NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026: Fajar si Mata-Mata Terbalik

Rian Prasetyo sedang menatap laporan Es Madu Kopi ketika sebuah pikiran buruk berubah menjadi ide yang terasa sangat indah.

Es Madu Kopi terlalu sehat.

Terlalu ramai.

Terlalu dicintai investor.

Terlalu cepat menyebar ke kota-kota besar.

Setiap kali ia melihat grafik penjualan minuman madu kopi itu, dadanya terasa sesak. Brand yang dulu ia buka untuk membakar uang Jakarta kini menjadi mesin uang yang berputar tanpa belas kasihan.

Maka ketika Fajar Hidayat menelepon dari Jakarta dan menyebut nama Takeshi Yamamoto, Rian hampir menjatuhkan pulpen karena bahagia.

"Mas Rian," suara Fajar terdengar hati-hati, "ada pihak dari Yamamoto Group yang mencoba mendekati beberapa orang lama Es Madu Kopi. Saya dengar mereka ingin memahami struktur operasional kita."

Rian duduk tegak.

"Yamamoto Group?"

"Ya. Wakil presiden mereka, Takeshi Yamamoto. Mereka tampaknya tertarik pada jaringan minuman kita."

Di kepala Rian, lampu biru imajiner menyala.

Ada konglomerat asing ingin membeli mesin uang paling menyebalkan dalam hidupnya.

Ini bukan ancaman.

Ini berkah.

"Mas Fajar," kata Rian pelan, "mulai sekarang, kalau Takeshi Yamamoto ingin bertemu, temui."

Fajar diam.

"Kalau dia ingin tahu data Es Madu Kopi, beri tahu."

"Mas Rian..." Suara Fajar turun. "Anda yakin? Itu terdengar seperti membocorkan rahasia perusahaan."

"Saya yakin."

"Semua data?"

"Semua yang perlu dia tahu."

Fajar menarik napas. "Apakah ini bagian dari strategi yang lebih besar?"

Rian memejamkan mata.

Strategi lebih besar?

Ya. Strategi menjual sumber keuntungan supaya hidupku sedikit damai.

"Percaya pada saya," kata Rian.

Tiga kata itu cukup.

Bagi Rian, tiga kata itu berarti: jangan tanya lagi, nanti aku susah menjelaskan.

Bagi Fajar, tiga kata itu terdengar seperti titah dari puncak gunung.

Setelah telepon ditutup, Fajar berdiri lama di depan jendela apartemen sewanya di Jakarta. Dulu ia menjual mimpi palsu di panggung seminar. Ia pernah mengajarkan orang cara sukses tanpa dirinya sendiri benar-benar sukses. Lalu Rian datang dan menunjukkan sesuatu yang tidak bisa ia palsukan: keberanian memperlakukan manusia sebagai manusia.

Sekarang orang itu memberinya tugas gelap.

Berarti tugas ini pasti penting.

"Saya mengerti, Mas Rian," bisik Fajar. "Saya akan menjadi pisau yang tidak terlihat."

Kalau Rian mendengar kalimat itu, mungkin ia akan langsung menarik kembali perintahnya.

Sayangnya, ia tidak mendengar.

Dua hari kemudian, Fajar duduk di lounge hotel bintang lima Jakarta. Di depannya, Takeshi Yamamoto memegang cangkir kopi hitam. Pria Jepang itu berpakaian rapi, wajahnya dingin, dan cara ia menatap orang seperti sedang menilai harga sebuah aset.

"Mas Fajar Hidayat," kata Takeshi dalam bahasa Indonesia yang cukup lancar, "saya dengar Anda pernah berperan penting dalam fase awal Es Madu Kopi."

Fajar tersenyum tipis.

"Pernah."

Kata itu ia biarkan menggantung.

Takeshi menangkapnya.

"Pernah?"

Fajar menunduk sedikit, seolah menahan sesuatu.

"Di Garuda Emas, semua orang menyebut nama Rian. Itu wajar. Beliau pemilik. Tapi ada orang-orang yang bekerja dari bawah, lalu dilupakan ketika perusahaan membesar."

Takeshi tidak langsung percaya. Matanya menyipit.

"Anda merasa dilupakan?"

Fajar tertawa pelan.

"Saya tidak bilang begitu."

Justru karena ia tidak bilang langsung, kalimat itu terdengar lebih meyakinkan.

Takeshi meletakkan cangkirnya.

"Kami sedang mempelajari pasar minuman Indonesia. Es Madu Kopi menarik. Tapi perusahaan seperti itu biasanya punya sisi rapuh yang tidak terlihat dari luar."

"Semua perusahaan punya sisi rapuh," jawab Fajar.

"Apakah Anda tahu sisi itu?"

