Bima hanyalah "sampah desa" yang ringkih. Digerogoti penyakit jantung bawaan dan paru-paru basah akut, hidupnya dihabiskan untuk merangkak di bawah kaki orang-orang kaya yang arogan.
Puncaknya, di sebuah malam yang diguyur hujan lebat, Bima dihajar hingga sekarat dan jatuh ke dasar sungai.
Namun, maut justru membawanya menemukan batu mustika hitam misterius. Tak hanya sembuh total, fisik Bima bermutasi menjadi sekokoh karang, lengkap dengan kemampuan mata tembus pandang dan medis gaib.
Menariknya, energi baru di tubuh Bima membuat setiap wanita yang ia sentuh bergetar tak berdaya.
Berawal dari pijatan penyembuhan, Bima mulai menaklukkan hati para wanita cantik—
mulai dari Rasti si kakak ipar janda muda, Laras sang kembang desa, hingga Siska, istri pejabat kota—yang suaminya terlibat kasus perselingkuhan. Bersiaplah menyaksikan aksi Danu, si tukang pijat penakluk wanita!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12--
Begitu telapak tangan Bima menyalurkan energi Mustika Hijau melalui pakaian Rasti, aliran hangat itu langsung menyebar ke seluruh tubuh wanita tersebut. Energi murni yang mengalir terasa kuat, seolah bertabrakan dengan sisa-sisa kutukan yang masih bersembunyi di dalam tubuhnya.
Dengan gerakan tenang dan terukur, Bima memberikan terapi pada beberapa titik aliran energi di sekitar tubuh bagian atas Rasti. Setiap tekanan yang ia berikan membuat energi Mustika Hijau bergerak semakin deras, memaksa aura hitam yang bersembunyi di dalam tubuh Rasti sedikit demi sedikit keluar dari persembunyiannya.
Bima terus menjaga konsentrasinya. Walaupun jarak mereka begitu dekat sehingga membuatnya sedikit canggung, ia berulang kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa keselamatan Rasti jauh lebih penting daripada perasaan gugup yang muncul di dalam hatinya.
Rasti memejamkan mata sambil mengatur napas. Rasa hangat yang mengalir di dalam tubuhnya terasa asing, tetapi perlahan menggantikan rasa sesak dan dingin yang selama ini selalu menyiksanya. Selama dua tahun terakhir, baru kali ini ia merasakan tubuhnya benar-benar bereaksi terhadap sebuah pengobatan.
Namun, penglihatan khusus Bima tiba-tiba menangkap sesuatu yang membuat wajahnya berubah serius.
Sisa energi kutukan ternyata belum sepenuhnya lenyap. Aura hitam itu berkumpul di pusat aliran energi tubuh Rasti, berusaha mempertahankan keberadaannya dengan menyumbat jalur energi vital.
Bima menarik napas panjang.
"Mbak..." ucapnya pelan.
Rasti membuka mata. "Ada apa, Bim?"
"Aku menemukan inti kutukannya. Supaya benar-benar hilang, aku harus menyalurkan energi langsung ke pusat aliran energi itu. Mungkin Mbak akan merasa sedikit tidak nyaman, tapi ini harus dilakukan."
Rasti terdiam beberapa saat. Permintaan itu membuatnya sedikit canggung, tetapi ia dapat melihat kesungguhan di wajah Bima.
"Beneran harus begitu?" tanyanya lirih.
Bima mengangguk mantap.
"Kalau tidak sekarang dihancurkan, kutukan ini bisa muncul lagi. Aku janji hanya fokus menyembuhkan Mbak."
Rasti menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Baik... aku percaya sama kamu."
Mendengar persetujuan itu, Bima segera kembali memusatkan pikirannya. Ia menyalurkan energi Mustika Hijau dengan hati-hati menuju titik tempat kutukan bersembunyi.
Sesaat kemudian, hawa hangat yang jauh lebih kuat menyelimuti tubuh Rasti.
"Hangat sekali..." gumam Rasti pelan.
Di bawah penglihatan khusus Bima, aura hitam mulai retak. Sedikit demi sedikit, energi kegelapan itu terkikis oleh cahaya hijau yang terus mengalir tanpa henti.
Bima mempertahankan aliran energinya hingga akhirnya kabut hitam itu benar-benar hancur menjadi serpihan cahaya yang lenyap di udara.
"Nah... selesai," ujar Bima sambil mengembuskan napas lega.
Rasti ikut menarik napas panjang. Rasa sesak yang selama ini menghantui dadanya telah menghilang. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibanding sebelumnya, seolah beban yang selama bertahun-tahun menekan dirinya akhirnya benar-benar terangkat.
"Terima kasih, Bim," bisiknya tulus.
Bima hanya tersenyum kecil. "Syukurlah... kutukannya sudah benar-benar bersih."
Belum sempat suasana menjadi tenang, pendengaran tajam Bima mendadak menangkap suara gaduh dari halaman depan rumah.
Brak! Brak! Brak!
"Hei, Bima! Keluar dari gubukmu!"
Suara keras itu disusul teriakan penuh amarah.
"Berani-beraninya kamu memukul anak buahku dan menentang urusan utang! Keluar sekarang juga, atau rumah ini kami hancurkan!"
Bima langsung berdiri. Tatapannya berubah tajam.
"Itu Rian..."
Anak kepala desa itu ternyata benar-benar datang, membawa sekelompok pemuda untuk membalas dendam.
Kok gak mikir konsekuensinya ya..🫣
Bersekutu dengan iblis menjanjikan keuntungan duniawi sesaat, namun selalu berujung pada petaka.
Konsekuensi utamanya meliputi ketergantungan spiritual, hilangnya kendali atas kehendak bebas, tuntutan tumbal nyawa, penderitaan batin, serta kehancuran dan penyesalan abadi di akhir.
Dampak fatal akibat praktik tersebut akan kehilangan Jiwa dan Kebebasan, harga yang harus dibayar untuk bantuan iblis adalah jiwa manusia itu sendiri.
Manusia yang awalnya merasa mengendalikan kekuatan tersebut akhirnya diperbudak dan kehilangan kehendak bebas mereka.
Untuk menghindari fitnah dengan cara membentengi diri dari perbuatan yang mendekati zina, pergaulan bebas dan pacaran.
Dengan melakukan pernikahan, seseorang dapat menyalurkan hasrat biologis secara halal, menjaga kehormatan, dan mencegah timbulnya tuduhan negatif serta prasangka buruk di masyarakat.
Menikah adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidup seseorang.
Lebih dari sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan resmi, pernikahan memiliki tujuan yang lebih dalam dan bermakna...🤭🤨😊