Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Malam yang dingin itu mendadak berubah menjadi kepanikan yang mencekam. Sirene ambulans meraung membelah sunyinya jalanan kota, membawa tubuh Wulan yang tak sadarkan diri menuju Rumah Sakit Pusat. Di dalam ambulans, Hasna dan Ratih tak henti-hentinya menggenggam tangan Wulan yang sedingin es, merapalkan doa-doa keselamatan di antara isak tangis yang tertahan.
Sementara itu, di belahan kota yang sama, sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah malam. Di kursi belakang, Fatih terbaring lemas dengan dahi yang berdarah akibat benturan keras di lantai ubin, ditemani Zahra yang menangis histeris sambil mendekap kepala abangnya. Lukman mencengkeram kemudi dengan raut wajah pucat pasi.
Takdir, dengan caranya yang paling misterius dan tragis, menuntun kedua kendaraan itu berhenti di depan pintu besi yang sama: **Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD)**.
Noda darah, aroma antiseptik yang menyengat, dan derit roda ranjang rumah sakit menyambut kedatangan mereka. Petugas medis bergerak cekatan. Tubuh Wulan dilarikan ke dalam ruangan, disusul beberapa menit kemudian oleh tubuh Fatih yang digotong menggunakan tandu darurat.
Di luar ruangan, Hasna melangkah dengan terburu-buru menuju bagian administrasi untuk mengurus berkas perawatan Wulan.Hasna ingin pemeriksaan yang menyeluruh untuk anggotanya, dia memang benar-benar peduli terhadap mereka, apalagi wulan sepertinya pernah trauma, dimasalalunya. Namun, langkahnya mendadak terhenti saat melihat sosok pria yang sangat familier sedang berdiri di depan loket pendaftaran dengan wajah kacau.
"Ustadz Lukman?" panggil Hasna, suaranya sedikit bergetar karena terkejut. "Kenapa Ustadz ada di sini?"
Lukman menoleh dengan mata yang merah akibat kurang tidur dan kepanikan. "Eh, Hasna... Ini, Fatih... Fatih kecelakaan di rumahnya. Dia melamun saat turun tangga, kakinya terpeleset lalu jatuh terguling. Kakinya terkilir parah dan kepalanya terbentur lantai sampai pingsan. Kamu sendiri sedang apa di sini?"
Hasna menutup mulutnya, tak percaya dengan kemalangan yang menimpa ustadz panutannya itu. "Ukhtiku... Wulan, dia tiba-tiba pingsan lagi di taman belakang tadi malam. Sepertinya kelelahan batin dan fisiknya benar-benar drop."
"Oh, kebetulan kalau begitu, mereka sama-sama dirawat di dalam ruang IGD," sahut Lukman dengan nada lemas.
"Iya, Ustadz. Ayo kita masuk ke dalam," ajak Hasna.
### **Dua Jiwa dalam Satu Sekat**
Di dalam ruang IGD yang bising oleh suara monitor jantung, takdir sedang menenun sebuah pemandangan yang amat menyayat hati. Tubuh Wulan dan Fatih dibaringkan di atas dua ranjang yang berposisi berdampingan, hanya dipisahkan oleh selembar gorden kain hijau yang tipis. Dinding kain itu menjadi batas antara dua manusia yang saling mencari, namun terjebak dalam ketidaktahua
dokter melakukan prosedur standar tes darah (beta-HCG) atau tes urin untuk pasien wanita usia subur yang pingsan berulang kali
Dalam ketidaksadaran mereka akibat pengaruh obat dan hancurnya kondisi fisik, jiwa mereka bertautan di alam bawah sadar. Keduanya tenggelam dalam mimpi buruk yang sama, sebuah manifestasi dari luka batin yang selama ini mereka pendam.
Di balik gorden, bibir Fatih yang pecah-pecah mulai bergerak-gerak gelisah. Keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya yang dibalut perban.
"Bella... Bella... maafkan aku... datanglah padaku..." racau Fatih dalam igauannya yang parau, menyiratkan penyesalan yang membakar sukmanya. "Wulan... Wulan, kamu di mana? Tolong aku..."
Tepat di sebelah ranjangnya, Wulan juga sedang gelisah. Dalam tidurnya yang dalam, ia bermimpi melihat pemandangan yang mengerikan. Ia berdiri di tepi sebuah jurang yang curam dan gelap. Di sana, di ujung patahan tebing, ia melihat Fatih sedang menggelantung, mencengkeram sebongkah batu rapuh dengan tangan yang berdarah. Pria itu hampir jatuh ke dalam jurang kehancuran.
Didorong oleh rasa cinta yang tak pernah benar-benar mati, Wulan dalam mimpinya segera berlari, menjatuhkan tubuhnya ke tanah, dan menjulurkan kedua tangannya untuk menarik lengan Fatih dengan sekuat tenaga.
"Bang Fatih...!" teriaknya dalam mimpi sebagai Bella.
"Kang Abbas...!" panggilnya lagi sebagai Wulan.
Dalam dimensi mimpi yang membingungkan itu, Fatih mendongak menatap wanita yang menyelamatkannya. Wajah wanita itu tersamar antara Bella dan Wulan.
"Kamu... kamu sebenarnya siapa? Jangan buat aku bingung..." bisik Fatih dalam mimpi itu dengan tatapan mata yang nanar.
Wanita di dalam mimpi itu kemudian memeluk Fatih dengan sangat erat, menumpahkan seluruh air mata penantiannya selama sepuluh tahun.
