Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 # Awal dari kisah
Suara deru mesin mobil terdengar memasuki halaman rumah keluarga papi Leo, Queena baru saja memarkirkan mobil Arlo di sana.
“Hiih! Enak banget sih manusia satu ini, nyuruh aku nyetir. Dia malah enak tidur,” gerutu Queena.
Arlo tertidur sejak dari warung mie ayam tadi, bahkan dia tidak terusik saat Queena menyalakan music. Hingga Queena sampai di rumah, Arlo belum juga bangun.
Queena tersenyum smirk, sepertinya dia punya ide yang lebih bagus untuk membuat Arlo bangun. Sekarang gantian aku yang ngerjain kamu.
Queena melepaskan sabuk pengamannya, dia membuka pintu mobil dan turun dengan perlahan.
Blugh
“Queennn!” pekik Arlo dari dalam mobil, dia akhirnya bangun karena terkejut saat Queena menutup pintu mobil dengan keras.
Queena terkikik mendengar teriakan kekesalan dari Arlo. Queena bergegas pergi sebelum mendapat amukan dari Arlo.
“Awas kamu, Queen!” teriaknya lagi setelah turun dari mobil, Arlo mempercepat langkah kakinya. Dia mengejar Queena yang sudah lebih dulu pergi dengan langkah seribunya.
Arlo tiba-tiba berhenti, dia tidak lagi mengejar Queena. Arlo berbalik arah, dia hendak kembali untuk mengambil tasnya yang masih tertinggal di mobil.
“Arloo!!! Dasar manusia red flag,” pekik Queena dari pintu gerbang, gadis itu menghentakkan kakinya ke tanah karena kesal. Barusan dia mendapatkan notifikasi pesan masuk dari sang papa, rupanya Arlo memberitahu papa Rega kalau Queena yang menyetir saat mereka pulang.
Arlo tergelak, dia puas setelah melihat wajah Queena memerah karena marah. Seharian ini sudah tiga kali dia membuat putri papa Rega tersebut tantrum, dan itu membuat Arlo makin bersemangat. Melihat sendiri Queena tantrum seperti dopamine bagi Arlo.
“Siang mi-mom cantik,” Arlo memeluk mi-mom Hana dari samping.
Pletak
“Sssh… sakit, mom.” Arlo mengusap kepalanya yang mendapat satu jitakan dari mi-mom Hana.
“Kamu apain lagi itu Ueena? Sampai teriak begitu,” mi-mom Hana sampai bisa mendengar teriakan Queena tadi karena saking kencangnya.
Arlo hanya mengangkat kedua bahunya. “Arlo ke kamar dulu, mom. Gerah, mau ngadem.” Kakak dari Aqila itu langsung kabur dari mi-momnya, dia tidak mau mendapat omelan dari mi-mom Hana.
Mi-mom Hana hanya bisa menggeleng.
“Berdua di nikahkan saja, bu. Pasti akur nanti den Arlo sama non Ueena,” sahut bi Tini.
Mi-mom Hana menoleh. “Iya juga ya, bi. Kalau berantem biar saja mereka kita kurung di kamar,”
Bi Tini terkekeh, ada saja pemikiran nyonyanya itu.
Berbeda dengan Arlo yang tersenyum lebar, Queena justru masih terus menggerutu sepanjang jalan menuju rumahnya yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumah Arlo dan Rafa. Bahkan hingga gadis itu masuk ke dalam rumah, dia masih mengoceh tak jelas.
“Emang dasar manusia red flag. Dia pikir aku ini apa? Bisa-bisanya bilang tujuan hidupnya ngebuat aku kesal, ini sih bukan kesal lagi…hampir gi la akunya,” Queena menggerutu.
Bi Yuyun sampai melongo di buatnya, bukan hanya bi Yuyun saja…karena Dean juga mengamati tingkah sang kakak. Dean sudah mengamati sang kakak sejak Queena masuk ke ruang keluarga hingga kakak perempuan satu-satunya itu naik ke kamarnya yang ada di lantai atas. Bi Yuyun dan Dean layaknya umbi-umbian di dalam tanah yang tak terlihat keberadaaannya di mata Queena, hingga gadis itu melewati keduanya tanpa menyapa.
“Kakak kenapa, bi Uyun?” tanya Dean pada asisten rumah tangga yang sudah sejak Queena belum lahir bekerja di rumah tersebut.
“Paling habis bertengkar lagi sama mas Arlo,” jawab bi Yuyun.
Dean manggut-manggut. “Bisa jadi sih, bi. Kodam kak Ueena itu kan hanya bisa muncul kalau lagi sama bang Arlo,”
Bi Yuyun tertawa. “Mas Dean ini bisa saja,” bi Yuyun meninggalkan Dean yang kembali asik menonton TV sambil makan camilan.
***
Arlo baru saja duduk di kursi singgasananya saat ponselnya berdering, dia melirik sekilas nama kontak yang tertera pada layar ponselnya.
