NovelToon NovelToon
Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Diacuhkan Dokter Eh Dikejar Direktur Rumah Sakitnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Abu

Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.

Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.

Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?

Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Suasana yang baru saja terasa hangat dan manis itu kembali terganggu. Belum sempat kata-kata indah itu hilang dari telinga Adera, suara dering ponsel Damar kembali terdengar keras dan nyaring memecah keheningan malam.

Tring... Tring... Tring...

Kali ini panggilan itu masuk lagi dan lagi, seolah orang di seberang sana sangat membutuhkan Damar saat itu juga.

Mendengar suara itu berulang-ulang, Adera mulai merasa risih dan tidak nyaman. Suasana hati yang tadinya berbunga-bunga sedikit demi sedikit terganggu. Dia menatap Damar dengan tatapan kesal.

"HP kamu bunyi lagi tuh!" seru Adera dengan nada sedikit tinggi, menekan rasa kesalnya. "Cepat dong diangkat! Jadi risih dengerinnya bunyi terus gitu! Angkatlah!"

Meskipun sudah disuruh dengan tegas, respon Damar tetap sama saja. Pria itu bahkan tidak melirik layar ponselnya sedikitpun. Dengan gerakan santai dan dingin, dia langsung merogoh saku jasnya, menekan tombol power, dan mematikan ponselnya secara total!

Klik.

Layar ponsel itu menjadi gelap gulita dan mati total. Deringan pun berhenti seketika.

Melihat tindakan Damar yang seenaknya sendiri itu, emosi Adera langsung meledak. Wajahnya berubah masam, tangannya terlipat kuat di depan dada.

"Kamu! Kamu gila ya?!" bentak Adera kesal setengah mati. "Kenapa dimatikan sih?! Itu kan bisa jadi penting banget! Orang nelpon sampai berkali-kali gitu lho! Kamu tuh ya... seenaknya banget sih kelakuannya! Bikin emosi aja!"

Adera benar-benar marah. Baginya, mematikan telepon saat sedang bekerja atau memiliki banyak tanggung jawab adalah hal yang sangat tidak profesional dan berbahaya.

Melihat gadis di depannya yang mengamuk bak harimau betina, Damar justru tersenyum tenang. Dia tidak takut sedikitpun, malah merasa gemas melihat Adera yang begitu peduli.

Damar mendekatkan wajahnya sedikit, lalu berbicara dengan nada lembut namun tegas untuk menjelaskan maksudnya.

"Sabar dong Sayang... jangan marah-marah gitu, nanti cepet tua," ucap Damar pelan menenangkan. "Aku matikan karena memang saat ini aku sedang tidak ingin diganggu. Dan juga... secara aturan, saat ini aku kan sedang dalam masa istirahat total, libur dari segala pekerjaan sebelum kondisi fisikku pulih seutuhnya seperti sedia kala."

"Jadi selama masa pemulihan ini, urusan kantor, pasien, atau apapun itu... semuanya aku tunda dulu. Aku ingin tenang, dan aku ingin fokus sama apa yang ada di depan mata aku sekarang, yaitu kamu."

Penjelasan Damar memang masuk akal, namun Adera tetap tidak terima. Dia mendengus kasar, lalu menatap tajam mata pria itu, memberanikan diri menasehatinya dengan serius.

"Alasan macam apa itu, tapi tetep aja salah!" kata Adera tegas, suaranya sedikit bergetar menahan kesal dan gugup. "Jangan pernah lakukan hal kayak gini lagi! Dimatikan seenaknya! Kamu pikir enak apa nelpon berkali-kali tapi gak diangkat terus, tiba-tiba HP-nya matikan. Peneleponnya bisa khawatir setengah mati tau! Bisa mikir yang bukan-bukan!"

Adera menarik napas panjang, lalu mengucapkan kalimat yang membuat suasana seketika berubah menjadi sangat dalam dan bermakna.

"Terus gimana dong... kalau suatu saat nanti yang nelponin itu aku?" tanya Adera pelan, tatapannya tajam menembus jantung Damar. "Kalau aku nelpon kamu, terus gak diangkat-angkat, terus HP kamu mati... aku bisa panik dan mikir yang aneh-aneh. Aku bisa khawatir kenapa-kenapa. Jadi tolong ya... lain kali jangan dimatiin seenaknya gitu. Angkat atau paling gak balas chat."

Mendengar pertanyaan dan peringatan manis itu, jantung Damar serasa meleleh.

Dia sadar betul arti di balik kata-kata itu. Itu tandanya Adera juga akan memikirkan dia, akan mencemaskan dia, dan ingin selalu bisa menghubunginya kapan saja. Itu adalah bentuk perhatian yang sangat besar.

Wajah Damar langsung berseri-seri, senyum lebar tak bisa ditahan lagi.

"Tenang saja..." jawab Damar lembut dan tegas. "Aku akan buat nada dering khusus buat kamu. Jadi kalau kamu yang nelpon, suaranya bakal beda dan pasti langsung aku angkat secepat kilat, janji!"

Mendengar jawaban itu, wajah Adera langsung memerah dan hatinya berbunga-bunga.

