NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Suasana aula langsung berubah begitu genderang terakhir bergema. Seolah satu isyarat yang sama menekan seluruh ruangan, semua percakapan terputus dalam sekejap. Para bangsawan, pejabat istana, hingga para tamu kehormatan serempak menundukkan kepala. Kain-kain mahal berdesir pelan ketika mereka membungkuk, menciptakan lautan hormat yang sunyi.

Di tengah itu, Putri Hikari melangkah masuk bersama Kaisar.

Gaunnya mewah, berlapis kain sutra halus dengan detail bordir elegan yang hanya dimiliki keluarga kerajaan. Setiap jahitannya seperti sengaja dirancang untuk menunjukkan satu hal. Status, darah, dan wibawa.

Gaunnya berkilau di bawah cahaya kristal aula, setiap langkahnya stabil namun ringan, seperti tidak benar-benar menyentuh lantai. Aura bangsawan yang sejak awal sudah kuat kini terasa jauh lebih tajam, bukan sekadar putri kerajaan, tetapi simbol utama malam ini. Di sampingnya, Kaisar berjalan dengan wibawa yang membuat udara di sekelilingnya terasa lebih berat.

Aula istana mulai dipenuhi cahaya malam yang megah.

Suara musik orkestra perlahan mengalun, menyatu dengan langkah para bangsawan yang mulai memenuhi ruangan.

Di antara semua kemegahan itu, Putri Hikari menarik perhatian tanpa perlu bergerak banyak. Namun bukan gaunnya yang membuat orang menoleh.

Melainkan caranya berdiri.

Tegap. Tenang. Tak tergoyahkan.

Matanya mengamati ruangan dengan ketenangan yang sulit ditebak. Bukan dingin, tapi terkendali. Seolah dia tidak sedang berada di tengah pesta, melainkan mengawasi seluruh arena yang penuh perhitungan politik dan kepentingan tersembunyi.

Di dalam benaknya, suara itu muncul pelan. Bukan kata-kata yang diucapkan, melainkan pikiran yang terbentuk dalam kesunyian batin.

Tatapannya bergerak perlahan, melewati para bangsawan yang tersenyum terlalu rapi, tawa yang terlalu sopan, dan percakapan yang terlalu terukur.

“Mereka datang membawa wajah, tapi tidak semua membawa niat yang sama.” batin Putri Hikari.

Putri Hikari tidak mengubah ekspresinya sedikit pun. Namun di balik ketenangan itu, ada ketajaman yang tidak terlihat oleh orang biasa.

Lampu kristal berkilau di atasnya.

Dan Tuan Putri Hikari tetap berdiri di tengah cahaya itu. Anggun, berwibawa, dan sepenuhnya sadar bahwa setiap mata di aula sedang menilai dirinya.

Lampu kristal di langit-langit aula berkilau seperti bintang yang sengaja diturunkan ke dunia manusia. Semua suara perlahan mereda ketika Putri Hikari melangkah satu langkah ke depan.

Gaunnya berdesir pelan, namun cukup untuk membuat seluruh perhatian kembali terkunci padanya.

“Para tamu yang terhormat... Hari ini, aku tidak berdiri sebagai putri yang jauh di atas kalian.” suara Putri Hikari terdengar tenang, jernih, dan membawa wibawa yang tidak perlu ditinggikan.

Sejenak dia berhenti. Matanya menyapu seluruh aula, dari para bangsawan tertua hingga para tamu muda yang masih menahan napas.

“Aku berdiri sebagai seseorang yang diberi kesempatan untuk melihat kalian hadir di sini, di bawah satu langit yang sama.”

Tidak ada nada berlebihan. Tidak ada emosi yang tumpah. Namun justru karena itu, setiap kata terasa lebih berat.

“Hari ini, kita merayakan hari kelahiranku bukan sebagai simbol kebanggaan pribadi… melainkan sebagai malam di mana istana membuka pintunya untuk kebersamaan, penghormatan, dan masa depan yang kita bangun bersama.”