Fajar mengambil map tipis dari tasnya. Di dalamnya bukan rahasia ilegal. Hanya data yang bisa dibagikan dalam diskusi bisnis: daftar cabang, pola pasokan madu, beban gaji, biaya sewa, dan pertumbuhan kota per kota.

Tetapi di tangan orang yang ingin membeli, data seperti itu terasa seperti kunci pintu.

"Saya tahu cukup banyak," kata Fajar.

Untuk pertama kalinya, mata Takeshi menunjukkan minat yang nyata.

Sementara itu, kabar bahwa Fajar bertemu Yamamoto sampai ke Lingkaran Garuda.

Pak Budiman Hartono mengumpulkan Pak Wahyu Santoso, Raka Wijaya, Pak Agung, Pak Djoko, dan Pak Ferry di sebuah lounge pribadi. Di meja, secangkir teh Pak Budiman sudah dingin karena ia terlalu lama berpikir.

"Mas Rian meminta Fajar mendekati Takeshi," kata Pak Budiman.

Pak Wahyu langsung mengerutkan kening. "Dia menyuruh orang dalam mendekati pembeli asing? Ini bukan gerakan biasa."

Raka menepuk meja.

"Ini quest rahasia! Bang Rian mau pakai Fajar sebagai umpan!"

Pak Ferry menyandarkan tubuh. "Kalau Takeshi percaya Es Madu Kopi sedang rapuh, dia akan masuk lebih dalam."

Pak Djoko mengangguk pelan. "Lalu saat dia masuk, struktur biaya dan kewajiban karyawan akan terlihat. Brand ini besar, tapi berat."

Pak Agung tertawa rendah. "Jadi Mas Rian ingin membuat Yamamoto membeli aset beserta bebannya."

Semua orang terdiam.

Lalu Pak Budiman tersenyum dengan rasa kagum yang sulit disembunyikan.

"Ini jauh lebih dalam dari sekadar menjual perusahaan. Mas Rian sedang menguji seberapa rakus Yamamoto."

Padahal di tempat lain, Rian sedang makan mi instan sambil menghitung berapa besar kerugian jika Es Madu Kopi berhasil lepas dari tangannya.

Ia tidak sedang menguji kerakusan siapa pun.

Ia hanya lelah melihat minuman madu menghasilkan uang.

"Kalau Yamamoto beli," gumam Rian, "minimal satu masalah hilang."

Ia berhenti, lalu mengoreksi diri.

"Semoga harganya jangan terlalu tinggi."

Doa itu, seperti biasa, tidak didengar semesta.

Lingkaran Garuda mulai bergerak tanpa diminta.

Pak Budiman dalam satu wawancara bisnis berkata, "Pasar minuman sedang memasuki fase seleksi. Tidak semua brand kuat secara operasional."

Pak Wahyu di acara tertutup menyebut, "Ekspansi terlalu cepat selalu membawa beban."

Raka mengunggah status samar: Kadang gold item harus dijual untuk unlock boss fight berikutnya.

Para analis yang mengikuti Dewa Saham langsung membedah kalimat itu seperti kitab kuno.

Takeshi Yamamoto membaca semuanya.

Di kantornya, ia meletakkan tablet di meja dan tersenyum tipis.

"Jadi mereka mulai goyah."

Asistennya bertanya, "Apakah kita lanjutkan pendekatan kepada Fajar?"

"Tentu. Orang yang merasa tidak dihargai adalah pintu terbaik ke dalam perusahaan."

Pertemuan kedua dilakukan di ruang rapat kecil milik Yamamoto Group Jakarta. Kali ini, Takeshi membawa draft kerja sama awal: Fajar akan menjadi konsultan informal yang membantu Yamamoto memahami pasar minuman lokal.

Fajar membaca dokumen itu dengan wajah tenang.

"Ini bukan berarti saya mengkhianati siapa pun," katanya pelan.

Takeshi tersenyum.

"Tentu. Ini hanya kerja sama profesional."

Fajar ikut tersenyum.

Di dalam hatinya, ia mengulang kata-kata Rian.

Temui. Beri tahu. Percaya pada saya.

Ia menandatangani dokumen itu.

Takeshi merasa ia baru saja mendapatkan celah pertama ke jantung Es Madu Kopi.

Fajar merasa ia baru saja menyelesaikan langkah pertama dari misi rahasia terbesar hidupnya.

Di tempat lain, Pak Budiman berdiri di depan jendela lounge, menatap lampu Jakarta.

"Jika rencana Mas Rian berhasil," katanya pelan, "Yamamoto Group bisa kehilangan pijakan mereka di Indonesia."

Raka berbisik kagum, "Bang Rian memang pemain late game."

Pak Budiman menghela napas.

"Anak muda itu... adalah pemain catur paling menakutkan yang pernah saya temui."

Pada saat yang sama, pemain catur paling menakutkan itu sedang memandangi kalkulator di ponselnya.

"Gimana caranya rugi lebih banyak, ya?"

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!