Yolanda Liem baru 23 tahun ketika menjadi janda.
Suaminya—Kevin Liem, putra sulung keluarga konglomerat Liem—meninggal karena sakit setelah lima tahun pernikahan tanpa cinta (dan tanpa konsumasi). Yola memilih tetap tinggal di mansion keluarga, mengurus rumah tangga, dan menjalani masa berkabung dengan tenang.
Sampai Rayhan Liem kembali.
Adik iparnya. CEO Liem Group. Pria paling dingin dan berbahaya di Jakarta.
Rayhan menatapnya bukan seperti kakak ipar. Tatapannya gelap, posesif, dan penuh rahasia. "Sejak kapan kau melihatku seperti itu?" tanya Yola dengan suara gemetar. Rayhan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang membuat Yola ingin berlari.
Dan Yola memang berlari. Dua kali.
Tapi Rayhan selalu menangkapnya kembali.
Di antara ciuman paksa dan pengorbanan diam-diam, di antara luka pisau yang ditanggung demi Yola dan rahasia yang tak pernah ia ucapkan — Yola mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah ini obsesi? Atau cinta yang sudah terlalu lama ditahan?
Ketika akhirnya ia berdiri di depan nisan Kevin dan berkata, "Aku sudah jatuh cinta pada orang lain" — apakah dunia akan memaafkannya?
⚠️ Peringatan: Mengandung adegan dewasa (steamy), hubungan possessive, dan grey-area consent di beberapa chapter. HE guaranteed.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Bab 028
Pertanyaan yang Menyebar
Yola melihatnya sebelum Sari sempat menutup layar.
`Katanya Rayhan batal tunangan karena janda keluarga Liem itu. Serius?`
Kalimat itu tidak panjang.
Tetapi ia menyebar di dada Yola lebih cepat daripada rasa sakit di pergelangan tangannya.
Sari langsung membalik ponsel. "Nona, jangan dipikirkan."
Yola hampir tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena kalimat itu terlalu mustahil. Jangan dipikirkan. Bagaimana caranya tidak memikirkan sesuatu yang sudah berjalan lebih dulu daripada dirinya?
Ia belum memberi keterangan.
Ia belum mengatakan satu pun kalimat di depan tamu.
Namun cerita tentang dirinya sudah lahir, tumbuh, dan diberi nama oleh orang lain.
Janda itu.
"Pulang saja," kata Yola pelan.
Sari mengangguk cepat, lalu mengetuk kaca. Rizal membuka pintu depan, memberi tahu sopir tujuan mereka tanpa banyak kata.
Mobil bergerak keluar dari parkir belakang hotel.
Dari kaca gelap, Yola melihat lampu hotel menjauh. Di dalam gedung itu, Rayhan masih berdiri menghadapi Hendra Tan. Celine mungkin masih menangis atau marah. Marco mungkin sedang dibawa ke rumah sakit. Daniel mungkin masih mengumpulkan bukti.
Semua orang punya sesuatu untuk dilakukan.
Yola hanya duduk, memegang jas Rayhan di bahunya, dan menjadi alasan yang dibicarakan.
Ponselnya kembali bergetar.
Naomi mengirim beberapa pesan beruntun.
`Gue sudah minta orang cek grup yang nyebar screenshot.`
`Jangan jawab siapa pun.`
`Lo bukan penyebab. Dengerin gue, lo bukan penyebab.`
Yola membaca pesan terakhir lama sekali.
Ia ingin percaya.
Namun di luar jendela, Jakarta malam itu terasa penuh layar ponsel yang menyala. Di setiap layar, mungkin ada namanya. Bukan nama lengkapnya. Bukan Yolanda Liem yang membuat parfum Pear Blossom, yang sedang membangun Atelier kecil di Kemang, yang menjaga Mama Liem dan memorial Kevin.
Hanya janda keluarga Liem.
"Nona," Sari berbisik. "Nona mau saya balas Nona Naomi?"
Yola menggeleng. "Nanti aku jawab sendiri."
Sari hampir mengatakan sesuatu, tetapi menahannya.
Beberapa menit kemudian, ponsel Sari berbunyi. Kali ini dari Pak Wahyu. Sari menjawab dengan nada rendah.
"Iya, Pak. Kami menuju mansion. Nona Yola aman. Tidak, jangan beri tahu Mama terlalu detail dulu. Pak Rayhan belum pulang. Iya, saya mengerti."
Yola menoleh. "Mama sudah tahu?"
Sari tampak bersalah. "Pak Wahyu bilang ada orang yang menelepon rumah. Bukan detail lengkap, tapi... kabar pertunangan batal sudah sampai."
Yola memejamkan mata.
Rumah yang tadi terasa jauh tiba-tiba terasa lebih berat daripada hotel.