Dia sedikit menunduk, sebuah gestur anggun yang langsung diikuti oleh seluruh aula dalam diam hormat.

“Maka dengan ini… perayaan resmi aku nyatakan dimulai.”

Tepuk tangan pecah. Tidak liar, tapi teratur seperti gelombang yang sudah diajarkan cara bergerak.

Musik pun mulai mengalun. Bukan musik biasa, melainkan ansambel istana, denting alat musik dan tabuhan lembut yang mengisi setiap sudut ruangan dengan kemewahan yang hidup.

Para pelayan mulai bergerak serempak di antara meja-meja panjang aula, langkah mereka nyaris tanpa suara di atas lantai marmer yang mengilap. Nampan-nampan perak dibawa dengan hati-hati, memantulkan cahaya lilin dan lampu kristal yang menggantung di langit-langit istana.

Begitu hidangan utama mulai tersaji di meja-meja bangsawan, musik lembut tiba-tiba mengalun dari sisi aula. Awalnya pelan, seperti embusan angin malam di antara pilar-pilar marmer istana.

Lalu tirai besar di ujung ruangan perlahan terbuka.

Beberapa penari kerajaan melangkah masuk, pakaian mereka berlapis kain sutra tipis berwarna emas pucat dan biru langit, setiap gerakan mereka mengikuti irama yang mengalir halus, tidak terburu-buru, tapi juga tidak pernah berhenti.

Di saat yang sama, para pelayan tetap bergerak di antara meja.

Sup hangat diletakkan di hadapan para bangsawan, piring daging panggang disajikan, gelas kristal diisi anggur merah gelap. Semua terjadi tanpa tabrakan, seperti dua dunia yang berjalan berdampingan, satu untuk makan, satu untuk memandang.

Di sisi aula, beberapa bangsawan muda mulai menurunkan suara mereka, tapi mata mereka justru semakin aktif berpindah dari hidangan, ke panggung, lalu ke tamu-tamu penting.

Di meja kehormatan, Putri Hikari tetap tenang. Tatapannya hanya sesekali naik ke arah panggung, seolah tarian itu bukan hal baru baginya. Namun kehadirannya tetap membuat suasana di sekitarnya seperti ditekan. Semua orang makan lebih pelan, berbicara lebih hati-hati.

Sementara itu, beberapa bangsawan wanita di sisi lain aula beberapa kali melirik ke arah Jinsei, Ryujin dan Haru lalu buru-buru menunduk saat sadar mereka diperhatikan orang lain. Tarian di tengah aula seakan menjadi latar yang mempertegas sesuatu yang lebih berbahaya dari sekadar hiburan malam, perhatian.

Suara alat musik mulai meningkat, lebih ritmis. Para penari kini bergerak membentuk pola melingkar di tengah aula, kain mereka berputar seperti kilauan cahaya di bawah lampu kristal.

Begitu alunan musik berubah, suasana aula langsung bergeser.

Nada yang tadi lembut dan mengalir kini menjadi lebih tegas lebih “mengundang perhatian”, seperti pertanda bahwa pertunjukan sebenarnya baru saja dimulai.

Dari balik tirai utama, sosok penari utama akhirnya melangkah keluar. Dan sesaat setelah itu, beberapa napas tertahan di berbagai sudut aula.

“Kazura..?” Yua berbisik pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Kazura.

Gerakannya langsung mengambil pusat perhatian tanpa perlu usaha berlebihan. Tidak ada langkah yang terburu-buru, tidak ada gestur berlebihan, hanya kontrol penuh atas setiap irama yang mengalir. Kain kostumnya berputar halus mengikuti tubuhnya, seakan musik dan dirinya tidak lagi terpisah.

Ryujin yang sejak tadi bersandar santai di kursinya, untuk pertama kalinya benar-benar diam.

Matanya menyipit sedikit, "Kazura penari utamanya..?”

Di sisi lain, Yua tampak benar-benar terpaku. Tatapannya mengikuti setiap putaran Kazura tanpa berkedip lama.

