Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Harga Sebuah Koordinat
Tangan Arka gemetar hebat saat ia mencengkeram bibir drum kesebelas. Bukan hanya karena otot bahunya yang mati rasa, tapi karena saraf di telapak tangannya mulai kehilangan kepekaan setelah berhari-hari terpapar sisa cairan korosif tanpa pelindung.
Setiap jam tiga sore, truk suplai berwarna abu-abu kusam itu datang merapat ke zona pembuangan. Bau solar murah dan oli terbakar selalu mendahului kedatangannya. Pengemudinya adalah pria yang sama—pria yang menyebarkan desas-desus tentang "Medan" dan "Andalas" di pasar loak.
Arka tahu ia harus berada di dekat truk itu. Ia tidak bisa menyadap gelombang radionya. Ia tidak bisa meretas terminal dasbornya. Satu-satunya cara untuk mendapatkan rute pelarian adalah dengan mencuri informasi itu menggunakan matanya sendiri. Namun, pria pengemudi itu berdiri mengawasi bak belakang, tangannya bersedekap, tidak menyisakan ruang bagi kuli mana pun untuk mendekat.
Aku butuh sudut pandang yang lebih rendah. Aku butuh alasan untuk berada di bawah sana. Arka menahan napas. Ia menatap genangan sisa reagen kimia di dalam drumnya yang beriak. Cairan itu berwarna hijau kekuningan, berbau seperti amonia yang dicampur belerang. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Di dunia ini, tidak ada data yang gratis.
Arka melangkah mendekati truk, berpura-pura tersandung sebuah pipa besi yang menonjol dari tumpukan limbah.
KRAAAK!
Drum logam itu tergelincir dari cengkeramannya, menghantam beton tepat di sebelah ban belakang truk. Cairan hijau kekuningan itu menyembur keluar dengan deras.
Setengah liter reagen kimia pekat menciprat tepat ke betis kanan Arka.
"AARGHH!" Jeritan Arka membelah udara beracun Sektor Utara. Itu bukan akting. Kain celananya seketika meleleh, mendesis keras dengan bunyi sssst yang mengerikan. Rasa sakitnya meledak seperti paku baja panas yang dipukul langsung ke tulang keringnya. Bau menyengat dari kain sintetis dan kulit manusia yang terbakar seketika menguar, membuat perut siapa pun mual.
Arka ambruk ke tanah berlumpur, berguling sambil mencengkeram kakinya yang menguapkan asap tipis. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya.
"Singkirkan sampah ini!" bentak pengemudi truk, melangkah mundur dengan wajah jijik, menutupi hidungnya.
"Kau bodoh atau apa?!" Gulo berlari mendekat, sepatu bot besinya menghantam genangan air. Pria raksasa itu menendang pinggang Arka, membuat Arka terbatuk darah. "Berapa kali kubilang jangan menjatuhkan barang di dekat truk pengiriman?!"
Arka mengerang, membiarkan tubuhnya meringkuk di bawah sasis truk sambil menahan tendangan Gulo. Pandangannya kabur karena air mata penahan sakit, tapi di balik rasa perih yang membutakan itu, matanya dengan liar menyapu bagian bawah bak truk.
Ketemu.
Tepat di balik as roda truk, di bagian bawah sebuah peti kayu besar yang diselundupkan, tertempel selembar label pengiriman analog berbahan kertas tahan air. Label itu ditempel asal-asalan, luput dari pandangan orang yang berdiri normal, tapi terlihat sangat jelas bagi Arka yang terkapar di tanah. Arka memfokuskan retinanya, memaksa otaknya merekam tulisan kasar dari tinta stempel tersebut:
TUJUAN: DERMAGA SEKTOR UTARA - KAPAL ANDALAS MUATAN: LOGISTIK MEDIS (SITAAN) JADWAL: 20:00
"Maaf... Bos," erang Arka, suaranya putus-putus. Giginya bergemeretak menahan perih di betisnya yang kini memerah dan melepuh menjijikkan. "Tanganku... kram."
