang pintu, menghalangi jalan Nabila dengan tubuh tegapnya.
"Singkirkan tubuh Anda!" amuk Nabila sambil memukul dada Hafiz dengan tongkat putihnya secara liar. "Biarkan aku pergi!"
Hafiz menahan rasa sakit dari pukulan tongkat itu tanpa sedikit pun bergeser. Pria itu menangkap kedua pergelangan tangan Nabila dengan lembut namun sangat kuat, menahan istrinya agar tidak jatuh tersungkur dari tangga panggung.
"Billa, hentikan! Ini berbahaya!" bentak Hafiz, untuk pertama kalinya menyuarakan nada tegas yang bergetar oleh tangis.
"Ceraikan aku! Ceraikan aku kalau begitu!" amuk Nabila dalam dekapan keringat dan air mata, dadanya kian sesak. "Aku tidak sudi menjadi istri dari pria yang membantai keluargaku!"
Hafiz menatap mata Nabila yang buta dari jarak yang sangat dekat. Air mata pria tegap itu akhirnya menetes membasahi pipinya sendiri. Rasa bersalah, kepedihan, dan keteguhan hatinya melebur menjadi satu badai emosi.
Hafiz mencengkeram bahu Nabila, berbisik tepat di depan wajah istrinya dengan intonasi yang sarat akan janji sakral yang tak tertawar.
"Saya tidak akan pernah menceraikanmu, Nabila," tegas Hafiz, suaranya serak namun menggelegar penuh kepastian. "Terkecuali Allah sendiri yang memisahkan kita oleh maut! Selagi saya masih bernapas dan jantung ini masih berdetak, saya tidak akan pernah mengucap kata cerai padamu!"
Kata-kata itu terngiang-ngiang di udara, mengunci takdir mereka dalam ikatan yang tak terputus.
Nabila membeku. Kalimat itu meremukkan sisa-sisa kekuatannya. Pertahanannya hancur total. Tas di tangannya terlepas, jatuh meluncur di atas lantai kayu. Nabila pelan-pelan luruh, berlutut di lantai sambil menangis sejadi-jadinya, meraungkan rasa sakit yang teramat sangat atas takdir kejam yang kini mengurungnya.
Hafiz berlutut di samping istrinya, tangannya mengudara ingin merengkuh dan menenangkan, namun ia mengurungkan niatnya saat melihat reaksi histeris Nabila.
"Jauhkan dirimu dariku..." isak Nabila lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh guncangan tangisnya. "Aku mohon... pergilah... jauhi aku, Ustadz Hafiz..."
Hafiz hanya bisa menatap istrinya yang tergeletak pasrah dalam tangis keputusasaan, membiarkan gerimis air mata menyelimuti pondok mungil di tepi sawah itu dalam duka yang teramat kelam.