NovelToon NovelToon
TEROR LEAK (Jiwa Yang Tergadai)

TEROR LEAK (Jiwa Yang Tergadai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Mata Batin / Tumbal
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.

Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...

Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...

ikuti kisah selanjutnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketut Chandra—2

Ketut Chandra menarik gas motornya dengan perlahan. Tangannya masih gemetar berada di stang.

Bayangan lidah panjang berwarna merah dengan taring yang mencuat masih terbayang di benaknya.

Motor yang di kendarainya meraung dengan suara yang berat.

"Dadong, pegangan." ucapnya, mengingatkan wanita tua itu. Entah mengapa ia merasa curiga pada Wayan Ratri, dan itu semakin kuat.

Wayan Ratri tak menyahut, dan membuat Ketut Ratri semakin bergidik ngeri.

Saat melintasi rumah yang memiliki dinding kaca, tanpa sengaja, ia melihat bayangan Wayan Ratri telah berubah menjadi sosok mengerikan, sosok Leak yang sama tadi dilihatnya dalam spion motor.

Bahkan sosok itu menatapnya dengan senyum seringai.

"Hah!" Ketut Candra tak dapat mengendalikan motornya, dan membuatnya menabrak sebatang pohon nyuh gading yang tumbuh di tepi pantai.

Braaaak!

 Ia terpental di atas tanah. "Aaaarrgh!" pekiknya.

Sedangkan sosok itu melayang dengan organ tubuh yang meliuk dengan cepat diudara dan menghilang di kegelapan malam.

Saat bersamaan, ponselnya berdering. Satu panggilan dari Nyoman Lingga. Sang paman mengomelinya.

"Ketut. Kenapa kamu biarkan dadong berjalan sendiri datang kemari?" cecar pria itu, dan membuat Ketut Candra melongo.

Pemuda itu meringis kesakitan. Satu uluran tangan menyambutnya. Seorang gadis cantik dengan rambut tergerai membantunya.

"Kamu?" ucapnya dengan nada bingung, sebab tak menyangka jika bertemu dengan gadis yang berada di puskesmas tempo hari.

Sssrrt!

Seperti sebuah sengatan listrik, saat kedua tangan mereka bersentuhan. Dan gadis yang tak lain adalah Saras hanya diam dengan wajah dingin.

Ketut Candra melepaskan tangannya dengan cepat, saat ia sudah berhasil berdiri.

Ia mengusap lengannya, dan rasa aneh menjalar di tubuhnya. Ia seperti merasakan ada sesuatu yang berbeda. Rasa sakitnya mendadak berkurang.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan nada dingin.

"Aku baru saja memeriksa kondisi bayi yang baru di lahirkan. Dan untungnya ia baik-baik saja, meski ibunya harus meninggal," jawab Saraswati.

Pandangannya menyusuri setiap arah, mengendus aroma anyir yang begitu kuat.

Ternyata Wayan Ratri mengetahui l

kehadirannya, sehingga memilih melompat dari boncengan.

"Kau mencari apa?" tanya Ketut Chandra.

"Tidak ada, hanya aku ingin kembali pulang, sudah larut malam," sahutnya.

Ketut Candra mengerutkan keningnya. "Apakah kau melihatnya juga?" ia menatap dengan penuh selidik.

"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan," elaknya, kemudian menuju motornya.

Tetapi ia mendadak berhenti, lalu kembali menoleh ke arah Ketut Candra.

"Sat malam Kajeng Kliwon nanti, sebaiknya kamu membuat sesaji Pejati Banten. Lalu bakar dupa di depan rumah, dan jangan lupakan itu," ucapnya dengan pelan, dan berbalik arah menuju motornya.

"Tunggu..." Ketut Candra menghentikannya.

"Ada apa lagi?"

"Siapa namamu?"

Saras menarik nafasnya dengan berat.

"Tak perlu tahu!" jawabnya dengan ketus, meski sebenarnya hati bertolak belakang, dan ia memilih pergi meninggalkan Ketut Candra.

