Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang OSIS dan Dentang Bel Pertama
Ruang OSIS SMA Wijaya terletak di lantai dasar gedung utama, tersembunyi di balik koridor rindang yang dinaungi pohon-pohon angsana tua. Berbeda dengan ruang-ruang kelas yang bising dan terang, ruang OSIS terasa lebih dingin, beraroma kertas arsip, pendingin udara, dan sedikit jejak wangi kopi hitam. Tempat ini adalah pusat kendali semua kegiatan siswa, tempat di mana keputusan-keputusan penting dibuat, dan tempat di mana hirarki kepemimpinan sekolah terasa begitu nyata.
Selasa sore, tepat pukul tiga, Callista berdiri di depan pintu kayu bercat hijau tua ruang OSIS. Tangannya memegang erat tali ranselnya, sementara kakinya ragu-ragu untuk melangkah masuk.
"Kenapa gak masuk, Cal? Pintu ruangan gak bakal ngebuka sendiri cuma ditatapin begitu," sebuah suara santai mengagetkannya dari belakang.
Callista menoleh dan mendapati Sean sedang berdiri di sana, mengapit bola basket di bawah ketiaknya. Kaos latihannya yang berwarna merah maroon sudah membasah oleh keringat di bagian dada dan leher.
"Sean! Lo kok di sini? Bukannya jadwal latihan basket lo di lapangan luar?" tanya Callista, matanya berbinar melihat kehadiran wajah yang familiar.
"Baru selesai sesi pemanasan. Lapangan lagi dipakai anak-anak futsal sebentar, jadi gue ke sini mau beli minuman di mesin pembuat minuman dekat kantin," jawab Sean sambil tersenyum tipis. Matanya melirik ke arah papan nama bertuliskan Ruang Pengurus OSIS. "Gimana? Kena panggilan dinas dari Pak Ketua Kelas?"
Callista mendesah berat, bahunya meliuk lemas. "Iya nih. Kata si Kenzo kemarin, hari ini ada rapat perdana pembentukan panitia magang OSIS. Gue sebenernya males banget, Sean. Mending gue di studio lukis, bisa nyoret-nyoret kanvas dengan tenang daripada harus duduk mendengarkan instruksi kaku dia."
Sean terkekeh pelan. Ia menurunkan bola basketnya, memantulkannya sekali ke lantai koridor yang bersih sebelum menangkapnya kembali dengan satu tangan. "Sabar, Cal. Dianggap aja pengalaman baru. Lagian lo cuma magang satu semester, kan? Habis itu kalau lo gak betah, lo bisa fokus penuh di Seni Lukis."
"Iya sih... tapi bayangin harus ketemu muka dia terus tiap sore! Muka tanpa ekspresi yang kayak papan pengumuman itu!" gerutu Callista sambil memonyongkan bibirnya.
Sean tertawa kecil, namun pandangan matanya perlahan berubah hangat dan lembut. Tangannya yang bebas terulur, mengusap pelan pucuk kepala Callista hingga rambut cewek itu sedikit berantakan. "Gak usah ditekuk gitu mukanya. Jelek. Kalau ada apa-apa, atau kalau dia bikin lo emosi sampai mau nangis, langsung chat gue. Lapangan basket cuma dua puluh meter dari sini. Gue bisa langsung dateng."
Callista menatap sahabatnya itu, meresapi rasa hangat yang selalu diberikan Sean setiap kali ia merasa ragu. "Makasih ya, Sean. Lo emang penyelamat gue banget."
"Yoi. Yaudah, masuk sana. Sebelum Pak Ketua lo keluar terus ngomel-ngomel lagi," goda Sean sambil mengedipkan sebelah matanya.
Callista tertawa pelan, lalu akhirnya memutar gagang pintu ruang OSIS. Sebelum melangkah masuk, ia sempat melambaikan tangan pada Sean yang berjalan menjauh menuju koridor lapangan basket.
