NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Davina mulai mencintai Adit

Angin malam berhembus semakin kencang, membawa serta aroma tanah basah sisa hujan yang baru reda. Adit berdiri diam di tepi jalan yang remang, matanya tak lepas dari arah mobil Rio yang perlahan hilang dari pandangan. Hatinya masih dipenuhi perasaan yang bercampur aduk, amarah yang tertahan, rasa iba yang mendalam, dan tekad yang kian membara untuk melindungi dua jiwa yang kini menjadi seluruh dunianya.

Ia tahu, ancaman Rio belum tentu berakhir malam ini. Pria itu bukan seseorang yang mudah menyerah begitu saja. Ambisinya terlalu besar, egonya terlalu tinggi, dan rasa memiliki yang keliru itu terlalu kuat untuk hilang hanya dengan satu pertengkaran. Namun Adit juga tahu satu hal dengan pasti: selama napasnya masih berhembus, ia tidak akan membiarkan Rio menyakiti Davina dan Zahra lagi.

Perlahan ia berbalik, menatap pintu rumah yang kini tertutup rapat di belakangnya. Di balik pintu itu, wanita yang dicintainya sedang berjuang menata kembali hatinya yang hancur, dan seorang anak kecil yang polos sedang berusaha memahami dunia yang tiba-tiba terasa begitu menakutkan. Adit menghela napas panjang, lalu melangkah pergi perlahan, namun langkahnya tidak terasa berat,justru penuh keteguhan yang baru saja diperkuat oleh janji tak terucap di dalam hatinya.

Di dalam rumah, keheningan kembali menyelimuti ruang tamu yang sederhana itu. Davina duduk bersandar lemas di sofa, matanya masih menatap pintu depan yang baru saja ditutup Adit. Suara detak jarum jam dinding terdengar begitu jelas, seakan menghitung setiap detik yang berlalu dengan lambat dan menyakitkan.

Di pangkuannya, Zahra akhirnya tertidur pulas. Napasnya kini teratur dan tenang, wajah kecilnya yang sempat pucat karena ketakutan kini perlahan kembali merona damai. Davina menyisir rambut halus putrinya dengan jari gemetar, hatinya terasa penuh sesak oleh rasa syukur sekaligus kepedihan yang tak terlukiskan.

Zahra tidur nyenyak, batinnya berbisik pelan. Setidaknya malam ini, mimpi buruk itu tidak lagi menghantuinya.

Namun bagi Davina sendiri, rasa kantuk seakan enggan datang. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Rio yang penuh amarah dan tuduhan kembali melintas tajam di benaknya. Suara bentakan pria itu masih terdengar bergema di telinganya, seakan tak mau hilang. Bersamaan dengan itu, muncul pula bayangan wajah Adit, tatapan lembutnya, genggamannya yang menenangkan, dan kata-katanya yang selalu mampu menjadi penopang saat ia hampir runtuh.

Mengapa harus dia? batin Davina kembali bertanya, pertanyaan yang sudah ribuan kali muncul namun tak pernah mampu ia jawab dengan tuntas. Mengapa di saat suamiku sendiri justru menjadi sumber lukaku, orang lain yang bahkan tidak terikat janji suci malah memberikan segalanya untuk melindungiku dan anakku? Apakah ini adil bagi Adit? Apakah pantas aku menerima semua ketulusannya saat diriku sendiri masih terjebak dalam belenggu masa lalu yang belum selesai?

Air mata kembali menetes perlahan membasahi pipinya yang pucat. Davina menyeka kasar butiran hangat itu dengan punggung tangan, berusaha menahan isak tangis agar tidak membangunkan putrinya. Ia tidak boleh lemah. Ia tidak boleh menyerah. Demi Zahra, ia harus tetap berdiri tegak, seberapa pun berat beban yang harus dipikulnya sendirian.

Jam dinding berdentang dua kali. Tengah malam telah lama berlalu.

Davina perlahan mengangkat tubuh Zahra dengan hati-hati, membawanya masuk ke kamar tidur, lalu membaringkannya lembut di atas kasur yang empuk. Ia menyelimuti putrinya hingga leher, mencium keningnya berkali-kali dengan penuh kasih sayang, seakan ingin mentransfer seluruh kekuatan dan kehangatan yang dimilikinya ke dalam tubuh kecil itu.