 

Belum sempat rasa bahagia dan malu itu hilang sepenuhnya dari hati Adera, tiba-tiba indra pendengarannya menangkap suara yang sangat tidak asing.

Dari arah bawah, tepatnya dari tangga utama...

Tep.. tep.. tep..

Suara langkah kaki terdengar jelas, berjalan mendaki menuju lantai dua tempat mereka berada.

Awalnya Adera mengira itu mungkin Denial atau pelayan rumah yang sedang lewat. Tapi begitu mendengar ritme dan cara orang itu berjalan... langkahnya yang anggun namun terdengar tegas dan sedikit berdecit karena menggunakan hak tinggi...

Adera langsung mengenalinya!

Jantung Adera serasa berhenti berdetak sesaat. Wajahnya berubah pucat.

"Suara itu... itu langkah kaki Stella!" batin Adera berteriak panik.

Dia hafal betul cara berjalan sepupunya itu. Tidak ada orang lain selain Stella yang berjalan dengan gaya seperti itu di rumah ini. Dan yang paling parah, arah langkah kakinya itu jelas-jelas menuju ke arah koridor tempat mereka berdiri sekarang!

"Duh gawat Damar! Cepet masuk!!!" seru Adera panik setengah mati.

Tanpa pikir panjang dan tanpa memberi waktu Damar untuk bertanya, tangan kecil Adera langsung mencengkeram erat pergelangan tangan pria itu. Dengan sekuat tenaga dan napas yang tertahan, dia menarik tubuh tinggi besar Damar itu secara paksa.

"Ayo cepet masuk!!!" bisik Adera tegang sambil terus menariknya.

Damar yang kaget pun ikut terbawa arus. Dalam sekejap mata, mereka berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar Adera.

"Masuk kamar kamu?" tanya Damar bingung.

"Iyalah!" jawab Adera singkat.

Suasana di dalam kamar terasa begitu hangat dan nyaman. Lampu kamar yang menyala lembut menerangi seluruh ruangan dengan indah, membuat setiap sudut terlihat jelas dan tidak gelap sama sekali.

Damar berdiri kaku di dekat pintu. Ini adalah pertama kalinya dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar pribadi seorang wanita.

Aroma parfum khas Adera yang manis dan menenangkan langsung memenuhi seluruh ruangan, bercampur dengan suasana intim yang membuatnya merasa sedikit canggung dan tidak nyaman. Dia adalah pria yang sangat menjaga prinsip dan sopan santun, jadi berada di tempat seperti ini sendirian bersama seorang gadis membuatnya merasa sangat asing.

"Shhh...!!!"

Adera segera memberi kode diam. Dia meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri, menandakan agar Damar tidak bersuara sedikitpun.

Damar menghela napas pelan, meski merasa aneh, dia mencoba menuruti permintaan gadis itu. Namun rasa penasarannya memuncak. Dia tidak mengerti kenapa mereka harus bersembunyi seketika seperti ini.

Damar mendekatkan wajahnya sedikit, berbisik pelan sekali agar tidak terdengar dari luar.

"Sebenarnya... apa yang sedang terjadi?" tanya Damar berbisik, matanya menatap tajam manik mata Adera. "Kenapa kita harus bersembunyi? Siapa yang datang?"

Belum sempat Adera menjawab, suara langkah kaki di luar koridor terdengar semakin dekat dan jelas.

Panik setengah mati, Adera tidak punya waktu untuk menjelaskan. Dengan gerakan cepat, dia langsung melangkah mendekat ke arah Damar.

Tangan mungil Adera langsung menyekap mulut Damar rapat-rapat!

"Mmmph!!!"

Damar terhenti mendadak.

Seketika itu juga, seluruh tubuh tegap Damar langsung bergetar hebat seolah tersengat listrik voltase tinggi!

Karena kamar terang, Damar bisa melihat wajah Adera dengan sangat jelas begitu dekat di depannya. Sentuhan hangat telapak tangan Adera yang menempel sempurna di bibir dan pipinya terasa begitu lembut, begitu hangat, dan begitu nyata. Sensasi aneh namun sangat nikmat langsung menjalar dari bibirnya, menyebar ke seluruh leher, hingga ke ujung kaki.

Damar bisa merasakan lembutnya kulit gadis itu, aroma tangan yang wangi, dan kedekatan jarak di mana wajah mereka kini hanya terpisah beberapa senti saja.

Darahnya seakan berdesir deras. Jantungnya yang tadinya normal, tiba-tiba berpacu jauh lebih kencang dari sebelumnya. Rasanya aneh... hangat... dan membuat kepalanya terasa pening namun dalam cara yang sangat menyenangkan.

Mata Damar membelalak, menatap lekat wajah cantik Adera yang berada tepat di depannya, sementara tangannya masih menutup rapat mulutnya, membuat mereka terdiam dalam kedekatan yang sangat intens dan mematikan!

1
Perempuan
Alurnya bagus, gak menoton. Ada lucu²nya. Semangat update ya Thor biar pembaca tetap ingat alur ceritanya
Perempuan
lanjut Thor 👍👍
Alvi
bagus . semangat terus 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!