Keana Aluna, seorang anak perempuan yang di angkat oleh keluarga Hardian. Ditemukan tak berdaya oleh sepasang suami-istri saat keana duduk termenung sendirian didepan ruangan rawat kedua orang tuanya yang telah dinyatakan meninggal dalam insiden kebakaran.
Keana menjadi adik bungsu di antar kedua kakak laki-laki angkatnya.
Kakak keduanya_Gavin Reynald Hardian sangat dekat dengannya. Bersikap jahil, tapi sangat menyayanginya. Gavin sangat senang dengan kehadiran Keana di tengah keluarganya.
Berbeda dengan kakak pertamannya_Elvan Dewangga Hardian yang selalu bersikap dingin. Keana dan Elvan memang jarang bersama, karena Elvan yang sedang menyelesaikan studinya di luar negeri.
Elvan selalu memasang tembok tinggi jika bersama denganya dan sering memarahinya hingga membuat Keana merasa takut.
Namun siapa sangka, di antara kedua kakak beradik itu, menyimpan rasa yang berbeda selain sebagai seorang kakak.
Bagaimana tanggapan orang tua mereka atas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yaya haswa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Main Hujan
Hari berlalu begitu cepat, menggantikan siang ke malam, lalu pagi kembali. Keana telah melewati hari-harinya dengan belajar dan ujian. Tepat pada hari ini adalah hari terakhir ujian tengah semester ditutup. Dengan sorak-sorai lega dari seluruh siswa di penjuru sekolah, berlarian keluar dari kelas. Beban berat yang menggelayuti pundak Keana selama dua minggu terakhir rasanya menguap begitu saja saat bel pulang berbunyi.
"Akhirnya selesai! Bebas gue !" pekik Tania histeris begitu mereka bertiga melangkah keluar dari gerbang sekolah, langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Gila, ujian Fisika tadi bener-bener bikin otak gue mau meledak. Untung kemarin malam gue sempat pelajarin sekilas materi itu," sahut Tari sambil memijat tengkuknya yang terasa kaku setelah dua jam menunduk menatap lembar ujian.
Keana yang berjalan di tengah langsung menyampirkan tas ranselnya di satu bahu, mengembuskan napas lega yang sangat panjang.
"Sama! Otak gue rasanya udah berasap banget seminggu ini dipaksa beroperasi ekstra."
Tania langsung menyenggol lengan Keana jahil. "Nah, makanya! Karena sekarang kita udah resmi bebas, haram hukumnya buat langsung pulang ke rumah. Otak kita butuh penyegaran, Guys!"
"Setuju banget! Gimana kalau kita jalan-jalan dulu? Keliling taman kota terus jajan cimol atau es krim yang di depan sana? Pokoknya hari ini kita wajib seneng-seneng!" usul Tari dengan mata berbinar-binar penuh semangat.
Keana sempat terdiam sejenak, melirik jam di pergelangan tangannya. Pikirannya mendadak teringat wejangan Gavin untuk langsung pulang.
"Gimana, Kea? Ikut gak lo? Ayolah, sekali-kali lo lepas dari radar abang lo. Lagian ujian kan udah selesai," bujuk Tania saat melihat Keana tampak menimbang-nimbang.
Mendengar kata 'ujian sudah selesai', pertahanan Keana langsung runtuh. Rasa penat dan jenuh yang menumpuk selama dua minggu mengalahkan rasa takutnya pada sang kakak. Lagipula, Gavin pasti juga baru selesai UAS hari ini dan belum tentu langsung pulang ke rumah.
Keana akhirnya menyengir lebar, melupakan semua kekhawatirannya.
"Oke, gas! Gue ikut. Ayo kita jalan-jalan, otak butuh refreshing!"
"Nah, gitu dong! Ini baru Keana sahabat kita!" seru Tari kompak bersama Tania.
Dengan tawa yang kembali renyah, ketiganya langsung melangkah riang menuju area taman kota, menikmati jajanan kaki lima.
Mereka bertiga berjalan beriringan menyusuri trotoar taman kota yang ramai. Bau harum dari deretan gerobak jajanan kaki lima langsung menyambut indra penciuman mereka, membuat perut mereka mendadak keroncongan.
"Bau gorengannya surga banget, astaga!" seru Tania, matanya langsung tertuju pada gerobak abang-abang penjual gorengan di sudut taman.
"Beli, Tan! Gue juga laper banget," sahut Keana bersemangat.