"Tidurlah, sayangku," bisiknya lirih. "Mama akan selalu ada di sini. Tidak ada siapa pun yang boleh menyakitimu. Mama janji."

Zahra menggeliat pelan dalam tidurnya, lalu tersenyum tipis seakan mendengar dan memahami janji ibunya itu. Hati Davina terasa sedikit lebih hangat melihat senyum damai putrinya. Ia mematikan lampu kamar, lalu melangkah keluar perlahan, duduk kembali di ruang tamu yang kini sepenuhnya tenggelam dalam keheningan.

Pikirannya kembali melayang ke sosok Adit. Ia teringat bagaimana pria itu datang tepat waktu malam tadi, berdiri tegak di hadapan Rio, tidak gentar sedikit pun, membela dirinya dan Zahra dengan keberanian yang luar biasa. Padahal Adit tidak memiliki kewajiban apa pun terhadap mereka. Padahal jika dipikir secara logika, seharusnya Rio lah yang berdiri di posisi itu, melindungi istri dan anaknya. Namun kenyataannya... justru sebaliknya.

Davina mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Tangannya sempat ragu sejenak, namun akhirnya ia mengetikkan beberapa kata pelan-pelan:

Terima kasih, Adit. Untuk semuanya. Untuk kehadiranmu yang selalu datang tepat waktu, untuk kesabaranmu yang tak pernah habis, dan untuk ketulusanmu yang tak terbalas. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu. Maafkan aku yang selalu membuatmu terlibat dalam kekacauan hidupku ini. Semoga kau pulang dengan selamat. Istirahatlah yang baik.

Hanya beberapa detik setelah pesan itu terkirim, balasan masuk:

Davina, kau tidak perlu berterima kasih, dan kau tidak perlu meminta maaf. Ingatlah janjiku aku akan selalu ada untukmu dan Zahra. Itu bukan beban bagiku, melainkan pilihanku sendiri. Istirahatlah dengan tenang malam ini. Jangan terlalu banyak berpikir. Biarkan waktu yang menjawab semuanya. Selamat tidur, Davina.

Membaca pesan itu, dada Davina terasa begitu penuh. Air matanya kembali mengalir deras, namun kali ini bukan semata karena kesedihan melainkan karena rasa haru yang begitu dalam. Di tengah dunia yang terasa begitu dingin dan tidak adil, Adit adalah satu-satunya kehangatan yang tak pernah mengecewakannya.

Sementara itu, di dalam mobil yang masih melaju perlahan menembus jalanan gelap yang sepi, Rio masih memegang setir dengan tangan yang gemetar hebat. Wajahnya kaku, matanya menatap lurus ke depan namun pandangannya kosong pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh bayangan kejadian malam tadi.

Setiap kata yang diucapkan Adit seakan masih bergaung di telinganya, menusuk tajam hingga ke relung hatinya yang paling dalam. "Jika kehadirannya justru menanamkan rasa takut, cemas, dan luka yang terus berdarah di hatimu... maka seberapa sah pun statusnya di mata manusia dan Tuhan, ia belum menjadi suami yang sesungguhnya bagimu."

Kalimat itu terus berulang-ulang, menghantui dan menyadarkannya sekaligus. Rio mengerang kesakitan, menekan kepalanya ke belakang sandaran kursi. Apakah benar apa yang dikatakan pria itu? Apakah selama ini ia memang hanya menjadi sumber penderitaan bagi Davina dan Zahra? Apakah cinta yang ia klaim begitu besar itu sebenarnya hanyalah bentuk egoisme yang disamarkan?

Ia teringat kembali tujuh tahun silam — saat ia pergi meninggalkan Davina tanpa penjelasan, saat ia membiarkan wanita itu berjuang sendirian mengandung dan melahirkan putri mereka, saat ia kembali hanya untuk menuntut hak yang sudah lama ia abaikan. Ia teringat tatapan ketakutan Davina setiap kali ia marah, ia teringat air mata yang tak henti mengalir di pipi istrinya, dan ia teringat pertanyaan polos Zahra tadi: "Apakah Ayah pergi karena Zahra nakal?"

Hati Rio terasa diremas perih hingga nyaris tak mampu bernapas. Ia menyadari satu kebenaran yang selama ini sengaja ia tutup rapat-rapat dari dirinya sendiri: Kepulangannya bukanlah penyembuh luka bagi mereka. Ia justru membawa luka baru yang lebih dalam dan lebih menyakitkan.

