NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Malam kian larut di Desa Klawitan, sebuah wilayah pesisir di selatan Mataram yang berbatasan langsung dengan deru ombak Samudra Hindia dan angkuhnya Pegunungan Sewu. Alam yang keras, gersang, dan penuh batu karang di wilayah ini telah lama menitiskan watak yang sama kerasnya pada manusia-manusia yang hidup di sana.

Di tengah lingkaran alam yang kejam itu, kediaman Ki Japat berdiri angker bagai benteng kecil. Sebagai sodagar terkaya di Klawitan, ia paham betul bahwa tumpukan hartanya adalah magnet bagi maut. Oleh karena itu, rumahnya dijaga oleh barisan centeng pilihan yang terkenal garang. Namun malam ini, keangkuhan benteng itu perlahan runtuh bersama kabut tipis yang turun dari lereng bukit.

Di halaman luar, suasana begitu sunyi. Lima orang penjaga bertubuh kekar berjaga di titik-titik gelap. Mereka mengira kegelapan malam adalah kawan, tanpa sadar bahwa maut justru sedang menari di dalam bayang-bayang tersebut.

Sreeeetttttt...

Gerakan itu luar biasa halus, hampir mustahil terdengar oleh telinga manusia biasa. Dari balik rumpun bambu hias, sebuah bayangan hitam melesat tanpa suara, merapat ke punggung salah seorang penjaga.

Sebuah tangan kekar berbalut kain hitam membekap mulut sang penjaga dengan daya cengkeram luar biasa. Bersamaan dengan itu, sebilah golok bermata lebar yang dingin menyayat kulit leher.

"Hegghh... kkhhh... khhhhhkkk..."

Hanya eraman lirih yang tertahan di tenggorokan. Penjaga itu menggelepar sesaat, namun cengkeraman di mulutnya membuat jeritan kematian itu terkunci rapat. Darah hangat menyembur, membasahi tanah kering Klawitan. Dengan keahlian seorang jagal profesional, sang penyusup merebahkan tubuh tak bernyawa itu ke tanah dengan sangat perlahan agar tak menimbulkan dentum.

Satu tumbang. Dan maut belum ingin berhenti.

Bagaikan hantu kelaparan, bayangan itu bergerak cepat dari satu sudut ke sudut lain. Menggorok, menusuk, dan mematahkan leher. Dalam waktu yang amat singkat, lima penjaga luar telah tewas mengenaskan dengan luka menganga di leher, tanpa sempat memberi isyarat bahaya sedikit pun ke dalam rumah.

Sementara itu, di dalam pendopo yang hangat oleh pendar obor, dua penjaga dalam mulai merasakan keanehan. Udara malam terasa mencekam secara mendadak.

"Hmmm... sepi sekali malam ini," bisik penjaga pertama sambil mengeratkan pegangan pada tombaknya.

"Iya, tumben. Suara jangkrik pun tak kedengaran," sahut temannya, bulu kuduknya tiba-tiba meremang. "Hey, mari kita lihat teman-teman kita di luar. Jangan-jangan pada tidur semua."

"Ayo lah. Kalau Ki Japat tahu mereka teledor, bisa habis kita diamuk."

Kedua penjaga itu pun melangkah mantap menuju gerbang kayu jati yang kokoh. Slot kunci besi digeser perlahan, menimbulkan suara berderit halus yang memecah keheningan. Namun, baru saja daun gerbang terbuka setengah...

Dari kegelapan di atas ambang gerbang, sebuah bayangan meluncur turun. Posisi tubuhnya terbalik, kedua kakinya bergelantungan dengan kokoh pada balok kayu atas, bagaikan kelelawar raksasa yang mengincar mangsa. Sebelum penjaga di bawah sempat mendongak, sebuah hantaman angin dingin melesat ke bawah.

Claabbb!

Mata golok yang tebal dan tajam menghantam telak, menancap sedalam beberapa inci tepat di tengah-tengah jidat penjaga pertama.

"Heggggg..."

Mata penjaga itu mendelik, tubuhnya mendadak kaku seiring darah segar yang meleleh cepat membanjiri wajahnya. Ia limbung dan berbalik patah-patah ke arah temannya.

Karuan saja temannya tersentak mundur, jantungnya serasa copot melihat pemandangan mengerikan di depannya: sebilah golok tertancap kokoh di dahi rekannya yang kini menatapnya dengan pandangan kosong penuh darah.

"Per... Perrrr... peramm..." Witir mulutnya bergetar hebat, mencoba meneriakkan kata 'perampok' untuk memperingatkan seisi rumah.

Namun, maut bergerak lebih cepat dari suara.

Srettttt!

Si penyusup melepas gantungannya, melompat turun dengan ringan sembari menarik kembali goloknya dari jidat korban pertama, lalu menebaskannya dalam satu gerakan melingkar yang sebat.

Mata penjaga kedua hanya sempat menangkap sekilas kilatan perak baja yang memantulkan cahaya obor. Rasa dingin yang teramat sangat menjalar di lehernya. Detik berikutnya, dunia di matanya berputar aneh; penglihatannya tiba-tiba jatuh ke bawah, melihat lantai batu yang kian mendekat, sebelum akhirnya semuanya runtuh ke dalam kegelapan abadi.

Kepalanya menggelinding di lantai pendopo, terpisah sempurna dari badannya yang ambruk menyusul kemudian, menyemburkan anyir darah yang mengukir awal dari bencana besar bagi Ki Japat malam itu. Di atas genangan darah, sang pembunuh berdiri tegak, menyeringai menatap pintu utama kamar sang sodagar.

