Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab²
Davina yang berdiri di samping Erwin terkekeh pelan. "Naura, jangan bermimpi deh! Mas Erwin punya kekuasaan, uang, dan pengacara terbaik. Menurutmu, siapa yang akan dipercaya hakim? Seorang miliarder... atau ibu rumah tangga yang bahkan tidak punya penghasilan?"
Tak sampai disana, Davina bahkan tersenyum mengejek. “Lagian, mikir aja sih! Kenapa kau sampai dicerai Mas Erwin. Lihat tubuhmu itu, perutmu bergelambir dipenuhi lemak dari kepala sampai kaki. Lemakmu bahkan tidak muat lagi ditutupi pakaian. Sekali melihatmu saja sudah membuat orang kehilangan selera makan. Kau benar-benar menjijikkan, Naura! Aku saja muak melihatmu, apalagi Mas Erwin yang harus berhadapan denganmu setiap hari."
Naura seketika menatap Davina, tatapannya sedingin es hingga senyum penuh kemenangan di wajah wanita pelakor itu perlahan menghilang.
"Yang sebenarnya kau banggakan apa, Davina? Wajah yang sudah dirombak habis-habisan? Matamu, hidungmu, bibirmu, dagumu... semuanya hasil operasi. Payudaramu pun hanya silikon. Dari kepala sampai kaki, nyaris tak ada yang benar-benar milikmu." Suara Naura tenang, tetapi setiap katanya menusuk.
"Mas..." Davina langsung merapat ke sisi Erwin dengan wajah memelas, merengek dengan wajah manjanya.
Namun Naura tak memberi pria itu kesempatan, tatapan dinginnya beralih pada Erwin. "Dan kau, Mas? Demi wanita palsu seperti ini, kau menghancurkan rumah tangga kita? Kau meninggalkan yang asli demi yang serba buatan."
Senyum Naura tipis, penuh sindiran. "Memang... tubuhku gemuk. Wajahku tak lagi secantik dulu, tapi semua yang ada padaku asli. Kulitku tidak diputihkan dengan suntikan, dan wajahku tidak dipahat oleh dokter. Tubuhku tidak diisi silikon, berbeda dengan wanita yang sekarang kau pilih ini."
Erwin terpaku, mulutnya terbuka tetapi tak satu kata pun keluar. Ia nyaris tak mengenali Naura yang selama ini selalu lembut dan memilih diam, kini menghina orang lain secara blak-blakan.
Tanpa menunggu tanggapan, Naura berbalik menuju kamar. Langkahnya mantap, kepalanya tegak. Ia membuka lemari, lalu memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper kecil. Tak satu pun perhiasan pemberian Erwin disentuhnya. Ia hanya membawa pakaian, dokumen pribadinya, dan sebuah album foto yang berisi kenangan bersama kedua anaknya.
Sebelum keluar dari kamar, pandangannya sempat berhenti pada foto keluarga yang terpajang di atas nakas. Di foto itu, mereka tampak begitu bahagia.
Naura tersenyum tipis. "Ternyata... hanya aku yang menganggap semua ini nyata."
Ia mengangkat kopernya, lalu melangkah keluar. Sesampainya di ruang tamu, ia berhenti sejenak di depan Erwin.
"Mulai hari ini, aku memang bukan lagi istrimu. Tapi ingat baik-baik, aku akan kembali. Aku tidak akan datang untuk mendapatkanmu kembali, aku datang untuk merebut kedua anakku. Dan saat itu, tidak ada yang bisa menghentikanku!"
Erwin tersenyum meremehkan. "Aku tunggu kalau memang kau mampu!“
Naura tersenyum tipis, tatapannya sengaja meluncur ke arah bawah tubuh Erwin sebelum kembali menatap Davina.
"Davina, apa dia pernah bilang kalau beberapa tahun lalu dia bahkan kesulitan memuaskan istrinya sendiri? Apa kau tahu... pria yang kau banggakan ini, dulu bahkan punya masalah ejakulasi dini? Kalau bukan karena aku yang mencari dan meracik obat herbal, mungkin sampai sekarang kondisinya tak akan membaik." Bibirnya melengkung penuh ejekan.
Wajah Erwin seketika pucat. "Naura!"
Namun Naura tak menggubris bentakan Erwin. "Selama ini hanya aku yang tahu ramuan herbal yang membuat kondisinya membaik. Aku yang mencari bahannya, aku yang merebusnya setiap hari. Wanita sepertimu mana mungkin tahu."
Davina menoleh pada Erwin dengan mata membelalak, sementara pria itu hanya mampu mengatupkan rahangnya.
"Sayang sekali, mulai hari ini aku berhenti meraciknya. Kalau nanti kondisinya kembali seperti dulu, jangan salahkan aku. Anggap saja itu bonus perpisahan untuk kalian berdua, semoga bahagia. Jika dipikirkan, kalian berdua benar-benar cocok. Wanita palsu berdampingan dengan pria... yang selama ini harus bergantung pada istrinya agar tetap bisa memuaskan wanita."
Naura terkekeh pelan, tak ada lagi air mata atau luka di wajahnya. Yang tersisa hanya kepuasan karena akhirnya Erwin merasakan betapa memalukannya sebuah rahasia ketika dibuka di depan orang lain.
Naura tidak bicara apapun lagi, Ia melangkah keluar dari rumah tanpa menoleh sedikit pun. Begitu pintu tertutup di belakangnya, ponsel di dalam tasnya berdering. Nama yang telah delapan tahun tak pernah muncul kini memenuhi layar, Kakek.
Naura mengangkat panggilan itu.
"Naura." Suara pria tua di seberang terdengar penuh wibawa. "Sudah cukup kau hidup sebagai istri keluarga Gentala, kembalilah. Kakek menunggumu mengambil kembali, tempat yang seharusnya menjadi milikmu."
Naura menoleh sekali ke arah rumah yang baru saja meninggalkannya, tatapannya berubah tajam.
"Baik, Kek. Kali ini... aku akan pulang."
Erwin tak menyadari bahwa wanita yang baru saja mereka usir, adalah pewaris tunggal keluarga konglomerat yang nilainya berkali-kali lipat lebih besar daripada seluruh aset keluarga Gentala.
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