Tapi Rio tetap tidak ingin , Davina jatuh pada pelukan pria lain.Ia tidak ingin itu terjadi, Rio akan tetap menghalalkan segala cara agar Davina bisa bertahab disisinya.

Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah hotel berbintang di pusat kota. Rio mematikan mesin, namun tubuhnya tetap duduk kaku di kursi pengemudi dalam kegelapan kabin yang sunyi. Ia menatap ke luar jendela lampu-lampu kota yang berkelap-kelip tampak begitu jauh dan asing, seakan tak satu pun yang benar-benar menjadi miliknya lagi.

Ponselnya bergetar pelan di saku jaket. Rio mengeluarkannya, berharap mungkin ada pesan atau panggilan dari Davina. Namun saat ia melihat layar, hatinya kembali runtuh. Bukan nama Davina yang muncul melainkan pesan dari asistennya yang mengingatkan jadwal rapat penting besok pagi, dan beberapa pesan lain yang semuanya berhubungan dengan urusan pekerjaan dan bisnis. Tak satu pun dari wanita yang kini paling ia harapkan suaranya.

Rio meletakkan ponselnya dengan kasar di dashboard. Ia menyandarkan kepala kembali, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pria yang selalu tampil kuat, sukses, dan tak terkalahkan di mata dunia itu menangis dalam keheningan malam yang gelap dan sepi. Air mata penyesalan yang terlalu lama tertahan akhirnya tumpah ruah, membasahi telapak tangannya yang kasar dan dingin.

Malam itu berlalu dengan lambat bagi ketiganya Davina yang akhirnya terlelap setelah sekian lama dilanda gelisah, Adit yang terjaga dalam doa dan harapan di keheningan kamarnya, dan Rio yang menghabiskan sisa malam dalam penyesalan yang menyiksa tanpa henti.

Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, langit perlahan berubah warna dari kelabu pekat menjadi semburat jingga lembut yang menjanjikan harapan baru. Sinar matahari pagi yang hangat menyelinap masuk melalui celah tirai jendela kamar Davina, menyentuh wajahnya yang masih terlihat lelah namun kini jauh lebih tenang dari sebelumnya.

Davina membuka matanya perlahan, merasakan kelegaan yang aneh namun nyata menyelimuti hatinya. Ia bangkit dari tidurnya, merenggangkan tubuh sejenak, lalu melangkah menuju jendela dan membuka tirai lebar-lebar. Cahaya pagi yang cerah langsung membanjiri ruangan, membawa serta semangat baru yang tak terduga.

Ia mendengar suara langkah kaki kecil mendekat dari belakang. Tangan mungil merangkul pinggangnya erat.

"Mama..." sapa Zahra dengan suara serak khas anak yang baru bangun tidur. Wajahnya masih terlihat mengantuk, namun matanya sudah kembali jernih dan cerah. "Apakah Ayah sudah pulang?"

Davina berbalik, berlutut sejajar dengan tinggi putrinya, lalu tersenyum lembut namun penuh keyakinan. Ia menyisir rambut Zahra yang berantakan dengan penuh kasih sayang.

"Ayah belum pulang, sayang," jawabnya pelan namun tegas. "Tapi tidak apa-apa. Kita berdua baik-baik saja, kan? Selama kita saling memiliki dan saling menjaga, tidak ada yang perlu ditakutkan. Mama akan selalu ada di sini untuk Zahra. Dan Zahra juga akan selalu ada untuk Mama, kan?"

Zahra mengangguk antusias, senyum lebar merekah di bibir mungilnya. "Iya! Zahra sayang Mama. Zahra akan jaga Mama juga!"

Davina tertawa kecil, perasaan hangat langsung mengalir deras di seluruh pembuluh darahnya. Ia memeluk putrinya erat-erat, bersyukur setidaknya untuk hari ini, mereka masih memiliki satu sama lain dengan utuh.