“Aku… belum pernah lihat dia seperti ini, dia sangat berbakat...” gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.

Ryujin menyeringai kecil, tapi kali ini tanpa nada mengejek. “Kalau ini bakat tersembunyi, dia terlalu rendah hati.”

Di meja lain, Haru terlihat jelas kehilangan kata-kata. Sorot matanya mengikuti gerakan Kazura dengan kekaguman yang tidak ia sembunyikan.

“Gerakan itu… terlalu bersih. Dia bukan sekadar penari biasa.”

Di tengah aula, Kazura terus menari.

Setiap langkahnya seolah membentuk cerita tanpa suara, tentang kendali, ketenangan, dan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar pertunjukan istana. Musik meningkat, dan dia menjawabnya dengan gerakan yang lebih tajam, namun tetap elegan.

Di meja kehormatan, Kaisar memiringkan kepalanya sedikit, lalu menoleh ke arah Master Seijun yang duduk tak jauh darinya.

“Terima kasih atas rekomendasinya, Penari ini… menghidupkan aula malam ini.” ucap Kaisar dengan nada tenang namun jelas penuh apresiasi.

Master Seijun hanya mengangguk pelan, ekspresinya tenang seperti biasa. “Dia punya dasar yang kuat. Aku pernah melihatnya di Nagamari, saat kunjungan desa. Sejak saat itu, aku tahu bakatnya tidak bisa dibiarkan begitu saja.”

Sementara itu, di sudut lain, Tuan Yamato tersenyum tipis. Tatapannya tidak sepenuhnya fokus pada tarian.

“Menarik… tidak kusangka dia akan ikut menjadi bagian dari panggung ini dengan cara seperti itu.” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar oleh siapa pun.

Di atas semua itu, Kazura terus menari, tanpa terganggu oleh tatapan puluhan bangsawan.

Tarian mencapai puncaknya. Musik meningkat, lalu perlahan mereda seperti napas panjang yang dilepaskan bersama cahaya lampu istana.

Ketika langkah terakhir Kazura berhenti, aula kembali sunyi untuk sepersekian detik sebelum tepuk tangan meledak memenuhi ruangan.

Namun perayaan tidak berhenti di sana.

Para pelayan istana mulai maju, mengumumkan dimulainya sesi pemberian hadiah.

Satu per satu, para bangsawan melangkah ke depan. Mereka membawa kotak-kotak berhias emas, peti kayu berukir, hingga permata yang memantulkan cahaya seperti air beku.

Hadiah pertama datang dari bangsawan Selatan, sebuah mahkota kecil bertatahkan safir biru tua, simbol kesetiaan wilayahnya.

Disusul oleh keluarga pejabat Timur, yang mempersembahkan kain sutra legendaris dengan benang perak yang hanya ditenun di satu desa terpencil di pegunungan.

Lalu kerabat bangsawan Utara, menghadiahkan sebilah artefak upacara kuno, bukan untuk perang, melainkan lambang perlindungan yang diwariskan turun-temurun.

Satu per satu hadiah dibuka.

Kemewahan memenuhi aula tanpa perlu diumumkan dengan kata-kata. Semua orang tahu ini bukan sekadar hadiah. Ini adalah pernyataan martabat, posisi, dan ambisi yang dibungkus dalam bentuk paling indah.

Dan di tengah semuanya, Putri Hikari tetap berdiri tenang. Menerima, mengamati, dan memahami bahwa di balik setiap hadiah… selalu ada makna yang tidak tertulis di permukaan.

Sekarang giliran keluarga Tuan Satoshi diumumkan, suasana aula sedikit berubah lebih tenang, lebih penuh perhatian. Nama itu sendiri sudah cukup untuk membuat beberapa bangsawan menegakkan punggung mereka.

Yuna melangkah maju.

Langkahnya tidak terburu-buru, tapi juga tidak dibuat-buat. Di tangannya, sebuah bingkai besar ditutupi kain tipis berwarna gelap. Saat dia berhenti di hadapan Putri Hikari, dia menunduk hormat.

