NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: GERBANG NERAKA DI BAWAH TEBING

BAB 32: GERBANG NERAKA DI BAWAH TEBING

Rasa panas yang luar biasa pekat seketika menyergap seluruh permukaan kulit tegap Dion saat tubuh besarnya ditarik paksa amblas ke dalam rekahan tanah yang mendadak terbuka di gerbang utara Lembah Shrouded. Sepasang tangan raksasa berwarna hitam legam dengan kuku-kukunya yang tajam bagai belati purba terus mencengkeram erat kedua pergelangan kaki sang pemburu klan, menyeretnya turun menembus lapisan batuan dan tanah yang runtuh menuju sebuah dimensi bawah tanah yang terisolasi.

BRRAAAKKK!

Tubuh Dion menghantam lantai batu yang berpijar merah dengan keras. Pria itu berguling beberapa kali untuk meredam momentum kejatuhannya, sebelum akhirnya kembali bangkit berdiri dengan bertumpu pada satu lututnya. Sepasang mata elang Dion yang kini telah berpendar ungu menyala seutuhnya, langsung menyapu tajam ke sekeliling ruangan baru tersebut.

Ia tidak lagi berada di lereng bukit luar. Tempat ini adalah sebuah gua vulkanik raksasa yang berada jauh di bawah perut bumi Lembah Shrouded. Di sekelilingnya, aliran sungai lava cair berwarna merah keemasan mengalir deras, mengeluarkan letupan-letupan gelembung gas beracun yang memicu atmosfer di dalam ruangan itu menjadi teramat pengap dan panas membakar. Jubah hitam Dion yang sudah robek di beberapa sisi tampak mulai mengeluarkan asap tipis akibat paparan suhu yang ekstrem.

Namun, perhatian Dion seketika terkunci pada sesosok makhluk yang kini berdiri sekitar sepuluh meter di hadapannya, menghalangi satu-satunya jalan setapak batu yang mengarah kembali ke atas.

Makhluk itu adalah pemilik dari sepasang tangan raksasa yang tadi menyeretnya. Tingginya mencapai empat meter, dengan tubuh yang terbuat dari bongkahan batu obsidian hitam yang mengeras, dan di setiap sela-sela retakan tubuhnya, mengalir api neraka berwarna merah pekat yang menyala-nyala. Makhluk itu bukanlah Golem pengikat jiwa biasa seperti yang ia hancurkan di dalam terowongan sebelumnya; ini adalah Ash-Gorgon, binatang buas penjaga tingkat tinggi yang dimurnikan langsung menggunakan darah para tetua Sekte Bayangan Darah.

GROOOOOAAAAARRRR!

Makhluk obsidian itu meraung keras hingga menggetarkan langit-langit gua vulkanik, memicu batuan stalaktit yang tajam untuk berjatuhan dan meleleh saat menyentuh aliran lava di bawahnya.

Di atas udara, sebuah bayangan ilusi magis dari Tuan Besar Sekte Bayangan Darah kembali terbentuk dari kepulan asap sulfur, menatap down ke arah Dion dengan seringai keangkuhan yang memuakkan. "Sudah kubilang, Dion... menyerahlah secara sukarela. Ash-Gorgon ini diprogram untuk menghisap seluruh esensi naga ungu dari dalam darahmu. Semakin kamu berontak, maka api neraka di dalam tubuhnya akan membakar jiwamu hingga tidak tersisa bahkan setitik abu pun!"

Dion berdiri tegak dengan perlahan, mengabaikan luka bakar ringan yang mulai terasa perih di pergelangan kakinya. Rahang tegas sang pemburu klan mengeras sempurna, memancarkan aura dominan yang teramat pekat dan berbahaya. Sifat posesif dan insting predator puncaknya berontak hebat. Di atas sana, armada musuh sedang bergerak menuju desa tempat Rhea berada, dan makhluk bodoh di depannya ini berani menahan langkahnya.

