The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.
Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.
📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita, Kal
Blue Lake jauh lebih luas daripada yang kubayangkan. Kami telah berada di atas kapal selama berjam-jam, tetapi daratan di seberang belum juga terlihat. Evergreen sudah lama hilang dari pandangan, ditelan kabut tipis dan lengkungan dunia. Ke arah mana pun aku melihat, yang tampak hanya permukaan air berwarna biru kelabu, terbentang sampai bertemu langit dalam garis yang hampir tidak dapat dibedakan.
Aku berdiri di sisi kapal dengan kedua tangan bertumpu pada pagar kayu. Angin danau mengembungkan layar di atas kepala, membuat kain tebalnya berderak setiap kali arah hembusan berubah. Tali-tali menegang pada tiang. Lambung kapal membelah air dengan desis panjang dan teratur, meninggalkan jejak buih putih yang perlahan menutup kembali di belakang kami.
Udara di tengah danau lebih dingin daripada di pelabuhan. Angin menembus kemeja dan menyentuh kulit yang masih memar akibat perkelahian semalam. Luka pada bibir terasa kering. Bagian sekitar mata masih berat, tetapi rasa sakit di kepala sudah lebih tumpul dibandingkan pagi tadi.
Aku belum pernah berlayar sebelumnya.
Tidak di atas danau, apalagi di laut.
Seluruh daratan Asterra berada di bawah kekuasaan Izengard. Perjalanan keluarga kerajaan lebih sering dilakukan dengan kereta, kuda, atau kapal kecil di sepanjang sungai dan kanal. Tidak banyak alasan bagi kami untuk menyeberangi Hollow Sea. Kerajaan Kaitin berdiri di seberangnya, dan hubungan kami dengan mereka belum pernah benar-benar pulih setelah perang pada masa pemerintahan kakekku.
Perang itulah yang melahirkan Nightingale.
Aku hanya mengetahui bagian-bagian yang dianggap layak diajarkan kepada seorang pangeran. Kaitin menyerang pelabuhan timur. Kapal-kapal mereka berhasil menembus pertahanan dan mendaratkan tentara di beberapa kota pesisir. Izengard akhirnya memenangkan perang, tetapi kemenangan itu tidak datang hanya melalui pertempuran terbuka. Kakek membentuk sebuah kelompok kecil yang bergerak tanpa lambang, tanpa nama yang dicatat dalam daftar tentara, dan tanpa kehormatan yang diumumkan di hadapan rakyat.
Mereka menyusup, membunuh para pemimpin, menghancurkan barisan musuh dari kegelapan, dan membuat musuh saling mencurigai.
Nightingale.
Nama itu selalu terdengar seperti sesuatu dari lagu anak-anak. Seekor burung kecil yang bernyanyi dalam gelap. Namun setiap kali melihat Marlow memegang pedang, aku semakin memahami mengapa kelompok itu tidak pernah dibicarakan secara terbuka di istana.
Aku memandang permukaan air di bawah kapal. Bayanganku bergerak di sana, terpotong riak dan buih. Wajah itu tidak lagi menyerupai pangeran dalam lukisan kerajaan. Rambutnya berantakan. Satu mata membengkak. Bibir pecah. Kulit menggelap oleh matahari dan perjalanan. Bila kapten kapal melihatku dari jauh, ia mungkin hanya melihat pemuda miskin yang baru kalah dalam perkelahian pelabuhan.
Angin membawa ingatanku kembali ke Gisa. Bukan Gisa yang kudatangi untuk mencari Marlow. Aku mengingat Gisa saat masih kecil, ketika datang bersama Dad, Mom, dan Cecil dalam kunjungan kerajaan.
Aku tidak tahu apa yang Dad lakukan di sana. Mungkin bertemu dewan kota, memeriksa kanal, atau menyelesaikan perselisihan perdagangan. Saat itu urusan seperti itu hanya terdengar sebagai rangkaian kata panjang yang keluar dari mulut orang dewasa.