"Seret dia ke pinggir! Jangan biarkan darah dan baunya mengotori ban trukku!" perintah si pengemudi.
Dua preman bawahan Gulo menyeret lengan Arka secara kasar melintasi aspal yang kasar, meninggalkan jejak cairan kimia dan darah. Arka meringis, tapi di dalam dadanya, jantungnya berdegup dengan ritme seorang pemburu yang berhasil menangkap buruannya. Ia baru saja membeli selembar tiket keluar dari neraka ini dengan sepotong kulit betisnya.
Malam itu, selokan terasa lebih dingin dari biasanya. Tetesan air kotor dari pipa di atas terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur.
Arka menyeret kaki kanannya yang dibalut robekan kain kemejanya sendiri. Darah dan nanah merembes membentuk bercak kehitaman di kain itu, tapi ia tidak mempedulikannya. Ia tertatih-tatih mendekati sudut ceruk beton, matanya berbinar di tengah cahaya remang-remang jamur fosfor.
Ia duduk di sebelah tumpukan kain kotor yang mulai ditumbuhi lumut hijau di bagian tepinya.
"Hasan terlihat jauh lebih baik, kan?" bisik Arka, tersenyum tipis ke arah tumpukan kain tersebut. Di matanya yang menolak realita, tumpukan jamur hijau itu adalah wajah Hasan yang perlahan kembali merona kemerahan. "Obat itu bekerja. Aku tahu itu akan bekerja."
Arka kemudian menoleh ke ruang kosong di sebelahnya, tepat ke arah bayangan pipa yang terdistorsi oleh genangan air.
"Bram," panggil Arka.
Tidak ada yang menjawab. Hanya gema napasnya sendiri yang bergetar.
"Kita punya waktu sampai besok malam, jam delapan," lanjut Arka, nada suaranya menggebu-gebu, seolah bayangan raksasa Bram benar-benar duduk di sana mendengarkannya. "Kapal Andalas. Mereka merapat di Dermaga Sektor Utara."
Arka memungut sepotong kerikil tajam, lalu mulai menggores lantai beton yang lembap. Bunyi gesekan batu itu terdengar memilukan. Ia tidak menggambar kode, melainkan sketsa kasar sebuah dermaga pengiriman dan pola rute truk suplai yang ia rekam siang tadi.
"Kita tidak akan meretas sistem dermaga. Sistemnya terlalu ketat, dan sensor biometrik akan mendeteksi cip ID kita yang mati," jelas Arka pada ruang kosong itu. "Tapi Gulo mendistribusikan kargo ilegal. Truk abu-abu itu akan membawa barang langsung ke lambung kapal. Kita tidak butuh tiket, Bram."
Arka menatap sketsanya, matanya cekung namun memancarkan tekad yang mengerikan.
"Kita akan menyelinap ke dalam truk. Kita akan menjadi bagian dari muatan selundupan itu. Itulah satu-satunya cara kita bisa membawa Hasan pergi dari sini."
Arka tertawa kecil, tawa kering yang bergesekan dengan dinding tenggorokannya yang luka. Di tengah bau busuk selokan dan luka bakarnya yang berdenyut, sang peretas jenius itu tengah merancang rencana penyusupan paling mematikan dalam hidupnya, ditemani oleh hantu dari masa lalunya sendiri.
***
**[AUTHOR NOTE]**Arka membuktikan bahwa di Sektor 4, informasi tidak diretas dengan keyboard, melainkan dibayar dengan darah dan daging! Kulit betis yang melepuh adalah harga mutlak untuk jadwal Kapal Andalas. Tapi yang lebih menyayat hati, mental Arka semakin tenggelam. Dia menyusun rencana lolos dari maut bersama tumpukan kain kotor dan bayangan ruang kosong. Mampukah Arka dengan kaki pincangnya menyelinap ke dalam truk pengiriman besok malam, atau halusinasinya justru akan membunuhnya di tengah misi? Tulis teori kalian!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