"Menyerah?" desis Dion, suaranya terdengar sangat rendah, bariton, dan bergema penuh dengan keangkuhan seorang dewa perang purba. Pria itu mengangkat belati perak pusakanya tinggi-tinggi ke udara. "Kalian salah memilih lawan, tikus-tikus utara. Kekuatan naga di dalam tubuhku bukan untuk kalian jinakkan... melainkan untuk mengubur kalian semua ke dasar neraka terendah!"

Detik itu juga, Dion melepaskan seluruh kekangan sihir yang selama ini sengaja ia batasi di dalam nadinya. Tato naga di sepanjang punggung tegapnya berpendar dengan cahaya ungu murni yang luar biasa masif dan terang, hingga menutupi pendaran merah dari lava di sekeliling gua. Arus sihir kabut perak bercampur ungu meledak keluar dari tubuh Dion seperti badai tornado kecil, menciptakan tekanan angin magis yang seketika mendinginkan permukaan lava di sekitarnya menjadi batuan hitam yang membeku.

WUUUUZZZH!

Dengan kecepatan berburu yang meningkat drastis, Dion melesat maju menembus badai kabutnya sendiri. Langkah kakinya bergerak seringan angin, melompati aliran sungai lava cair dengan satu lompatan anggun sebelum akhirnya mendarat tepat di depan dada besar sang Ash-Gorgon.

Bilah belati perak Dion yang kini telah dilapisi oleh lidah api ungu naga murni dihentakkan ke depan, mengincar langsung ke arah retakan terbesar di tengah dada makhluk obsidian tersebut.

CRASH!

Mata belati perak itu menembus lapisan batu obsidian hitam sedalam beberapa sentimeter. Namun, bukannya darah, cairan api neraka yang teramat panas justru menyembur keluar dari luka tersebut, menghantam langsung ke arah lengan kanan Dion hingga pakaiannya terbakar hangus dan memperlihatkan otot-lengannya yang kokoh kini melepuh kemerahan.

Dion mengerang rendah, menahan rasa sakit yang luar biasa membakar tersebut tanpa melangkah mundur selangkah pun. Sifat dominannya menolak untuk kalah. Tangan kirinya yang bebas bergerak secepat kilat mencengkeram salah satu tonjolan batu di tubuh makhluk itu, mengunci posisinya di udara agar tidak terlempar jatuh.

Namun, Ash-Gorgon itu bukanlah lawan yang bodoh. Dengan tangan raksasanya yang dilapisi bara api, makhluk itu menghantamkan tinju kirinya tepat ke arah lambung Dion dengan kekuatan penuh.

BANG!

Hantaman telak itu melemparkan tubuh tegap Dion mundur belasan meter, terjerembab di atas lantai batu yang panas dengan darah segar berwarna merah pekat yang keluar dari sudut bibir tampannya. Napas Dion terasa terengah-engah, dadanya berdenyut menyakitkan akibat hantaman kekuatan fisik murni yang teramat besar tadi.

"Hahaha! Rasakan itu, naga sombong!" tawa ilusi Tuan Besar bergema puas di udara. "Tubuh manusiamu terlalu rapuh untuk menampung benturan api neraka milikku!"

Sementara itu, di jalur tebing barat luar, Mayang terus berlari kencang menembus rintik hujan malam yang mulai mengguyur hutan Lembah Shrouded. Pakaian biru lautnya telah basah kuyup dan robek di bagian bawah akibat tersangkut semak-semak tajam, namun tabib klan itu sama sekali tidak memedulikannya. Pikiran dan batinnya terus bergetar hebat, dipenuhi oleh rasa khawatir yang teramat sangat mendalam pada keselamatan Dion.

Melalui ikatan batin dan jerat gairah sihir yang telah menyatukan jiwa mereka sejak semalam, Mayang bisa merasakan denyut jantung Dion di dalam dadanya mendadak melemah dengan drastis, diikuti oleh gelombang rasa panas membakar yang asing yang ikut menyiksa batinnya sendiri.

‘Dion... kamu terluka...’ batin Mayang menjerit pilu, air matanya menetes turun bercampur dengan air hujan yang membasahi pipi piasnya.