Yang kuingat justru perahunya. Perahu kecil dengan tempat duduk berlapis kain biru, bergerak perlahan di antara bangunan-bangunan batu yang berdiri rapat di sepanjang kanal. Jembatan melengkung melintas di atas kepala. Orang-orang melambai dari jendela dan trotoar, sementara para penjaga mengikuti kami menggunakan perahu lain beberapa panjang di belakang.
Cecil duduk di sampingku. Kakinya belum menyentuh lantai, sehingga ia terus mengayunkannya dan membuat sepatu kecilnya membentur sisi kursi. Ia mencondongkan tubuh setiap kali melihat ikan di dalam air, lalu memanggilku dengan suara terlalu keras agar aku ikut melihat.
Mom terus menarik bagian belakang mantelku, mungkin, aku tidak lagi mengingat pakaian apa yang kukenakan saat itu. Mom menyuruhku berhenti bergerak.
Aku ingat tertawa ketika mengatakan bahwa aku bisa berenang.
Mom menjawab bahwa kemampuan berenang tidak berarti aku harus menguji kanal Gisa yang dipenuhi lumpur, sisa makanan, dan kemungkinan bangkai tikus.
Cecil tertawa begitu keras sampai hampir jatuh dari tempat duduknya sendiri.
Ingatan itu begitu jelas sehingga untuk sesaat aku dapat mendengar tawanya di antara bunyi layar dan air. Ketika mencoba mempertahankannya, gambar tersebut mulai pecah. Aku tidak dapat lagi mengingat warna gaun Mom, wajah orang yang mengemudikan perahu, atau apakah Dad duduk bersama kami sepanjang perjalanan.
Yang tersisa hanya suaranya.
Aku terlalu tenggelam dalam pikiran sampai tidak menyadari seseorang berdiri di sampingku.
Ishar tidak terlalu dekat. Ada jarak satu lengan di antara kami, cukup agar pakaian kami tidak bersentuhan ketika kapal bergoyang. Kedua tangannya bertumpu pada pagar. Gaun biru yang diberikan istri pemilik penginapan bergerak diterpa angin, sementara beberapa helai rambut pirang telah terlepas dari sanggul dan menempel pada pipinya.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”
Suaranya hampir tenggelam oleh angin.
Aku memandang kembali ke danau.
“Keluargaku.”
Jawabanku keluar lebih pendek daripada yang kumaksudkan. Ishar tidak menuntut penjelasan. Ia hanya menatap air beberapa saat, seolah memahami bahwa ada kenangan yang akan rusak bila dipaksa keluar terlalu banyak.
“Aku turut prihatin.”
Kata-kata itu sederhana. Tidak cukup untuk menyentuh seluruh kehilangan yang kubawa, tetapi juga tidak berusaha melakukannya.
“Terima kasih.”
Ishar mengangkat tangan untuk menahan rambut yang terus ditiup ke wajah. Ia menyelipkan beberapa helai ke belakang telinga, tetapi angin segera menariknya keluar kembali. Setelah dua kali mencoba, ia menyerah dan membiarkannya bergerak.
Kami berdiri tanpa bicara.
Dari bagian tengah kapal terdengar awak menggeser sebuah peti. Kayu bergesekan dengan geladak, disusul teguran kapten agar tali diperiksa kembali. Marlow berada dekat buritan, berbicara dengan salah seorang awak tentang arah angin. Dari sikap tubuhnya, aku menduga ia sebenarnya sedang berusaha mengetahui seberapa lama perjalanan dan apakah ada pos pemeriksaan di Kirren.
Ishar menarik napas panjang.
“Aku tidak tahu kenapa aku tetap mengikuti kalian.”
Aku menoleh.
Ia masih memandang ke depan, bukan kepadaku.
“Aku bisa tinggal di Evergreen bersama Ella.”