Ketika mobil masuk gerbang Liem Mansion, Pak Wahyu sudah menunggu di teras belakang. Wajahnya tenang, tetapi kedua tangannya saling menggenggam lebih erat dari biasa.
"Nona Yola," katanya pelan. "Mama menunggu di ruang keluarga kecil."
"Mama seharusnya tidur."
"Beliau bilang tidak bisa tidur kalau Nona belum sampai."
Yola turun dari mobil. Lututnya sempat lemah ketika kakinya menyentuh lantai garasi. Sari cepat menahan sikunya, tetapi melepaskan begitu Yola sudah stabil.
Pak Wahyu melihat jas hitam di bahu Yola, lalu pergelangan tangannya yang merah. Matanya berubah, tetapi ia tidak bertanya di tempat terbuka.
"Saya sudah minta air hangat disiapkan."
"Terima kasih, Pak Wahyu."
Di ruang keluarga kecil, Mama Liem duduk dengan selendang tipis di bahu. Wajahnya pucat karena cemas, bukan marah. Begitu Yola masuk, Mama berdiri terlalu cepat hingga Pak Wahyu yang mengantar hampir menahan beliau.
"Yola."
Satu panggilan itu membuat pertahanan Yola runtuh sedikit.
Ia berjalan mendekat. Mama Liem memegang wajahnya dengan kedua tangan, hati-hati, seperti takut menemukan luka yang tidak terlihat.
"Anakku, apa yang terjadi?"
Yola menelan ludah. Ia bisa menahan tatapan tamu, menahan hinaan Celine, bahkan menahan nama janda di grup sosialita. Tetapi di depan Mama Liem yang memanggilnya anakku, rasa sesak itu hampir terlalu besar.
"Aku baik-baik saja, Mama."
Mama menatap pergelangan tangannya.
"Orang yang baik-baik saja tidak pulang dengan tangan seperti itu."
Yola tidak punya jawaban.
Mama menarik napas pelan, lalu tidak memaksa. "Naik dulu. Mandi air hangat. Dokter keluarga akan datang memeriksa pergelangan tanganmu. Setelah itu kamu tidur di kamar Mama kalau kamu takut sendiri."
"Tidak perlu, Ma."
"Ini bukan pertanyaan."
Nada lembut itu lebih sulit ditolak daripada perintah keras.
Yola mengangguk.
Saat ia berbalik, ponsel Pak Wahyu berbunyi. Ia membaca layar, lalu berkata pelan kepada Mama, "Tuan Muda meminta semua staf tidak membicarakan kejadian malam ini. Liem Group akan mengeluarkan pernyataan resmi sebelum pagi."
Mama Liem memejamkan mata sejenak.
"Rayhan pulang?"
"Belum, Ma. Beliau masih mengurus Hendra Tan."
Nama Hendra membuat ruangan terasa lebih dingin.
Yola naik ke kamarnya dengan Sari. Dokter keluarga datang tidak lama kemudian, memeriksa pergelangan tangannya, memastikan tidak ada tulang yang retak, hanya memar dan kemerahan akibat tarikan keras. Ia diberi salep dingin dan obat pereda nyeri ringan.
Setelah semua orang keluar, kamar itu akhirnya sunyi.
Yola berdiri di depan cermin.
Dress ivory itu sudah kusut. Rambutnya lepas. Di bahunya, jas Rayhan masih tergantung seperti bukti lain yang tidak tahu harus ia letakkan di mana.
Ia melepasnya pelan-pelan.
Aroma kopi hitam tipis masih tertinggal.
Yola meletakkan jas itu di sandaran kursi, lalu segera menyesal karena kursi itu tampak terlalu dekat dengan tempat tidurnya.
Ia mengambilnya lagi.
Lalu berhenti.
Di luar jendela, taman belakang mansion gelap, hanya kolam kecil yang memantulkan lampu kuning. Angin malam bergerak di antara daun, membawa sisa hujan yang belum turun.
Yola tidak ingin berada di kamar.
Tidak dengan ponsel yang terus menyimpan pesan.
Tidak dengan jas Rayhan yang membuatnya ingat ia dilindungi, sekaligus membuat semua orang bertanya kenapa ia dilindungi seperti itu.
Ia keluar tanpa membangunkan Sari yang tertidur di kursi luar kamar.
Tangga mansion sunyi. Beberapa lampu sudah diredupkan. Dari ruang keluarga kecil, suara Mama Liem tidak terdengar lagi. Mungkin akhirnya beliau beristirahat.
Yola berjalan ke taman belakang.
Udara malam menyentuh kulitnya yang baru diberi salep dingin. Di dekat kolam, ia berhenti, menatap air yang hampir tidak bergerak.
Untuk beberapa detik, ia pikir ia sendirian.
Lalu suara langkah terdengar dari sisi gelap taman.
Yola menoleh.
Rayhan berdiri di dekat kolam.
up lagi, Author. banyak-banyak!😅