kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.
Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Tubuh Jaka Srenggi tak jauh dari api dan melihat bagaikan api itu membara dan bagaimana api itu padam. Jaka Srenggi hanya mampu untuk menangis tanpa mampu berbuat apa-apa.
Jaka Srenggi merasakan aliran dalam tubuhnya menggeludak.
"Huakkkkk!!"
Jaka Srenggi muntah cairan berwarna hitam. Itu akibat dari racun kalajengking milik cadar hitam.
Setelah mengeluarkan cairan berwarna hitam itu semuanya gelap, Jaka Srenggi pingsan terbaring ditanah.
"Ada apa dengan tubuhku?? Kenapa begitu ringan??" Jaka Srenggi heran dengan kondisi tubuhnya begitu dia tersadar dari pingsannya.
Meskipun dengan luka dan racun kalajengking Jaka Srenggi mampu untuk berdiri walaupun dengan susah payah. Jaka Srenggi berjalan menuju tumpukan puing rumahnya, dia mencari apakah masih ada sisa dari ayah dan ibunya.
Air mata Jaka Srenggi jatuh menetes saat melihat dua tengkorak dan tulang belulang di antara puing rumahnya.
Jaka Srenggi mengumpulkan semua tulang belulang yang tersisa yang sudah hampir menjadi debu, Jaka membuka bajunya dan membungkusnya menjadi satu. kerangka itu menjadi buntalan kecil yang tinggal hanya segenggam tangan Jaka Srenggi.
"Ayah ... Ibu! Aku tak akan mengubur kalian sebelum aku membunuh cadar hitam. Aku akan hidup Dan aku akan membalas dendam kematian kalian!"
"Itu janji anakmu!" desis Jaka Srenggi dengan mata yang penuh dendam.
"Arrrrgggghhhhhhh!!"
Jerit Jaka Srenggi sekuat-kuatnya, seperti mengeluarkan seluruh kesedihan dalam hatinya.
Jaka Srenggi berjalan tertatih menuju pondoknya, Jaka Srenggi mengumpulkan bajunya. Mata Jaka Srenggi menatap buku usang.
"Aku akan membawa ini, aku yakin ini bukan buku sembarangan" gumam Jaka Srenggi.
Jaka Srenggi juga mengambil mustika yang menurut Jaka Srenggi buah.
"Aku akan memakan buah ini, jika aku akan mati biarlah, Aku sudah tak peduli apapun" gumam Jaka Srenggi.
Jaka Srenggi menguatkan hatinya, perlahan dia menelan mustika berwarna merah itu. tubuhnya menerima sesuatu yang baru itu. dan tak menunjukkan sesuatu hal yang berubah pada tubuhnya.
"Sebelum mereka menyadari aku akan pergi dari kota ini! Sebaiknya aku bersembunyi di hutan!" gumam Jaka Srenggi.
Jaka Srenggi berlari ke arah hutan, dia tak tahu kalau dia memiliki kekuatan itu karena totokan dari Petapa muka dua yang telah membuka urat ditubuhnya.
Sesaat sebelum Jaka Srenggi masuk ke hutan, dia menatap ke arah kota.
"Aku akan datang, dan membalas dendam atas ketidakadilan yang kalian perbuat padaku," jerit Jaka Srenggi dan mengepalkan tangannya ke atas.
Begitu Jaka Srenggi sampai di hutan, tubuhnya menjadi panas dingin, keringat dingin juga mulai membasahi bajunya.
"Aaaarrrrgggghhhhhhh!"
"Panasssss!"
"Diinginnn!!"
Tubuh Jaka Srenggi terkapar jatuh ke tanah, menggelepar menahan sakit yang terjadi ditubuhnya.
"Apa ini reaksi dari racun itu? Sakit ... sangat sakit!" rintih Jaka Srenggi.
Jaka Srenggi tak menyadari tapi tepatnya anak muda itu tak tahu jika mustika yang ditelannya telah memberikan reaksi, mustika itu melawan racun yang ada ditubuh Jaka Srenggi.
Jaka Srenggi tak tahu jika mustika yang di sangkanya buah beracun merupakan mustika yang paling di cari di dunia persilatan. mustika itu bernama mustika api naga.
Jaka Srenggi pingsan lagi untuk kesekian kalinya. kali ini pingsan karena dalam tubuhnya terjadi pertarungan antara racun dan penawar. tapi itu tak diketahui oleh Jaka Srenggi, kalau menurutnya itu reaksi dari racun kalajengking milik cadar hitam.
