NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: KELAS TAMBAHAN JAM MALAM

Papan pengumuman digital di lobi Fakultas Ekonomi menampilkan jadwal baru yang membuat seisi kelas ribut sejak pagi. Kirana berdiri di depan layar itu bersama Tesa, membaca ulang tulisan yang terpampang untuk memastikan dia tidak salah lihat.

"KELAS TAMBAHAN: Manajemen Strategis, Kamis pukul 19.00, Ruang 301, Wajib hadir bagi seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini."

"Serius nih, jam tujuh malam?" Kirana mengernyit, menatap layar dengan tidak percaya. "Kirain cuma buat kelompok yang tugas tambahan doang."

"Kayaknya semua kelas kena, Kir," Tesa menunjuk keterangan di bawah pengumuman. "Katanya sih ada materi tambahan yang harus dikejar sebelum UTS."

"Duh, malem malem gitu, pulangnya jam berapa dong?" keluh Kirana, membayangkan jalanan sepi menuju kosnya kalau kelas baru selesai jam sembilan atau sepuluh malam.

"Ya udah, kita bareng bareng aja pulangnya," Tesa merangkul bahu Kirana, mencoba menenangkan. "Lagian kelasnya cuma seminggu sekali kok, bukan tiap hari."

Kirana mengangguk pelan, meski dalam hati masih ada rasa was was. Dia teringat cerita cerita senior soal area kampus yang mulai sepi begitu malam tiba, ditambah lagi lampu jalan di sekitar gedung fakultas yang beberapa titik memang agak redup.

Kamis malam tiba lebih cepat dari yang Kirana bayangkan. Dia berangkat dari kos bersama Tesa, keduanya berjalan kaki menembus udara malam yang mulai terasa dingin, langkah mereka bergema di trotoar yang mulai lengang.

"Tes, kamu bawa jaket kan? Kok aku lupa bawa," Kirana menggosok gosok kedua lengannya, merasakan angin malam yang lebih dingin dari perkiraan.

"Nih, pake punyaku aja," Tesa melepas jaketnya, menyerahkan ke Kirana. "Aku pake sweater masih anget kok."

"Makasih, Tes," Kirana tersenyum, langsung mengenakan jaket itu.

Sampai di gedung fakultas, suasana memang terasa berbeda dari siang hari. Koridor yang biasanya ramai kini sepi, hanya beberapa lampu yang menyala, menciptakan bayangan panjang di sepanjang lorong. Suara langkah kaki mereka terdengar lebih jelas dari biasanya, memantul di dinding yang kosong.

"Serem juga ya malem malem gini," bisik Tesa, mendekat ke arah Kirana.

"Iya, untung rame rame," Kirana mengangguk setuju, mempercepat langkah menuju ruang 301.

Ruang kelas sudah cukup terisi ketika mereka masuk, meski tidak sepenuh kelas siang biasanya. Beberapa mahasiswa terlihat mengantuk, ada yang menyeruput kopi dari termos yang mereka bawa sendiri, bersiap menghadapi kelas tambahan yang diperkirakan akan panjang.

Tepat pukul tujuh, Alden masuk ruangan, membawa map seperti biasa. Tapi kali ini, penampilannya sedikit berbeda, kemeja putihnya tidak lagi terlihat serapi biasanya, dan ada bayangan tipis kelelahan di bawah matanya.

"Selamat malam," sapanya singkat, langsung menyalakan proyektor. "Kita akan bahas materi tambahan yang belum sempat kita selesaikan minggu lalu. Ini penting untuk persiapan UTS kalian."

"Pak, kenapa harus malem sih? Kan bisa siang," celetuk salah satu mahasiswa di barisan depan, cukup berani untuk bertanya langsung.

"Karena jadwal ruangan siang penuh, dan materi ini tidak bisa ditunda lagi," jawab Alden, nadanya tetap datar meski terdengar sedikit lelah. "Kalau ada yang keberatan, silakan bicara ke bagian akademik, bukan ke saya."

Tidak ada yang berani protes lebih lanjut setelah itu. Alden melanjutkan penjelasan materi tentang manajemen risiko lanjutan, suaranya tetap tegas meski sesekali dia berhenti sejenak, seperti menahan rasa lelah yang mulai menumpuk.

Kirana memperhatikan dari bangkunya, mencatat sambil sesekali melirik ke depan. Ada sesuatu yang berbeda malam ini, cara Alden bicara sedikit lebih pelan, gerakannya tidak seenergik biasanya.

"Kir, kamu ngeliatin Pak Alden mulu dari tadi," bisik Tesa, menyenggol lengannya.

"Nggak kok," Kirana buru buru mengalihkan pandangan, meski matanya tetap sesekali kembali ke depan kelas. "Cuma... dia keliatan capek banget malam ini."

"Ya iyalah, kerja seharian terus lanjut ngajar malem, siapa juga yang nggak capek," Tesa menjawab santai.

Kelas berlangsung hampir dua jam, jauh lebih lama dari perkiraan awal. Ketika akhirnya Alden mengumumkan kelas selesai, jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih.

"Terima kasih atas kehadirannya. Hati hati di jalan," kata Alden sebelum merapikan berkasnya, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.

Mahasiswa mulai berhamburan keluar ruangan, sebagian besar terlihat lega akhirnya bisa pulang. Kirana dan Tesa juga bersiap keluar, tapi baru beberapa langkah, ponsel Tesa berdering.

"Kir, bentar ya, mama telepon," Tesa mengangkat panggilan itu, berjalan sedikit menjauh untuk bicara.

Kirana menunggu di dekat pintu kelas, melihat sekeliling koridor yang sudah semakin sepi. Dari sudut matanya, dia melihat Alden masih di dalam ruangan, merapikan kabel proyektor sendirian.