“Ella?”
“Istri pemilik penginapan.”
Nama itu terasa asing hanya karena aku belum pernah mendengarnya disebut semalam. Bagiku ia hanya wanita tua yang memberi Ishar pakaian dan makanan. Bagi Ishar, satu malam rupanya cukup untuk mengingat namanya.
“Dia menyukaimu.”
Ishar mengangguk kecil. “Dia mengatakan aku bisa bekerja di dapur kalau ingin tinggal. Membantu membersihkan kamar dan menyajikan makanan.”
Aku membayangkannya di Lakeview Inn, memakai gaun biru itu setiap hari, membawa nampan di antara meja-meja berbentuk tong. Ia mungkin akan dikenal para nelayan, belajar nama-nama kapal, dan perlahan menjadi bagian dari Evergreen. Tempat itu bukan Arlenville, tetapi setidaknya memiliki rumah, pekerjaan, dan seseorang yang bersedia memperlakukannya seperti anak sendiri.
Kehidupan seperti itu jauh lebih aman daripada berjalan bersama kami.
“Kau mengatakan kepadanya bahwa aku kakakmu,” kataku.
Sudut bibir Ishar bergerak sangat sedikit.
“Kau mengatakan kepadaku bahwa namamu Kal Primm.”
Aku tidak dapat membantah.
“Cukup adil.”
Keheningan kembali jatuh. Kali ini tidak setegang sebelumnya. Ishar tetap menyimpan jarak, tetapi keberadaannya di sampingku tidak lagi terasa seperti kesalahan yang sebentar lagi akan ia sesali.
Aku ingin bertanya mengapa ia tidak tinggal bersama Ella. Namun aku takut jawabannya hanya karena para tentara dapat menemukannya di Evergreen. Atau karena ia tidak mampu tinggal di satu tempat sementara jasad Rosh masih terbaring tanpa pemakaman di rumah Danmer.
Mungkin ia sendiri tidak mengetahui jawabannya.
Blue Lake bergerak di bawah kami. Sesekali seekor burung air terbang rendah di atas permukaan, sayapnya hampir menyentuh air sebelum kembali naik. Tidak ada daratan, tidak ada bangunan, tidak ada apa pun yang memberi ukuran pada luasnya danau.
“Apa yang akan kau lakukan kepada Dann kalau waktunya tiba?” tanya Ishar.
Pertanyaannya diucapkan tenang, tetapi membuat kedua tanganku mengeras pada pagar.
Aku sudah memikirkan jawaban itu setiap malam sejak meninggalkan istana.
“Aku akan membunuhnya dan merebut kembali apa yang menjadi milikku.”
Kata-kata tersebut keluar tanpa keraguan.
Ishar terkekeh kecil. Bukan tawa bahagia. Hanya satu embusan napas pendek yang mengandung sesuatu di antara ketidakpercayaan dan kelelahan.
Aku memandangnya. “Apa?”
“Kau terlalu optimis.”
“Aku tidak mengatakan itu akan mudah.”
“Kau mengatakan akan membunuh seorang raja dan mengambil kembali kerajaannya seperti sedang menjelaskan rencana untuk membeli roti.”
Aku menegakkan tubuh. “Dann bukan raja.”
“Dia memakai mahkota, memerintah tentara, dan namamu diumumkan sebagai buronan. Itu cukup dekat.”
Aku tidak menyukai cara ia mengucapkan kebenaran tersebut. Namun aku juga tidak menemukan bantahan yang berarti.
“Aku punya Marlow.”
Ishar melirik ke arah buritan. Marlow sedang berdiri dengan satu tangan pada tali, mendengarkan awak yang menunjuk ke arah barat.
“Seorang pria.”
“Seorang Nightingale.”
“Masih seorang pria.”