Saat pintu ruang OSIS terbuka, suasana di dalam langsung menyambut Callista dengan hawa dingin yang menusuk kulit. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kayu oval yang cukup panjang. Enam orang siswa senior tampak sedang duduk mengelilingi meja tersebut, sementara di ujung meja—tepat di depan papan tulis putih besar—berdiri Kenzo.
Kenzo mengenakan kemeja seragam yang sangat rapi, lengan bajunya tergulung dua lipatan secara simetris. Di tangannya, ia memegang sebuah spidol papan tulis. Saat pintu terbuka, seluruh pandangan mata di ruangan itu tertuju pada Callista.
"Callista. Lo terlambat empat menit," kata Kenzo datar, matanya melirik jam dinding berbingkai hitam di atas pintu.
Callista meringis pelan, menutup pintu rapat-rapi. "Maaf... tadi gue sempat ngobrol sebentar di koridor."
"Di organisasi ini, waktu adalah prioritas utama. Empat menit di sini bisa memotong pembahasan satu agenda penting," potong Kenzo tanpa kompromi. Ia lalu menunjuk sebuah kursi kosong di samping seorang siswi senior kelas sebelas. "Duduk di sana. Kita baru saja mau mulai pembagian divisi magang."
Callista menggigit bibir dalamnya, menahan rasa kejengkelan yang langsung meluap. Baru juga masuk udah disemprot! batinnya kesal. Tanpa bersuara, ia berjalan cepat dan duduk di kursi yang ditunjuk Kenzo.
Siswi senior di sebelah Callista—seorang cewek berambut sebahu dengan nama dada Clarissa—tersenyum ramah dan berbisik pelan pada Callista, "Santai aja, Dek. Kenzo emang gitu kalau udah di ruang OSIS. Semua-semua harus presisi."
Callista membalas senyuman itu dengan anggukan canggung.
Kenzo kembali membalikkan badan menghadap papan tulis. Ia mulai menjelaskan struktur panitia untuk acara Bulan Bahasa yang akan digelar bulan depan. Suaranya terdengar lugas, sistematis, dan sangat berwibawa. Cara Kenzo menyampaikan poin demi poin membuat para senior pun mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa ada yang memotong.
"Untuk divisi administrasi dan kesekretariatan magang, Callista akan memegang peranan utama dalam penyusunan proposal awal," lanjut Kenzo sambil menuliskan nama Callista di bawah kolom Sekre.
Callista mendongak kaget. "Tunggu, Kenzo—maksud gue, Kak Kenzo... eh, Kenzo. Kenapa gue langsung pegang proposal awal? Bukannya gue masih magang baru? Biasanya kan cuma bantu-bantu rekap data."
Kenzo meletakkan spidolnya di atas meja, lalu melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap lurus ke arah Callista. "Karena gue udah liat cara kerja lo di kelas dan saat bikin laporan Biologi kemarin. Lo punya ketelitian yang tinggi dalam penataan dokumen dan bahasa lo cukup tertata. Gue gak suka buang-buang waktu mengajari orang dari nol kalau ada yang punya potensi langsung kerja."
Pujian terselubung itu—yang disampaikan dengan nada dingin tanpa senyum sedikit pun—kembali membuat Callista bungkam. Ada rasa bangga yang aneh yang tiba-tiba menyusup ke dadanya, bercampur dengan rasa tak percaya bahwa Kenzo memperhatikan kualitas kerjanya sejauh itu.
"Ada keberatan?" tanya Kenzo lagi.
Callista menegakkan posisi duduknya, menatap balik mata tajam Kenzo. "Gak ada. Gue bakal selesaikan draft proposalnya sebelum batas waktu."
Sudut bibir Kenzo terangkat sangat tipis, hampir tak terlihat oleh orang lain. "Bagus. Batas waktu penyerahan draft pertama adalah hari Kamis sore."
"Kamis?!" pekik Callista dalam hati. Itu artinya ia hanya punya waktu dua hari! Namun melihat tatapan menantang dari Kenzo, Callista menolak untuk terlihat lemah. Ia hanya mengangguk tegas.