Suasana di dalam kamar utama Ki Japat yang semula hangat dan tenang mendadak berubah mencekam. Di atas ranjang jati yang besar, Ki Japat tersentak dari tidurnya. Di sampingnya, sang istri yang masih muda dan putra kecilnya yang baru berumur delapan tahun masih mendengkur lelap, tak menyadari maut telah melompati pagar rumah mereka.

Tok... Tok... Tok...

Pintu kamar itu diketuk pelan, namun getarannya seolah meremas dada Ki Japat.

"Ki Japat, keluarlah..." sebuah suara berat dan dingin berbisik dari balik kayu jati yang tebal.

Ki Japat menegang, tangannya refleks meraba ke bawah bantal. "Siapa?" tanyanya, berusaha menekan getaran di suaranya.

"Keluarlah Ki Japat. Cepattt...!!!"

Bentakan yang tiba-tiba itu menggelegar, meruntuhkan keheningan malam. Seketika itu juga, sang istri dan anak lelakinya terbangun dengan napas memburu karena terkejut.

"Siapa itu, Kang?" tanya istrinya dengan mata melebar penuh ketakutan, tangannya gemetar memeluk erat sang anak.

"Entah, Nyai. Firasatku tidak enak," bisik Ki Japat, wajahnya pucat pasi. "Kalian cepat berlindung di bawah tempat tidur! Jangan keluar sebelum kupanggil!"

"KI JAPAT! CEPAT KELUAR! ATAU KU DOBRAK PINTU INI MAU?!" Suara di luar kian meninggi, penuh ancaman yang mutlak.

"Baik, baik! Aku keluar!" sahut Ki Japat mencoba mengulur waktu.

Dengan tangan gemetar, ia menyambar keris pusaka warisan leluhurnya, lalu menyelipkannya di pinggang belakang. Sambil menarik napas dalam-dalam, ia melangkah maju dan membuka selot pintu.

Krieeek...

Baru saja daun pintu terbuka selebar satu jengkal, sebuah benda bulat memantul di lantai dan menggelinding pelan ke arah kakinya. Jantung Ki Japat serasa berhenti berdetak saat matanya menangkap rupa benda itu: kepala salah seorang penjaga setianya, dengan mata mendelik dan darah yang masih menetes segar.

Di ambang pintu, berdiri tegap seorang pria berbadan tegap dengan kain hitam menutupi seluruh wajahnya, menyisakan sepasang mata yang menatap dingin bagai sepasang mata ular beludak.

"Kalau kau tak ingin kepalamu terpisah dari tubuhmu seperti ini... kumpulkanlah hartamu," kata pria misterius itu datar, tanpa nada ragu sedikit pun.

Melihat kepala penjaganya yang terputus dan hawa membunuh yang begitu pekat, jelas sudah bagi Ki Japat; malam ini kediamannya sedang dirampok oleh seorang pembantai berdarah dingin.

"Maaf, Ki Sanak... aku tak punya harta yang banyak. Tahun ini paceklik, daganganku—"

Srettt!

Kilatan baja golok kembali membelah udara dengan kecepatan yang mengerikan. Sebelum kalimat Ki Japat selesai, bahkan sebelum matanya sempat menangkap gerakan tangan si perampok, rasa perih yang luar biasa menghantam tangannya.

"Arghhh!" Ki Japat mengerang kesakitan, memegangi pergelangan tangan kanannya yang kini robek dan mengucurkan darah segar. Keris di pinggangnya bahkan tak sempat ia sentuh.

"Aku tidak main-main, Ki Japat. Kau boleh pelit dengan tetanggamu, tapi tidak denganku," desis pria itu, melangkah maju hingga bayangannya mengurung Ki Japat. "Satu lagi ucapan bohong keluar dari mulutmu, kilatan golokku tidak akan lagi melukai tanganmu. Paham?!"

Bugh!

Si perampok melemparkan sebuah karung goni kosong ke dada Ki Japat yang terluka. "Kumpulkan hartamu sekarang! Masukkan semua perhiasan dan keping emasmu ke dalam situ!"

Namun, sebuah kejutan terjadi. Didorong oleh rasa cinta dan keputusasaan, sang istri yang sejak tadi mengintip dari bawah ranjang tidak tinggal diam. Dengan gerakan yang begitu tiba-tiba, ia merangkak keluar sambil menghunus sebilah pedang pendek yang biasa tergantung di dinding kamar. Dia menerjang maju, berniat menusuk punggung si perampok.

"Mati kau, jahanam!" teriak sang istri.

Gerakan itu cepat, namun bagi seorang pembunuh berwatak keras dari Pegunungan Sewu, gerakan itu terlalu lambat. Tanpa menoleh penuh, si perampok berputar dengan refleks seorang pendekar tingkat tinggi.

Klaaanggg! Traaangg! Craasss!

Hanya dalam satu detik, tiga suara mengerikan beruntun terdengar. Golok si perampok menangkis pedang pendek itu hingga terpental ke udara, dan dalam gerak lanjut yang tak tertahankan, mata goloknya berputar menyayat melintang.

Robekan besar seketika menganga di perut sang istri. Kain kembennya koyak, bersimbah warna merah yang pekat.

"Arghhhhhh..." Wanita muda itu memekik parau, tubuhnya terhuyung ke belakang sebelum akhirnya ambruk ke lantai dengan tangan mencoba menahan ususnya yang terluka.

"Ibuuuuuuuuu!!!!!"

Sebuah jeritan histeris pecah. Anak lelaki berumur delapan tahun itu tidak lagi memedulikan ketakutannya. Ia berlari keluar dari kolong tempat tidur, menerjang maju dan langsung bersimpuh memeluk tubuh ibunya yang bersimbah darah, menangis sejadi-jadinya di tengah badai maut yang sedang melanda rumah mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!