"Butuh bantuan, Pak?" tanya Kirana, memberanikan diri masuk kembali ke dalam kelas.

Alden mendongak, sedikit terkejut melihat Kirana masih ada di situ. "Kamu belum pulang?"

"Belum, Pak, lagi nunggu Tesa yang lagi telepon," jelas Kirana, melangkah mendekat.

"Saya bantuin ya, kelihatannya kabelnya kusut."

"Nggak usah repot repot," Alden mencoba menolak, meski gerakannya terlihat kikuk mencoba melepas kabel yang memang cukup kusut.

"Nggak repot kok, Pak. Lagian nunggu Tesa juga masih lama," Kirana sudah lebih dulu berjongkok, membantu mengurai kabel yang tersangkut di kaki meja proyektor.

Mereka berdua bekerja dalam diam beberapa saat, jarak di antara mereka cukup dekat karena harus berbagi ruang di sekitar meja yang sama. Kirana bisa mendengar embusan napas Alden yang terdengar lebih berat dari biasanya.

"Pak Alden capek banget ya kelihatannya," Kirana akhirnya bersuara, memecah keheningan.

"Hari ini memang cukup panjang," jawab Alden singkat, tidak menjelaskan lebih detail.

"Kalau boleh tau, dari pagi ngapain aja, Pak? Kok sampe kecapean gitu," tanya Kirana, penasaran meski tetap menjaga sopan santun dalam bertanya.

Alden diam sejenak, seperti mempertimbangkan apakah akan menjawab atau tidak. "Rapat fakultas dari pagi, terus lanjut bimbingan skripsi beberapa mahasiswa tingkat akhir, baru sekarang ngajar kalian."

"Wah, seharian penuh ya, Pak," Kirana bergumam, kagum sekaligus prihatin. "Kok kuat sih Bapak sampe malem gini."

"Harus kuat," jawab Alden pendek, nadanya terdengar sedikit lelah tapi juga menyimpan ketegasan yang biasa. "Tanggung jawab nggak bisa ditawar cuma karena capek."

Kirana menatapnya sejenak, ada sesuatu di balik kalimat itu yang terasa lebih dalam dari sekadar penjelasan biasa. "Pak Alden emang orangnya kayak gitu ya, nggak suka ngeluh."

"Ngeluh nggak akan nyelesain masalah," jawab Alden singkat, akhirnya berhasil melepas kabel yang tadi kusut. "Terima kasih bantuannya."

"Sama sama, Pak," Kirana tersenyum, berdiri kembali sambil merapikan roknya.

Mereka berdua berjalan keluar ruangan bersamaan, tepat ketika Tesa selesai menelepon dan kembali menghampiri mereka.

"Eh, Pak Alden," Tesa sedikit terkejut melihat dosennya juga baru keluar dari ruangan bersamaan dengan Kirana. "Kirana bantuin apa, Pak?"

"Ngerapiin kabel proyektor," jawab Alden singkat, lalu melirik jam tangannya. "Kalian pulang jalan kaki?"

"Iya, Pak, kos kami deket kok," jawab Kirana.

Alden terdiam sejenak, seperti mempertimbangkan sesuatu. "Malam ini sudah cukup larut. Hati hati di jalan, jangan lewat gang yang sepi."

"Siap, Pak, makasih perhatiannya," Kirana tersenyum, meski dalam hati sedikit terkejut mendengar perhatian sekecil itu keluar dari mulut dosen yang biasanya kaku.

Alden mengangguk singkat, lalu berjalan menuju arah parkiran dosen, meninggalkan Kirana dan Tesa yang masih berdiri di depan gedung fakultas.

"Kir," Tesa langsung menarik lengan Kirana begitu Alden sudah cukup jauh, matanya membelalak penuh semangat, "kamu bantuin dia ngerapiin kabel? Berduaan doang di kelas?"

"Ya cuma sebentar doang kok, Tes, nggak ada apa apa," Kirana menjelaskan, meski wajahnya mulai terasa hangat mengingat kejadian barusan.

"Terus tadi dia nyuruh kita hati hati di jalan segala. Itu perhatian banget, Kir," Tesa masih tidak bisa menahan senyum lebarnya.

"Ya namanya juga dosen, wajar kali kalo perhatian sama keselamatan muridnya,"

Kirana mencoba beralasan, meski dalam hati dia sendiri tahu ada sesuatu yang berbeda dari cara Alden bicara tadi.

Mereka mulai berjalan pulang, menyusuri trotoar yang mulai lengang, udara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Kirana masih memikirkan percakapan singkat tadi, cara Alden bicara soal tanggung jawab yang tidak bisa ditawar meski dalam keadaan lelah, dan cara dia mengingatkan mereka untuk berhati hati sebelum benar benar pergi.

"Kenapa sih dia jadi keliatan beda banget kalau lagi kayak gini," gumam Kirana pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

"Beda gimana maksudnya?" Tesa menoleh, penasaran.

"Nggak tau, kayak... lebih manusiawi aja gitu. Bukan cuma dosen killer yang galak di kelas," jelas Kirana, mencoba merangkai kata yang tepat untuk perasaan yang sulit dia definisikan.

"Itu namanya kamu mulai liat sisi lain dari dia, Kir," Tesa merangkul bahu sahabatnya. "Dan biasanya, kalau udah mulai keliatan sisi lain kayak gitu, di situ lah perasaan mulai tumbuh beneran."

Kirana tidak menjawab, hanya menghela napas panjang sambil menatap langit malam yang dipenuhi bintang samar samar di antara cahaya lampu kota. Dalam hati, dia mulai mengakui, sedikit demi sedikit, bahwa apa yang dia rasakan terhadap Alden bukan lagi sekadar kekaguman biasa terhadap seorang dosen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!