Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Festival Dimulai
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
Sejak pukul tujuh pagi, sekolah sudah jauh lebih ramai dari biasanya. Spanduk warna-warni dipasang di depan gerbang, suara musik terdengar dari aula, dan para panitia sibuk mondar-mandir memastikan semuanya berjalan lancar.
Alya datang lebih awal dengan kamera yang menggantung di lehernya.
Ia mendapat tugas mendokumentasikan seluruh rangkaian acara, mulai dari pembukaan sampai penampilan terakhir.
“Lya, nanti jangan lupa foto stan kelas kita ya!” teriak Nadya dari kejauhan.
“Tenang, udah masuk daftar.”
Kevin yang sedang menata minuman di stan kelasnya ikut melambaikan tangan.
“Kalau sempat, mampir. Kita punya menu baru.”
Alya mengangguk sambil tersenyum.
“Siap.”
---
Di lapangan, Raka dan Dion sedang menyiapkan arena permainan lempar bola.
Beberapa adik kelas sudah mengantre meski acara belum resmi dibuka.
“Rak, bannernya lurusin dikit,” kata Dion.
“Yang kiri?”
“Iya, miring.”
Saat sedang membenarkan banner, Raka melihat Alya berjalan sambil memotret suasana sekitar.
Tanpa sadar ia ikut tersenyum.
Dion langsung menangkap ekspresi itu.
“Belum juga mulai acaranya, mood lo udah bagus aja.”
“Cuacanya mendukung.”
“Yakin cuma karena cuaca?”
Raka hanya tertawa kecil dan memilih tidak menjawab.
---
Tepat pukul sembilan, kepala sekolah membuka festival dengan sambutan singkat.
Tepuk tangan memenuhi halaman.
Begitu acara resmi dimulai, pengunjung langsung menyebar ke berbagai stan.
Ada yang mencoba permainan, membeli makanan, melihat pameran seni, sampai ikut lomba kecil yang disiapkan panitia.
Alya sibuk berpindah-pindah tempat.
Sesekali ia jongkok demi mendapatkan sudut foto yang bagus, lalu beberapa menit kemudian berlari ke aula karena ada pertunjukan musik.
Di tengah kesibukan itu, ia bertemu Raka.
“Capek?”
“Lumayan.”
“Udah makan belum?”
Alya menggeleng.
“Belum sempat.”
“Tunggu sini.”
Raka pergi sebentar, lalu kembali membawa roti dan air mineral.
“Nih, isi tenaga dulu.”
Alya menerimanya sambil tersenyum.
“Makasih. Kalau nggak diingetin, kayaknya gue bisa lupa makan.”
“Fotografer juga harus dijaga.”
Kalimat itu membuat Alya tertawa pelan.
---
Menjelang siang, stan permainan basket mulai ramai.
Raka sibuk menjelaskan aturan kepada peserta.
Alya yang lewat berhenti sejenak dan mengangkat kameranya.
Klik.
Raka yang sadar sedang dipotret langsung menutupi wajahnya dengan papan skor.
“Jangan difoto terus.”
“Lagi kerja.”
“Kerjanya khusus motret gue ya?”
“Kalau objeknya bagus, kenapa enggak?”
“Wah, sekarang pinter ngeledek.”
Mereka saling tersenyum sebelum kembali ke tugas masing-masing.
---
Di sela keramaian, Nadya menghampiri Alya sambil membawa segelas minuman dingin.
“Keliling terus dari tadi?”
“Iya. Takut ada momen yang kelewat.”
“Kalau momen yang barusan?”
“Momen apa?”
Nadya menunjuk ke layar kamera Alya.
Di sana terlihat foto Raka yang sedang tertawa saat melayani peserta permainan.
“Ini bagus.”
Alya cepat-cepat mematikan layar.
“Biasa aja.”
“Biasa katanya, tapi fotonya banyak.”
Alya hanya menggeleng sambil menahan malu.
---
Sore harinya, festival mencapai puncak acara.
Panggung utama dipenuhi penonton yang ingin menyaksikan penampilan band sekolah.
Lampu mulai dinyalakan meski matahari belum benar-benar tenggelam.
Suasananya meriah.
Alya berdiri di depan panggung mengambil beberapa foto.
Saat selesai, ia mundur beberapa langkah tanpa melihat ke belakang.
Tiba-tiba bahunya menabrak seseorang.
“Eh, maaf!”
Rupanya Raka.
“Untung kameranya nggak jatuh.”
“Gue juga untung nggak jatuh.”
Raka tertawa.
“Kalau jatuh, gue yang nangkep.”
“Nggak usah sok pahlawan.”
“Boleh dicoba kok.”
Mereka kembali tertawa, membuat beberapa teman yang melihat hanya bisa saling pandang.
“Dua orang itu masih bilang cuma teman?” bisik salah satu panitia.
---
Menjelang penutupan acara, seluruh panitia diminta berkumpul di depan panggung untuk foto bersama.
Alya menyerahkan kameranya kepada guru pembina.
“Pak, tolong fotoin ya.”
Semua berdiri sesuai kelompok masing-masing.
Saat hitungan ketiga terdengar, tanpa sengaja Raka dan Alya berdiri berdampingan.
Klik.
Foto itu berhasil diambil.
Tidak ada pose khusus.
Tidak ada yang saling melihat.
Hanya dua orang yang tersenyum ke arah kamera dengan jarak yang sangat dekat.
Setelah sesi foto selesai, langit mulai berubah menjadi jingga.
Festival resmi berakhir dengan meriah.
Para siswa membereskan stan sambil masih bercanda dan saling membantu.
Di tengah kesibukan itu, Alya menoleh ke arah Raka yang sedang mengangkat kardus.
Raka juga menoleh di saat yang sama.
Mereka saling tersenyum tanpa mengatakan apa pun.
Terkadang, satu senyum sederhana sudah cukup untuk membuat hari yang melelahkan terasa menyenangkan.
Dan tanpa mereka sadari, festival yang baru saja dimulai sejak pagi itu bukan hanya meninggalkan kenangan bagi seluruh sekolah, tetapi juga menambah satu lagi momen berharga yang akan mereka ingat untuk waktu yang lama.