Saat pajar datang Jaka Srenggi kembali terbangun dari pingsannya, Jaka Srenggi tak sadar jika dia sudah sehat meskipun dalam tubuhnya masih tersimpan racun dari racun kalajengking. wajahnya sudah mulai merona meskipun terlihat masih ada kepucatan di wajah mungil itu.
"Aku akan pergi ke gunung kemelut. Tak ada lagi yang menerimaku selain lelaki itu. Aku harus jadi pendekar untuk membalaskan dendam kematian ayah dan ibuku," ucap Jaka Srenggi.
Jaka Srenggi berdiri dan mulai berjalan menelusuri hutan.
"Kalau tak salah arah inilah yang dikatakan ibu arah menuju gunung kemelut. ayah! Ibu!tuntun aku," bisik Jaka Srenggi bicara sendiri.
Saat Jaka Srenggi keluar dari hutan itu, dia menemukan sebuah kampung kecil.
"Bu, apa aku boleh meminta sedikit air??" pinta Jaka Srenggi.
Pemilik rumah itu menatap Jaka Srenggi dari atas sampai ke bawah, setelah melihat kalau Jaka Srenggi tak membahayakan perempuan paruh baya itu memberikan Jaka Srenggi secangkir air.
"Kau mau kemana nak??"
"Aku mau ke gunung kemelut bibi, apa masih jauh??" tanya Jaka Srenggi
"Gunung kemelut? Apa yang akan kau lakukan ke gunung angker itu??" tanya perempuan itu kaget.
"Aku mencari hidupku di sana bi, Apa masih jauh??" kembali Jaka Srenggi bertanya.
Perempuan itu tak mengerti dari jawaban Jaka Srenggi.
"Itu gunung tinggi menjulang itu! Itulah gunung kemelut." jawab perempuan itu menunjuk ke
arah sebuah gunung tinggi.
"Terima kasih Bik!" kata Jaka Srenggi tak lupa mengucapkan rasa hormatnya pada perempuan tua itu.
Jaka Srenggi tak lagi berucap apa-apa tapi mulai melanjutkan perjalanannya mencari tempat Petapa muka dua.
Saat Jaka Srenggi mulai mendaki dia mendengar suara raungan.
"Ggrrrrrrrr!"
Itu raungan dari serigala lapar.
"ayo makan aku, aku tak takut mati!" teriak Jaka Srenggi yang memang sudah pasrah jika harus mati.
Jaka Srenggi meneruskan langkahnya, dia tak memperdulikan apapun meskipun raungan serigala lapar terdengar semakin dekat.
"Hari mulai gelap, sebaiknya aku istirahat." gumam Jaka Srenggi dalam hatinya.
Jaka Srenggi menaiki sebatang pohon besar dan memilih tidur di pohon itu.
"Aku bukan takut mati, tapi aku tak ingin mati tanpa aku tahu apa yang membunuhku," ucap Jaka Srenggi.
"Dimana ya tempat tinggalnya Petapa itu? Apa aku harus mencari di seluruh gunung ini? Tapi aku yakin dia pasti tinggal di puncak sana."
Jaka Srenggi kembali teringat akan cadar hitam.
"Dua ibuku sudah dibunuh olehnya, aku tak akan tenang sebelum aku balas dendam. Juragan Husin! kau yang pertama akan mati. Kau tak boleh mati sebelum aku membunuhmu. Aku pastikan jika keluargamu tak akan tersisa di atas bumi ini," desis Jaka Srenggi
Amarah dan dendam telah menyatu dipikiran Jaka Srenggi, membuatnya melupakan hitam dan putih, baginya dendam harus terbalaskan.
Jaka Srenggi tertidur dalam damai setelah melewati perjalanan yang cukup jauh.
"Bukkkk!!"
"Aduhhh!!"
Jaka Srenggi meringis menahan sakit karena jatuh dari pohon tempat dia tidur.
"Sial! Aku terlalu banyak bergerak."
Untungnya sudah pagi, aku akan meneruskan perjalananku." gumam Jaka Srenggi.
"Kriukkkkk!!"
Jaka Srenggi memegang perutnya yang kelaparan.
"Tunggu sebentar ya perut! Aku akan mencari sesuatu untuk mengisi mu."
Jaka Srenggi berjalan dan mendengar suara arus sungai.
"Sepertinya minum sudah cukup mengenyangkan."
Jaka Srenggi mencari arah suara air itu, saat melihat sungai kecil jernih Jaka Srenggi membasuh muka dan meminum air sebanyaknya untuk mengisi penuh perutnya.
"Baik, kau sudah terisi. Saat mencari keberadaan Petapa itu."