Mereka pun berkerumun di depan gerobak, memesan seporsi besar bakwan hangat, tahu isi, dan cireng bumbu kacang yang baru diangkat dari wajan. Sensasi mengunyah gorengan panas yang renyah di tengah obrolan seru benar-benar menjadi obat penghilang stres yang paling ampuh bagi mereka.
"Kurang afdol gak sih kalau gak ada yang seger-seger?" cetus Tari sambil mengipasi lehernya yang gerah karena cuaca siang itu terasa cukup lembap. Ia menunjuk gerobak minuman dingin di seberang jalan.
"Es teh manis jumbo atau es boba, nih?"
"Es boba cokelat! Pakai es yang banyak!" jawab Keana cepat, sama sekali lupa dengan wejangan sang Mama yang selalu melarangnya minum es berlebihan kalau badannya sedang lelah.
"Oke, gue pesen dulu ya!" Tari berlari kecil dan kembali beberapa menit kemudian dengan tiga cup besar minuman dingin berembun di tangannya.
Sambil memegang segelas minuman dingin di tangan kanan dan gorengan di tangan kiri, ketiganya duduk di salah satu bangku taman. Mereka mengobrol bebas, tertawa terbahak-bahak merayakan berakhirnya masa-masa penuh tekanan, dan benar-benar memanjakan diri sepuasnya.
Namun, keseruan mereka seketika terhenti ketika embusan angin kencang tiba-tiba menerpa dedaunan di atas kepala mereka, membawa aroma tanah kering yang tersiram air. Langit berubah menjadi abu-abu gelap dalam sekejap.
"Eh, mendung! Gila, gelap banget langitnya!" seru Tania panik, buru-buru meneguk habis sisa es bobanya dan bersiap menggendong tas ranselnya.
Jgreeesss!
Belum sempat mereka beranjak dari bangku taman, hujan deras langsung tumpah dari seperti dicurahkan dari ember raksasa. Dalam hitungan detik, seragammereka seketika basah kuyup.
"Woi, teduh, teduh! Ke sana yuk!" teriak Tari sambil menunjuk emperan ruko yang tutup di seberang taman.
Tania sudah bersiap berlari, tapi langkahnya terhenti saat melihat Keana justru tetap berdiri diam di tengah lapangan taman kota. Gadis itu tidak bergerak untuk berteduh. Keana malah menengadahkan kepalanya ke atas, membiarkan butiran air hujan menerpa wajahnya.
"Kea! Ngapain bengong? Ayo neduh, ntar lo sakit!" teriak Tania histeris di antara bisingnya suara air hujan.
Bukannya panik, sebaris senyuman lebar justru terukir di wajah Keana. Rasa dingin yang menyentuh kulitnya entah kenapa terasa begitu menyegarkan, seolah meluruhkan seluruh sisa-sisa stres, rasa lelah, dan ketegangan akibat rentetan ujian dan tuntutan Elvan selama seminggu ini. Keana merasa sangat bebas.
"Ngapain neduh? Tanggung udah basah!" seru Keana lantang, menantang derasnya hujan.
Ia melompat kecil, menghentakkan kakinya ke genangan air hingga menciprat ke mana-mana.
"Ayo sini! Anggap aja ini selebrasi kita selesai ujian tengah semester! Setelah ini kita bakal fokus dengan ujian akhir. Kita gak lama lagi akan lulus. Kapan lagi coba kita hujan-hujanan kayak gini?!"
Tari dan Tania saling pandang. Namun, melihat tawa Keana yang begitu lepas dan renyah, pertahanan mereka ikut runtuh. Rasa waras mereka menguap seketika.
"Ah, bener juga! Bodo amat lah soal baju basah!" pekik Tari ikut berlari menghampiri Keana.
"Gila lo berdua ya! Tapi... ikutaannn!" Tania akhirnya menyerah, ikut bergabung di tengah taman.
Ketiganya malah menikmati bermain hujan-hujanan sore itu. Mereka berputar-putar, saling mencipratkan air, dan tertawa lepas di bawah langit abu-abu, benar-benar merayakan kebebasan mereka tanpa memedulikan hari esok. Keana benar-benar larut dalam kegembiraan.
Namun, kebahagiaan itu seketika sirna. Tawa Keana perlahan terhenti saat ia menyadari sebuah bayangan tinggi sambil memegang payung berdiri tidak jauh dari mereka.