Aku mengembuskan napas. “Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan kepadaku ketika kami tiba di Dark Mountain. Melatihku, mempertemukanku dengan seseorang, atau mengurungku di dalam gua sampai Dann meninggal karena usia tua.”
“Dia mungkin mempertimbangkan pilihan terakhir setelah melihatmu berkelahi di penginapan.”
Aku menatapnya. Kali ini sudut bibirnya benar-benar terangkat, meski hanya sedikit.
“Aku serius.”
“Aku juga.”
Senyum itu hilang perlahan. Ishar mengembalikan pandangan kepada danau, lalu merapatkan kedua lengan ke tubuh karena angin.
"Setelah kami-"
“Kita, Kal.", Ishar memotong kata-kataku.
Aku tidak langsung memahami.
Ia menoleh kepadaku.
“Kita akan tiba di Dark Mountain. Bukan hanya kau dan Marlow.”
Aku merasakan sesuatu bergerak di dalam dada. Kecil, tetapi cukup kuat untuk membuat napasku berubah.
“Kau tidak harus melakukannya.”
“Aku tahu.”
“Perjalanan ini akan semakin berbahaya. Dann mungkin tidak tahu siapa dirimu sekarang, tetapi dia akan tahu kalau kau terus bersama kami.”
Ishar tidak menjawab dengan segera. Ia melihat ke belakang, ke arah Evergreen yang sudah lama hilang dari pandangan, lalu ke air di depan.
“Kau pikir aku akan membiarkanmu membunuh Dann sendirian?”
Senyum tipis muncul di wajahnya, tetapi kesedihan di matanya membuat senyum itu terasa rapuh.
“Aku juga menginginkannya.”
Aku mengerti tanpa perlu bertanya apa yang dimaksudnya.
Dann tidak mengayunkan senjata yang membunuh Rosh. Ia mungkin bahkan tidak mengetahui nama pria tua dari Arlenville itu. Namun para tentara datang membawa perintahnya, memakai lambangnya, dan menggunakan mahkota yang direbutnya sebagai alasan untuk memasuki rumah Danmer.
Kematian Rosh kini terikat pada kematian Dad, Mom, dan Cecil dalam satu nama.
Dann Valdyr.
Aku mengangguk.
Tidak ada sumpah di antara kami. Tidak ada tangan yang digenggam atau janji agung di bawah langit. Hanya satu anggukan kecil di atas kapal barang yang bergerak menyeberangi danau tanpa batas.
Namun untuk pertama kalinya sejak Ishar ikut bersama kami, aku tidak merasa ia sekadar melarikan diri dari sesuatu.
Ia mulai berjalan menuju sesuatu.
Ishar mengembuskan napas panjang, lalu melepaskan tangannya dari pagar. Ia merapikan gaun pada pinggang dan mencoba sekali lagi menahan rambut yang diterbangkan angin.
“Aku akan kembali membantu menyiapkan makan siang.”
Aku melihat ke arah beberapa awak yang sedang membuka peti dan mengeluarkan panci.
“Sejak kapan kau bekerja untuk mereka?”
“Sejak mereka membiarkan kita menumpang tanpa melempar Marlow ke danau.”
Aku hampir tertawa. “Kupikir Marlow yang akan melempar kaptennya.”
“Itulah sebabnya aku merasa harus membantu.”
Ishar berbalik, lalu berhenti sebelum mengambil langkah pertama.
“Setidaknya itu yang bisa kulakukan untuk kru kapal.”
Ia berjalan menuju bagian tengah geladak. Aku memandang punggungnya sampai salah seorang awak memberikan sebuah pisau dan sekeranjang kentang kepadanya. Ishar duduk di atas peti terbalik dan mulai mengupasnya, mendengarkan perempuan tua dari kru menjelaskan sesuatu tentang panci yang digunakan.
Angin masih bertiup. Layar masih penuh. Blue Lake masih membentang tanpa ujung.
Namun danau itu tidak lagi terasa sepenuhnya kosong.