NovelToon NovelToon
The CEO'S Secret Architect

The CEO'S Secret Architect

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blaze Onyx

Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Jam Pasir yang Berputar

Goresan pensil arang di tangan Olin berhenti tepat di sudut kelopak mata sketsa Zayyan. Serbuk hitam halus tertinggal di ujung jemarinya, meninggalkan noda kelabu yang samar saat dia menutup buku bersampul kulit itu dengan ketukan pelan. Di luar, rintik gerimis yang membasahi pelataran tengah mansion mulai menciptakan ketukan monoton pada dinding kaca, bersahut-sahutan dengan desis halus pendingin udara paviliun barat.

Xavi sudah kembali ke sudut meja kerja ek miliknya, duduk dengan kaki yang ditekuk ke atas kursi. Layar laptop kunonya memantulkan pendar biru yang dingin pada lensa kacamata bundarnya. Jemari mungilnya bergerak dengan ritme yang konstan, tidak lagi mengetik baris kode pertahanan, melainkan menyusun simulasi arsitektur jembatan udara yang menghubungkan sayap barat dan sayap timur mansion.

"Siklus sinkronisasi gawai Tuan CEO memiliki jeda waktu tepat empat puluh dua detik saat berpindah dari pemancar pelataran ke pemancar dalam ruangan, Mommy," cicit Xavi tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. "Itu terjadi setiap kali dia berjalan melintasi jembatan kaca tertutup setelah pukul sepuluh malam."

Olin melangkah mendekati jendela, melipat kedua lengannya di depan dada. Kain blus katun kasualnya terasa sejuk bergesekan dengan kulitnya. Dari posisinya, dia bisa melihat siluet lampu-lampu taman sayap timur yang mulai menyala satu per satu, mengusir remang senja yang perlahan turun.

"Empat puluh dua detik," Olin mengulang kalimat anaknya, suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh derau gerimis. "Cukup untuk memasang pelacak pasif?"

"Cukup untuk menyisipkan satu perintah bypass ke dalam daftar otorisasi gerbang evakuasi kita," Xavi menekan tombol Enter dengan bunyi klik yang bersih. "Tapi aku harus berada dalam radius tiga meter dari gawainya saat enkripsi itu terbuka. Besok malam, saat makan malam keluarga, adalah satu-satunya kesempatan sebelum dia memperbarui sertifikat digitalnya pekan depan."

Olin menggertakkan rahangnya pelan. Risiko yang dibawa oleh rencana ini terlampau besar untuk ukuran anak berusia tujuh tahun. Namun, melihat sorot mata jernih Xavi yang penuh dengan kalkulasi logis, Olin tahu bahwa menahan putranya untuk tetap diam justru akan membuat mereka terjebak lebih dalam di bawah ketiak kekuasaan Zayyan.

Tok. Tok.

Ketukan di pintu jati ganda paviliun terdengar dengan ketukan yang teratur, dua kali—ciri khas yang tidak memerlukan tebakan.

Olin berjalan mendekat, menarik selot besi kuningan hingga pintu terbuka. Ibu Martha berdiri di selasar yang remang, membawa selembar gaun panjang yang terbungkus kain pelindung sutra hitam di lengan kirinya, sementara di tangan kanannya terdapat sebuah kotak beludru kecil sewarna merah marun.

"Nyonya Aureline," Ibu Martha membungkuk takzim, suaranya tetap sedatar malam-malam sebelumnya. "Tuan Besar meminta saya mengantarkan ini untuk persiapan besok malam. Penjahit dari rumah mode utama telah menyesuaikan ukurannya berdasarkan draf pengukuran fisik yang dikirimkan oleh agensi kepatuhan internal tadi siang."

Olin menatap bungkusan sutra hitam itu dengan kilat mata yang mendingin. Zayyan benar-benar tidak menyia-nyiakan satu inci pun data yang berhasil dikumpulkan oleh Azure Investigations. Bahkan ukuran tubuhnya pun telah dipetakan tanpa perlu meminta izinnya.

"Letakkan saja di atas sofa, Ibu Martha," jawab Olin, nadanya sengaja dibuat berjarak, menolak untuk menunjukkan ketertarikan atau kejengkelan di depan pelayan senior tersebut.

"Baik, Nyonya." Ibu Martha melangkah masuk dengan anggun, meletakkan busana tersebut di atas permukaan sofa abu-abu hangat, lalu menaruh kotak beludru di sampingnya. Sebelum berbalik, wanita tua itu melirik sekilas ke arah Xavi yang masih sibuk di depan laptopnya. "Tuan Besar juga berpesan... draf gaun ini tidak dilengkapi dengan sensor pelacak fisik. Beliau tahu Anda tidak menyukai ornamen yang terlalu bising."

Olin menahan napasnya sesaat. Kalimat itu adalah pesan tidak langsung dari Zayyan—sebuah teguran halus bahwa sang CEO mengetahui kewaspadaan Olin terhadap manifes digital siang tadi. Setelah Ibu Martha pamit dan pintu kembali mengunci otomatis, Olin mendekati sofa.

Dia membuka kotak beludru marun tersebut. Di dalamnya, sebuah bros platinum berbentuk elang yang sedang mengepakkan sayap dengan sepasang mata dari batu safir biru tua berkilau di bawah lampu ruangan. Olin menyentuh permukaan dingin logam itu dengan ujung jarinya. Zayyan sedang menyiapkan panggung besarnya, memakaikan zirahnya pada Olin, tanpa menyadari bahwa di balik lipatan kain yang dia berikan, sebuah ranjau digital siap diledakkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!