Mayang menghentikan langkah kakinya sesaat di atas sebuah batu tinggi yang menghadap langsung ke arah rekahan tanah tempat Dion jatuh tadi. Sebagai seorang tabib yang menguasai sihir penyembuhan elemen air alam, ia tahu ia tidak bisa tinggal diam di atas sini sementara prianya sedang bertaruh nyawa di bawah perut bumi.

Dengan memusatkan seluruh sisa energi magis di dalam nadinya, Mayang merogoh sebuah botol kristal kecil berisi esensi air mata dewi dari dalam saku bajunya—pusaka penyembuhan tertinggi klan yang ia simpan untuk keadaan darurat. Mayang menumpahkan cairan bening berkilauan itu ke atas telapak tangannya, lalu menghantamkannya ke atas tanah sembari merapalkan mantra suci purba.

"Wahai akar-akar bumi yang dialiri mata air suci... tembuslah kegelapan batu dan antarkan kesejukan ini pada pelindungku!" seru Mayang dengan suara yang lantang membelah gemuruh hujan.

Seketika itu juga, ratusan akar pohon purba di sekeliling tebing barat bergerak hidup, memanjang dengan kecepatan luar biasa menembus celah-celah retakan tanah gerbang utara, membawa serta aliran air suci magis mengalir lurus ke bawah, menuju gua vulkanik tempat Dion terkurung.

Kembali ke dalam gua vulkanik, di saat Ash-Gorgon bersiap untuk melangkah maju menghancurkan tubuh Dion yang masih terduduk lemas, ratusan akar pohon hijau yang memancarkan pendar cahaya biru menyejukkan mendadak menerobos masuk dari langit-langit gua.

Akar-akar suci kiriman Mayang itu langsung melilit erat seluruh tubuh besar Ash-Gorgon, mengeluarkan suara mendesis keras saat energi air suci bertemu dengan bara api neraka obsidian, menciptakan kepulan uap air putih yang sangat tebal dan seketika menurunkan suhu panas di dalam ruangan tersebut.

Bukan itu saja, sebagian esensi air suci itu mengalir lembut menyentuh luka bakar di lengan kanan dan pelipis Dion, memulihkan tenaga fisiknya dan mendinginkan rasa sakit membakar di dalam tubuhnya dalam hitungan detik.

Merasakan pasokan energi dan cinta yang tulus dari wanitanya menembus batas bumi, sepasang mata Dion kembali terbuka lebar. Energi naga ungu di dalam darahnya seolah tersulut oleh ledakan gairah baru yang jauh lebih dahsyat dan tak terkendali.

Dion bangkit berdiri tegak dengan perlahan, menyeka sisa darah di bibirnya dengan punggung tangannya. Sebuah senyuman dingin yang teramat mengerikan terukir di wajah tampannya saat ia menatap makhluk obsidian yang kini sedang meronta-ronta terikat akar suci di depannya.

"Terima kasih, Mayang-ku..." bisik Dion rendah, suaranya kini dipenuhi oleh getaran energi naga yang telah mencapai batas kesempurnaan 100%.

Dion melompat maju, tubuh besarnya kini sepenuhnya diselimuti oleh wujud imajiner kepala naga ungu raksasa yang mengaum murka di sekelilingnya. Dengan satu hentakan dua tangan, ia menghantamkan belati peraknya tepat ke arah inti kristal merah di kepala Ash-Gorgon yang sedang lengah.

Namun, tepat di saat ujung belati Dion hanya berjarak beberapa sentimeter dari kristal tersebut, waktu di dalam gua vulkanik itu mendadak berhenti berputar. Sebuah pusaran sihir hitam berukuran raksasa tiba-tiba muncul dari arah belakang dinding gua, dan dari dalam pusaran itu, sebuah rantai besi berduri hitam yang dialiri petir kutukan melesat secepat kilat, langsung melilit erat leher kokoh Dion dan menyeret tubuh sang pemburu klan masuk ke dalam pusaran dimensi kegelapan yang sama sekali tidak dikenal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!