Ya, kita akan baik-baik saja, batinnya meneguhkan hati sendiri. Apa pun yang terjadi ke depan, kita akan menghadapinya bersama-sama. Dan jika Adit memang masih memilih untuk tetap tinggal di sisi kita... aku tidak akan lagi berusaha mengusirnya dengan rasa bersalah. Aku akan menerima kebaikannya dengan hati yang terbuka dan penuh rasa syukur — sebagai sahabat, sebagai pelindung, dan sebagai seseorang yang selalu ada di dekat kita, apa pun peran yang Tuhan tetapkan untuknya.

Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Davina tak bisa lagi menyangkal kebenaran yang selama ini ia coba sembunyikan rapat-rapat: Adit bukan sekadar masa lalu yang belum selesai. Adit adalah masa depan yang perlahan mulai menyelinap masuk, membawa cahaya ke dalam gelapnya dunia yang sempat ia pikir tak akan pernah lagi bersinar.

Dan pagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian tahun lamanya, Davina melangkah keluar rumah dengan kepala tegak dan hati yang sedikit lebih ringan. Ia menarik napas panjang udara pagi yang segar, membiarkan paru-parunya dipenuhi oksigen baru yang menyegarkan seluruh jiwa raga.

Di langit yang biru cerah, burung-burung berkicau riang seakan menyanyikan lagu harapan. Davina menggenggam tangan Zahra yang kecil dan hangat, lalu melangkah mantap menuju gerbang hari yang baru, tanpa beban masa lalu yang terlalu berat untuk dipikulnya lagi, dan tanpa rasa takut akan masa depan yang masih penuh tanda tanya.

Karena ia tahu satu hal dengan pasti: Tidak ada badai yang bertahan selamanya. Dan setelah hujan reda, selalu ada pelangi yang menanti untuk muncul — indah, kokoh, dan penuh janji kebahagiaan yang baru.

Sementara itu, ponselnya bergetar pelan di saku rok. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah begitu ia hafal di luar kepala:

Selamat pagi, Davina. Semoga tidurmu nyenyak dan hatimu lebih tenang hari ini. Aku sudah mengantar sarapan untukmu dan Zahra  ada di depan pintu sekarang. Jangan khawatir, aku tidak masuk. Aku hanya ingin memastikan kalian mulai hari dengan perut kenyang dan senyum di wajah. — Adit

Davina tersenyum haru membaca pesan itu. Air mata bahagia menetes lagi, namun kali ini ia tidak menyekanya. Ia membiarkannya mengalir bersama rasa syukur yang meluap-luap di dadanya.

Ia berjalan menuju pintu depan, membukanya perlahan. Di sana, di atas meja kecil di teras, terlihat sebuah tas makan rapi yang masih mengepulkan uap hangat. Dan di kejauhan, di ujung jalan, sosok pria yang baru saja hendak naik ke mobil sempat menoleh ke belakang. Tatapan mata mereka bertemu sejenak — dari kejauhan, tanpa kata-kata, namun segala rasa seakan telah tersampaikan sepenuhnya.

Adit tersenyum tipis, mengangkat tangan kanannya sedikit sebagai sapaan, lalu masuk ke dalam mobil dan melaju perlahan pergi. Namun bagi Davina, kepergian itu tidak lagi terasa menyakitkan seperti dulu. Karena ia tahu kehadiran Adit tidak lagi diukur dari seberapa sering ia berada di dekatnya secara fisik, melainkan dari seberapa dalam jejak yang sudah ia tinggalkan di dalam hatinya, jejak yang tak akan pernah pudar, apa pun yang terjadi ke depannya.

Dan pagi itu, dunia terasa sedikit lebih cerah bagi Davina dan Zahra. Di luar sana, jalan hidup mereka masih panjang dan mungkin masih berliku. Namun selama mereka berjalan bersama,saling menjaga, saling menguatkan, dan saling mencintai, tak ada rintangan yang terlalu tinggi untuk dilewati.

" Davina apa aku mulai mencintainya kembali " Gumam Davina dalam hati.

Di Kota A Kantor Rio

Siska sedang berisiap - siap untuk menghadiri rapat , pagi ini.Ia deg degan mungkin karena sudah lama tidak bertemu dengan Rio , laki - laki yang sudah bersemayam di dalam hatinya.Meski Rio adalah suami orang, ia juga tidak peduli.Entah kenapa semakin ia membunuh rasa cinta ini, Rio semakin ia rindu.

" ayok Siska , semangat ..." ucapnya pada diri sendiri.

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
nurulmarisa
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!