Keana langsung membeku seketika. Gavin berdiri di sana, memegang gagang payung dengan satu tangan, sementara tangan lainnya berkacak pinggang. Sepasang matanya menatap tajam ke arah mereka, terutama pada Keana yang rambut dan seragamnya sudah lepek menempel di kulit. Tatapan Gavin saat ini benar-benar tidak bersahabat, jauh dari kesan abang jahil yang biasanya suka bercanda.
"Seru mainnya, Keana?" tanya Gavin, suaranya terdengar berat dan dingin, mengalahkan deru suara hujan di sekitar mereka.
Tania dan Tari yang menyadari kehadiran kakak Keana itu langsung bungkam. Nyali mereka ciut seketika melihat aura tegas yang memancar dari tubuh Gavin. Mereka berdua otomatis merapatkan tubuh, berdiri kaku seperti anak ayam yang ketakutan.
"K-Kak Gavin... kok di sini?" cicit Keana terbata-bata, badannya mendadak mulai terasa menggigil, entah karena air hujan yang dingin atau karena tatapan mengintimidasi abangnya.
"Pantes di telpon gak angkat ternyata lagi main hujan. Kalau kakak gak lewat sini , mungkin kalian bertiga sudah pingsan hipotermia di taman," sahut Gavin ketus.
Ia melirik Tania dan Tari bergantian, lalu mengembuskan napas panjang, mencoba meredam kekesalannya. "Tania, Tari, masuk ke mobil sekarang. Aku akan mengantar kalian pulang."
"Eh, i-iya, Kak. Makasih," jawab Tania dan Tari kompak dengan suara bergetar. Mereka segera berjalan cepat mengekor di belakang Gavin menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan taman.
Gavin berjalan di samping Keana, memastikan payung hitam itu tetap melindungi kepala adiknya walau tubuh Keana sudah basah kuyup. Di dalam mobil, suasana terasa begitu hening. Gavin fokus menyetir, membelah jalanan kota yang jarak pandangnya terbatas akibat hujan badai, untuk mengantarkan Tania dan Tari ke rumah mereka masing-masing terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan mengantar kedua temannya, Keana hanya bisa duduk merapat di dekat pintu baris tengah, memeluk tas ranselnya erat-erat demi menghalau rasa dingin yang mulai menyerang tubuhnya. Ia tidak berani bersuara sedikit pun, karena ia tahu betul kalau kakaknya itu pasti sangat marah.
"Kenapa kau sangat keras kepala, Kea? kenapa kamu malah bermain hujan?"
Pertanyaan itu meluncur dengan nada meninggi, sarat akan kemarahan dan kekesalan yang sejak tadi ditahannya di depan teman-teman Keana. Gavin menoleh sekilas, menatap adiknya dengan raut wajah frustrasi.
"Kamu pikir kamu masih anak SD yang kalau sakit tinggal dikasih sirup terus sembuh? Kamu itu baru selesai ujian, badan kamu itu capek, lemas! Bukannya langsung pulang istirahat, malah sengaja hujan-hujanan di taman kayak gitu!" cecar Gavin tanpa jeda.
Keana semakin menenggelamkan wajahnya di lipatan jaket kering yang tadi sempat dilemparkan Gavin ke pangkuannya.
"K-Kea cuma mau ngerayain selesai ujian, Kak... otak Kea pusing..." cicitnya dengan suara bergetar, menahan tangis sekaligus rasa dingin yang mulai menusuk tulang.
"Ngerayain gak harus main hujan, Kea! Banyak cara lain. Belanja salah satunya, tapi kamu malam memiliih main hujan. Apa kamu tidak tahu konsekuensinya?!" potong Gavin tegas, memutar setir dengan sentakan agak kasar saat membelok di persimpangan menuju perumahan mereka.
"Mama pasti bakal marah sama kamu"
Gavin mengembuskan napas kasar, melonggarkan cengkeramannya pada setir saat rumah mereka sudah mulai kelihatan di ujung jalan. Nada suaranya perlahan turun, berganti menjadi kecemasan yang kentara.
Setelah mobil terparkir, Keana langsung turun dan masuk ke dalam rumah diikuti Gavin di belakang.
Mama yang baru keluar dari dapur melihat putrinya yang basah kuyup saat akan menaiki tangga menuju kamarnya langsung kaget.
"Kenapa kamu basah kuyup begini, sayang?"
"Dia main hujan, Ma" sahut Gavin yang baru sampai di dekat mereka.
"Ya ampun, Keaaaa. Ayo cepat kamu ganti baju, nanti kedinginan"
"Iya, Ma" jawab Keana pelan, lalu naik ke atas kamarnya.