“Yang Mulia Putri Hikari,” suara Yuna terdengar jelas namun lembut.

“Saya mempersembahkan sesuatu yang saya buat dengan tangan saya sendiri.”

Putri Hikari memberi isyarat pelan. Kain penutup itu dibuka. Seketika, cahaya lampu kristal jatuh ke permukaan lukisan.

Lukisan itu indah, terlalu indah untuk disebut sederhana. Lapisan emas halus membingkai seluruh karya, sementara cat berharga yang sulit ditemukan memberi kedalaman warna yang hampir hidup. Di dalamnya tergambar pemandangan tenang, langit lembut, pepohonan yang seolah berbisik, dan seekor burung di dalam sangkar emas yang bersinar samar.

Bukan sekadar lukisan. Ada sesuatu yang terasa “tertahan” di dalamnya.

Dan Putri Hikari… langsung mengerti.

Matanya tidak berubah drastis. Tidak ada kemarahan. Tidak ada keterkejutan yang terlihat. Hanya pemahaman yang tenang, seperti seseorang yang membaca pesan rumit dalam satu kali pandang.

“Begitu…” batinnya pelan.

Maknanya jelas bagi dirinya. Terlalu jelas untuk diabaikan. Namun Putri Hikari tidak menunjukkan itu kepada siapa pun. Dia hanya tersenyum tipis senyum yang sempurna di mata publik.

“Ini… sangat indah,” ucapnya dengan suara hangat yang terukur.

“Nona Yuna, kau benar-benar mencurahkan banyak perhatian dalam karya ini.”

Beberapa bangsawan langsung saling berbisik.

“Mengapa tidak diperlihatkan lebih jelas ke kita?”

“Lukisan apa itu?"

“Benar. Aku sangat penasaran lukisan apa itu..?”

Rasa penasaran menyebar cepat, seperti api kecil yang menyala di tengah kain sutra. Namun Putri Hikari mengangkat tangannya sedikit, cukup untuk menenangkan suasana.

“Namun,” lanjutnya dengan nada tetap anggun,

“lukisan ini terlalu spesial bagiku untuk ditunjukkan kepada seluruh tamu di sini.”

Sejenak aula hening.

Kalimat itu membuat beberapa bangsawan saling pandang, rasa penasaran mereka tidak terjawab, justru semakin besar.

Putri Hikari melanjutkan, suaranya tetap lembut namun tegas.

“Lukisan ini sangat spesial untukku. Nona Yuna sudah bersusah payah membuatnya dengan tangannya sendiri. Tidak heran hasilnya begitu indah. Nona Yuna memang berbakat dalam seni lukis.”

Putri Hikari tersenyum sedikit lebih hangat.

“Terima kasih, Nona Yuna.”

Yuna mengangkat wajahnya, tersenyum kembali.

“Senang bisa menyukainya, Yang Mulia.”

Namun ada sedikit keterkejutan yang tidak bisa dia sembunyikan. Bukan karena dipuji, tetapi karena keputusan Putri Hikari untuk tidak menampilkan lukisan itu kepada publik.

Dalam pikirannya, Yuna langsung mengerti alasannya.

"Jika lukisan itu diperlihatkan kepada seluruh aula… reaksi mereka mungkin akan sama seperti yang dia bayangkan sejak awal. Interpretasi, pertanyaan, bahkan mungkin kesalahpahaman yang lebih tajam dari niat awalnya sendiri." batin Yuna.

"Dan Putri Hikari… sudah mengantisipasinya. Bukan hanya mengerti lukisan itu. Tapi juga mengendalikan dampaknya." lanjut batin Yuna.

Di tengah gemerlap aula dan tatapan para bangsawan yang masih penuh rasa ingin tahu, Yuna berdiri kembali dengan tenang namun kali ini, dia sadar bahwa hadiah yang dia bawa tidak lagi sekadar karya seni.

Dia baru saja menjadi bagian kecil dari permainan yang lebih besar dari yang terlihat di permukaan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!