Pemuda itu menatapnya dengan bingung. Tetapi hatinya penuh debaran, entah apa.

Ssssrrrk!

Tiba-tiba saja, ia merasakan ada sesuatu yang merambat di pergelangan tangannya.

Saat ia melihat telapak tangannya, ada tanda berwarna merah, dan itu terjadi setelah ia bersalaman dengan Saraswati barusan.

Sementara itu, di rumah Kadek Cempaka, warga sudah berkumpul dan mengurus jasad wanita malang tersebut.

Sedangkan sang bayi masih nyaman dalam tidurnya sejak Saras memberikannya pertolongan. Ia terlihat nyenyak, meski tidak menyadari, jika ibu yang sudah melahirkannya telah meninggal dunia.

Sedangkan Wayan Ratri terlihat menatap sang bayi dengan rasa lapar yang tak terhingga.

Tetapi ia melihat ada garis pelindung yang tak dapat ia tembus.

"Heeem, Saraswati... Dasar bocah ingusan. Dia sudah menantangku. Dia lupa perjanjiannya, jika berusaha menghalangi, maka tali pengikat jiwa Dwi akan semakin mengencang," gumamnya dalam hati.

Sementara itu, seorang warga ikut memperhatikan gerak dan gerik dari Wayan Ratri yang merasa janggal.

"Meme... Bagaimana ini, dua puterimu sudah meninggal dalam waktu yang sangat berdekatan. Apakah kita harus membuat ritual di Pura Dalem, agar segala malapetaka ini tidak terjadi lagi," Nyoman Lingga membuyarkan lamunan sang ibu yang saat ini sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya.

Wayan Ratri menatap puteranya. Ia mengulas senyum yang sangat misterius.

"Dewa Durga menjemputnya lebih awal, itu sudah takdirnya. Sebaiknya kamu bersiap saat Kajeng Kliwon nanti," ucapnya dengan nada suara yang serak.

Nyoman Lingga mengerutkan keningnya. "Kita mau buat ritual tolak bala?" tanyanya dengan rasa penasaran.

Wayan Ratri tidak menjawab pertanyaan dari Nyoman Lingga—puteranya. Ia hanya tersenyum dengan tatapan mata yang terus saja melirik sang bayi yang masih dalam bedongan.

Bayi itu terlalu tenang, dan bahkan sangat tenang bagi seorang anak yang baru saja ditinggalkan oleh ibunya. Cahaya trisula itu masih mencoba melindunginya, hingga hari Kajeng Kliwon nanti.

Sedangkan jasad Kadek Cempaka sudah di mandikan dan di pakaiakan pakaian adat, dan juga dirias. Ia siap di makamkan di setra, sembari menunggu acara ngaben massal digelar.

"Hah!" suara desis Wayan Ratri terdengar cukup pelan, dan tak ada yang mendengarnya, kecuali Nyoman Lingga yang merasakan bulu kuduknya meremang.

"Apakah kita akan membuat sesajen Pejati Banten?" Nyoman berusaha mengusir rasa tak nyamannya.

"Siapkan saja... Siapkan sesajen Pejati Banten, Daksina, Tebasan, dan juga darah ayam cemani," ucapnya dengan suara yang cukup berat.

"Darah Ayam cemani? Dewa Durga tidak butuh itu," ucap Nyoman Lingga.

"Dewa Durga tidak butuh darah, tetapi I Gede Ratu Mecaling menyukainya," sahutnya.

"Meme, itu namanya bukan tolak bala, tetapi memanggil bala," protes Nyoman Lingga.

"lakukan saja, jangan membantah! Dan jima kamu ingin jadi anak berbakti, maka jangan banyak tanya," ia menekan ucapannya.

Wayan Ratri menjilat lidahnya yang keriput, dan sejenak menoleh kembali ke arah bayi tersebut, lalu memilih pergi.

Sedangkan Ketut Wira masih terdiam di pojok rumah. Ia masih tak percaya jima harus kehilangan sang istri. Mereka sudah begitu lama menantikan kehadiran buah hati mereka.