Rapat berlanjut hingga satu jam berikutnya. Diskusi berlangsung cukup intens. Kenzo memimpin jalan rapat dengan sangat efektif, membagi tugas dengan adil, dan memastikan setiap detail diperhatikan. Di balik ketegasannya yang terkesan dingin dan kaku, Callista mulai menyadari satu hal: Kenzo bukan sekadar cowok sombong yang mengandalkan nama besar ayahnya. Dia memang sosok pemimpin yang terbentuk dari disiplin yang luar biasa tinggi.
Pukul lima sore, rapat OSIS resmi ditutup. Para pengurus senior mulai merapikan barang-barang mereka dan berpamitan keluar ruangan satu per satu.
Callista masih duduk di kursinya, sibuk mencatat poin-poin penting dari papan tulis ke dalam buku catatan kecilnya agar tidak ada detail proposal yang terlewat.
"Belum pulang?"
Suara Kenzo mengejutkannya. Callista mendongak dan melihat Kenzo sedang berdiri di samping mejanya, memasukkan laptopnya ke dalam tas ransel kulit berwarna hitam.
"Bentar lagi. Gue mau tuntasin catatan dulu biar besok tinggal ngetik," jawab Callista tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas.
Kenzo memperhatikan jemari Callista yang menari cepat di atas kertas. Sunyi merebak di antara mereka selama beberapa saat, hanya terdengar suara pendingin udara dan gesekan pulpen Callista.
"Sapu tangan lo," kata Kenzo tiba-tiba.
Callista menghentikan tulisannya, menatap bingung. "Sapu tangan?"
Kenzo merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan selembar sapu tangan kain berwarna biru muda yang terlipat rapi. "Sapu tangan yang gue pakai buat ngelap dahi lo pas pingsan di PMR tadi pagi. Udah gue cuci dan disetrika sama staf di rumah tadi siang."
Callista melotot pelan. "Eh? Itu kan sapu tangan punya lo, Kenzo! Kenapa dikasihin ke gue lagi?"
"Itu bekas dipakai buat elo. Gue gak terbiasa simpan barang yang udah dipakai orang lain untuk hal medis," jawab Kenzo datar, meletakkan sapu tangan itu di atas buku catatan Callista. Namun tatapan matanya tidak selaras dengan kata-katanya yang terkesan higienis itu—ada kelembutan tersembunyi di sana.
Callista mengambil sapu tangan itu. Aromanya sangat wangi, perpaduan wangi deterjen lembut dan aroma maskulin khas Kenzo. "Makasih ya... dan soal tadi pagi... makasih juga udah mau bopong gue ke PMR. Sorry kalau bikin seragam lo kotor atau lecek."
Kenzo diam sejenak. Ia berjalan menuju jendela ruang OSIS, menatap ke arah luar di mana langit sore mulai berubah warna menjadi jingga keunguan.
"Lo itu ceroboh, Callista," kata Kenzo pelan, membelakangi Callista. "Tapi lo... bertanggung jawab. Jarang ada orang yang mau tetap bertahan kerja keras setelah disemprot di depan umum kayak tadi."
Callista tersenyum tipis, menyandarkan dagunya di atas kedua tangan yang bertumpu di meja. "Gue cuma gak mau dipandang sebelah mata sama lo. Muka lo tuh kayak bilang 'lo gak bakal mampu' tiap kali liat gue."
Kenzo membalikkan badan, menatap Callista yang sedang tersenyum ke arahnya. Sinar matahari sore yang menerobos jendela kaca besar memantul di mata cokelat terang milik Callista, membuat wajah cewek itu tampak bersinar alami.
Jantung Kenzo mendadak berdesir aneh. Sebuah perasaan hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya merebak di dalam dadanya. Cewek di depannya ini begitu polos, tegas, tapi di saat yang sama memiliki kehangatan yang sangat kontras dengan dunianya yang selama ini dingin dan tertata kaku.
"Gue gak pernah mikir lo gak mampu," bisik Kenzo pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin di luar.
"Hah? Lo ngomong apa tadi?" tanya Callista karena tidak mendengar jelas ucapan Kenzo.
