NovelToon NovelToon
The Author Of My Own Destiny

The Author Of My Own Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:318
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perbatasan Utara

Hembusan angin utara menyapu permukaan bukit batu dengan kasar, membawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Udara di perbatasan utara ini terasa jauh lebih tipis dan tajam, bertingkah layaknya belati es tak kasat mata yang menyayat setiap jengkal kulit yang terpapar.

Aria Evander menarik tudung jubah wol tebalnya lebih rapat ke depan. Ia berusaha menyembunyikan parasnya di balik bayang-bayang kain gelap saat sepasang sepatunya menapak tanah gundul, turun dari kereta kuda sewaan yang kini tertutup lapisan debu tebal. Di hadapannya, gerbang benteng pertahanan Elgarth berdiri angkuh sekaligus menyedihkan. Dinding batu yang dahulunya kokoh kini kusam, dipenuhi noda karat dan bekas-bekas gesekan senjata berat yang menjadi saksi bisu pertempuran masa lalu.

Angin kembali menderu dari arah celah pegunungan bersalju di kejauhan. Kali ini, ia membawa kepulan aroma ozon yang ganjil bercampur bau busuk belerang yang samar. Bau yang seharusnya tidak pernah ada di wilayah pertahanan suci seperti ini.

“Kau benar-benar yakin dengan keputusan ini, Aria?”

Suara Lumi terdengar begitu dekat, berdengung langsung di dalam benak Aria. Peri kecil berwujud roh pena takdir itu melayang keluar dari balik lipatan jubah, berputar lambat di sekitar bahu Aria. Pendar cahayanya yang biasa keemasan terang kini meredup, seolah tertekan oleh atmosfer kelabu yang pekat di tempat ini.

Aria tidak segera menjawab. Pandangannya tersita oleh barisan prajurit yang berjaga di depan pintu gerbang kayu yang mulai lapuk. Tidak ada lagi ketegapan khas tentara kekaisaran yang biasanya membusungkan dada dengan bangga. Bahu mereka merosot layaknya memikul beban berton-ton. Sorot mata mereka kosong, menatap lurus ke depan tanpa fokus, seakan seluruh jiwa dan ingatan mereka telah diisap paksa oleh entitas yang tidak terlihat.

Jemari Aria bergerak perlahan, menyentuh hulu pena bulu kuno yang terselip aman di balik korset ketatnya. Begitu kulitnya bersentuhan dengan gagang pena, kehangatan magis yang akrab segera menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Sensasi itu mengalirkan keyakinan baru bahwa ia masih memegang kendali penuh atas lembaran realitas yang perlahan mulai retak.

“Aku tidak memiliki kemewahan untuk memilih, Lumi,” gumam Aria dengan suara yang nyaris tenggelam oleh deru angin. “Jika naskah dunia ini dibiarkan bergulir mengikuti skenario yang ditulis Magnus, benteng perbatasan ini hanya akan menjadi kuburan massal yang membeku sebelum matahari terbenam.”

Ia memantapkan langkah footstep-nya, membiarkan sol sepatunya beradu dengan kerikil tajam di tanah yang gersang. Langkahnya begitu tenang, kontras dengan kekacauan yang tersirat di sekelilingnya.

Sebuah siluet berukuran tegap dan tinggi mendadak muncul dari balik bayang-bayang lorong gerbang batu, langsung menghalangi jalannya. Langkah Aria terhenti.

Sosok itu adalah Leon Ardent. Sang Komandan Kesatria Naga tampak begitu berbeda dari biasanya. Zirah perak yang biasa berkilau kini tertutup lapisan lumpur kering dan jelaga. Rambut merahnya yang biasa rapi kini kusut, menempel di dahi yang dipenuhi peluh dingin.

Leon terpaku di tempatnya berdiri. Tatapannya terkunci pada wajah di balik tudung yang perlahan tersingkap, menampakkan sepasang mata jernih milik Aria yang menatapnya dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.

“Aria? Bagaimana bisa kau berada di tempat ini?” suara Leon terdengar parau, sarat akan ketidakpercayaan yang mendalam.

Ia bergegas melangkah mendekat. Secara refleks, tangan kanan Leon bergerak menyentuh gagang pedang di pinggangnya—bukan karena ia menganggap Aria sebagai musuh, melainkan sebuah insting murni dari seorang pelindung yang ingin memastikan bahwa tidak ada bahaya yang mendekati gadis itu.

“Aku datang untuk memastikan bahwa kau tidak akan berakhir menjadi tumpukan tulang di tempat dingin ini, Leon,” sahut Aria. Ia menatap lurus ke dalam sepasang manik mata pria itu, menemukan kelelahan luar biasa yang tersembunyi di balik ketangguhan fisiknya. Kelelahan yang mencerminkan runtuhnya moral para prajurit di garis depan.