Akan tetapi ia harus kehilangan sang istri, saat bayi mereka di lahirkan.

Ketut Wira menghampiri puterinya yang masih terlelap, lalu mendekapnya dengan penuh kesedihan.

Sementara itu, Ketut Candra masih berdiri di samping motornya yang ringsek. Telapak tangannya terasa panas. Tanda merah dari sentuhan Saraswati tadi mendadak berdenyut.

Rasa sakit yang tadi masih mendera, mendadak menghilang.

Perlahan ia menatap ke arah pantai yang tampak gelap. Tanpa sengaja, ia melihat kembali sosok berambut panjang yang terbang melayang dengan organ tubuh yang menjuntai, dan terlihat menuju ke Pura Dalem.

Tubuh Ketut Candra seolah membeku. Mendadak ia merasa gemetar, dab tanpa berfikir panjang, ia mendorong motornya, dan memilih untuk kembali pukang ke rumah.

Langkahnya terpincang, dan sepanjang perjalanan, ia sedang memikirkan penampakan barusan. Besok ia akan kembali le rumah Wayan Ratri. Ia akan mencari tahu tentang rasa penasarannya.

Di tempat yang berbeda, Putu Dwi terlihat tersenyum saat menatap hasil testpack di tangannya. Ia melibat dua garis merah yang cukup akurat.

1
Desyi Alawiyah
Semoga hati Kadek Arya terketuk, dan mau menerima Chandra sebagai menantu serta memaafkan Saraswati.. 😌

Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
Desyi Alawiyah
Tuyul? 😯😯😯
neni nuraeni
semoga Kadek Arya cepat luluh hati nya agar merestui pernikhn Saras dan chandra
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
edan ini si arya
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduh aq mau si arya menyesal dengan sangat2
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung

kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: ggo opo kk 🤣🤣🤣
total 4 replies
Desyi Alawiyah
Udah deh Arya, jangan keras kepala... Gimanapun juga Saras kan anakmu.. masa kamu tega membenci anakmu sendiri.. 😥
Desyi Alawiyah
Kadek Dharma kali Kak 😄
neni nuraeni
iihhh seruuu lnjuttt
Anggita.🤗
mampir thor, lama gak baca jd kangen othor q. 🤭🤭
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: makasih, Kak
total 1 replies
neni nuraeni
hadeeh si Komang Sinta mlh nylhin anak dan menantunya,,, pdhl mereka mati"an ingin menyelamatkan Kadek darma, kalau memang benci knp DTG,,, kalau sayang restui aja,,, toh anakmu ga knp",,, ih aku ya kasian ma Ketut Chandra ma saras
kinoy
emh..alamat alamat ni mah..Komang sints yg td y baik dah ni mah slh paham ke Saras JD nyalahin dah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduh malah jadi incaran saras jadi sasaran kemarahan sang ibu pula
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: hooh g cuma repot tp kuuues tenan
total 7 replies
Desyi Alawiyah
Wayan Ratri yah? 😫😫

Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
Desyi Alawiyah
Waduh 🤣
kinoy
ea..ea..ea
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ini dadong nua si candra g abis2 bikin onar saja kapan matinya ya 🤣🤣
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: enak nya makan dong2 mbk ning kro di lutis
total 2 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
gas pol ndangak can alah cemen kau 🤭🤭🤭
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: wehhh jadi harus pa dlu inu
total 2 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
apakah ayah nya saras g akan menoleh ke anak nya
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak

ini gila deh
neni nuraeni
weeh udah MLM pertamanya nih,, semoga mereka bisa mngtasi setiap mslh termasuk mslh si leak
neni nuraeni: 💪💪💪 kak thor😁😁😁lnjut
total 2 replies
Desyi Alawiyah
Bilang aja sih ngga papa. Wayan Ratri juga tega kan, membunuh anaknya sendiri, istrinya pak Gantari.. 🤧
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: syok bapake😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!