Sebelum Kenzo sempat menjawab, pintu ruang OSIS mendadak terdorong terbuka dari luar.
"Cal! Lo masih di dalam?"
Sean berdiri di ambang pintu. Ia sudah berganti pakaian dengan seragam sekolahnya kembali, meski rambutnya masih agak basah sisa mandi di ruang ganti gym. Di tangannya, ia memegang dua bungkus roti dan dua botol teh manis dingin.
Pandangan Sean langsung menyapu seluruh ruangan dan terkunci pada posisi Kenzo dan Callista yang berdiri berdekatan di dekat meja. Tatapan mata Sean seketika berubah mengeras.
"Sean!" seru Callista gembira, langsung menutup buku catatannya. "Lo belum pulang?"
"Nungguin lo," jawab Sean pendek, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan, berdiri tepat di samping meja Callista, secara tidak langsung menciptakan garis pemisah antara Callista dan Kenzo. "Latihan basket udah kelar dari setengah jam yang lalu. Gue pikir lo udah selesai rapatnya."
"Ini baru aja kelar kok," kata Callista cepat sambil memasukkan alat tulisnya ke dalam tas.
Sean menatap Kenzo lurus-lurus. "Rapatnya sampai sore banget ya, Nzo? Kasihan Callista, dia baru sembuh dari pingsan tadi pagi. Harusnya anak magang gak dikasih beban kerja berlebihan sampai jam segini."
Kenzo membalas tatapan Sean dengan tenang, pandangannya tak kalah dingin dan tajam. "Tugas magang diberikan sesuai porsinya, Sean. Dan Callista sendiri yang menyanggupi. Gue rasa dia cukup dewasa buat menentukan batas kemampuannya sendiri tanpa perlu diwakili orang lain."
Atmosfer di dalam ruang OSIS mendadak membeku. Rasa tidak nyaman yang sangat pekat mengudara di antara kedua cowok itu. Callista yang merasakan perubahan energi itu sampai menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan tas.
"Gue cuma peduli sama kesehatan sahabat gue," sahut Sean dingin, menekan kata 'sahabat' dengan jelas. "Sebagai orang yang udah kenal dia dari kecil, gue tahu kapan dia cape dan kapan dia butuh istirahat."
"Dan sebagai ketua di sini, gue tahu kapan seseorang bekerja profesional," balas Kenzo tak mau kalah, melangkah satu tindak lebih dekat.
"Udah! Udah!" cut Callista panik, berdiri di antara mereka berdua sebelum perdebatan konyol itu semakin memanas. "Gue gak apa-apa kok, Sean! Beneran, gue gak capek. Lagian ini tugasnya emang harus selesai cepat."
Callista menyambar tas ranselnya, lalu menatap Kenzo canggung. "Kenzo, gue balik duluan ya. Draft proposalnya bakal gue kerjain malam ini. Sampai ketemu besok di kelas."
Kenzo mengalihkan pandangannya dari Sean, menatap Callista lalu mengangguk pelan. "Yaudah. Hati-hati di jalan. Jangan begadang cuma buat ngetik proposal. Kesehatan lo tetap nomor satu."
Perhatian kecil yang terselip di akhir kalimat Kenzo itu membuat Sean mengepalkan tangannya di balik saku celana.
"Yuk, Sean," ajak Callista sambil menarik pelan lengan baju seragam Sean.
Sean menahan pandangannya pada Kenzo selama dua detik lagi sebelum akhirnya berbalik menuruti tarikan tangan Callista. Mereka berdua melangkah keluar dari ruang OSIS, meninggalkan Kenzo yang berdiri sendirian di ruangan yang dingin itu.
Perjalanan pulang di atas sepeda motor Sean sore itu terasa lebih hening dari biasanya. Angin sore bertiup cukup kencang menyapu wajah Callista yang bersandar santai di punggung lebar Sean.
"Sean," panggil Callista agak keras agar suaranya terdengar menembus deru mesin motor dan angin jalanan.
"Ya?" sahut Sean dari balik helmnya.
