NovelToon NovelToon
GARIS WAKTU YANG PATAH

GARIS WAKTU YANG PATAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Time Travel / Misteri
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Hyouketsu no Namie

Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.

Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.

Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.

Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.

Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Tersembunyi di Balik Senyum

Bulan-bulan berlalu dengan tenang. Arka dan Nadia semakin dekat—mereka mulai membicarakan rencana untuk tinggal bersama, bahkan sudah melihat-lihat beberapa apartemen kecil di dekat taman kota, tempat yang sering mereka kunjungi berdua sejak pertemuan kembali itu.

Hidup Arka terasa seperti mengalir untuk pertama kalinya—tidak lagi terjebak dalam arus yang sama setiap tahun, tidak lagi menunggu tanggal tertentu dengan rasa takut. Dia bahkan mulai memotret lagi dengan cara yang berbeda—bukan hanya pemandangan kosong, tapi orang-orang, momen-momen kecil yang dulu dia hindari.

Tapi suatu sore, saat Arka sedang mengedit foto di apartemennya, ponselnya berbunyi. Nomor yang tidak dikenal.

"Halo?"

"Arka? Ini... ini ayah."

Suara di seberang telepon membuat Arka terdiam sejenak. Ayahnya—sosok yang, dalam ingatan dunia lama, sudah lama menjauh, tenggelam dalam kesibukan dan kadang alkohol, sejak kehilangan istrinya. Tapi di dunia ini—dunia di mana ibunya hidup—Arka belum benar-benar memiliki gambaran utuh tentang seperti apa hubungan mereka sekarang. Ingatan barunya tentang ayahnya masih terasa samar, seperti foto yang belum sepenuhnya terbentuk.

"Pa? Ada apa?" tanya Arka, mencoba menyesuaikan diri dengan konteks yang belum sepenuhnya dia kenal.

Ada jeda panjang sebelum ayahnya berbicara lagi—jeda yang membuat dada Arka mengencang, seperti tubuhnya tahu sesuatu yang buruk akan datang, bahkan sebelum kata-kata itu terucap.

"Ini soal Mama," kata ayahnya akhirnya, suaranya berat, bergetar di ujung-ujungnya. "Dia... dia masuk rumah sakit tadi pagi. Dokter bilang ada masalah sama jantungnya. Mereka bilang... mereka bilang kondisinya nggak stabil."

Dunia di sekitar Arka terasa berhenti.

Untuk yang kedua kalinya dalam hidupnya—hidup yang baru ini—dia merasakan sensasi yang sama: lantai yang tiba-tiba terasa tidak ada, suara-suara di sekitarnya yang memudar menjadi dengung jauh, seperti saat dia mendengar kabar tentang Nadia di rumah sakit.

"Pa..." suaranya tercekat. "Mama di rumah sakit mana?"

Ayahnya menyebutkan nama rumah sakit—rumah sakit yang sama tempat Nadia pernah dirawat, ironisnya, tempat yang sama di mana harapan dan ketakutan selalu bertemu di lorong-lorong putihnya.

"Aku ke sana sekarang," kata Arka, sudah berdiri, mengambil jaketnya dengan tangan gemetar.

"Arka—" suara ayahnya menahan sejenak, "—jangan buru-buru di jalan. Mama... Mama udah ditangani. Kamu cuma perlu sampai dengan selamat, oke?"

Kata-kata itu—kekhawatiran seorang ayah, kepedulian yang sederhana namun tulus—membuat Arka menyadari sesuatu. Ayah ini, ayah di dunia baru ini, adalah pria yang berbeda dari yang dia kenal di dunia lama. Pria ini masih punya cukup ruang dalam dirinya untuk khawatir tentang keselamatan anaknya, bahkan di tengah krisisnya sendiri.

"Iya, Pa. Aku hati-hati," kata Arka, suaranya sedikit lebih tenang.

Dia menutup telepon, lalu berdiri sejenak di tengah ruangan, mencoba mengatur napasnya. Pikirannya berlari ke berbagai arah—ke ibunya yang baru beberapa minggu lalu dia temui di depan pintu rumah, tersenyum, menawarkan dia masuk; ke kekuatannya, yang sekarang terasa seperti pedang bermata dua yang selalu ada di saku belakangnya, menunggu untuk digunakan.

*Apakah ini akan terjadi lagi? Apakah setiap kali aku menyelamatkan satu nyawa, hidup akan terus menemukan cara untuk mengujiku—untuk melihat apakah aku akan menggunakan kekuatan itu lagi, dan lagi, sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk ditukar?*

Dia mengirim pesan cepat ke Nadia—"Nad, Mama masuk rumah sakit. Aku ke sana sekarang."—lalu bergegas keluar, motornya melaju di antara lalu lintas sore yang padat, hujan mulai turun tipis, seperti yang selalu terjadi di momen-momen penting dalam hidup Arka, seolah langit selalu tahu kapan harus ikut merasakan.

Sepanjang perjalanan, pikiran Arka dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan—skenario terburuk yang terus muncul tanpa diminta. Bagaimana jika ibunya tidak selamat? Bagaimana jika, setelah semua yang dia lakukan, setelah tujuh belas tahun tambahan yang dia berikan, semuanya akan berakhir di sini, sekarang, dengan cara yang sama sekali berbeda—bukan kecelakaan, tapi penyakit, sesuatu yang lebih halus, lebih "alami", tapi tidak kalah menghancurkan?

Dan jika itu terjadi—apakah dia akan kembali lagi? Apakah dia akan menggunakan kekuatannya, sekali lagi, untuk mencoba mengubah sesuatu?

Dia memikirkan Nadia. Memikirkan harga yang sudah dibayar untuk kehidupan yang dia miliki sekarang. Memikirkan Damar, yang tidak akan pernah kembali. Memikirkan Sera, yang sekarang hidup tanpa mengenalnya.

Setiap perjalanan adalah pertukaran. Tapi bagaimana aku bisa berhenti, kalau yang dipertaruhkan adalah ibu yang aku perjuangkan begitu keras untuk hidup?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, tanpa jawaban, sepanjang jalan menuju rumah sakit—jalanan basah yang memantulkan lampu-lampu kota, persis seperti malam-malam yang selalu membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Ketika dia akhirnya tiba, dia memarkir motornya dengan tergesa, berlari masuk ke lobi rumah sakit yang terang dan dingin, mengikuti petunjuk ke arah ruang ICU—tempat dia akan menemukan ayahnya, menunggu, dengan wajah yang sudah Arka kenal: wajah seseorang yang sedang menghadapi kemungkinan kehilangan segalanya, sekali lagi.

1
Wawan
Salam kenal untuk Arka ✍️💪
HYOUKETSU NO NAMIE: Salam kenal juga kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!