"Aku... aku adalah rembulan yang selalu kamu rindukan, Kang..."
Igauan itu begitu kuat hingga menciptakan sinkronisasi yang tragis. Di dunia nyata, kedua tubuh yang berjarak hanya satu meter itu sama-sama menggigil hebat. Keringat dingin membasahi pakaian rumah sakit mereka, meratapi pertemuan spiritual yang tak mampu mereka saksikan dengan mata telanjang.
### **Sebuah Anugerah di Tengah Badai**
Karena cedera di kepala Fatih cukup parah dan membutuhkan pemindaian lebih lanjut melalui CT Scan, petugas medis segera mendorong ranjang Fatih keluar dari ruangan IGD menuju ruang perawatan intensif di lantai atas. Pemindahan itu terjadi tepat beberapa menit sebelum kelopak mata Wulan bergerak lambat.
Wulan perlahan membuka matanya. Aroma obat-obatan langsung menusuk hidungnya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah teduh Hasna dan Ratih yang sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Kak Hasna... Ratih..." bisik Wulan, suaranya sangat lemah.
"Alhamdulillah, kamu sudah siuman, Wulan," ucap Hasna, langsung memegang jemari Wulan dan menciumnya dengan penuh rasa syukur. "Yang sabar ya, Dek..."
"Iya, Kak..." Wulan mencoba mengulas senyum tipis di balik wajah pucatnya.
Hasna menarik napas dalam-dalam, menatap Ratih sejenak seolah meminta kekuatan, lalu kembali menatap mata Wulan dengan binar kebahagiaan yang bercampur keharuan. "Wulan... kamu harus benar-benar menjaga kesehatanmu sekarang. Jaga janin yang ada di dalam kandunganmu baik-baik."
Bagaikan disambar petir di siang bolong, seluruh sendi tubuh Wulan mendadak lumpuh. Matanya membulat sempurna, menatap Hasna dengan tatapan tak percaya. "Maksud... maksud Kak Hasna apa?"
"Kamu sedang hamil, Wulan. Usia kandunganmu baru jalan satu bulan," jelas Hasna selembut mungkin.
"Apa...?"
Tubuh Wulan seketika lunglai di atas bantal. Air matanya menetes deras, membasahi pipinya. Rahimnya... tempat di mana benih dari pria yang telah mengusirnya kini sedang tumbuh perlahan. Hatinya hancur berkeping-keping. Rasa dilema yang teramat besar menghantam dadanya hingga ia merasa sesak untuk bernapas.
“Anak ini...” batin Wulan merintih dengan sangat perih. “Kenapa kamu harus hadir di saat seperti ini, Nak? Hadir di saat ibumu sedang melarikan diri, dan di saat ayahmu bahkan tidak mempercayai keberadaan kita?”
Baru saja beberapa jam yang lalu ia membulatkan tekad di bawah sinar rembulan untuk melupakan Fatih, menghapus nama Abbas dari sisa hidupnya, dan menyerahkan kebahagiaan pria itu kepada Hasna. Namun kini, Allah justru menitipkan sebuah anugerah, seikat ikatan darah yang tak akan pernah bisa ia putuskan seumur hidupnya.
Melihat Wulan yang menangis sesenggukan, Hasna mencoba mengalihkan perhatian dengan menceritakan kejadian yang baru saja diketahuinya dari Lukman di luar.
"Oh ya, Wulan... Kamu tahu? Tadi di ranjang sebelahmu, Ustadz Fatih juga baru saja dilarikan ke sini karena kecelakaan. Dia jatuh dari tangga rumahnya sampai pingsan dan kakinya terkilir parah." Hasna menghela napas prihatin. "Rupanya, pikiran ustadz benar-benar tersiksa karena kehilangan istrinya. Dia melamun terus sepanjang hari sampai tidak fokus melihat jalan. Kasihan sekali beliau..."
Mendengar hal itu, hati Wulan seperti diremas oleh tangan tak kasat mata. Rasa perihnya berlipat ganda. Kemarahan dan kekecewaannya runtuh, tergantikan oleh rasa iba yang mendalam pada suaminya.
“Kang Abbas... kamu sampai sehancur itu karena mencariku?”
Wulan perlahan menggerakkan tangannya yang gemetar, membawanya turun ke atas perutnya yang masih rata. Di bawah telapak tangannya yang dingin, ia seolah bisa merasakan detak kehidupan kecil yang rapuh. Air matanya mengalir semakin deras, namun kali ini bukan lagi karena amarah, melainkan karena cinta yang terlalu besar dan menyakitkan.
“Nak...” bisik Wulan di dalam hatinya, berbicara pada janin yang baru berusia empat minggu itu. “Ayahmu... ayahmu saat ini sedang sakit di atas sana. Dia sedang tersiksa oleh penyesalannya sendiri. Doakan ayahmu ya, Nak... Doakan agar Ayah cepat sembuh dan diberi kekuatan oleh Allah...”
Di ruangan yang kini sepi setelah kepergian ranjang Fatih, Wulan menangis dalam diam, mendekap perutnya sendiri. Di atas sana, di ruang perawatan yang berbeda, Fatih perlahan membuka matanya dengan rintihan kesakitan, tanpa pernah tahu bahwa di lantai bawah, wanita yang ia tangisi sedang mengandung darah dagingnya sendiri—sebuah rahasia baru yang terlahir di tengah pekatnya kabut kesalahpahaman mereka.