"Lo tadi kenapa sih sama Kenzo? Kok kayaknya agak sensitif banget?" tanya Callista jujur.
Sean menatap jalanan di depannya yang mulai dipenuhi lampu-lampu kendaraan kota yang menyala satu per satu. Tangannya memegang stang motor lebih erat.
"Gue cuma gak suka liat dia menekan lo, Cal," jawab Sean pelan. "Dia itu anak pemilik yayasan, hidupnya serba teratur, serba sempurna. Tapi dia gak berhak memperlakukan lo seolah lo itu bawahan dia yang bisa diperintah seenaknya."
Callista tersenyum tipis di balik helmnya, merasa tersentuh oleh perlindungan Sean. "Dia gak menekan gue kok, Sean. Cuma gaya bicaranya aja yang kaku. Lagian dia tadi malah mijit... eh, maksudnya ngasih sapu tangan dan perhatian juga kok."
Motor Sean mendadak melambat sedikit saat mendengar penuturan Callista. "Lo... mulai suka ya sama dia?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Sean itu terasa begitu tiba-tiba dan menghujam. Callista tertegun. Wajahnya merona merah di balik helm, beruntung Sean tidak bisa melihatnya dari depan.
"Hah?! Apaan sih, Sean!" seru Callista gagap, menepuk bahu Sean agak keras. "Ya enggak lah! Suka dari mananya coba? Cowok es batu kayak gitu mana ada manis-manisnya! Gue cuma menghargai dia sebagai ketua kelas dan ketua OSIS!"
Sean tidak langsung membalas. Ia menghela napas panjang yang terasa begitu berat. Motor mereka terus melaju menembus senja, melewati batas-batas bangunan kota hingga akhirnya berbelok memasuki area pemukiman mereka yang tenang.
Saat motor berhenti di depan pagar rumah Callista, langit sudah sepenuhnya gelap. Bintang-bintang kecil mulai bermunculan di atas sana.
Callista turun dari motor, menyerahkan helmnya pada Sean. "Makasih ya udah nganterin gue pulang, Sean. Nanti malam jadi ke Vihara gak?"
Sean menerima helm itu, menatap Callista dengan tatapan matanya yang selalu hangat namun kali ini menyimpan sedikit luka yang tersembunyi.
"Sorry ya, Cal. Malam ini kayaknya gue gak bisa ikut ke Vihara," kata Sean pelan. "Bapak minta gue bantuin ngerapiin barang-barang toko di rumah."
Callista agak terkejut. Biasanya Sean tidak pernah absen pergi ke Vihara setiap Selasa malam bersamanya. Tapi ia segera mengangguk mengerti. "Oh, gitu... yaudah gak apa-apa. Biar gue pergi sama Mama aja nanti."
"Yaudah. Gue masuk rumah dulu ya. Lo langsung mandi, minum obat, terus istirahat. Jangan dipaksain ngetik proposal sampai malam banget," pesan Sean lembut, menepuk pucuk kepala Callista seperti biasa.
"Siap, Kapten!" jawab Callista sambil menyengir lebar.
Sean mengoleskan senyum tipis, lalu memutar balik motornya menuju rumahnya yang hanya berjarak dua bangunan dari rumah Callista.
Callista berdiri di depan pagar, memperhatikan punggung Sean yang menghilang di balik pintu rumahnya. Ada perasaan ganjil yang mengusik benak Callista malam itu. Sean terasa sedikit berjarak, seolah ada dinding tak kasatmata yang mulai terbangun di antara mereka—sebuah dinding yang tanpa Callista sadari, mulai terbentuk sejak kehadiran Kenzo di antara mereka.
Callista merogoh saku rok seragamnya, menggenggam kain sapu tangan biru milik Kenzo yang halus. Di bawah naungan langit malam yang tenang, Callista mendongak menatap bintang-bintang. Hatinya mulai terombang-ambing di antara dua arah: kehangatan masa kecil yang selalu aman bersama Sean, atau tarikan tak dikenal yang mendebarkan bersama Kenzo.