Bang Gavin memanggil…
“Ck…pasti ada maunya,” gerutunya saat nama sepupunya muncul pada layar, Arlo sebenarnya malas. Namun dia kasihan juga pada sepupunya tersebut, apalagi kalau ingat si bocil Azura minta bayaran satu minimarket plus isi dan pegawainya.
“Ada apa, bang? Mau mengajakku ke rumah Queen, lagi?”
“Tidak. Aku hanya mau minta kontak Azura, apa kamu punya?”
“Haist…sama saja itu namanya, bang. Kamu tidak menyuruhku ke rumah Queen, tapi ujung-ujungnya harus tanya pada Queen. Kenapa abang tidak tanya Queen sendiri sih?”
“Ck…aku ini sedang membantumu, bro. Jangan kira kamu bisa membohongi abangmu ini,”
“Siapa yang membohongimu, bang?”
“Jangan kira kalau abang tidak tahu soal kamu suka Ueena,”
“Sembarangan! Itu sih tingkat halumu, bang. Nanti aku mintakan nomor Hp nya Azura,"
Mereka kemudian mengakhiri panggilan telepon, lebih tepatnya Arlo yang memutus lebih dulu. Putra sulung papi Leo tersebut menggerutu karena sang abang.
“Sembarangan ini anak sulung bunda Kia,” kesal Arlo.
Arlo sebenarnya malas ke rumah Queena, pasalnya siang tadi dia baru saja membuat ulah pada Queena. Bukan hanya sekali, melainkan beberapa kali. Sudah bisa di pastikan gadis itu ngambek, kalau sudah begini dia harus membujuk Queena. Hal yang paling Arlo tidak suka adalah membujuk Queena, karena dia tahu pasti kalau Queena akan memanfaatkan hal tersebut untuk balik mengerjai Arlo.
“Beneran nyusahin ini anak ayah Arka dan bunda Kia,” gerutunya sambil menyambar hodie dan memakainya.
Meskipun dia kesal karena harus ikut pusing dengan kisah cinta abang sepupunya, namun Arlo tetap membantu Gavin. Mengingat sepupunya tersebut selama ini jomblo, jadi dia berbaik hati untuk membantu putra sulung bunda Kia tersebut agar segera melepas masa lajangnya.
Namun sayangnya Arlo tidak tahu jika apa yang nanti akan dia lakukan justru membawa simalakama untuk dirinya sendiri, kecerobohan yang dia lakukan membawa dampak yang tidak main-main untuk dirinya kelak.
Langkah kaki Arlo terdengar menuruni tangga, di lantai bawah masih ada papi, mi-mom dan Aqila.
“Mau kemana kamu, Arlo?” tanya papi Leo.
“Ke rumah Queen, pi. Keponakan papi yang tercinta itu nyusahin,” gerutu Arlo.
“Alasan. Bilang saja kalau abang mau ketemu kak Ueena,” sahut Aqila yang sedang membuat minuman bersama mi-mom hana di dapur.
“Bocil satu berisik banget,” balas Arlo, kakak beradi tersebut memang suka sekali berdebat. Arlo dan Aqila kadang saling meledek, namun mereka tahu batasan.
“Abang gavin kenapa, sayang?” mi-mom Hana dan Aqila kembali ke ruang keluarga sambil membawa minum dan kudapan malam, mereka berniat nonton film bertiga di sana.
“Abang bikin mbak Aretha ngambek, mom. Aku sam Queen jadi harus ikut turun gunung untuk bantu dia,” jawab Arlo. “Arlo ke rumah Queen dulu mom, pi. Keburu malam, takut di gan tung om Rega. Sahabat papi itu kan galak,” lanjut Arlo, kemudian dia pergi ke rumah Queena setelah pamit pada papi dan mi-momnya.
Papi Leo dan mi-mom Hana terkekeh, papa Rega memang galak kalau soal Queena. Lebih tepatnya tegas, karena Rega tidak mau putrinya tersakiti oleh pria manapun. Dia tidak mau putrinya harus mengalami kejadian yang pernah papa Rega lakukan pada mama Rhea, papanya Queena tersebut pernah membuat hati mama Rhea patah sebelum akhirnya mereka kembali bersatu.
Papi Leo dan mi-mom Hana sebenarnya juga mengetahui tentang masalah keponakan mereka. Papi Leo tahu benar apa yang sedang terjadi diantara Gavin dan Aretha, namun baik dia maupun sang istri tidak ingin ikut campur. Terlebih bunda Kia tidak mengijinkan papi Leo maupun mi-mom Hana membantu Gavin, bunda Kia sedang menghukum Gavin. Dia dan ayah Arka ingin tahu seberapa serius Gavin pada Aretha.
Karena itu, baik papi Leo maupun mi-mom Hana membiarkan putra sulung mereka membantu Gavin. Tanpa mereka sadari, apa yang di lakukan Arlo justru membuat mereka harus mengambil keputusan penting untuk putranya tersebut nantinya.