Leon mengembuskan napas panjang yang terasa berat, membuat bahunya yang lebar sedikit turun. “Kondisinya jauh lebih mengerikan dari apa yang dilaporkan ke ibu kota. Prajurit-prajurit terbaikku kehilangan ingatan mereka secara bertahap. Mulanya mereka melupakan nama rekan mereka, lalu siapa yang mereka lawan, hingga akhirnya mereka lupa bagaimana cara menggenggam pedang dengan benar. Ini jelas bukan akibat dari sihir kutukan biasa.”

“Sebab ini adalah distorsi narasi,” potong Aria dengan nada dingin.

Aria memejamkan matanya sejenak, membiarkan seluruh indra magisnya terbuka lebar untuk merasakan aliran mana yang berputar di udara bebas. Saat matanya kembali terbuka, dunianya berubah warna. Ia melihat benang-benang hitam pekat berukuran raksasa menjalar di antara awan kelabu di langit, merajut realitas baru yang mengerikan. Jaring-jaring hitam itu ditenun oleh kekuatan Kaisar Magnus, berfungsi bagaikan parasit yang perlahan mengisap habis esensi jiwa dan ingatan siapa saja yang berada di bawah bayang-bayang benteng.

“Leon, kumpulkan semua perwira dan kesatria yang masih mampu mempertahankan kesadaran mereka sepenuhnya,” perintah Aria. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas mutlak yang tak terbantahkan.

Ia menarik keluar pena takdir miliknya dari balik jubah. Begitu pena itu berada di genggamannya, pendar cahaya keemasan yang lembut dan hangat mulai memancar, secara perlahan mengusir kegelapan pekat yang sempat berputar di sekitar kaki mereka.

Leon memandangi pena bulu itu dengan dahi berkerut rapat. Ia sama sekali tidak mengenali jenis sihir ataupun artefak yang sedang dipegang oleh Aria. Meski begitu, ia merasakan sebuah kedamaian yang aneh mengalir masuk ke dalam dadanya, mengusir kabut keputusasaan yang sempat meracuni pikirannya sejak beberapa hari terakhir. Ia menundukkan kepalanya dengan takzim.

“Aku akan segera mengumpulkan mereka. Namun, kau harus tahu satu hal, Aria. Pangeran Kael sedang memimpin pasukan utama menuju ke benteng ini. Jika dia mendapati dirimu berada di tengah kekacauan ini, aku tidak bisa menjamin tindakan apa yang akan dia ambil.”

“Biarkan dia datang,” sudut bibir Aria melengkung tipis, membentuk sebuah senyuman misterius yang sarat akan rencana tersembunyi. “Kehadirannya justru menjadi potongan teka-teki terakhir yang kubutuhkan untuk menulis ulang akhir dari bab mengerikan ini.”

Leon tidak bertanya lebih jauh. Kepercayaan yang telah terpupuk membuat pria itu segera berbalik dan melangkah cepat kembali ke dalam benteng, meninggalkan Aria sendirian di pelataran gerbang yang sunyi.

Aria menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin mengisi rongga dadanya yang kini terasa sedikit lebih ringan. Ia memandang ke arah cakrawala utara, di mana awan hitam bergulung-gulung menyerupai monster raksasa yang tengah bersiap untuk bangkit. Ia sangat sadar bahwa setiap goresan kata yang ia ukir di udara menggunakan pena takdir ini akan menuntut harga yang sangat mahal—sebuah bayaran setimpal yang berpotensi mengguncang fondasi dunianya sendiri.

Namun, ia telah melangkah terlalu jauh untuk menyerah sekarang.

Dengan gerakan tangan yang anggun dan mantap, Aria mengangkat pena takdirnya tinggi-tinggi. Ia mulai menggoreskan baris-baris kalimat tak terlihat di udara kosong. Setiap goresan penanya meninggalkan jejak cahaya keemasan yang meliuk-liuk indah, membentuk sebuah pola pelindung kuno berskala raksasa yang perlahan membentang lebar menyelimuti seluruh area benteng perbatasan.

Perubahan itu terjadi secara instan.

Suara jeritan bernada frustrasi yang sebelumnya menggema dari dalam barak prajurit perlahan-lahan mereda. Kabut hitam yang melayang-layang di atas kepala para penjaga mulai menipis, tersapu bersih oleh pendar keemasan layaknya embun pagi yang menguap di bawah terik matahari.

“Lumi, bersiaplah,” bisik Aria pelan, menahan getaran kuat yang merambat dari ujung pena ke seluruh lengannya akibat tekanan realitas yang menolak diubah.

“Kita akan menuliskan sebuah alur yang bahkan tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh Magnus.”

Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara gemuruh derap kaki kuda yang membelah keheningan padang tandus utara. Pasukan Kerajaan Elgarth telah tiba. Aria tetap berdiri tegak di tengah terpaan angin dingin, tangannya menggenggam erat pena takdirnya, siap menyambut takdir baru yang baru saja ia ciptakan dengan jemarinya sendiri.

1
Rahman Hayati
lanjut
Rahman Hayati
baru mampir thir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!